
Malam itu di distrik 76. Keadaan nampak sangat kacau setelah kejadian jatuhnya crane tersebut. Kaisar memerintahkan semua pekerja untuk membantu membereskan sisa-sisa puing.
Di dalam ruangan Kerja Kyle. Kaisar menghempaskan tablet yang di atas meja. Wajahnya merah menahan amarahnya. Kyle dan Lee, menelan saliva melihat Kaisar yang membara. Suasana di dalam ruangan itu mampu membuat seseorang terbakar.
“Bukan kah aku sudah bilang! Tutup kasus ini rapat-rapat dan jangan sampai di dengar oleh media! Tapi ini apa? Brengsek! Kalian tidak pernah bekerja dengan baik!” bentak Kaisar memarahi sembari menunjuk di depan wajah Kyle dan Lee.
“Aku sudah memberitahukan kepada seluruh pekerja untuk menutup mulut dan tidak bicara keluar, Kai, ” ucap Kyle menjelaskan agar Kaisar tidak menyalahkan nya.
“Saya juga baru membuat kesepakatan dari pihak keluarga korban. Dan memberi uang kompensasi,” sahut Lee.
“Halah! Kerjaan kalian tidak becus! Lalu dari mana media ini bisa terbit, dari mana?” tanya nya kembali dengan tatapan tajam penuh kematian.
“Kaisar, kau jangan seperti ini! Kami juga sudah berusaha keras agar tidak terbongkar keluar. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah terjadi,” ucap Kyle dengan sedikit ketakutan. Karena dia tahu jika sahabatnya itu sudah marah, semua orang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Saya sudah mendapatkan informasi nya, Tuan. Informan nya adalah orang perusahaan kita. Dia adalah Jordan, Tuan.” Lee meletakan sebuah kertas di depan Kaisar. Dan dengan cepat pria yang tengah marah itu merampasnya.
Tangan nya mengepal kuat dan tatapan nya sangat tajam. Seakan saat itu juga dia ingin menghabisi pria bernama Jordan Alvarez itu.
“Biarkan dia berbuat sesukanya,” ucap Kaisar dengan mata tertutup dan menyandar di sofa.
“Jordan?” Kyle bingung dengan keterlibatan Jordan dalam masalah ini. “Untuk apa dia berbuat begitu? Sebenarnya ada masalah apa kau dengan Jordan, Kai? Bukan kah dia yang membantuku menyelesaikan proyek ini?”
Kaisar membuka matanya dan menatap datar Kyle. “Dia itu mantan suaminya Winter.”
“Apa?” Wajah Kyle nampak sangat terkejut. “Lalu apa hubungan nya dengan masalah ini, Kai?”
“Dia terus memaksa Winter untuk kembali padanya. Dan kemaren aku mengancam nya agar menjauhi Winter!” Kaisar mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi dengan masalah nya saat ini.
“Kai, look at me!” Kyle memegang kedua bahu Kaisar dan mensejajarkan dengan nya. “Kau yakin dengan hubungan mu dan Winter?”
Kaisar mengernyit menatap Kyle dan melepaskan pegangan di bahunya. “Aku tidak pernah seyakin ini, Kyle. Aku tidak suka melihat nya di ganggu oleh orang lain, aku mau dia bahagia bersamaku. Hanya itu!”
“Tapi, apa kau lupa? Hubungan yang kau jalani ini sudah sangat salah! Hubungan yang kau mulai dengan sebuah kebohongan akan malah membuat petaka bagi dirimu sendiri!” ujar Kyle dengan wajah serius.
Pintar sekali dia menasehati Kaisar. Sedangkan dirinya sendiri adalah seorang pemain wanita. Yang tidak cukup berhubungan dengan satu wanita saja.
Kaisar menaikan sebelah alisnya, lalu menyikut perut Kyle pelan. “Kau itu tahu apa? Pria seperti mu apa pernah merasakan jatuh cinta!”
Kyle tersenyum dan menggaruk kepala nya. “Hehehe, intinya begitulah Kai. Aku sarankan agar kau segera jujur pada Winter.”
Kaisar menatap sahabatnya itu sembari mengangguk. Beberapa menit kemudian terdengar suara ricuh dari luar gedung.
Prang!
Sebuah batu terlempar dan masuk ke dalam ruangan kerja Kyle. Memecahkan jendela kaca dan membuat ketiga pria di dalam ruangan itu terkejut.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” Lee panik dan langsung mendekat pada Kaisar karena batu besar itu terlempar tepat di depan Kaisar.
“Aku baik-baik saja, Lee.”
“Kai, ada apa ini? Ayo cepat keluar!” Kyle panik dan berlari keluar ruangan. Disusul Kaisar dan juga Lee.
Diluar gedung sudah berkumpul beberapa pekerja dan ada juga warga yang datang entah dari mana. Beberapa wartawan juga terlihat sibuk mengambil gambar di sekitar resort yang sudah selesai di bangun itu.
Para pekerja dan warga itu menuntut untuk memberikan uang kompensasi pada semua pekerja. Karena kejadian jatuhnya crane itu.
“Tolong, tenang semuanya.” Lee menjadi garda terdepan untuk menghadapi para warga dan pekerja yang tengah marah itu.
Sedangkan Kaisar menunggu di dalam gedung. Dia memperhatikan Lee dan juga Kyle beserta staf perusahaan yang menangani para warga dan pekerja tersebut.
Mendengar perkataan Kyle para wartawan itu langsung ketakutan, dan menyimpan kamera mereka di dalam tas. Lalu mendekat dan mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh Kaisar.
Melihat keadaan yang mulai tenang. Kaisar pun segera keluar dari gedung dan menemui semua orang. Dia berdiri dengan satu tangan yang di masukan ke dalam saku celana.
“Kalian semua malam-malam seperti ini, apa tidak punya kerjaan lain? Selain menghancurkan tempat ini? Kalian jauh-jauh kemari hanya untuk minta uang kompensasi, heh!” ucap Kaisar menyeringai dengan sangat mengerikan. Sontak membuat mulut para orang-orang itu terbungkam.
“Saya akan memberikan uang kompensasi seperti yang kalian minta, asalkan masalah ini harus cepat di selesaikan! Jangan sampai keributan seperti ini terjadi lagi!”
Kaisar berjalan masuk ke dalam gedung kembali. Meninggalkan semua orang diikuti oleh Lee dibelakang nya.
“Lee, berikan berapapun yang mereka minta. Selesaikan semuanya malam ini juga!”
Kaisar merogoh sakunya. Ternyata ponselnya kehabisan daya. Kaisar menghela nafas nya. Karena masalah ini dia sampai melupakan Winter. Wanita itu pasti sangat sedih karena tidak kehadiran nya. Padahal malam ini Kaisar sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Winter.
Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman tipis. Menatap Sebuah kotak kecil yang dia pegang. Lalu membuka kotak itu perlahan. Nampak sebuah cincin berlian yang desain nya cukup elegan.
Malam itu juga Kaisar memutuskan untuk kembali pulang. Lee menyiapkan Jet pribadinya. Di dalam Jet, Kaisar merebahkan tubuhnya di sebuah sofa empuk sambil terus menatap cincin berlian yang akan dia berikan kepada Winter.
“Winter, will you marry me, Baby?” gumam nya tersenyum.
Lee yang melihat Tuan nya itu tersenyum dan terlihat sangat bahagia. Ikut merasa senang atas kebahagiaan sang Tuan.
***
“Winter, jangan lari... nanti kau jatuh!” teriak Kaisar seraya terus melangkahkan kakinya.
“Kejar aku Kai, jika kau mau menikah denganku... paling tidak kau harus bisa menangkap ku!” ucap Winter yang terus berlari di tengah hutan pinus.
“Aku pasti akan menikahi mu, bagaimana pun caranya, itu pasti terjadi,” sahut Kaisar yang semakin bersemangat mengejar sang kekasih di depan sana.
Akan tetapi tiba-tiba saja, terdengar suara tembakan yang sangat keras. Mata Kaisar membulat dan dia sangat terkejut.
Gaun putih yang di kenakan Winter tiba-tiba berubah menjadi merah. Wanita itu terhuyung dengan tangan yang terjulur seakan memintanya untuk meraihnya.
“Winter! TIDAK!” Kaisar berlari dan berusaha menangkap tangan Winter.
Tapi sayang dia tidak sempat. Wanita itu terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Kaisar tidak bisa melupakan tatapan mata Winter saat terakhir kalinya.
***
“WINTER!” teriak Kaisar.
Dia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang mengucur deras di dahinya. Lee yang melihatnya dengan sigap memberikan sebuah tisu padanya.
Kaisar menoleh ke kiri dan kanan. Ruangan yang sangat familiar, itu adalah kamar nya. Kaisar juga melihat sebuah selang infus yang terpasang di lengan kirinya.
“Apa yang terjadi? Ada apa dengan ku Lee?” tanya nya seraya mengusap wajah nya.
“Semalam saat kita sudah sampai, saya membangunkan Tuan yang tertidur. Tapi Tuan tak kunjung bangun, saya pun mengantar Tuan ke rumah dan memanggil seorang dokter. Katanya Tuan kelelahan,” jelas Lee.
Kaisar pun mengangguk dengan nafas yang masih kurang beraturan. “Mungkin mimpi buruk tadi karena aku terlalu kelelahan.”
“Ini sarapan anda, Tuan. Silahkan dimakan,” ucap Lee seraya menaruh nampan berisi makanan di atas nakas sebelah tempat tidur Kaisar.
“Thank you, Lee.”
To be continued....