
" Eh Fit... Lo baru balik? " Fita mundur beberapa langkah, kemudian menoleh pada sumber suara.
" Kepo amat sih lo pada " Kontan Rafa, Defa, Aziz, Salman dan Dodit memajukan bibirnya seraya melipat kedua tangannya dibawah dada.
" Nyonya tanos ngegas bae ya " Celetuk Dodit
" Lo liat apa ini? " Mata mereka membelalak lebar, saat Fita mengacungkan jari tengannya.
" Ish... "
" Permisi " Semua orang menoleh
" Neyla? "
" Gue boleh duduk nggak? " Tanya Neyla disambut anggukan semua orang.
" Lo lagi nunggu si Panji ya? " Neyla menoleh pada Aziz dengan seulas senyum.
" Gue kedalem dulu ya " Pamit Fita
" Eh nyonya tanos pegi noh " Rafa segera bangit dari kursinya.
" Sayang ikut... " Rafa berlari dengan alaynya mengejar Fita diikuti gelak tawa semua orang, tapi tidak dengan Neyla.
" Kenapa lagi tuh bocah? " Batin Neyla
" Kumat lagi nih bocah " Ucap Dodit diiribgi gelak tawa teman - temannya
" Et dah baru kemaren dikasi sajen, udah kumat aja " Salman menimpali, Defa mengalihkan pandangannya pada teman - temannya.
" Namanya juga babang Rapa, eh ntar malem lo pada punya waktu luang nggak? " Semuanya kontan menggeleng mantap.
" Emang kenapa? "
" Bantuin kita napa " Dodit memicingkan matanya.
" Eh lo lagi pada ngomongin apa hayo? " Rafa yang baru saja datang langsung merebahkan dirinya tepat disamping Defa.
" Balik cepet lo Fa? " Rafa berdecih, ia memalingkan wajahnya dengan bibir dimajukan.
" Gue kena gampar, ama tuh nyonya Rafa " Kontan semua orang tertawa, tapi Neyla masih tetap fokus pada ponselnya.
" Hahaha... Kejem banget ya bini lo? " Rafa berdecih mendengar perkataan Defa.
" Iya nih... Gegara tadi malem minta jatah nggak gue kasi awokawok "
" Gaje banget sumpah nih bocah, nggak berubah dari dulu " Batin Neyla
" Keterlaluan lo Fa, bini cantik kek gitu nggak lo layani " Rafa memanyunkan bibirnya
" Babang Rafa lelah bro... Lelah " Ucap Rafa mendramatisir seraya mengusap keningnya.
" Jadi ada perlu apa lo ntar malem? " Defa menatap Salman beberapa detik, sebelum akhirnya bersuara.
" Apaan oy " Tanya Rafa, ia memasang wajah polosnya sembari ditopang oleh kedua tangannya.
" Ntar malem gue mau njaga lilin "
" Hah buat apaan? " Defa tersenyum lebar pada Rafa, membuat si empunya melemparkan pandangan kesegala arah.
" Si babang Rapa ngajak gue ngepet... Jatah gue jaga lilin terus hasilnya dibagi 50, 50 hahaha " Rafa melemparkan bantal pada Defa yang tengah tertawa lepas.
" Enak aja lo, nggak usah ngepet juga udah kaya kali "
" Nih gue bawa camilan "
Kontan mata mereka membelalak lebar saat Fita datang, dengan nampan berisi minuman dingin dan beberapa camilan
" Ih peka banget dah... Emang udah paling cocok jadi nyonya Rafa "
" Pengin gue gampar lagi? "
" Ih kejem amat " Cicit Rafa disambut gelak tawa teman - tannya.
" ****** lo Fa, nggak dikasih jatah ntar malem "
" Nih jatah " Aziz menelan salivanya sendiri saat Fita mengepalkan tangannya didepan wajah pria itu.
" Selow napa Fit... Gue cuma becanda kali " Cicitnya
" Nah lo, udah kena ama bini gue kan "
" Apa? " Rafa terdiam saat Fita menatapnya dengan tajam.
" Ney " Panggil Panji, kontan si empunya nama langsung menoleh dengan senyum merekah.
" Udah selesai? " Tanya Neyla seraya bangkit dan berjalan mendekati Panji.
" Hmm... Balik yuk " Neyla mengangguk
" Kita duluan ya " Pamit Neyla, sesaat sebelum melenggang pergi bersama Panji and geng.
" Ternyata sakit juga ya " Batin Rafa sambil tersenyum miris
" Lo kenapa bisa seneng ama bocak kek gitu sih Fa " Batin Defa saat melihat bola mata sahabatnya yang menggelap.
***
" Lo kenal ama tuh bocah? " Tanya Panji disela - sela perjalanan.
" Maksudnya Rafa ama Defa "
" Hmm... " Neyla tersenyum
" Iya, mereka sahabat gue "
" Sejak kapan? "
" SD, emang kenapa? " Panji hanya diam dan enggan menjawab pertanyaan yang diajukan Neyla.
Panji memacu motornya dengan kecepatan tinggi, hingga Neyla harus memeluk tubuh pria itu sebagai pegangan. Setelah beberapa saat mereka sampai disebuah cafe, Panji segera turun disusul oleh Neyla. Ia membuka helmet milik Neyla, kemudian menggandeng gadis itu masuk.
" Lo mau pesen apa? " Neyla membuka buku menu yang diserahkan seorang pelayan.
" Pavlova dan orange juice " Panji mengacungkan kedua jarinya disambut anggukan oleh pelayan.
Pelayan itu izin mengundurkan diri setelah mencatat pesanan mereka. Tidak berselang lama datang Ibnu dan Arya, keduanya langsung bergabung bersama Panji dan Neyla.
" Gue udah nemu target baru " Arya dan Ibnu menyeringai tajam, berbeda dengan Neyla yang hanya bisa diam tanpa tau arah pembicaraannya.
" Seiusan? " Panji mengedikkan bahu dengan angkuh, membuat mata Arya membelalak lebar.
" Jadi kapan tuh? " Panji menaikkan salah satu sudut bibirnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Neyla.
Tangan Panji mengusap lembut kepala Neyla, membuat senyum diwajah gadis itu mengembang seketika.
" Tunggu tanggal mainnya "
" Terus tuh anak mau diapain? " Panji menyeringai tajam, sembari melepaskan tangannya dari kepala Neyla.
" Kaya biasa aja " Ibnu berdecih tatkala Neyla memamerkan senyumannya.
" Emang polos mereka tuh, terlalu polos malah " Panji menggenggam tangan Neyla dengan seulas senyum.
" Itu yang gue suka dari mereka " Ucap Panji sambil menatap mata Neyla dalam - dalam.
" Tapi gue harus manfaatin dulu " Ibnu dan Arya saling melempar pandangan tidak percaya.
" Kenapa? Lo tobat? " Panji berdecih
" Gue tau fakta baru dan nggak bakalan gue sia - siain, karena pada akhirnya bakal kita butuhin "
" Ish... Mantep lo Nji, salut gue " Ibnu dan Arya bertepuk tangan disambut seringai tajam Panji.
" Sebenernya lagi pada ngomongin apaan sih? Ya kali, gue udah kaya obat nyamuk gini " Batin Neyla seraya memanyunkan bibirnya.
Tidak berselang lama datang seorang pelayan dengan nampan berisi pesanan Neyla dan Panji.
" Lo berdua tinggal pesen aja, gue bayarin semua " Senyum diwajah Arya dan Ibnu langsung merekah mendengar perkataan Panji.
" Mba " Panggil Arya, seorang pelayan datang dengan buku menu ditangannya.
" Croissant dan lemon tea " Ucap Arya sambil mengacungkan kedua jarinya.
Panji memicingkan matanya saat mendengar pesanan kedua sohibnya.
" Breakfast? "
" Pengin coba - coba aja, lagian masih disediain juga " Panji mengedikkan bahunya
" Ish... Bahaya lo penginnya coba - coba " Arya memutar bola matanya jengah
" Kalo emang enak, apa salahnya? "
" Stress! " Panji mengulum senyum tipis, melihat kedua sahabatnya yang tengah bertengkar kecil.
" Kenapa gue dikacangin mulu sih? " Batin Neyla sebal
" Udah selesai La? " Neyla tergeragap saat Panji memegang bahunya.
" I... Iya "
Panji mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet, lalu meletakkannya diatas meja. Ia menarik tangan Neyla keluar dari dalam cafe.
" Lo mau bawa gue kemana? " Panji menyerahkan helmet untuk dikenakan Neyla
" Gue anter lo pulang sekarang " Neyla mengangguk
Gadis itu segera naik ke motor, setelah mengenakan helmet yang diberikan Panji. Tangannya memeluk tubuh Panji erat, membuat pria itu menyeringai tajam.
" Tadi kalian pada ngomongin apa? " Tanya Neyla membuat kening Panji berkerut.
" Kenapa? "
" Nggak penting, lagian nggak ada sangkut pautnya sama lo " Neyla tersenyum getir seraya membenamkan kepalanya pada bahu Panji.
***
Fita duduk termenung didepan kelas, menyaksikan seorang siswa yang tengah dihukum berdiri dibawah tiang bendera. Tidak berselang lama Defa and geng datang menghampiri gadis itu.
" Liatin apa lo? " Fita tergeragap kemudian melayangkan pukulan kebahu Salman.
" Stress lo... Jantungan gue " Salman memajukan bibirnya.
" Ya sorry "
" ****** lo Man " Aziz menimpali diringi gelak tawa.
" Eh kantin yuk " Ajak Fita disambut anggukan oleh temannya.
Mereka bergegas menuju kantin untuk memesan beberapa makanan.
" Bu, dua es jeruk peras sama roti satu " Pinta Fita
" Makan disini atau... "
" Bungkus " Potong Fita membuat teman - temannya memicingkan mata heran.
" Lo mau makan dikelas? " Fita menoleh dengan seulas senyum.
" Nggak "
" Esnya neng " Fita mengambil alih kantong plastik berisi es dan roti kemudian menukarnya dengan beberapa lembar uang.
" Gue duluan ya, makasih bu " Semua orang saling melempar pandangan.
" Bu kita juga dibungkus ya "
Fita bergegas pergi menghampiri siswa yang tengah dihukum tepat dibawah tiang bendera.
" Rafa " Kontan si empunya nama menoleh dengan senyum merekah.
" Eh sayang, ada apa beb? " Tanya Rafa manja
Fita enggan menjawab, ia jongkok didepan Rafa dengan disaksikan beberapa pasang mata.
" Itu bukannya temen lo ya? " Neyla mengikuti arah telunjuk Dian, memperlihatkan seorang siswa yang tengah dihukum.
" Rafa " Gumam Neyla seraya menyipitkan matanya.
" Lo mau ngapain? Disini panas beb, nanti kalo kuli lo melep... " Rafa berdiri mematung dihadapan Fita, saat gadis itu memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya.
" Whoa... Romatis banget " Teriak beberapa siswa yang tengah berlalu lalang didekat mereka.
" Udah nggak usah urusin tuh mulut siswa laen, yang terpenting lo makan. Ini udah waktunya makan siang "
Defa, Salman, Dodit dan Aziz yang baru saja datangĀ hanya bisa berdiri mematung melihat pemandangan didepan mereka.
" Ahhh... Gue juga pengin kek gitu " Ucap seorang siswa
" Emak pengin... "
" Udah paling cocok dah "
Rafa tersenyum sambil mengunyah roti yang diberikan Fita padanya.
" Lo nggak takut dihukum guru? " Fita menggeleng mantap
" Aish... Lo berdua nggak ngajak - ngajak kita " Protes Dodit disambut anggukan semua temannya.
" Lo semua duduk aja, gue mau nyuapin Rafa dulu "
Tangan Neyla mengepal kuat, sorot matanya berubah tajam dengan rahang mengerat kuat.
" Berani banget tuh cewek ngrebut posisi gue, dihati Rafa ama Defa " Gumam Neyla tanpa melepaskan sorotan matanya dari Fita.
" Dew lo harus liat ini deh "
" Ih apaan sih... " Dewi hanya bisa pasrah saat Salsa menarik tangannya hingga ketepian lapangan.
Kontan matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan didepan mereka.
" Rafa gue... " Pekiknya membuat semua orang disekitarnya kontan menoleh.
" Ih cewek murahan banget sih " Gerutu Riska disambut anggukan temannya.
" Minum dulu Fa " Fita menyodorkan es jeruk miliknya dan langsung dihisap hingga setengah penuh oleh Rafa.
" Thanks ya " Fita tersenyum seraya memasukkan kembali potongan roti kedalam mulut Rafa.
" Ish... Udah kek romeo ama juliet aja " Ujar Aziz diikuti anggukan temannya.
" Teros aja kek gitu... Dunia berasa milik berdua " Sindir Defa
" Apalah daya gue yang cuma bisa numpang didunia mereka " Salman menimpali, sambil mengusap pipi yang basah oleh air mata gaibnya.
" Lo mending Man, lah gue cuma sebongkah berlian ditengah padang mahsyar " Ucap Dodit seraya memasukkan potongan roti kedalam mulutnya.
" Brisik lo semua... Ngomong aja kalo lo iri sama gue " Defa berdecih
" Kepedean lo Fa, paling juga si Fita lagi khilaf " Semua orang tertawa mendengar ucapan Defa.
" Eh La, lo mau kemana? "
Neyla melanggang pergi menuju kelasnya diikuti Dian.
***
Neyla berdiri didepan pagar sesaat setelah pulang sekolah, ia rela berdiri dibawah terik matahari hanya untuk bertemu Rafa dan Defa.
" Mana sih " Gumamnya seraya melipat kedua tangan dibawah dada.
" Udah lo berdua emang paling cocok disekolah ini " Fita berdecih kemudian melayangkan pukulan ke lengan Defa, membuat si empunya mengerang kesakitan.
" Sakit bambang... Cewek apaan sih lo, cewek jadi - jadian ya? " Fita tersenyum puas saat Defa mengusap tempat, dimana ia melayangkan pukulan pada pria itu.
" Makanya kalo ngomong disaring dulu napa... Kan ayang mbeb gue auto marah " Rafa mengalungkan tangannya pada bahu Fita.
" Lo pengin gue... "
" Rafa " Si empunya nama kontan menarik tangannya dari bahu Fita, saat melihat Neyla menghampiri dirinya.
" Neyla " Panggil Rafa dengan senyum merekah.
" Lo sibuk nggak? " Jantung Rafa berdegup kencang.
" Ng... Nggak, emang kenapa? " Neyla tersenyum manis membuat Rafa ingin sekali memeluk cinta pertamanya itu.
" Jalan yuk... Udah lama nih, cuma kita bertiga aja " Ucap Neyla penuh penegasan pada kata kita bertiga.
Defa berdecih kemudian ikut berkomentar.
" Kemana tuh cowok lo, tumben li berdua nggak bareng " Neyla tersenyum
" Gue batalin janji ketemu dia, supaya bisa kumpul lagi ama kalian " Mata Rafa membelalak lebar tidak percaya.
" Lah ko bisa? "
" Gue pengin kumpul sama kalian berdua lagi... Udah lama kita nggak kumpul bareng " Defa kembali berdecih, ia menghampiri Neyla sambil berkacak pinggang.
" Kita jarang kumpul, karena lo udah lupa ama sahabat lo sendiri... Udahlah lagian gue juga sibuk " Defa melenggang pergi diikuti Aziz, Salam dan Dodit dibelakangnya.
Mata Neyla tertuju pada Fita, yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Fa gue pulang duluan ya " Pamit Fita seraya memegang pundak Rafa.
" Lo pulang ama siapa? "
" Abang gue, bentar lagi juga nyampe "
" Oh ya udah, kalo kek gitu mah " Fita mengangguk kemudian melenggang pergi.
" Lo berdua keliatan akrab banget, ama tuh cewek " Rafa tersenyum mendengar kalimat Neyla.
" Emang kenapa, Neyla cantik " Rafa mengusap kepala Neyla dengan lembut, membuat si empunya tersenyum lebar.
" Kita mau jalan kemana? "
" Ke mall aja " Ucap Neyla dengan mata berbinar disambut anggukan dari Rafa.
" Ok, bentar gue pesen taksi dulu " Neyla mengangguk dengan seulas senyum.
" Gue nggak bakalan biarin, siapapun ngrebut posisi gue dari hati Rafa dan Defa " Batinnya
" Btw gimana sama cowok lo? Ntar ada salah paham lagi "
" Udah lo selow aja, gue udah ngomong ama si Panji ko " Mata keduanya tertuju pada sebuah mobil berwarna biru, yang berhenti tepat didepan mereka.
Rafa langsung membuka pintu untuk Neyla dan meminta gadis itu untuk segera masuk.
" Andai aja Defa mau ikut " Ucap Neyla disela - sela perjalanan.
Rafa menoleh dengan seulas senyum, kemudian mengusap kepala Neyla dengan lembut.
" Udah lo tenang aja, ntar gue bakalan ngomong sama si Defa "
" Thanks ya Fa... Dan sorry karena belakangan ini gue terlalu sering jalan sama Panji, ketimbang lo berdua " Rafa terkekeh kecil
" Nggak papa kali La, lagian itu kan hak elo. Nggak boleh ada yang nglarang "
" Meskipun ati gue sakit La... Liat lo lebih sering bareng Panji, ketimbang kita " Batin Rafa sambil tersenyum miris.
" Ntar kita ajak Defa ya, gue udah kangen kumpul bertiga ama kalian " Rafa mengangguk seraya mengusap pucuk kepala Neyla