
Kaisar, pria itu mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. Suasana begitu canggung. Sesekali ia melirik ke arah wanita cantik yang duduk diam di sebelahnya.
“Sayang, kita ke mansion ku ya,” ajak nya seraya tersenyum dan menggenggam tangan wanita tersebut.
Winter menoleh menatap nya dengan mengerinyit. “Bagaimana dengan Syeera? Besok dia harus sekolah.”
“Kau tenang saja, aku sudah meminta Mommy menemani Syeera. Sekarang dia mungkin sudah tidur nyenyak di rumah Mommy,” ucap nya dengan tulus.
“Heh, bahkan kau sudah seenaknya mengatur tentang anak ku,” lirih Winter pelan dengan menatap ke luar jendela.
“Ada apa, sayang?” tanya nya lagi sembari berusaha mencairkan suasana canggung itu. “Aku sangat merindukan mu.”
Winter hanya diam tanpa menyahut dan bahkan menoleh pun dia seperti tak sudi. Air matanya mengalir tanpa izin, membuat dirinya sangat kesal. Dengan kasar dia mengusap air mata itu.
Melihat sikap dingin dan acuh wanita yang dia cintai terhadapnya. Tentu membuat Kaisar ingin memeluknya saat ini dan meminta maaf dengan tulus. Akan tetapi tidak dia lakukan, karena dia memang salah. Dia pantas di hukum.
Setengah jam mereka diperjalanan, sampai akhirnya tiba di mansion mewah nya yang berada di pinggir laut. Mansion dimana dia pernah membawa Winter dan juga Syeera berlibur.
Tangan nya tergerak untuk menyentuh pundak wanitanya. “Come on, honey. Kita sudah sampai.”
Tangan nya itu hanya mengambang di udara, dan belum sempat menyentuh pundak Winter. Wanita itu lebih dulu membuka pintu dan keluar dari mobil.
Dingin sekali sikap nya seperti arti dari namanya. Kaisar menghela nafasnya. Dia ingin sekali marah karena sikap acuh Winter. Tapi apa? Dia tidak berhak untuk marah. Dia pun mengalah dan ikut turun dari mobil. Dia berjalan mendekati Winter yang hanya berdiri diam. Melipat kedua tangan di depan dadanya, sambil melihat pemandangan laut dari jauh.
“Semuanya sudah dibereskan, Tuan.” Salah seorang bodyguard datang.
“Jangan sampai ada orang yang melewati jalanan ini,” ucap nya tegas kepada pria berotot itu.
“Baik, Tuan.” Pria itu segera pergi.
Winter sempat menoleh ke arah Kaisar yang berbicara dengan bodyguard nya. Dalam hati nya dia sangat muak. Dia pun berjalan ke arah tangga kayu teras mansion itu. Langkah nya terhenti ketika tangan nya diraih oleh Kaisar.
“Winter,” panggil nya dengan lirih dan wajah melas.
Winter tersenyum. “Kenapa? Apa sekarang kau malu jalan dengan ku? Karena itu kau berpakaian seperti ini? Bahkan kau meminta bodyguard mu untuk menjaga tempat ini agar tidak ada yang datang! Kau malu punya hubungan denganku?”
Deg.
Inilah kata-kata yang dia takutkan keluar dari mulut Winter. Itu sangat menyakitkan. Akan tetapi dia masih belum tahu bahwa ini baru awal dari kemarahan Winter.
“Honey, please. Jangan berkata seperti itu. Aku mencintaimu!” Dia menggenggam kembali tangan wanitanya dan menatap lekat netra indah nya.
“Cinta? Hahaha, itu lucu sekali!” Winter tertawa melepaskan tangan nya dan melangkah pergi meninggalkan Kaisar yang diam terpaku.
Melihat Winter pergi, dia segera mengejarnya. Kini mereka ada di dalam mansion. Winter pergi ke dapur untuk mengambil sebotol whiskey dari lemari bir. Lalu membukanya kasar, kemudian meneguk nya dengan rakus.
“Sayang, apa yang kau lakukan!” Kaisar merampas botol itu lalu menjauhkan nya dari Winter.
“Aku haus! Kenapa? Kau kaget? Beginilah aku! Jika aku haus aku akan minum alkohol!” ucap Winter dengan cetus sambil merampas botol itu kembali.
“Sayang, please. Jangan seperti ini, aku mohon!” Kaisar memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
Hatinya begitu sakit melihat Winter yang seperti ini. Dia ingin berkata “Maaf!” tapi sangat susah. Winter menggeliat mencoba melepaskan diri. Tapi dia semakin erat memeluk nya.
“Kau tidak mengenali aku kan yang seperti ini! Aku juga punya rahasia! Aku juga tidak memberitahumu semua tentang ku! Bukan hanya kau saja yang punya rahasia! Kaisar, kau sangat brengsek!”
Kaisar mengecup pucuk kepala Winter. Wanita itu sudah mulai hilang kendali karena minuman alkohol yang dia minum.
To be Continued.