
Winter berjalan dengan berat untuk masuk kedalam rumah nya dan bertemu Kaisar yang pasti sedang menunggu penjelasan darinya.
“Kai?” panggil Winter sembari menatap sekelilingnya. Pandangan nya berhenti saat melihat Kaisar yang tengah berdiri di depan sebuah bufet yang ada di ruang santai.
“She is so beautiful,” puji Kaisar menatap sebuah bingkai foto ditangan nya.
“Ya, dia sangat cantik. Dia adalah orang yang paling aku sayangi...dan untuk dia juga aku berjuang selama ini.” Winter tersenyum menatap foto Syeera waktu masih bayi yang sedang Kaisar pegang.
Kaisar terdiam dia sadar bahwa ucapan Winter semalam. Ditujukan untuk Syeera bukan untuk laki-laki lain. Kaisar pun berbalik dan menaruh kembali bingkai foto itu keatas bufet. Lalu memeluk erat Winter. Ada perasaan bersalah sedikit karena sudah berpikir aneh semalam tentang Winter.
“Ada apa, Kai?”
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memeluk mu...semalam kau begitu liar,” ucap Kaisar dengan senyuman tipis.
Winter mendongak menatap malu wajah licik Kaisar. Dia menepuk dada Kaisar. “Apa-apaan sih kau ini!”
“Kenapa wajah mu memerah? Hahaha, kau sangat cantik.” Kaisar mendekatkan wajah nya dengan wajah Winter. Hidung mereka saling beradu.
Winter tersenyum mendengar pujian dari Kaisar. “Thank you.”
“Dan juga sangat seksi,” sambung Kaisar menyeringai. Kaisar menggigit kecil hidung Winter dan tangan nya meremas lembut b*kong Winter.
Winter meringis dan menggerakkan pinggul nya. “Awwh, Kai kau nakal sekali. Lepaskan aku.”
Keduanya pun mengobrol di ruang santai sambil minum teh dan kopi. Membicarakan banyak hal dan sesekali saling melempar candaan. Tidak terasa dua jam sudah berlalu.
“I have to go, baby.” Kaisar mengecup kening Winter.
Winter memperbaiki kerah kemeja Kaisar. “Maafkan aku, pasti kau sudah terlambat. Apakah Tuan Shareef akan memarahi mu?”
Kaisar terdiam dan mulai sadar bahwa dia sedang memainkan peran sebagai seorang supir pribadi seorang Billionaire.
“It's okay, Tuan Shareef adalah orang yang sangat baik hati. Dia tidak gampang marah, lagi pula hari ini dia sedang libur, ” jawab Kaisar seraya tersenyum. Ingin menertawakan dirinya sendiri.
“Apa kau akan menghubungiku?” Winter menatap dalam netra indah milik Kaisar. Pria itu hanya diam. Suasana menjadi sedikit canggung, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kaisar. Apakah dia menganggap hubungan ini hanya cinta satu malam saja? Winter seperti mengerti situasinya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Membuat suasana canggung itu teralihkan. Kaisar merogoh sakunya. Panggilan dari Lee sekertaris nya.
“Aku pergi dulu ya,” Kaisar mengecup punggung tangan Winter yang hanya diam menatap nya. “Aku akan menghubungimu.”
Dia pun pergi mengendarai mobil sport hitam mengkilat miliknya.
Brum brum brum.
Semua mata tetangga di sebelah rumah Winter tertuju pada Kaisar yang memutar mobil nya didepan mereka. Lalu menatap Winter dengan sinis. Pasti dia sudah menggoda pria kaya dan menidurinya. Itulah sosok Winter di mata tetangganya.
Winter memutar bola matanya malas mendengar ocehan para tetangganya yang syirik. Dia tidak perduli dengan semua cacian mereka. Dia hidup di Amerika yang tidak ada hukum tentang meniduri atau tidur dengan siapapun. Ini negara bebas, jadi untuk apa perduli dengan mulut orang-orang yang bahkan tidak tahu seperti apa jalan hidup nya.
***
“Halo, Lee tolong siapkan pakaian kerja di ruangan ku.” Kaisar memerintahkan Lee sekertaris nya. Melalui panggilan telepon.
“Baik, Tuan. Hari ini kita ada janji meeting dengan kontraktor Tuan Kyle,” ucap Lee dari seberang panggilan.
“Ya, aku tahu itu. Siapkan bahan-bagan yang akan di bahas di meeting nanti,” perintah Kaisar lagi dengan tegas.
Dia pun mulai melajukan mobil nya membelah jalanan kota menuju kantor nya. Dua puluh menit kemudian dia pun sampai.
Mobil sport mewah Kaisar memasuki bagian lobi sebuah gedung pencakar langit yang di penuhi dinding kaca. Semua orang pasti tahu jika itu adalah gedung Shareef Company. Yang pastinya sebuah masa depan pasti terjamin jika bekerja di dalam gedung itu. Dari posisi rendah paling bawah hingga posisi tinggi, semua karyawan Shareef Company pasti mendapat penghasilan yang sepadan. Jauh berbeda dengan perusahaan yang lain. Karena itu banyak orang yang berlomba-lomba ingin masuk ke dalam Shareef Company.
Seorang pria tampan berkaca mata yang memiliki kulit putih itu membukakan pintu mobil Kaisar. Dia adalah Lee pria keturunan Korea Selatan itu sudah menjadi sekertaris Kaisar selama enam tahun, sejak dia berusia 21 tahun. Kaisar sangat percaya pada Lee, semua pekerjaan dan proyek-proyek rahasia dia percayakan pada Lee.
“Baju kerja ku?”
“Sudah saya siapkan di ruangan anda, Tuan.”
Kaisar berjalan dengan gagah nya memasuki loby dan menuju pintu lift khusus untuk CEO. Semua karyawan yang dia lewati pasti menunduk hormat padanya. Tidak terkecuali Manager baru yang di angkatnya baru-baru ini. Karena sudah berhasil menangani proyek besar.
“Selamat pagi, Tuan Shareef,” sapa Manager itu saat berpapasan dengan Kaisar yang baru mau masuk ke dalam lift nya.
Langkah Kaisar terhenti, dia menatap Manager itu dengan wajah tegas. Lalu kembali melangkah masuk kedalam lift bersama dengan Lee sekertaris nya. Lift pun tertutup dan segera bergerak naik menuju lantai 99, lantai paling atas dimana ruangan kantor Kaisar berada.
“Dia manager baru itu kan, distrik 6?” tanya Kaisar.
“Benar, Tuan.” jawab Lee mengangguk.
“Kerjaan nya lumayan bagus, dan progres nya cepat saat masalah bahan baku di distrik 6 bermasalah.” Kaisar memuji kinerja Manager baru itu, seraya mengingat waktu terjadi masalah pada proyek nya di distrik 6.
“Benar, Tuan. Saya rasa tidak salah anda menaikan jabatannya.”
“Siapa namanya?”
“Namanya Jordan Alvarez, Tuan.“
“Alvarez?” Kaisar mengerutkan dahinya dan seperti mengingat sesuatu. “Dimana aku pernah melihat nama ini.”
Lift pun terbuka, mereka telah sampai di ruangan kerja Kaisar. Ruangan yang begitu besar terlihat begitu elegan. Bernuansa abu-abu yang dipenuhi barang-barang mewah. Seperti sofa, tv led besar, ruang ganti pakaian, ruang istirahat, kamar mandi. Sekeliling di tutupi dengan dinding kaca, membuat ruangan itu terlihat sangat indah. Pemandangan Kota California jelas terlihat dari atas sana.
Kaisar keluar dari dalam ruang ganti pakaian. Lalu dia duduk di kursi kerjanya. Sambil memakai arloji di lengan kiri. Kemudian meraih kertas yang ada di atas meja kerja.
“Jadi apa masalah nya kali ini? ” Kaisar menghela nafas pelan.
“Masalah nya tentang kinerja para karyawan kontraktor Tuan Kyle. Mereka sudah melewati target pembangunan yang kita tentukan waktunya, ” jelas Lee.
Kaisar memijit pelipisnya yang tegang. Lelah dengan masalah di distrik 76 yang di ambil alih perusahan Kyle sahabatnya. Distrik 76 adalah proyek besar, dimana Kaisar akan membangun sebuah resort mewah yang pastinya tidak ada tandingan nya di dunia. Akan tetapi selalu timbul masalah baru-baru ini. Entah apa yang membuat kinerja para karyawan Kyle bermalas-malasan dalam bekerja.
“Baiklah, apa kau sudah menghubungi Kyle?”
“Sudah Tuan, Tuan Kyle sudah berada di sana untuk bertemu dengan para karyawan nya. Saya juga sudah menyiapkan Jet pribadi anda, akan siap berangkat kapan pun anda siap.”
“Yasudah, bisakah kau meninggalkan ku sendiri lebih dulu? 15 menit lagi kita berangkat.”
Lee mengangguk dan segera pergi meninggalkan Kaisar sendiri. “Baik, Tuan.”
“Lee?” panggil Kaisar kembali saat Lee hendak menutup pintu ruangan nya. Lee menoleh kebelakang.
“Ajak Manager baru itu juga. Aku ingin melihat apakah dia memiliki saran untuk masalah di sana,” ucap Kaisar yang di jawab dengan anggukkan oleh Lee.
Sepeninggal Lee. Kaisar menyandarkan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna hitam yang ada di ruang kerjanya itu. Pikiran nya melayang mengingat kejadian semalam. Dimana Dia manjakan oleh Winter. Kaisar tidak bisa melupakan nya begitu saja.
Akan tetapi ada sesuatu yang membuatnya berat. Winter adalah seorang janda beranak satu. Awal nya dia hanya ingin bermain-main dengan Winter seperti biasa dia pada wanita-wanita lain. Yang hanya dia manjakan dengan uang nya. Tidak pernah sampai harus tidur dengan nya. Tapi semalam, dirinya tidak bisa menahan diri untuk melakukan nya bersama Winter. Apakah karena bawaan mabuk atau hal yang lain, Kaisar tidak tahu.
“Winter, maafkan aku,” lirih Kaisar seraya menghela nafas nya dan menutup mata.
To be continued.