
Kaisar duduk memangku dagu dengan tangan nya di atas meja kerja. Pandangan nya terlihat kosong. Benar saja, pikiran nya melayang memikirkan wanita yang hatinya sudah hancur. Sakit, pasti sangat sakit. Kaisar memaki dirinya sendiri karena sudah tega menghancurkan hati wanita itu.
Tidak lama kemudian. Pintu ruangan nya terbuka. Dia tetap tak bergeming. Tidak menghiraukan kehadiran Lee. “Selamat siang, Tuan. Sudah jam makan siang? Apa anda mau saya memesan tempat di restauran biasa?”
Tidak ada jawaban. Mata indah nya tidak melirik atau bergetar. Sampai pada akhirnya, dia dikejutkan. Dengan ketukan pelan dimeja kerjanya.
“Maaf, Tuan.” Sekertaris pribadinya itu mengetuk meja dengan sedikit sumbar. Karena takut akan mengganggu apa yang sedang di pikirkan Tuan nya. Akan tetapi apa boleh buat? Dia di haruskan mengingatkan jam makan siang pada sang Tuan.
Dia tersentak dan langsung mendongak menatap Lee yang berdiri tepat didepan mejanya. “Ada apa?”
“Sudah jam makan siang, Tuan. Apa anda mau saya memesan tempat biasa?” tanya Lee kembali.
Dia menghela nafas dan mengusap wajahnya yang gusar. Sambil memijit pelipis nya yang penat. Setengah hari ini kerjaan nya tidak tenang. Karena isi kepalanya hanyalah sosok Winter. Bagaimana tatapan hangat nya sudah berubah. Menjadi tatapan dingin yang menyakitkan.
“Hari ini aku mau pulang cepat, Lee. Aku merasa sangat tidak enak badan,” ucap nya sambil memijit kepalanya.
“Apa anda sakit, Tuan? Apa perlu saya bawa ke rumah sakit? Atau saya panggilkan Dokter ke apartemen anda?” Lee nampak sangat khawatir dengan keadaannya.
Dia menggeleng tersenyum tipis. “Tidak perlu, Lee. Aku mau pulang ke rumah Mommy.”
“Anda yakin, Tuan?” Lee lagi-lagi bertanya dengan cemas.
“Saya yakin, Lee. Siapkan mobil saya, saya mengemudi sendiri!” perintahnya kemudian.
“Tapi, Tuan. Sekarang sudah sangat bahagia jika anda bepergian sendiri tanpa ditemani,” jelas Lee.
Dia mendongak menatap tajam sekertaris nya itu. “I'm fine, Lee! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Diam lah! Jangan menambah beban pikiran ku hari ini!”
Lee mengangguk dengan sigap. “Baiklah, Tuan. Saya akan segera siapkan mobil anda.” Lee pun segera pergi dari ruangan nya.
*
Kini Kaisar tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju kediaman sang ibu. Di pertengahan jalan.
Dia berhenti di pinggir jalan. Dia menjadi sangat emosional. Dengan wajah merah dia memukul-mukul setir kemudi. Berteriak dan memaki dirinya sendiri. Dan tak jarang dia meremas rambut nya lalu mengusap wajah dengan kasar.
“Brengsek kau! Apa yang sudah kau lakukan? Kau menghancurkan hubungan mu sendiri, Kai!”
Dia mengusap air mata kemarahan nya dari sudut mata. Dia tak habis pikir bahwa kebohongan nya dari awal. Akan menjadi boomerang tersendiri untuk cintanya.
“Aku mencintaimu, Winter. Sangat-sangat mencintaimu,” lirihnya pelan sambil menatap layar wallpaper di ponselnya.
Tetesan air mata membasahinya. Membuat Kaisar tak kuasa. Dia menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya. Berusaha menenangkan dirinya. Setelah tenang barulah dia melanjutkan perjalanan. Menuju kediaman Eren, sang Ibu.
Sesampainya di rumah Eren. Langkah nya begitu lunglai. Saat sudah berdiri tepat di hadapan sang ibu. Yang saat ini sedang duduk santai sambil menyeduh teh.
Dia bersimpuh dengan lutut dilantai. Sambil menidurkan kepalanya di pangkuan sang ibu. “Mommy,” lirihnya yang begitu menyedihkan.
Eren hanya diam. Tangan nya menyentuh kepala Kaisar yang berada di pangkuan nya. Kemudian mengelus nya dengan lembut. Tadi pagi dia bisa merasakan kesedihan dari Winter. Akan tetapi, siang ini dia juga bisa mengerti kesedihan yang Kaisar rasakan.
“Mommy,” Kaisar mendongak lalu berdiri dihadapan Eren. “Kaisar tahu ini sangat menyakitkan untuk Winter. Tapi Kai, tidak bisa berbuat apa-apa, Mom. Semakin aku menatap wajahnya dan dia menangis. Semakin itu juga hati Kaisar perih.”
“Mommy tahu, sayang. Karena itu kau sudah terlambat, Kaisar.“ Eren ikut berdiri dan langsung menyentuh pipi sang anak dengan penuh kasih. Air matanya terus mengalir, menangisi nasib cinta putra kesayangan nya itu.
“Aku ingin menjelaskan padanya. Tapi menjelaskan apa? Yang ada akan semakin menyakiti hatinya. Karena semua yang dia tuduhkan memang benar. Dari awal aku hanya berniat untuk main-main dengan nya. Seperti wanita-wanita yang menjadi mainan ku! Aku memang brengsek, dan bukan pria baik-baik.”
“Hei, sayang. Jangan bicara seperti itu. Kau adalah harta terindah yang pernah Mommy miliki. Dan kau adalah pria yang punya hati baik, di balik sifat keras kepalamu. Tapi-”
“Tapi apa, Mom?” Kaisar menatap dalam mata Eren.
Bibir Eren bergetar ingin menjawab walaupun sangat berat. “Kau sudah terlambat, Winter akan pergi jauh.”
Deg.
Seperti tersambar petir disiang bolong. Hatinya hancur seketika, mendengar perkataan sang ibu. “Tidak mungkin! Itu tidak mungkin, Mom. Aku dan Winter sudah berjanji untuk selamanya bersama!”
“Mommy tahu itu janji kalian berdua. Tapi itu sebelum ini terjadi! Sekarang nasi sudah menjadi bubur, Kai. Dan bubur tidak bisa kembali menjadi nasi atau pun butiran beras yang utuh.”
Tanpa berpamitan. Kaisar melepaskan pelukan sang ibu dan berlari pergi. Eren tidak bisa berhenti menangis. Melihat sisi sang anak yang tidak pernah dia lihat sebelum nya. Dan dia semakin yakin bahwa Kaisar benar-benar mencintai Winter.
Eren meraih sebuah bingkai. Mengusap sosok pria yang tengah tersenyum dengan setelan jas nya yang gagah. Dia adalah Velasco ayah Kaisar.
“Lihatlah, honey. Kau benar waktu itu. Kau bilang bahwa suatu saat nanti, aku akan melihat sosok paling beda dari Kaisar kita. Dan hari ini aku sudah melihatnya,” lirih Eren tersenyum samar dalam kesedihan nya.
*
Brak!
Pintu rumah Winter terbuka dengan sangat kencang hingga menabrak dinding di belakang nya. Winter yang saat itu sedang membereskan beberapa barang ke dalam kotak. Terkejut dan segera menoleh.
Saat matanya menemukan sosok yang membuat nya hancur saat ini. Dia segera berpaling, walaupun rasanya dia ingin menangis dalam pelukan sosok itu. Tapi di tahan.
“Kau mau pergi?” tanya Kaisar dengan begitu lirih. Dia berdiri tepat dibelakang Winter.
Winter mengusap air mata yang menetes. Lalu dia berbalik menatap Kaisar yang nampak begitu berantakan. “Ya, aku akan pergi.”
Kaisar menggelengkan kepalanya. “No, baby. Kau tidak akan pergi kemana-mana! Kau sudah berjanji akan selamanya bersamaku.”
Winter memaksakan senyuman di bibirnya. “Ya, itu memang janjiku. Tapi itu sebelum kau menghancurkan mimpiku bersamamu dalam sekejap!”
Kaisar kembali menggeleng dan langsung membawa Winter ke dalam pelukan nya. “Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku mohon jangan pergi tinggalkan aku. Hatiku sudah sepenuhnya untukmu, dan kau sudah mengubahku. Please, jangan pergi.”
Dengan berat Winter membalas pelukan Kaisar dengan begitu eratnya. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada Kaisar. Kemudian tangisan nya pecah. Terisak-isak sampai nafas nya terasa sesak.
To be Continued...