Secret Billionaire & Hot Mother

Secret Billionaire & Hot Mother
Ch 25 : Konferensi pers



Gedung Syareef Company. Tepat pukul 11 pagi. Gedung tinggi pencakar langit itu. Ramai dikelilingi orang-orang demo dan para wartawan media lokal juga media luar. Mereka berlomba-lomba memberitakan tentang kejadian di distrik 76.


Lebih parahnya lagi, anggota dewan pemerintahan sudah mendengar tentang berita tersebut. Pemerintah menyayangkan sekali perusahaan ternama itu membiarkan pekerja nya sampai meninggal dunia. Tidak ada uang kompensasi untuk para pekerja yang ada di sana. Dan juga katanya keluarga korban yang meninggal menghilang tidak ada kabar.


Diisukan bahwa mereka telah di ancam oleh pihak perusahaan untuk tutup mulut. Padahal itu semua tidak benar. Apa yang media bicarakan semuanya terlalu di lebih-lebihkan. Hal yang tidak terjadi di buat senyata mungkin, agar yang membaca dan mendengarnya percaya.


“Mohon maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Lee kepada beberapa orang pemerintahan yang tengah duduk di dalam ruangan meeting.


“Kami tidak habis pikir jika perusahaan ternama seperti ini, melakukan hal serendah itu!” kata salah satu orang.


“Benar sekali, cuihhh! Kalian licik dan tidak berperasaan kepada keluarga korban, ” sahut yang lain.


“Maaf, Tuan. Itu semua tidak lah benar. Tuan Syareef sudah memberikan kompensasi kepada keluarga Korban yang meninggal dunia. Bahkan para pekerja yang tidak terkena dampak kecelakaan itu, juga kami berikan kompensasi yang besar.” Lee berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Tapi orang-orang itu masih sibuk mencerca tidak ada yang mendengarkan nya.


Salah seorang mengangkat tangan nya. Dilihat dari pakaian nya dan tampang nya. Dia seorang Perdana Menteri. Lee pun mempersilahkan nya bicara.


“Saya mengusulkan akan menyegel dan tidak membiarkan resort 'Snow Forest In Winter' itu di buka,” katanya dengan suara lantang dan tegas. Diikuti dengan anggukan para pengikutnya.


Lee tersentak kaget. Dia hendak menyahut tapi Perdana Menteri itu mengangkat tangan nya mengisyaratkan Lee untuk diam.


“Jika Pemimpin kalian tidak mengadakan konferensi pers di depan semua media. Menjelaskan semuanya tentang masalah ini. Saya memberikan kalian waktu hingga jam 12 siang nanti. Jika tetap tidak mau, terpaksa saya akan mengeluarkan surat penyegelan nya!”


Lee menatap ke arah CCTV di ruangan itu. Dia tahu bahwa Kaisar bisa mendengar apa yang di bicarakan di ruangan itu. Karena kini dia sedang memantau nya menggunakan tablet, dari ruang kerjanya.


Kaisar menaruh tablet itu di atas meja. Lalu dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Kaisar mengusap wajahnya yang gusar. Rasanya kepala ini mau pecah. Tidak disangka sampah sekecil Jordan akan menimbulkan masalah sebesar ini untuk nya.


Belum selesai masalah satu, kini timbul masalah baru. Bahkan sampai sekarang ini dia belum sempat mengabari Winter. Entah apa yang akan di pikirkan wanita itu padanya.


Brak!


Pintu ruang kerjanya terbuka lebar. Kyle, Bryan, dan juga Pedro masuk ke ruangan nya dengan tergesa-gesa. Setelah mereka mendengar kabar tentang konferensi pers itu mereka langsung bergegas mendatangi Kaisar.


“Untuk apa lagi kalian kemari? Aku sedang tidak ingin mendengar ocehan kalian yang tidak penting!”


Kyle mendekat lalu merangkul Kaisar. “Bro, kita ini sahabat. Kita tidak mungkin meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini. Benarkan,” ucap Kyle seraya menatap ke arah Bryan dan Pedro.


Kaisar sempat melirik Pedro yang menjawab dengan wajah tertunduk.


“Benar, Kai. Kami disini bersama mu,” sahut Bryan.


Tok tok tok!


Pintu ruang kerjanya terbuka kembali. Masuklah Lee dengan beberapa berkas ditangan nya. Kemudian memberikan nya pada Kaisar.


“Tuan, saya tinggal mengikuti perintah selanjutnya dari anda,” ucap Lee dengan sigap.


Kaisar diam memikirkan sesuatu. Dia menatap ke arah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja kerjanya. Itu potret saat dirinya dan Winter berada di pinggir pantai. Wajah yang cantik dengan rambut ikal berwarna coklat. Dia tersenyum mengusap bingkai tersebut.


“Siapkan semua yang dibutuhkan untuk konferensi pers!”


Semua nya terkejut dan menoleh bersamaan ke arah Kaisar. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sekian lamanya identitas nya tidak pernah terbongkar ke publik. Mereka hanya tahu tentang nama nya dan tidak pernah melihat sosok nya. Tapi kali ini Kaisar akan mengadakan konferensi pers dan muncul ke publik. Sungguh keputusan yang besar.


“Kai, apa kau yakin?” tanya Pedro yang tiba-tiba bersuara.


“Jangan gegabah, Kai,” sahut Kyle.


“Pasti ada cara lain, Kai. Kau tidak perlu mengadakan konferensi pers!” Bryan nampak panik dia memegang ponsel dan segera akan menghubungi seseorang.


“Tidak! Aku sudah membuat keputusan, dan itulah yang akan kita lakukan. Konferensi pers ini mungkin akan sangat heboh. Kalian tolong urus semuanya.” Kaisar mengangguk menatap lurus ke depan. Meyakinkan para sahabatnya itu.


To be continued...