
Winter berjalan ke teras belakang mansion. Dia menatap sekeliling nya. Teras itu nampak sangat cantik dengan dihiasi bunga-bunga di pagar nya dan kerlap kerlip lampu. Di tengah nya ada sebuah meja yang dihias secantik mungkin. Terdapat dua buah piring berisi desert mewah. Lalu ditengah nya ada vas bunga mawar.
Winter memalingkan wajah berjalan melewati meja itu. Dia bersandar di pagar sambil menatap ke arah laut. Yang begitu gelap nya di malam hari. Hanya bebatuan besar dan pasir putih yang terlihat.
Angin menerpa wajah dan tubuhnya, menerbangkan tiap helai rambut ikalnya yang panjang berwarna coklat. Winter mengusap sisa air mata di pipinya. Lalu mengeluarkan kotak rokok dari saku celana. Kemudian membakar satu batang yang terjepit di jemari lentiknya.
Matanya tertutup sambil menarik menyesap rokok. Lalu menghembuskan nya dengan gumpalan asap yang berterbangan di udara.
“Winter,” panggil Kaisar dari arah belakang.
Winter diam tak menjawab. Dia tetap sibuk menyesap rokoknya. Tidak memperdulikan kehadiran pria di belakangnya.
“Happy anniversary, honey.”
Cups.
Kecupan hangat mendarat di kening lalu bibirnya. Winter hanya diam. Bahkan merespon dengan gerakan atau tatapan mata saja tidak. Dia menatap dingin ke arah lain.
Kaisar, pria itu berjongkok di hadapan nya. Membuat matanya tertarik untuk menatap nya. Alis nya bertautan menatap heran apa yang akan di lakukan nya.
“Winter, aku sangat mencintaimu. Bersama mu aku sudah menemukan kebahagiaan ku. Dan sekarang aku mau kau menjadi kekasihku untuk selamanya. Will you marry me, honey?” tutur Kaisar dengan perasaan tulus dan tatapan hangat yang begitu dalam.
Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ingin rasanya dia melompat kedalam pelukan pria itu saat ini juga. Akan tetapi tubuhnya menolak, dia tidak bisa melakukan itu. Karena mengingat betapa sakitnya kebohongan yang dilakukan oleh Kaisar.
Winter memalingkan wajahnya menatap ke arah pantai dengan mata berair. Diikuti oleh tubuhnya yang membelakangi Kaisar. Pria itu menatap nya dengan keheranan.
“Honey, please. Look at me! Lihat aku! Apa kau tidak mencintaiku?” Kaisar berdiri dan meraih kedua pundak Winter. Memutar tubuh wanita yang dia cintai itu sejajar dengan tubuhnya.
Di usap nya wajah lembut dan bercahaya itu dan menyelipkan helaian rambutnya yang indah ke belakang telinga nya.
Tatapan keduanya sangat dalam. Winter yang tak kuasa menahan air mata nya lagi. Kini sudah mengalir dengan jelas. Dia menepis tangan Kaisar dengan kasar.
“Aku mencintaimu Kaisar. Tidak, maksudku aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu Tuan Syareef yang terhormat!”
Deg.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu,” lirih Kaisar.
“Drama apa lagi ini, Kai? Aku sudah muak memikirkan nya!”
“Maafkan aku, sayang. Please, dengarkan aku!”
“Apa? Apalagi yang harus di dengar. Aku sudah mengerti maksudmu! Dari awal kau hanya ingin bermain-main dengan ku kan! Kau sudah gila! Bajingan!”
Winter mulai meledak-ledak. Amarah nya yang dari tadi dia tahan sudah tak terbendung lagi. Bersamaan dengan air matanya yang deras mengalir.
“Kau berbohong tentang status mu sebagai seorang Billionaire? Untuk apa? Apakah karena kau takut aku hanya mengincar hartamu saja? Hahaha, kau berpikiran aku seperti itu? Really? Are you kidding me?”
Kaisar menggelengkan kepalanya. Ingin menyentuh wajah Winter. Namun wanita itu memundurkan wajahnya. Tak ingin di sentuh.
“Honey, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan. Aku benar-benar sangat mencintaimu! Aku tidak ingin berpisah denganmu!” Kaisar memohon dengan tulus.
“Cinta kau bilang? Tidak ada cinta yang menyakitkan seperti ini, Kai. Apa yang kau lakukan ini membuat aku sadar bahwa aku tidak pantas untuk mu! Dan menyadarkan ku juga tentang perbedaan kelas kita...”
Winter melangkah pergi membawa semua luka yang ada di hatinya. Kaisar beranjak dan segera berlari menahan nya.
“Honey, jangan pergi. Maafkan aku. Semua yang kau pikirkan salah. Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu. Please, forgive me. I can't life without you!”
Kaisar pria tampan yang tangguh. Tidak pernah menangisi seorang wanita. Tanpa dia sadari air matanya menetes kala itu. Berat dan sangat tidak sanggup jika harus kehilangan Winter. Akibat kesalahan nya sendiri.
“Lepaskan aku! Aku mau istirahat. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!”
Winter pun bergegas masuk ke dalam mansion itu. Meninggalkan Kaisar yang diam terpaku. Dia meringkuk dengan mengacak rambut. Serta mengusap wajahnya berkali-kali. Dadanya begitu sakit, mengingat perkataan Winter.
“Ahhh brengsek! Kaisar kau sudah terlambat, ini kesalahan mu sendiri!” makinya pada diri sendiri.
To be continued.