
Kaisar membawa Manager baru bernama Jordan Alvarez itu bersama nya ke Distrik 76. Dengan Jet pribadi yang telah disiapkan oleh Lee. Tidak menunggu lama sekitar satu jam mereka telah sampai. Distrik 76 pulau ditengah laut yang sangat indah. Tidak jauh dari arah timur kota California. Tempat yang begitu strategis untuk membuat sebuah resort mewah.
“Silahkan, Tuan.” Dengan sigap Lee mempersiapkan Kaisar untuk berjalan di depan nya menuju bangunan kantor yang berada dekat dengan lokasi pembangunan. Diikuti oleh Jordan di belakang mereka.
“Saya suka dengan kinerja mu, saya mau kau juga membantu progres masalah yang terjadi disini. Saya akan memperkenalkan mu dengan CEO dari kontraktor disini,” ucap Kaisar pada Jordan di belakang nya.
“Terima kasih, Tuan. Saya akan bekerja dengan baik,” sahut Jordan dengan sigap. Lee hanya tersenyum mendengar pujian Kaisar untuk Jordan karena jarang sekali Kaisar memuji orang lain mengenai pekerjaan.
Tok tok tok.
Lee mengetuk pintu ruangan Kyle dan membuka nya perlahan. Lalu mempersilahkan Kaisar masuk terlebih dulu. Kyle yang tengah duduk di kursi kerja dan mengerjakan sesuatu di laptop nya. Menoleh kearah Kaisar yang baru masuk ke dalam ruangan nya.
“Kaisar, kau sudah datang.” Kyle menghampiri Kaisar dan mempersilahkan ketiganya untuk duduk di sofa depan meja kerjanya.
“Jadi ada apa lagi ini?” tanya Kaisar.
“Entahlah, aku juga bingung. Mereka bermalas-malasan seharian ini. Sedangkan target penyelesaian sudah hampir habis.” Kyle menggaruk-garuk kepala nya merasa frustasi dengan kerjaan nya.
“Bukan kah aku sudah memberitahu mu semalam. Apa yang harus kau lakukan agar mereka mau mengikuti Intruksi dari mu!” Kaisar mendengus kesal melihat tingkah kekanakan sahabat nya itu. Tuan Walker sudah salah memberikan tanggung jawab perusahaan pada Kyle, pikir Kaisar. Karena Kyle belum mahir dalam mengatasi sebuah masalah. Dia lebih cepat putus asa sebelum mencoba.
“Kenalkan ini Jordan, Manager baru yang aku angkat. Dia akan membantu mu mengatasi masalah disini,” ucap Kaisar memperkenalkan Jordan pada Kyle.
Kyle menatap ke arah Jordan yang tersenyum dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Kyle menyambut tangan Jordan dan ikut tersenyum.
“Kyle Walker,” ucap Kyle.
“Salam kenal Tuan Walker, saya Jordan Alvarez. Saya akan membantu anda disini.”
“Bagus lah, saya berharap masalah disini bisa cepat terselesaikan dengan adanya bantuan darimu,” ucap Kyle dengan sedikit bernafas dengan lega.
Kaisar tersenyum miring melihat tingkah sahabatnya itu. “Kau ini, bisa mu apa sih? Kerjaan begini saja tidak bisa progres...makanya jangan hanya bermain wanita saja yang pintar, berbisnis pun kita perlu otak! Jika kau tidak berbisnis dengan baik dan tidak memiliki uang. Wanita tidak akan mau padamu! ”
“Brengsek kau, Kai. Tidak ada wanita yang bisa menolak ketampanan ku!” Kyle mendengus kesal dan berbicara dengan percaya diri.
“Urus saja dulu kerjaan mu dengan benar, baru kau bisa bermain-main dengan wanita. Aku tidak akan membiarkan mu istirahat jika masalah ini belum selesai!”
Kaisar berdiri dan memperbaiki jas kerjanya. Kyle ikut berdiri dengan wajah mengkerut. “Apa-apaan ini, Kai. Apa kau tega dengan sahabatmu ini? Malam ini aku ada janji dengan Jessica.”
Kaisar memutar matanya dan menghela nafas malas. Mendengar rengekan dari Kyle. Dia pun berbalik menatap tajam Kyle.
“Aku tidak perduli dengan wanita mu, yang aku perduli kan hanya lah bisnis ku! Ini perintah Kyle! Jika kau tidak mau mendengar ku, sangat simpel aku akan menghubungi ayahmu dan memutus kontrak kerja sama ini!”
Kyle menatap sinis Kaisar. Wajah tampan nya tenggelam dengan kata-kata sadis yang dia keluarkan dari mulutnya itu.
“Baiklah, aku akan menurutimu.”
“Baguslah. Ini dia dokumen nya,” ucap Kaisar tersenyum penuh dengan kemenangan seraya memberikan dokumen yang telah di bawa Lee kepada Kyle.
“Dan kau!” Kaisar menunjuk Jordan. “Lakukan yang terbaik, aku akan memberikan mu bonus!”
Mendengar kata bonus Jordan tersenyum lebar dan bersemangat. “Baik, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda.“
Kaisar pun pergi meninggalkan Kyle dan Jordan yang mulai membahas masalah kerjaan. Sedangkan dia dan Lee harus kembali berangkat ke daerah lain. Untuk mengecek pekerjaan yang lainnya.
***
Tidak terasa dua hari sudah berlalu. Sejak hari itu, terakhir kalinya Winter bertemu dengan Kaisar. Selama dua hari ini Winter tidak mendengar kabar dari Kaisar. Ada perasaan sedih dalam hatinya. Hanya saja dia membuang jauh-jauh harapan yang sempat tercipta. Karena dia tidak mai sakit hati lagi oleh seorang pria.
“Begitulah pria, dia akan mendatangimu jika sedang perlu dan akan meninggalkan mu saat sudah puas,” kata-kata Esmee membuat nya semakin galau.
Winter melirik Esmee dengan sinis lalu kembali memalingkan wajahnya. Menatap gelas minuman yang sedari tadi hanya dia putar-putar di atas meja.
“Lagi pula, apa hebatnya supir itu? Winter kau begitu bodoh! Kenapa kau malah mendekati supir nya dan bukan Tuan nya.” Esmee mengomel dengan kesal sekali karena Winter yang malah berhubungan dengan Kaisar. Yang dia tahu hanya seorang supir.
“Esmee, please. Stop it! Memang nya kenapa jika dia hanya seorang supir? Lagi pula itu hanya sekedar 'One Night Stand'. Aku tidak pernah mengharapkan hal lebih!” Winter meneguk isi gelasnya dengan tidak bersemangat.
“Whatever, ayo sudah waktu nya kau tampil. Malam ini bayaran mu sedikit tinggi.” Esmee menarik tangan Winter menuju ruangan nya.
Di samping panggung Winter menatap keremangan lampu klub yang berkerlap-kerlip. Mencari sosok yang dia rindukan. Tapi bodoh sekali pikirnya.
Winter menyemangati dirinya sendiri. Lalu itu dia naik keatas panggung. Dengan seperti biasa. Kecantikan nya yang tiada tara dan kemolekan tubuh saat berlenggang. Tentu membuat semua mata kaum pria berbinar dan bersorak meriah menyambutnya.
Winter mengangkat tangan nya melambai dengan senyuman manis kepada para penggemar nya itu. “Inilah hidupmu Winter. Jangan pernah mengharapkan apa yang tidak mungkin,” gumam nya.
Dia pun mulai berteriak. “Are you ready, baby?”
"Yeahhh, lets go! ” Semua orang berteriak menjawab nya.
Dengan jemarinya yang lentik Winter mulai memainkan piringan yang menjadi bakat nya selama ini. Memainkan musik dengan ritme yang membuat dada bergetar, sambil bergoyang dengan seksi. Akhirnya Winter melupakan kegalauan nya selama dua hari ini.
Selesai tampil. Winter menerima panggilan masuk. Sambil mengemudi mobil nya menuju rumah. “Si brengsek ini mau apa lagi menelpon ku!”
“Halo? Kau mau apa lagi?” bentak Winter.
“Wow, honey. Kenapa kau begitu serius? Aku ada di rumah mu sekarang,” ucap Jordan.
Mata Winter membulat. “Apa? Mau apa kau ke rumah ku? Jangan menyentuh barang apapun! Aku akan segera datang! ”
Winter menancap gas dengan sangat kencang menuju rumah nya. Perasaannya tidak tenang dia takut sesuatu terjadi. Dia takut jika Jordan akan membawa pergi putri kesayangan nya.
Sesampainya di rumah Winter langsung memarkir mobil nya didepan halaman nya. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Bruk.
Dia bertabrakan dengan Jordan yang tengah berdiri didepan bufet foto. Winter mendengus kesal menatap Jordan dengan tajam.
“Mau apa kau kemari?”
Jordan tidak menjawab. Dia menaikan alisnya sebelah, menatap Winter dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Winter mengernyit tidak nyaman dengan tatapan Jordan.
Mata Jordan tertuju pada dada Winter yang sedikit terbuka. Gaun berwarna hitam yang dia kenakan memang sedikit terbuka di bagian dadanya. Dia sangat cantik bahkan dengan balutan jaket levis yang menutupi lengan nya yang indah.
“Kenapa kau bertanya? Tentu saja aku mau menengok anak ku,” kata Jordan.
“Kau lihat ini sudah jam berapa? Syeera sudah tidur, sebaiknya kau kembali besok pagi!” Winter menarik Jordan pergi.
Jordan menahan tangan Winter. Keduanya bersentuhan sangat dekat. Dengan cepat Jordan mendorong tubuh Winter dan menguncinya di dinding.
“Apa yang kau lakukan?” Winter merasa risih saat tubuh nya dihimpit ke dinding oleh Jordan.
Pria itu menarik sehelai rambut Winter dan memelintirnya di jarinya. “Sekarang kau semakin cantik... dan juga seksi, Winter.”
Jordan mendekat di telinga Winter dan menghirup aroma tubuh wanita cantik bertubuh molek di depan nya itu. Entah kenapa hasrat nya mulai tidak tertahan.
“Lepaskan aku! Dasar brengsek!” Winter mendorong tubuh Jordan dengan kuat.
“Ayolah, Winter. Aku tahu kau masih sangat mencintaiku,” kata Jordan dengan penuh percaya diri, membuat Winter ingin muntah.
Winter terkekeh. “Shit! Siapa yang mencintaimu? Aku? Hahaha, jangan harap!”
Jordan sedikit kesal dengan ucapan Winter yang sedikit merendahkan dirinya.
“Pria sepertimu? Sepertinya aku sudah tidak waras waktu itu menikahi sampah sepertimu!”
Jordan pun mencium paksa bibir Winter. Dia mencengkram bahu wanita itu dengan sangat kuat. Membuat Winter meringis kesakitan.
“Ouh ****! Menjijikkan, lepaskan aku!” Winter mendorong Jordan dan mengusap bibir nya yang berdarah karena digigit oleh pria brengsek itu.
“Ingat Winter aku akan kembali untuk membawa pergi Syeera!” kata Jordan menunjuk ke wajah Winter. Lalu dia pergi begitu saja.
Winter menatap kepergian Jordan dengan sangat murka. Tubuhnya bergetar dan mata nya memanas mulai berair. Winter memegangi bahunya yang terasa perih akibat cengkraman kuat tangan Jordan.
“Bagaimana pun caranya aku tidak akan pernah membiarkan mu membawa Syeera dari ku, Jordan! Tidak akan pernah!”
To be continued.