
Matanya berkedip saat matahari pagi mulai menyinari seisi ruangan tempat dia terlelap. Winter mengedarkan pandangan nya menatap seisi ruangan yang katanya adalah kamar Kaisar.
“Begini kah? Seorang Billionaire memperlakukan supir pribadinya? Dia sangat baik hingga memberikan kamar mewah seperti ini hanya untuk seorang supir, sangat aneh menurutku,” gumam Winter merasa ini tidak masuk akal.
Pintu kamar pun terbuka. Matanya tertuju pada seorang pria yang berdiri menyambutnya dengan senyuman selamat pagi yang begitu menawan.
“Good morning, baby.” Kaisar mendekat dan mengecup kening Winter.
“Ya, good morning too,” jawab Winter tersenyum.
Saat Kaisar ingin pergi tangan nya di than oleh Winter. Pria itu pun menoleh ke arah nya. “Ada apa, sayang? Apa kau sakit? Atau kau ingin mengatakan suatu hal?”
Winter mengerutkan dahinya. “Mengatakan apa?”
“Barang kali kau ingin melompat dan memeluk ku sekarang,” ucap Kaisar seraya tersenyum miring.
“Buat apa?”
“Buat bilang makasih Kaisar semalam aku sangat puas dengan permainan mu.” Kaisar tertawa tipis.
Winter memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah karena malu. “Kai, apa-apaan sih kau ini!”
“Kenapa? Itu kenyataan. Kau sangat puas sampai tidak malu untuk mendesah dengan keras, hahaha.”
“KAISAR DIAM LAH!”
Winter dibuat sangat malu oleh Kaisar. Dia beranjak dari tempat tidur sambil menyeret selimut yang masih membalut tubuh polosnya ke kamar mandi. Dia membersihkan dirinya di rendaman aromaterapi. Membuat tubuhnya menjadi rileks. Mengingat hal semalam membuatnya begitu malu. Sudah sekian lama sampai akhirnya dia berani berhubungan intim dengan orang lain lagi setelah perceraian nya dengan Jordan. Apakah ini awal untuknya bisa membuka hati lagi buat orang lain.
***
“Kai, kau yakin tidak masalah jika aku sarapan disini?” tanya Winter sembari duduk di kursi yang telah di siapkan di ruang makan. Dia merasa sedikit tidak nyaman karena harus di layani bak seorang ratu oleh pelayan.
Kaisar terkekeh melihat tingkah Winter. “Kenapa, sayang? Santai saja, anggap ini juga rumah mu sendiri.”
“Hahaha, jangan sembarang deh. Ini kan rumah Tuan Shareef aku merasa tidak enak padanya. Dia sudah berangkat kerja sedangkan aku masih berada di rumah nya, ” ucap Winter tertawa geli mendengar perkataan Kaisar.
“Sebenarnya aku sangat penasaran dan heran denganmu.” Winter menatap Kaisar yang tengah duduk membaca dokumen di tangan nya sambil menyeduh segelas kopi.
“Ada apa?” tanya nya tanpa menatap ke arah Winter.
“Aku merasa ada yang aneh. Kau bekerja sebagai supir Tuan Shareef tapi kenapa dia pergi bekerja tanpa mu? Bahkan kau juga tinggal di rumah ini, mendapat fasilitas yang sangat mewah. Kau tidak sedang mengelabui ku kan, ” ucap Winter.
Seketika Kaisar tersedak. Salah satu pelayan dengan sigap langsing memberikan nya segelas air putih. “Kau ini bicara apa sih? Aku tidak mengerti, kau tahu sendiri Tuan Shareef begitu murah hati. Dia tidak membedakan siapapun dari harta dan kasta nya.”
“Ya ya ya, kau benar! Tapi tetap saja aku merasa aneh padamu,” ucap Winter sambil mengunyah.
Kaisar tersenyum dan menggenggam tangan Winter di atas meja. “Jika kau sudah selesai, aku akan mengantarmu pulang. Syeera pasti sedang menunggumu kan.”
“Hmm,” gumam nya sembari mengangguk.
Di lobby Apartemen. Kaisar membukakan pintu mobil untuk Winter. Namun bersamaan ada sebuah mobil yang berhenti di belakang mobil nya. Seorang wanita paruh baya yang cantik dan bergaya modis turun dari mobil itu. Lalu menghampirinya dengan cepat.
“Mommy? Ouh ****! Jangan sampai Mommy membuat semuanya jadi kacau,” gumam Kaisar pelan.
“Kaisar!” teriak wanita paruh baya itu. Sontak membuat Winter menoleh.
“Kai,” ucap Winter.
“Masuklah, dia ibuku.” Kaisar mencoba membuat Winter masuk ke dalam mobilnya.
“Really? Aku harus menyapanya,“ ucap Winter yang ingin berbalik menemui wanita paruh baya itu.
“Aku sudah terlambat, nanti saja ya, ” Kaisar panik dibuatnya jangan sampai wanita paruh baya yang tak lain adalah Eren sang ibu mengacaukan sandiwara nya sebagai seorang supir.
“Tapi Kai-”
“Please, baby,” mohon Kaisar.
Winter pun mengangguk dan masuk kedalam mobil.
“Kai, kau ini dari tadi Mommy memanggilmu! ” gerutu Eren dengan wajah cemberut.
“Aku tidak mendengar suara Mommy,” jawab Kaisar santai.
“Kau pura-pura tidak dengar kan! Kau ini selalu saja seperti itu!” Mata Eren terus melirik wanita yang duduk di dalam mobil Kaisar.
“Siapa dia? Pacarmu? Kalian habis bermalam bersama? Biarkan Mommy bertemu dengan nya, Kai,” ucap Eren dengan bersemangat.
Karena tidak pernah dia melihat Kaisar membawa seorang wanita ke rumah nya. Bahkan sampai harus bermalam. Dia pasti wanita spesial buat Kaisar, pikir Eren.
“Mommy, please. Jangan sekarang ya, aku sudah telat... lagi pula tidak ada yang bermalam, pikiran Mommy jangan aneh-aneh,” jawab Kaisar dengan gugup karena tatapan menyelidik Eren.
“Kau ini pelit sekali, Mommy hanya ingin berkenalan saja tidak boleh!”
“Next time, Mommy. Okay, bye.” Kaisar mengecup kening Eren lalu masuk ke dalam mobil dan menancap gas.
Di perjalanan. Winter terus melirik ke arah Kaisar yang sikap nya begitu aneh. Dia tidak memperbolehkan Winter untuk bertemu dengan ibunya.
“Padahal kan aku ingin menyapanya,” gumam Winter pelan dengan wajah cemberut.
Kaisar menoleh. “Apa kau bilang?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Winter datar.
Sesampainya di depan rumah Winter. Wanita itu segera turun dari mobil dan berlari ke teras rumah nya. Di ikuti oleh Kaisar yang juga turun dari mobil. Melihat Syeera yang tengah menangis di bujuk oleh pengasuh bayaran yang di sewanya semalam.
“Ada apa, Rose? Kenapa Syeera menangis?” tanya Winter kepada pengasuh tersebut.
“Syeera, honey jangan menangis okay! Mommy yang akan mengantarmu sekolah, jadi jangan khawatir,” ucap Winter seraya memeluk Syeera dan menepuk-nepuk punggung anak itu.
Syeera mengangguk dan mengusap air matanya.
“Tapi Winter, ada telpon yang menunggu mu,” kata Rose saat Winter hendak pergi.
Winter menoleh ke arah Rose dengan heran. “Telpon? Dari siapa? Sepagi ini?”
Kaisar mengerutkan dahinya. Penasaran juga dengan yang dikatakan Rose. Rose melirik kearah Kaisar yang sedang menatap nya serius. Dadanya deg deg-an ditatap oleh pria tampan itu.
“Katanya dari pengadilan,” ucap Rose.
Winter menghela nafas nya. Masih pagi dan sudah ada masalah baru yang di mulai. “Si brengsek itu, dia benar-benar membuatku kesal!” geram nya.
Tanpa Winter mengatakan nya. Kaisar sudah tahu ini pasti tentang masalah Syeera, yang kemarin Jordan bicarakan. Dia tidak menyangka pria itu benar-benar akan mengusik wanitanya. Lihat saja apa yang akan dia lakukan!
“Winter,” panggil Kaisar.
Winter menoleh ke arah Kaisar.
“Kau urus saja itu, biarkan aku yang mengantar Syeera ke sekolah,” ucap Kaisar tersenyum.
“Tapi, kau bilang kau sudah telat.”
“Tidak juga, aku bisa mengantar Syeera sekolah lebih dulu, kau tenang saja aku akan menjaganya dengan baik.” Kaisar mencoba membuat Winter tenang.
“Baiklah, aku minta tolong padamu,” ucap Winter tersenyum seraya menyentuh lengan Kaisar.
Kaisar pun berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Syeera. Lalu dia meraih kedua tangan kecil gadis itu. “Come on, sweetie. Kita berangkat sekolah.”
Syeera mengangguk dengan wajah yang sedikit kecewa. Karena Winter tidak jadi mengantarnya ke sekolah. “Mommy, everything it's fine. Kau tidak boleh bersedih.”
Deg.
Winter terdiam dan langsung memeluk Syeera. Seperti tahu apa yang sedang terjadi. Syeera gadis kecil itu menyemangatinya. Membuat Winter terharu, dia meneteskan air matanya di belakang Syeera. Kemudian mengusapnya kembali dengan cepat.
“Bye, honey.”
“Bye, Mommy.” Syeera melambai ke arah Winter saat mobil Kaisar meninggalkan pekarangan rumahnya.
Di sepanjang jalan menuju sekolah Syeera. Kaisar sesekali melirik gadis kecil itu yang hanya diam. Wajah cantik nya di tekuk murung.
“Mau beli es krim?“ tanya Kaisar membuka percakapan agar tidak terlalu canggung.
Syeera gadis itu menoleh dan menatapnya. “Apa boleh aku makan es krim?”
“Tentu saja, sweetie. Memang nya kenap?”
“Karena Mommy melarang ku makan es krim. Dia bilang gigi ku akan rusak...”
Kaisar pun menghentikan mobil nya di depan mini market di pinggir jalan. Dia masuk ke dalam minimarket itu lalu keluar membawa dua buah es krim cone di tangan nya. Kemudian memberikan nya pada Syeera di dalam mobil.
Syeera diam dan hanya menatap es krim tersebut. Membuat Kaisar tergerak untuk mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.
“Ada apa, Sweetie? Ini sangat enak.”
“Benarkah aku boleh?”
Kaisar mengangguk dan tersenyum. Syeera pun mulai menyantap es krim miliknya. Dia tersenyum bahagia menikmati rasa Tiramisu kesukaan nya.
“Om, bagaimana om tau aku suka rasa ini?” tanya Syeera.
Kaisar mengerutkan dahinya dan menoleh. “Aku tidak tahu kau suka rasa ini... tiramisu adalah rasa kesukaan ku,” jelas Kaisar.
“Berarti om ikut-ikutan denganku!” Syeera manyun.
“Hahaha, siapa bilang? Sekarang aku tanya siapa yang lebih dulu lahir? Aku atau kau?” Kaisar tertawa gemas dengan tingkah Syeera.
“Om,” jawab Syeera malas.
“Hahaha, kau ini lucu sekali. Apa kau suka es krim ini?” tanya Kaisar seraya tertawa.
“Ini enak sekali, tapi jika Mommy tau aku makan es krim. Dia pasti sudah mengomeli ku.”
“Kalau begitu ini adalah rahasia kita berdua saja, aku tidak akan memberitahu Mommy mu.”
“Benarkah?” Syeera menatap binar ke arah Kaisar. Pria itu mengangguk dan tersenyum.
“Aku akan membelikan mu es krim lagi jika kita hanya jalan berdua, okay.”
“Okay, aku pegang janji om. Ingat pria sejati tidak akan mengingkari janjinya,” ucap Syeera seraya mengacungkan jari kelingking nya untuk membuat janji.
“Aku adalah pria sejati, dan aku tidak akan mengingkari janjiku pada gadis cantik seperti mu,” jawab Kaisar yang meraih kelingking Syeera menyatukan dengan miliknya.
“Kau tahu aku juga punya Mommy yang sangat cerewet. Dia juga melarang ku minum-minuman dingin.”
“Benarkah? Kenapa semua Mommy Mommy di dunia ini begitu cerewet ya?” ucap Syeera dengan polosnya membuat Kaisar menatapnya gemas. “Memang nya dia melarang apa?”
“Melarang aku minum itu,” ucap Kaisar santai sambil menunjuk botol whiskey yang ada di bawah kaki Syeera. Gadis kecil itu langsung manyun dan meliriknya sinis.
“Huft! Tentu saja Mommy mu harus marah. Karena jika kau minum itu, mungkin kau akan ada di rumah Mommy ku lagi seperti waktu itu.”
Seketika Kaisar tergelak mendengar perkataan Syeera. Gadis kecil itu walaupun umurnya yang masih kecil. Dia sudah mengerti apa yang dilakukan orang dewasa. Apakah karena dia hidup tanpa seorang ayah. Dan keadaan memaksanya untuk mengerti kerasnya kehidupan ini. Dimana sang ibu yang kerja keras banting tulang. Melawan dingin nya malam. Hanya untuk membesarkan dirinya.
To be continued.