
“Hei, cantik! Sendirian aja?” ucap beberapa pria yang menghampirinya.
Winter tersadar dan segera mengangkat kepalanya. Ditatap nya ketiga orang pria yang menghampirinya itu.
“Lihatlah ternyata dia DJ cantik Fabricia,” ucap satu orang pria yang berada di sebelah kirinya.
“Dilihat dari dekat ternyata dia sangat cantik dan juga seksi,” sahut pria yang lain sambil mengelus pipi Winter.
“Kalian mau apa?” Winter melempar tatapan tajam dan menepis tangan pria itu di wajahnya. “Jangan keterlaluan!”
“Hei, galak sekali cantik, hahaha!” Para pria itu saling memandang dan tertawa.
“Malam ini kau temani kami, dan tentunya kami akan membayar mu dengan nominal fantastis,” tawar satu pria yang mengambil kursi dan duduk di sebelah Winter.
Winter semakin geram. Tapi dia tidak mau mengambil resiko, jika dia mengamuk di tempat itu dan dilihat oleh orang-orang. Image nya akan hancur.
Winter menghela nafas dan melengkungkan bibirnya tersenyum dengan menggemaskan. “I'm sorry, aku bukan wanita bayaran... jangan ganggu aku atau aku panggilkan petugas pengamanan, untuk menangkap kalian?”
“Oh ayolah, baby? Jangan jual mahal seperti ini.” Pria itu dengan lancang nya merangkul Winter.
Winter terkejut dan dia berusaha melepaskan tangan pria itu. Namun tenaganya yang terkuras habis karena mabuk. Tidak sanggup menahan perlawanan dari pria tersebut.
Namun, tiba-tiba saja pria itu meringis kesakitan.
Winter menoleh kebelakang, matanya membulat melihat Kaisar yang memelintir tangan pria yang merangkul nya tadi.
“Kai?”
Kaisar nampak berapi-api. Wajah nya merah padam. Dengan kuat dia menarik tangan pria itu yang bertengger di bahu Winter. Lalu memelintirnya hingga pria itu meringis kesakitan.
“Brengsek! Berani-berani nya kau menyentuh nya!” ucap Kaisar geram dengan rokok yang masih menempel di ujung bibir nya.
“Awhh sakit, lepaskan tangan ku! Memang nya kau siapa ikut campur, ” ringis pria itu kesakitan.
Kaisar menaikan alisnya sebelah dan mendekat ke wajah pria tersebut. Senyuman nya yang mengerikan membuat bulu kuduk pria itu berdiri.
Kaisar membuang puntung rokoknya dengan kasar kelantai lalu menginjak nya dengan kuat. “Aku kekasih nya! Jika kau berani macam-macam padanya, aku jamin kau bahkan tidak akan punya tangan lagi untuk mengangkat gelas mu! ”
Pria itu menelan salivanya. Tubuhnya gemetaran menatap Kaisar yang sudah seperti iblis dimatanya. “So so sorry, bro. Aku tidak bermaksud mengganggu wanita mu. Lepaskan tangan ku, aku akan pergi dari sini.”
Kaisar tidak mendengarkan nya dia terus melototi pria itu dengan ganas. Kaisar semakin memelintir tangan pria itu hingga dia berteriak kesakitan.
“Kai, please...hentikan! Kau bisa mematahkan tangan nya,” ucap Winter seraya menarik tangan Kaisar. Membuat pria itu tersadar dari kemarahan nya.
Pria-pria yang mengganggu Winter itu pun berlari pergi. Mereka ketakutan dengan sosok Kaisar. Dijamin besok-besok mereka tidak akan berani mengganggu Winter lagi.
Winter kembali menatap gelas minuman nya. Dia meminta bartender untuk membuatkan satu gelas lagi untuk nya.
“Berikan aku segelas lagi!”
“Pliss, berikan aku satu lagi,” mohon Winter dengan melas.
Kaisar merasa ada yang aneh dengan Winter. Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini. Terlihat sangat jelas di wajah nya, ada sesuatu yang dia khawatirkan.
Kaisar menarik kursi dan duduk di sebelah Winter. Bartender itu menatap Kaisar. Kaisar memberikan isyarat dengan anggukan. Bartender itu pun membuatkan kembali segelas minuman yang diminta oleh Winter.
Winter kembali meneguk isi gelasnya yang baru saja di berikan oleh bartender. Kini isinya sudah habis dia minum sekaligus. Kaisar mengerutkan keningnya melihat Winter yang seperti itu. Tapi Kaisar tidak mau membuat Winter merasa tidak nyaman jika dirinya bertanya. Karena itu Kaisar memilih diam dan menatap wanita itu.
Winter menoleh kearah Kaisar yang menatap nya dengan lekat. Dia tersenyum, memperlihatkan gingsul nya yang begitu manis. kaisar ikut tersenyum melihatnya.
“Aku mengira kau sudah pulang,” ucap Winter dengan mata sayu.
“Bagaimana aku bisa pulang, jika aku sudah berjanji pada seseorang bahwa aku tidak akan pergi kemana-mana,” jawab Kaisar.
Winter menatap mata indah Kaisar dan tersenyum mendengar perkataan nya. “Kau ini, apakah kepada setiap wanita bersikap manis seperti ini.”
Kaisar pun terkekeh. “Tentu saja, setiap wanita harus diperlakukan dengan manis, mereka adalah ciptaan tuhan yang paling lembut dan rapuh...karena itu seorang pria sejati pasti akan menghargai seorang wanita, seperti aku.”
Kaisar merasa mual dengan perkataan nya sendiri. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Hanya untuk membuat suasana hati wanita di hadapan nya itu membaik.
Winter menyipitkan matanya, lalu dia tertawa. “Hahaha, dari mana kau belajar kata-kata seperti itu.”
“Hehehe, entahlah.” Kaisar terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
“Andai saja setiap pria punya pemikiran sepertimu,” lirih Winter. Raut wajah nya berubah sedih dan berpaling dari tatapan Kaisar.
“Apa kau baik-baik saja? Kau bisa menceritakan nya padaku,” ucap Kaisar yang mulai merasa ingin ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Winter.
Winter tersenyum kecut. Dia menoleh dan menatap lekat wajah Kaisar yang juga sedang menatap nya.
Winter hanya diam dan kembali menghadap ke depan. Kaisar paham bahwa Winter tidak ingin membagi cerita nya kepada siapa pun. Kaisar memanggil bartender itu, dan memesan satu gelas minuman yang tidak beralkohol. Bartender itu pun memberikan nya pada Kaisar.
“Baiklah kalau begitu kau boleh menangis. Menangis lah agar kau merasa lebih tenang,” ucap Kaisar sembari meneguk isi gelas nya. Winter pun mulai meneteskan air matanya mendengar perkataan Kaisar. Bahkan tanpa sadar dia bersandar di pundak Kaisar.
Kaisar terkejut. Dia menatap wajah Winter yang begitu dekat dengan nya. Membiarkan wanita itu menangis dipundaknya.
“I'm tired, Kai. Aku sangat lelah hidup seperti ini...semua orang memandangku sangat rendah! Aku benci dengan diriku sendiri yang harus menjalani hidup kaya gini. Hiks hiks hiks.”
Winter mengeluhkan lelah yang dia rasakan selama ini. Kepada seorang pria yang baru beberapa jam dia kenal. Winter adalah wanita yang kuat, dia tidak pernah menangis ataupun memperlihatkan kesedihan nya pada orang lain. Bahkan kepada Sean yang sudah Bertahun-tahun dia kenal, satu kali pun tidak pernah Sean melihat air matanya yang menetes. Akan tetapi kepada Kaisar dia meluapkan kesedihan nya, bahkan tidak sungkan untuk memperlihatkan mata indahnya itu mengeluarkan cairan bening.
“But, I have a strong, aku harus kuat demi seseorang yang sangat aku sayangi...“
Deg.
Kaisar terdiam dan tatapan nya berubah tajam. Dia meraih gelas nya dan meneguk isinya dengan kasar. Merasa tidak senang dengan kata-kata Winter yang menyebut kan "Orang yang sangat dia sayangi." Jika gelas itu tidak kuat mungkin saja akan pecah karena genggamannya yang begitu kuat.