
Sedangkan di ruangan lain. Lee tengah duduk di kursi sebelah tempat tidur Syeera. Sambil mengecek sesuatu di tablet yang dia pegang. Sampai tiba-tiba dia terkejut, saat tangan kecil gadis yang tengah terlelap itu memegang tangan nya.
Lee pun menoleh ke arah Syeera, dan menghentikan aktivitas nya. “Syeera? Kau sudah sadar?”
Syeera mengangguk dengan lemah. Dia melirik segelas air putih yang ada di atas nakas. Lee pun dengan sigap mengambilkan air tersebut. Lalu membantu Syeera meminumnya.
“Istirahatlah, aku akan memanggil Winter.” Lee hendak beranjak, akan tetapi tangan nya ditahan oleh Syeera.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Om. Jangan panggil Mommy, hiks hiks.”
Lee terdiam sejenak, lalu dia kembali duduk dan mendekat pada Syeera. Dia tahu saat ini Syeera ingin mengatakan sesuatu, bampak jelas di raut wajahnya yang tertekan.
“Ada apa, sayang? Apa kau mau memberitahuku sesuatu?” tanya Lee pelan.
Syeera menatap Lee dengan sangat lekat. “Emmhh”
Lee terus memperhatikan gerak-gerik Syeera. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, dan tangan kecilnya tanpa sadar meremas kuat lengan kemeja Lee.
“Bicaralah, aku tidak akan memberitahu Mommy mu,” bujuk Lee dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala Syeera.
“Daddy...” lirih Syeera.
Lee menyipitkan matanya. “Jordan?” gumma nya pelan.
“I see him! Aku melihatnya di acara pentas tadi siang. Dia menemui ku saat aku mau naik ke atas panggung, hiks hiks.” Syeera menjadi menangis sampai terisak.
Lee tidak tega, dia pun beranjak dan segera mendekap Syeera dengan erat. Sambil mengusap-usap punggung nya agar tenang.
“Jangan menangis. Bicara pelan-pelan saja, okay. Aku akan mendengarkan mu.”
“Daddy, bilang padaku. Jika aku tidak mau ikut dengan nya. Dia akan menyakiti Mommy, bahkan membuat Mommy tidak ada lagi di dunia ini. Hiks hiks hiks... aku sayang pada Mommy, aku tidak mau terjadi sesuatu pada Mommy, huaaaaaaa!”
“Brengsek sekali kau, Jordan. Kau tidak bisa di sebut sebagai seorang ayah!” batin Lee murka.
Beberapa saat kemudian. Pintu kamar Syeera terbuka. Masuklah Kaisar yang di bantu berjalan oleh Winter. Keduanya sedikit terkejut melihat Lee yang memeluk Syeera. Gadis itu menangis hingga seseguk kan.
“Lee,” panggil Kaisar.
Lee pun tersentak kaget. Dia melepaskan pelukan nya pada Syeera dan menoleh dengan sigap. “Tuan!”
“Ada apa, Sweet heart? Kenapa kau menangis?” Winter langsung menghambur memeluk Syeera.
“Syeera, hanya takut Mommy.” Syeera menggelengkan kepala dan memeluk sang ibu.
Kaisar dan Lee saling menatap. Mereka pun keluar dari ruangan itu untuk membicarakan sesuatu. Winter menatap kepergian kedua pria itu. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi. Apalagi setelah melihat Syeera menangis seperti itu di dalam pelukan Lee.
Di luar ruangan.
Lee menceritakan semua yang Syeera katakan padanya tadi. Membuat Kaisar begitu marah. Dia memukul dinding rumah sakit dengan sangat keras, hingga membuatnya sedikit retak.
“Lee, aku yakin dia akan kembali untuk menemui Syeera. Kerahkan penjagaan yang ketat di rumah sakit ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi pada Syeera!” perintah Kaisar.
“Terjadi apa maksudmu, Kai? Apa yang akan terjadi pada, Syeera? Katakan?” Winter nampak panik setelah mendengar percakapan Kaisar dan Lee.
Kaisar terkejut saat melihat Winter yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya dia tidak mau membuat Winter menjadi kepikiran tentang masalah ini.
“No, honey. Tidak akan ada yang terjadi. Everything it's fine, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya meminta Lee untuk menjaga Syeera.” Kaisar merangkul Winter dan kembali mengajaknya masuk ke dalam kamar Syeera.
To be continued...