SILVIA

SILVIA
awal peseteruan adik kakak



~sesampainya di pantai tujuan~


"jadi ini pantainya ? benar benar indah !"


kata Silvia.


"tempat ini sedang sepi kerena di waktu saat ini tiket pantai benar benar mahal, jika ingin murah harus menunggu jam 5 sore !"


jelas seidon


"i.. iya ini indah"


kata Silvia dengan kagum.


~di waktu yang sama tempat rose dan rever berada dan masih dalam sihir tembus pandang~


"ja..jadi ini yang namanya pantai...."


kata rose dengan kagum dan hampir meneteskan air mata...


"kau belum pernah ke pantai ?!"


tanya rever dengan terkejut.


"be..belum..."


jawab rose


"kenapa ?"


tanya rever penasaran


"a..aku... hanya memberi kesempatan untuk seseorang agar bisa menepati janjinya.."


kata rose. sambil berjalan menuju pantai.


"ah apa ini yang ada di kakiku ? tanah ? kenapa rasanya lebih ringan ? warnanya juga !"


tanya rose.


"i...ini...pasir... hamparan yang ada di pesisir pantai !"


jelas rever...


"pasir ?! aku pernah baca di novel ! oh oh ! ya ampun apa itu !a..airnya banyak sekali ! be..begitu biru !!!"


kata rose dengan kagum.


"itulah yang namanya laut, rasanya asin karena mengandung garam !"


jelas rever.


"saat membaca di novel aku membayangkannya...tapi ini lebih indah... lebih luas dan lebih biru... warna langitnya benar benar memantul... semakin melihat jauh semakin gelap warnanya... in..indah... kenapa... kenapa aku abru melihatmu sekarang....."


kata rose dengan kagumnya.


rever hanya bisa melihat rose menikmati pemandangan pantai itu.


dan beberapa saat rever juga ikut senang..


meski saat itu dia sedang menyamar menjadi Reza.


namun seketika kebahagiaan rose berubah ketika melihat seidon dan Silvia berpegangan tangan...


"me..mereka..."


geram rose


seidon terus menatap Silvia


sedangkan Silvia sangat tersipu malu.


"a..aku sudah tidak tahan!!!!!"


kata rose yang benar benar marah


namun ternyata yang marah bukan hanya rose. melainkan juga rever.


"Silvia... bagaimana menurutmu pemandangan pantai terluas dan terbiru di kerajaan raisy ini ?"


tanya seidon.


"ah...semuanya terasa sempurna... namun bukan karena pantainya... tapi karena anda ada di sini"


kata Silvia dengan tersipu malu


"awalnya... saya khawatir anda tidak menepati janji anda.. karena saya hanya seorang baron..."


kata Silvia dengan pasrah.


"mana mungkin.. aku sudah bilang 'pria sejati akan selalu ingat janjinya' "


jelas Swindon


"prok prok prok"


suara tepuk tangan seseorang terdengar dari belakang.


hal itupun langsung membuat seidon dan Silvia menoleh.


"wah wah ! lucu sekali 'pria sejati akan selalu ingat janjinya' kau bilang itu ? tidak salah sih ! tapi sayangnya kau bukan pria semacam itu seidon"


jelas rose dengan santai, (setelah rose melepaskan sihir tembus pandang dan pembisuan, sementara rever/Reza masih memakai sihir itu).


"apa maksudnya ?!"


tanya seidon dengan geram sambil melangkah maju.


namun rose menjaga jarak. yang membuat seidon merasa makin kesal.


"kakak... kali ini aku tidak tahu harus sedih atau harus marah...


aku memiliki hak keduanya !"


kata rose sambil tersenyum seolah olah tak terjadi apa apa


sementara Silvia hanya melihat semua itu dari belakang seidon, dia hanya bisa diam saja, karena tidak tahu harus apa.


"rose katakan dengan jelas maksudmu !"


tanya seidon dengan geram.


"kenapa marah kak ! kau tidak punya hak itu.


jangan karena kau raja, kah bisa seenaknya ! kau masih tetap manusia yang akan mati ! camkan itu"


kata rose.


seidon mulah heran sekaligus kesal


karena menurut dirinya rose sudah melewati batas.