
Tak terasa sudah seminggu berlalu. Kaisar baru saja turun dari Jet pribadinya. Disusul oleh Lee dan juga Jordan. Mereka baru saja kembali dari distrik 76. Keadaan di sana sudah mulai terkendali. Berkat kerja sama Jordan dan Kyle yang baik.
Di dalam mobil Kaisar terus menatap layar ponselnya. Dia menatap sebuah gambar kaki seorang wanita yang berdiri didepan sebuah mobil sport mewah berwarna hitam. Jordan yang duduk disebelah nya tak sengaja melirik gambar tersebut yang menjadi wallpaper di ponsel Kaisar.
Jordan merasa pernah melihat sepatu hak tinggi yang di kenakan wanita itu. Tapi dia tidak ingat itu sepatu milik siapa. Dia pun tidak menghiraukan nya. Mungkin wanita itu adalah kekasih Tuan Shareef pikirnya.
“Lee, malam ini adakan pesta meriah di apartemen ku!” perintah Kaisar pada Lee yang sedang menyetir mobil.
Lee melirik Kaisar dari sepion tengah sembari mengangguk. “Baik, Tuan.”
“Siapkan juga beberapa wanita untuk para sahabatku,” sambung nya sembari terkekeh mengingat sifat dan kelakuan para sahabatnya.
“Baik, Tuan.”
Kaisar pun menoleh kearah Jordan yang sibuk dengan dokumen-dokumen di tangan nya. “Kau juga boleh bergabung.”
Jordan terkejut dan menoleh ke arah Kaisar. “Ba-baik, Tuan. Terima kasih banyak atas tawaran anda, saya pasti datang.”
“Aku juga sudah menyiapkan bonus yang sudah aku janjikan padamu,” ucap Kaisar.
Jordan mengangguk tersenyum bahagia. “Terima kasih banyak m, Tuan.”
“Kerja bagus, Manager.”
Lee tersenyum menatap Kaisar yang sedikit berubah akhir-akhir ini. Tuan nya itu lebih banyak diam tak terlalu menekan pekerja nya. Dia juga lebih banyak tersenyum menatap layar ponselnya. Walaupun Lee tidak tahu apa yang sedang dia tatap, tapi Lee merasa ada seorang wanita yang tengah dekat dengan Tuan Shareef.
Kaisar merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di dalam ruang santai di Penthouse miliknya. Apartemen mewah yang begitu elegan. Penuh dengan kerlap kerlip benda mahal. Lantai marmer yang dingin, sofa empuk yang berada didepan perapian yang membuat seisi ruangan hangat, serta jendela kaca yang besar. Membuat daya tarik dan kenyamanan seseorang yang sedang berada di ruangan itu.
“Lee,” panggil Kaisar dengan mata yang masih tertutup.
“Iya, Tuan?”
“Undang DJ dari klub malam Diamond dan para ladies dari sana,” ucap Kaisar.
Lee mengerinyit penasaran. Bukan kah itu klub malam yang tidak pernah Tuan nya datangi. “Tapi, Tuan. Bukan kah anda tidak pernah ke klub malam itu?”
“Seminggu yang lalu Bryan mengajakku ke sana,” jawab Kaisar yang membuka matanya dan tersenyum menatap keluar jendela.
“Baiklah, Tuan.” Lee pun berlalu pergi meninggalkan Kaisar dengan sejuta lamunan nya itu.
“Dia pasti sangat merindukan ku.”
***
Penthouse Shareef, pukul 8 malam.
Kaisar baru saja keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Menghampiri para sahabatnya yang sudah sedari tadi duduk mengobrol bersama.
Di ruangan santai nya yang besar itu telah disulap Lee seperti ruangan VIP sebuah klub malam. Bahkan sudah tersedia meja tempur seorang Disk Jockey yang di minta oleh Kaisar.
“Hei whatsapp bro, apa kabarmu,” sapa Bryan menyodorkan tangan bersalaman ala persahabatan mereka kepada Kaisar.
“Baik,” jawab Kaisar tersenyum.
“Kulihat kau sangat sibuk akhir-akhir ini,” sambung Pedro.
“Bagaimana aku tidak sibuk jika teman mu satu ini tidak bisa bekerja dengan baik,” ucap Kaisar seraya menyikut perut Kyle yang hanya cemberut dengan perkataan nya.
Bryan dan Pedro tertawa bersamaan, melihat Kyle yang mendengus kesal.
“Diam kalian! Aku sudah membereskan masalah itu. Jika tidak kita tidak akan bisa berpesta seperti ini!” gerutunya kesal.
“Selamat malam, Tuan.” Lee menunduk hormat pada Kaisar.
Kaisar mengangguk dan mempersilahkan Lee ikut duduk bergabung dengan mereka. Lee pun duduk disebelah Pedro.
“Lee pesta ini sangat mengagumkan, kau menyulap ruang kematian milik Kaisar menjadi lantai dugem seperti ini, hahaha,” celetuk Bryan dengan tawa cengengesan nya.
“You're the best, Lee.” Disambut dengan acungan jempol dari Kyle.
Lee hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak lama kemudian datang pelayan wanita yang membawakan beberapa minuman dan menaruh nya di atas meja tepat di depan para pria tampan itu. Beberapa wanita cantik yang berpakaian seksi juga masuk.
Kyle dan Bryan menatap binar ke arah Kaisar. “Oh men, you're the best my friend,” puji Kyle.
“Kau sangat tahu kesukaan kami, Kai, ”sahut Bryan kemudian.
Pedro tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kedua sahabatnya yang mata keranjang. Tidak bisa melihat wanita cantik dan seksi sedikit saja. Wanita-wanita cantik itu pun duduk disebelah masing-masing pria tampan itu. Ada yang bergelayut manja, menuangkan minuman, mengobrol, bahkan ada yang berusaha merayu dengan merangkul tangan.
Seperti yang di lakukan wanita cantik yang mengenakan gaun hitam tanpa tali yang duduk di pangkuan Kaisar. Wanita itu terus bergelayut manja dan menggoda Kaisar dengan tangan dan bibirnya.
Kaisar hanya tersenyum tanpa bergerak atau menyentuh wanita itu. Dia pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong nya dan memberikan nya pada wanita seksi itu. Membuat nya tersenyum bahagia.
Kling.
Pintu lift berbunyi. Semua pandangan tertuju pada kedua wanita cantik yang baru saja keluar dari dalam lift. Mata mereka tidak bisa berhenti menatap kecantikan Winter yang menjadi bintang utama malam ini.
“DJ Fabricia, memang sangat cantik...” Bryan tersenyum seperti terhipnotis dengan keindahan di depan matanya. Kaisar tersenyum miring, tentu saja wanita nya adalah yang paling sempurna.
“Ya, kau benar...lihatlah tubuhnya yang indah, ahhhh aku ingin sekali memeluk nya,” sambung Kyle yang bahkan tidak berkedip.
Kaisar pun menendang lutut Kyle. “Awhh, dasar gila. Kenapa kau menendang ku?” Kyle meringis kesakitan.
Pedro tertawa melihatnya. Dia tahu bahwa Kaisar menyukai Winter, karena itu dia marah ketika Kyle menggoda wanita itu.
“Makanya kau jangan menggoda wanitanya, hahaha,” kata Pedro.
“Hai, everyone?” sapa Esmee dengan ramah sambil melambaikan tangan nya. Wanita itu nampak berbeda dari pertama kali mereka bertemu di klub malam. Kini dia memakai celana jeans panjang dan kaos putih yang ketat serta rambut ikal yang di biarkan terurai.
Sedangkan Winter mengenakan dress biru tua sepaha yang ketat tanpa tali dan sarung tangan transparan. Rambutnya dia biarkan tergerai cantik.
“Hai,” sapa Winter dengan ramah tanpa melirik ke arah Kaisar.
Keduanya pun ikut duduk bersama. Esmee duduk disebelah Lee dan Pedro. Sedangkan Winter di sebelah Kaisar. Wanita yang tadinya duduk di atas pangkuan Kaisar kini telah duduk kembali di sofa. Saat Winter datang Kaisar menggeser tubuh wanita itu.
“Tuan Shareef apa kabar?” Esmee dengan lucunya memegang pundak Pedro dan berbicara.
Membuat Lee mengerutkan dahi tidak mengerti. Mengapa wanita disebelahnya ini memanggil Pedro Tuan Shareef. Dia melirik ke arah Kaisar yang juga sedang menatap nya.
Pedro pun sadar, mereka harus mulai bersandiwara lagi. Dengan tawa sumbang dia menjawab, “I'm fine, thank you.”
Esmee pun berbalik menatap pria yang memiliki wajah mulus bak artis korea di sebelahnya. “Esmee,” kata Esmee memperkenalkan dirinya.
Lee tersenyum. “Panggil saja aku Lee.”
“Dia sekertaris Tuan Shareef,” sahut Kaisar.
“Oh, Tuan Shareef kau begitu baik bahkan membiarkan supir pribadimu ikut berpesta denganmu,” ucap Esmee yang sedikit kesal karena Kaisar sudah membuat Winter sedih waktu itu.
Lee semakin terkejut. Supir pribadi? Tuan Shareef sang bos di panggil seorang supir oleh orang lain. Lee menatap ke arah Kaisar yang hanya tersenyum. Sepertinya ini adalah permainan Tuan nya, Lee pun mulai mengerti dan mengikuti jalan nya.
To be continued.