
“Maafkan aku, Kai. Aku sudah memutuskan untuk pergi. Aku menerima pekerjaan yang Esmee tawarkan. Aku akan pindah ke New York. Aku butuh waktu untuk hubungan kita. Dan aku rasa ini waktu yang tepat, aku membawa Syeera pergi jauh dari Jordan.
Sebelum kau menghancurkan mimpi kita berdua. Mimpi yang aku bangun seakan kita akan hidup bersama selamanya. Tapi apa? Mimpi yang bodoh, selama ini aku sudah kau bodohi... ”
Kaisar meremas kertas ditangan nya itu. Lalu membuangnya sembarangan. Di dalam ruang kerjanya dia menundukkan kepala di atas meja kerja. Semua nya hancur berkeping-keping.
Cintanya telah pergi. Setelah dua hari yang lalu, dia meminta maaf kepada Winter. Ternyata itu adalah pelukan terakhir mereka.
“Maafkan aku Winter. Maafkan aku, AGHHH!!!!” Semua barang di atas meja kerjanya. Termasuk bingkai foto Winter yang selalu dia tatap saat bekerja. Kini terhempas ke lantai dengan kuat.
Bingkai itu pecah, dan menghamburkan serpihan kacanya di lantai. Jika terinjak akan sangat perih terasa. Seperti hatinya yang saat ini sudah hancur.
Percuma apapun yang dia katakan. Winter telah pergi. Kaisar sudah tidak pernah bertemu dengan Winter lagi. Sejak dua bulan terakhir. Dia hanya bisa melihat wanita kesayangan nya itu dari sosial media.
Dia sudah begitu terkenal. Banyak orang yang mengaguminya. Kaisar ikut merasa senang dengan kesuksesan Winter. Dia hanya bisa mensupport dari kejauhan saja.
“Bagaimana keadaan nya? Apa dia baik?” tanya nya kepada seseorang di telpon.
“Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu!” perintahnya kemudian.
Pintu kamarnya pun terbuka. Kyle dan Bryan masuk membawa sebuah botol whiskey kesukaan mereka. Dengan senyuman sumringah.
“Kaisar, sahabatku. Hari ini aku traktir minum. Kita pesta semalaman, okay,” kata Bryan dengan percaya diri.
“Untuk merayakan apa?” tanya Kaisar sembari berdiri dari duduk nya. “Jika hal tidak penting aku tidak mau!”
“Kau ini, tega sekali. Apa kau lupa hari ini adalah hari ulang tahun ku!” Bryan mengerucutkan bibirnya lalu merangkul Kaisar.
“Ayolah, Kai. Aku sudah tanya Lee, besok kau tidak ada jadwal meeting,” sahut Kyle membujuk.
Setelah berpikir akhirnya Kaisar mengangguk. Membuat kedua sahabatnya itu berteriak girang. “Come on, guys. We are party to night!”
Kaisar tersenyum tipis melihat tingkah para sahabatnya itu. Walaupun mereka hanya bertiga saja. Karena sudah tidak ada Pedro. Sebulan lalu Pedro menikah dan tinggal di Milan. Sampai sekarang mereka belum menerima kabar tentang nya. Itu salah satu kegalauan yang Kaisar rasakan. Setelah ditinggal pergi Winter, tidak lama kemudian salah satu sahabatnya juga pergi.
Dum dum dum.
Suara musik menggema dengan keras di sebuah klub malam. Pencahayaan nya yang minim membuat Kaisar menyipit menatap sekeliling dari klub malam itu. Mereka bertiga segera duduk di salah satu meja VIP.
Setelah duduk lima menit. Beberapa ladies datang dan duduk menemani mereka bertiga. Kyle dan Bryan seperti biasa kan berpesta dengan maksimal. Dia tidak mau menyia-nyiakan para ladies yang menemani.
Di kiri dan kanan, dua wanita menghimpit mereka berdua. Tidak dengan Kaisar yang biasa saja saat dua wanita duduk di sebelahnya. Dia hanya diam menikmati minuman nya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Bahkan dua wanita itu mencoba merayu dan menggodanya, akan tetapi dia hanya tersenyum tipis dan memberikan sejumlah uang pada wanita-wanita itu. Kemudian kembali meneguk isi gelasnya.
Saat malam sudah mulai larut. Klub malam itu menampilkan sebuah permainan musik dari seorang DJ. Untuk menghibur para tamu VIP.
Musik mulai dimainkan dengan dentuman dan nada yang unik. Tiba-tiba saja Kaisar terdiam dan menatap wanita yang tengah memainkan piringan musik di atas panggung.
“Don't touch me, baby!!”
Tatapan nya begitu tajam dan cengkraman tangan nya di tangan salah satu wanita itu sangat kuat. Saat wanita tersebut ingin memegang dada Kaisar. Akan tetapi lebih dulu dia tahan.
“Awwh, sakit.” Wanita itu meringis. Kyle dan Bryan terkejut melihat sikap Kaisar.
“Kai, apa yang kau lakukan?” ucap Kyle.
“Kau menyakitinya Kai,“ sambung Bryan.
Kaisar menatap keduanya juga dengan tajam. Wajah nya memerah, dia sudah mulai mabuk. Dia pun melepaskan cengkraman nya.
“Aku sudah memberikan mu uang, dan kenapa kau masih saja serakah? Ingin menyentuh tubuhku! Jangan sentuh apa yang bukan milikmu!” ucap Kaisar dengan penuh ancaman. Membuat wanita itu harus menelan saliva yang sekeras batu. Badan nya bergetar karena ketakutan.
Kaisar pun beranjak dan langsung melangkah pergi. “Brengsek sekali!”
Kini dia tengah berada di balkon klub malam itu. Membuka kotak rokok, lalu menempelkan satu batang ke mulut nya. Kemudian menyalakan nya.
Kaisar menyesap rokok dengan mata tertutup. Merasakan ketenangan yang sedari tadi dia butuhkan. Saat dua wanita itu mulai mengganggu nya.
“Tubuhku ini hanya milik, Winter,” lirih nya pelan sambil tersenyum tipis.
Dia pun membuka matanya. Melihat ada seorang wanita di ujung sana yang tengah berdiri menatapnya. Wanita itu tersenyum dan berjalan mendekatinya. Sambil membawa sebatang rokok yang terselip di jemarinya. Sesekali dia menyesapnya dan menghembuskan asapnya ke udara.
Kaisar tertawa pelan sambil memalingkan wajahnya. “Wanita ku lebih seksi dibandingkan dia, hahaha!”
“Jangan mendekatiku, jika kau masih mau hidup! Aku sedang tidak mau diganggu!” titah Kaisar saat dia tahu Wanita itu sudah berada dibelakangnya.
“Ada apa, tampan? Jika kau sedang ada masalah, dan memerlukan seorang orang. Aku bisa menemanimu, akan kuberikan sesuatu yang tidak pernah kau rasakan.” Wanita itu berbicara dengan nada sensual.
Kaisar terkekeh pelan. Lalu berbalik menatap tajam wanita itu. “Bagaimana caranya kau memuaskan ku?Apakah dengan tubuhmu ini?”
Wanita itu mengangguk dengan semangat. Dia pikir rayuan nya sudah berhasil menggoda seorang Kaisar.
“Tapi sayang aku tidak tertarik. Karena tidak ada yang bisa menandingi tubuh wanitaku! Sekarang kau pergi, jangan ganggu aku!” ucap Kaisar sembari menatap dengan penuh hina dan rendahan kepada wanita itu.
Lalu dia tertawa sudah membuat wanita itu kesal dan marah Kaisar kembali menyesap rokoknya hingga habis. Saat ini dia sudah setengah mabuk. Karena itu pikiran nya sudah mulai kacau. Dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Pikiran nya dipenuhi oleh Winter dan hanya Winter saja.
Padahal dia bisa saja pergi ke New York untuk menemui Winter. Akan tetapi dia tidak mau dengan egonya. Dia menunggu saat dimana Winter sudah siap bertemu lagi dengan nya. Tidak ada paksaan, yang sebenarnya Winter sudah memaafkan kesalahan nya. Entah sampai kapan saat itu akan tiba.
Winter tidak tahu. Jika hari-hari yang Kaisar lewati sejak kepergian nya. Begitu sunyi dan sepi. Yang terkadang dipenuhi dengan omelan Winter dan keisengan gadis kecil bernama Syeera itu. Dia sangat merindukan itu semua. Sampai-sampai dia terkadang tidak bisa tidur di malam hari.
To be continued...