
Kaisar marah dan tidak suka dengan perkataan Winter barusan. Namun, dia memilih tenang dan tidak membawa nya kedalam hati. Lagi pula dia siapa? Harus marah.
“Semua akan baik-baik saja. Kau pasti bisa melewati nya, Winter.” Kaisar berusaha menenangkan Winter.
Tangan nya tergerak untuk merangkul bahu Winter. Menepuk-nepuk nya dengan lembut. Winter menengadahkan kepalanya menatap sendu wajah Kaisar.
“Aku sama sekali tidak pernah mempercayai kata-kata seorang pria selama ini. Tapi, saat ini kau membuat ku ingin mempercayai kata-kata mu,” ucap Winter.
Kaisar menyentuh wajah Winter dengan kedua tangan nya. Lalu mengusap lembut air mata yang terus mengalir di wajah cantik nya itu.
Kaisar tersenyum. “Everything is fine, baby. Kau pasti bisa melewati nya. ”
Kaisar menatap lekat kedalam tatapan sendu Winter. Mata yang sembab, ujung hidung yang memerah karena menangis. Serta bibirnya yang bervolume memakai lipstik berwarna merah. Membuat tangan Kaisar bergerak mengusap lembut bibir itu.
Winter menutup matanya merasakan sentuhan jemari Kaisar di bibirnya. Perlahan Kaisar pun mendekatkan wajah nya dan langsung memadukan bibir mereka berdua.
Rasanya begitu manis, pikirnya. Membuat Kaisar terbuai, tangan nya bergerak mengusap tengkuk leher Winter. Kaisar membuka matanya menatap Winter yang masih menutup mata. Dia pun semakin memperdalam ciuman nya.
Tidak memperdulikan orang-orang disekitar mereka. Di bawah lampu klub yang redup dan berkerlap-kerlip dan suara dentuman musik yang keras. Untuk sesuatu yang lama akhirnya Kaisar kembali mencium seorang wanita. Seorang Disk Jockey bernama Fabricia Winter.
***
Di perjalanan menuju rumah Winter. Dengan mobil sport mewah nya, Kaisar menyetir dengan perlahan. Dia menoleh dan tersenyum menatap Winter yang tertidur di bangku sebelah nya.
“Heh, dia tertidur setelah menerima ciuman dariku? Memang nya dia putri tidur?” Kaisar terkekeh.
Dia pun menghentikan mobil nya di pinggiran laut dekat jembatan Manhattan. Ada sebuah Mini Market di sana. Kaisar pun turun dari mobil dan membeli sesuatu.
Winter mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia bangun sambil memegangi kepalanya yang berat. Menatap sekelilingnya mereka ada di dekat jembatan Manhattan, dan mobil sedang berhenti.
“Dimana Kaisar?” Winter tidak melihat sosok Kaisar. Dia pun segera turun dari mobil.
“Kau sudah bangun? Minum ini agar kepala mu tidak terlalu pusing,” ucap Kaisar yang datang dari arah belakang. Lalu memberikan sebotol air mineral dingin pada Winter.
Winter mengangguk dan meraih botol air mineral itu. “Thank you.” Meneguk nya hingga setengah botol tersisa.
Kaisar tersenyum dan berjalan ke arah depan mobil nya yang menghadap langsung ke laut. Bersandar sambil meminum air mineral miliknya. Winter mengikuti langkah Kaisar dan ikut bersandar di sebelahnya.
“Jam berapa ini?” tanya Winter.
“Tiga puluh menit lagi jam tiga pagi,” jawab Kaisar seraya memperhatikan arlojinya.
“Huft, aku lapar sekali,” keluh Winter memegangi perutnya yang rata.
Kaisar menoleh ke arah Winter. “Kau lapar?”
Winter mengangguk.
“Baiklah aku akan memesankan tempat di restauran yang masih buka,” ucap Kaisar sembari merogoh sakunya mengeluarkan ponsel.
“Eh, untuk apa?” Winter menahan tangan Kaisar.
Kaisar mengerutkan kening nya tidak mengerti. Winter tersenyum lalu melirik sebuah truk makanan siap saji yang buka 24 jam. Kaisar mengikuti tatapan mata Winter.
“Kita makan itu saja, lagi pula aku suka burger disini sangat enak.” Winter menarik tangan Kaisar membawanya ke truk makanan itu.
“Kau mau makan ini?” tanya Kaisar sedikit bingung.
Winter kembali mengangguk dan tersenyum bersemangat. “Pak, tolong dua burger ya.”
Setelah beberapa menit hot dog pesanan mereka telah selesai. Winter memberikan burger milik Kaisar padanya. Winter pun segera melahap Burger miliknya.
“Kenapa? Apakah kau tidak menyukai makanan jalanan seperti ini?” tanya Winter yang heran dengan Kaisar.
Kaisar tersenyum sumbang, “Tidak, bukan begitu maksudku... Ini masih panas.”
“Oh, aku kira kau tidak suka dan bahkan tidak pernah makan-makanan jalanan seperti ini...hanya makan-makanan di restauran mewah saja,” ucap Winter setengah bercanda sambil mengunyah makanan nya.
“Hah?”
“Karena kau adalah supir pribadi seorang Billionaire, pasti Tuan Shareef selalu mengajak mu makan makanan mewah, kan,” ucap Winter kembali.
Kaisar diam. Dia membuka kertas burger itu dan mulai memakan nya perlahan. “Siapa bilang aku tidak pernah makan beginian, aku hanya supir dan bukan Billionaire nya, hahaha.”
“Kau benar, hahaha.” Winter ikut tertawa.
Kaisar merasa senang melihat wanita itu tersenyum bahagia, setelah tadi melihat nya menangis. Walaupun dia harus berkorban dengan perutnya yang tidak biasa makan makanan yang di beli sembarangan. Tapi, entah kenapa dia tidak masalah dengan itu. Asal melihat Winter senang.
***
Pukul 3 pagi. Mereka sampai di perumahan Brooklyn, perumahan gaya Amerika yang simply dan klasik. Mobil Kaisar berhenti di depan sebuah rumah bercat warna biru dengan taman kecil di depan nya.
Winter tersenyum dan langsung menyentuh tangan Kaisar. “Thank you, for this day...kau mau masuk?”
Kaisar mengangguk dan tersenyum. “Sama-sama.” Dia terdiam saat Winter menawarkan nya mampir.
“Aku tidak sengaja mengotori kemeja mu dengan saus tadi, aku akan membersihkan nya sedikit,” ucap Winter menatap bagian dada kemeja Kaisar yang kotor terkena saus.
“Tidak masalah, lagipula kemeja ini memang sudah kotor. Besok aku akan membawanya ke laundry,” jawab Kaisar.
“Ayolah, aku tidak enak padamu...aku bersihkan sedikit di dalam.” Winter memaksa dan menarik nya keluar dari mobil.
Mau tidak mau pun Kaisar turun dari mobil dan mengikuti Winter masuk ke dalam rumah nya. Gelap sekali, lampu ruang tamu dan ruang santai nya mati. Kaisar melihat Winter yang masuk kedalam satu ruangan menaruh jaket dan tas nya di atas sebuah tempat tidur. Kaisar yakin itu adalah kamar tidur Winter, bernuansa ero**s cat berwarna merah. Seperti Winter yang cantik dan seksi.
Winter menarik tangan Kaisar dan mengajak nya ke dapur. Dia bersandar di meja dapur memperhatikan Winter yang membasahi kain di wastafel. Lalu berbalik menghadap dirinya.
“Buka kancing kemeja mu,” ucap Winter.
Kaisar menurut dan membuka tiga kancing kemeja nya. Memperlihatkan dadanya yang busung dan kekar. Winter tersenyum melihatnya.
“I'm sorry about this.” Winter mendekat dan mulai membersihkan bagian kemeja yang kotor.
Kaisar tersenyum menatap wajah Winter yang kini berada sangat dekat dengan nya. Bahkan aroma tubuh wanita itu sangat jelas tercium oleh nya. Kaisar tidak sadar dadanya berdebar sangat hebat.
“Maaf juga, aku sudah menangis di depan mu,” ucap Winter seraya terus mengusap kemeja Kaisar.
Kaisar terus menatap wajah Winter. Dia sangat cantik dan bibir nya begitu manis. Kaisar pun memegang tangan Winter. Keduanya saling menatap dengan sangat dekat. Bahkan deruan nafas mereka saling beradu.
Kaisar mendekat perlahan. Winter menutup matanya saat bibir mereka mulai menyatu. Tangan Kaisar melingkar di pinggul ramping Winter menarik nya semakin dekat.
Suasana semakin panas. Sambil terus beradu, Kaisar membuka satu persatu kancing kemeja nya hingga terlepas. Perlahan langkah membawa mereka masuk kedalam kamar Winter.
Kaisar melepaskan ciuman mereka. Dia merebahkan tubuh Winter perlahan ke atas tempat tidur. Mereka berdua saling menatap dan melempar senyuman. Kaisar melepas arloji dan membuka kemeja nya, lalu melemparnya ke sembarang arah.
Lalu kembali mencium bibir Winter dengan ganas. Winter membalik posisi kini Kaisar yang berbaring di atas tempat tidur. Dia duduk tepat di atas Kaisar. Membuka perlahan baju nya. Menampilkan kulit nya yang putih mukus dan sesuatu yang indah di mata Kaisar.
Kaisar menarik kembali pinggul Winter agar tertunduk lalu mencium bibir nya kembali. Suasana semakin memanas. Dingin nya pagi hari ini itu tidak membuat mereka kedinginan walaupun tanpa busana.
Kaisar merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan selama ini. Apakah begini rasanya? Sangat nikmat, pikirnya. Begitu juga dengan Winter yang tidak pernah melakukan hubungan intim dengan siapa pun setelah dia bercerai. Apakah malam ini akan menjadi kisah awal untuk mereka berdua?
To be Continued.