Rafa

Rafa
Pengumuman



" Dimana pengumumannya? " Neyla berdecak kesal


" Ya di madinglah... Ya kali dikolong meja " Rafa menatap Neyla geli


" La lo PMS ya? " Mata Neyla membelalak lebar, ia mendaratkan sebuah pukulan tepat dibahu Rafa.


" Emang kenapa kalo gue PMS hah? " Rafa mengerucutkan bibirnya


" Sabar kali La, gue kan cuma nanya... Nggak usah ngegas gitu kali " Neyla memutar bola mantanya malas


" Dasar! "


" Pembalut lo masih nggak? " Neyla menoleh sambil memicingkan matanya heran


" Maksud lo? "


" Iya... Kalo pembalut lo abis, terus lo malu beli sendiri. Gue bersedia ko beliin pembalut demi lo " Bisik Rafa sambil tersenyum jahil membuat pipi Neyla merona merah


" Emang udah gila lo ya! " Neyla kendaratkan beberapa pukulan pada bahu Rafa


" Aduh... Aduh, sorry La " Rafa tersenyum geli


" Lo berdua lagi ngapain sih? Kek bocah aja " Rafa mendengus kesal karena Defa datang disaat yang tidak tepat


" Rafa tuh, gilanya udah akut... Alias stadium akhir! " Jelas Neyla penuh penekanan


" Gue kan cuma menawarkan diri La, kalo lo nggak mau juga nggak papa " Defa memicingkan matanya heran


" Menawarkan diri? Maksudnya apaan sih? " Rafa berdecih


" Halah... mulai deh lo keponya "


" Mending sekarang kita ke mading, siapa tau aja udah sepi " Neyla melangkah pergi diikuti Rafa dibelekangnya


" Pertanyaan gue belom dijawab! "


" Kepo lo! " Defa berdecak kesal, ia pergi menyusul Neyla dan Rafa menuju mading


Kini ketiganya sudah berdiri disebuah benda berwarna hijau, yang ditutupi oleh sebuah kaca besar.


 


PENGUMUMAN NILAI UJIAN


 


                         NASIONAL


DAFTAR PERINGKAT :


NEYLA FARRA AGUSTIN


DEFA NICO LASTIANTINO


RAFA AL-AYUBI RAMADHAN


Mata semua orang kontan membelalak lebar, bukan karena Neyla menduduki peringkat pertama. Lebih tepatnya karena Rafa yang terkenal sebagai pemalas, sekaligus tukang bolos sekolah bisa masuk kedalam tiga besar.


" Gu... Gue masuk tiga besar? " Tanya Rafa memastikan, kedua sahabatnya mengangguk tidak percaya.


" Yeah... Akhirnya seorang Rafa Al-Ayubi Ramadhan bisa masuk tiga besar. Udah kalian semua nggak usah sirik dengan kesuksesan gue, karena gue ini tipe orang yang baik dan rajin menolong. Jadi barang siapa datang ke gue buat bertanya soal trik mengerjakan ujian, Rafa sitamfan ini bersedia menampung dan menyumbangkan ilmunya untuk kalian semua "


" Halah, lo aja jarang masuk kelas. So... Soan mau nyumbang ilmu " Ucap salah seorang siswa diiringi gelak tawa yang lainnya.


" Lo masuk tiga besar itu karena beruntung bro. Jadi nggak usah banyak tingkah! "


" Whatever... Yang penting gue masuk tiga besar, ok by kaum - kaum syirik " Ucap Rafa bangga, ia pergi menjauhi kerumunan siswa yang masih tidak percaya akan pencapaiannya.


" La " Panggil Defa


" Gue tau... Gue juga nggak percaya Rafa bisa masuk tiga besar " Ucap Neyla seraya memperhatikan punggung Rafa yang menghilang ditengah keramaian.


" Emang bener ya... Keberuntungan bisa berpihak pada siapa aja "


" Aahhh... "


Semua orang menoleh saat mendengar teriakan histeris dari seorang Vanya.


" My prince masuk tiga besar? Nggak nyangka banget gue " Ucap Vanya dengan mata membelalak lebar, salah satu tangannya digunakan untuk mengipasi wajahnya yang memanas.


" Cabut yuk La "


" Hmm... "


Keduanya pergi ketaman yang terletak tidak jauh dari SMP mereka. Tepat dibawah pohon besar nan rindang, mereka mendapati Rafa yang tengah tertidur pulas.


" Lo tuh ya kerjaannya tidur mulu! " Gerutu Defa, ia meletakkan sebuah kantong plastik berisi makanan ringan tepat diatas perut Rafa.


" Apaan nih? "


Rafa membuka kantong didepannya, matanya membelalak lebar saat mendapati berbagai jenis makanan ada didalam kantong itu.


" Wah tau aja nih, kalo gue lagi laper "


" Iya dong "


" Btw kenapa lo bisa masuk tiga besar ya? "


" The power of basmalah " Jelas Rafa bangga seraya mengunyah snack kesukaannya.


***


" Assalamuallaikum " Ucap Rafa sambil mendorong pintu cokelat didepannya hingga sedikit terbuka.


Ia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruang tamu, suasana dirumahnya hening tidak ada siapapun sekarang.


" Ya elah punya rumah gede gini tapi sepi... "


Rafa bangkit dari sofa, dia melangkahkan kakinya keluar rumah. Diluar juga sepi hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, ia menoleh pada rumah bercat biru muda yang ada tepat disebelah kanan rumahnya. Rumah itu terlihat sepi, Rafa mengedarkan pandangannya pada rumah bercat hijau yang ada disebelah kiri.


" Orang - orang pada kemana sih, semua pergi terus gue harus berbagi kebahagiaan sama siapa dong "


Rafa kembali kedalam, ia membanting pintu rumahnya sekencang mungkin hingga jendela rumah itu serasa bergetar.


" Udahlah nggak guna juga "


Rafa menyeret tubuhnya kedalam kamar, ia melempar tas miliknya kesembarang tempat sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Ddrrttt


Rafa melirik ponselnya dengan malas, ada sebuah pesan dari Defa.


Defa curut :


Woy kerumah gue sekarang! Kita adain pesta kecil - kecilan bareng disini


Mata Rafa mebelalak lebar setelah membaca pesan yang dikirim sahabatnya itu.


Ok, gue berangkat sekarang juga bosku


Rafa segera mengganti seragamnya dengan kaos dan jeans, yang dibalut dengan hoodie abu - abu. Ia bergegas pergi dengan ojek online, sesaat setelah ia mengenakan sneaker kesayangannya. Setelah 10 menit ia sampai dikediaman Defa, kedatangannya disambut oleh Defa dan anggota keluarga lainnya.


" Wah Rafa udah dateng, ayo kita masuk ke dalem " Pinta Ayu ibu Defa, Rafa menangangguk dengan senyum yang merekah.


Rafa masuk kedalam rumah berlantai dua itu, yang ternyata sudah penuh oleh anggota keluarga Defa yang lainnya.


" Selamat ya, kamu bisa masuk tiga besar " Ucap Dion ayah Defa seraya mengusap punggung Rafa.


" Makasih om "


" Sekarang kita makan bersama ya, ini sebagai rasa syukur karena Defa dan Rafa berhasil mendapat nilai yang bagus dalam ujian nasional ini " Jelas Dion seraya mengusap kepala Defa dan Rafa.


Rafa tersenyum lebar mendapat perlakukan dari Dion, baginya Dion dan Ayu sudah seperti orang tua kandungnya.


" Ayo kita mulai acaranya, dengan bacaan basmallah bersama - sama "


" Bismillahirrohmanirrohim " Ucap semua orang serentak.


" Makan! "


" Yeay... "


" Thanks bro udah bawa gue kesini " Ucap Rafa saat semua orang tengah asik dengan makanan mereka.


" Udah, lo kan sahabat gue. Jadi wajar dong kalo gue ngajak lo kesini "


" Lo tuh emang terdebest! " Rafa memeluk tubuh Defa membuat si empunya begidik geli


" Jiji *****! " Rafa terkekeh lalu melepaskan pelukannya


" Iya dong secara gue itu... "


" Nggak usah mulai... Dipuji sedikit aja terbang lo " Potong Rafa lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan


" Dasar gila! " Defa berdecih lalu bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya dimeja makan.


" Enak aja ini punya gue! " Rafa mengambil potongan terakhir ayam yang ada diatas piring.


" Wah keterlaluan lo, terus gue makan apa? " Gerutu Defa disambut gelak tawa anggota keluarga lainnya.


" Udah biar mamah ambil lagi, didapur masih ada banyak "


" Ambil yang banyak mah, Luki juga mau nambah! " Teriak Luki kakak Defa.


" Nambah teroos... "


" Eh suka - suka gue dong, perut - perut gue " Protes Luki


" Udah... Udah, kalian ini ribut terus. Apa kalian mau posisi kalian digantikan oleh Rafa "


Rafa menghentikan kegiatan makannya saat namanya disebut oleh Dion, ia mendongakkan kepala seraya tersenyum lebar.


" Rafa setuju om! "


" Enak aja " Protes Defa dan Luki bersamaan.


***


" Makasih ya om "


" Iya "


" Kalo gitu om pergi sekarang "


" Hati - hati dijalan om "


Dion mengangguk, ia memacu mobilnya kembali kerumah. Rafa menatap lamat - lamat mobil berwarna hitam yang baru saja hilang ditelan kegelapan, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


" Dari mana kamu? " Tanya Wawan sesaat setelah Rafa masuk kedalam rumah.


" Main " Wajah Wawan merah padam, saat Rafa melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga.


" Kamu itu ya... Udah besar, taunya main aja! Coba sekali - kali kaya kakakmu itu, yang bisa masuk ke Universitas ternama! " Teriak Wawan memenuhi seisi rumah.


Rafa membanting pintu kamar, lalu menguncinya dari dalam.


" Terus aja dibanggain, nggak cape apa ngomong kek gitu terus "


Ia menatap langit - langit kamarnya, seulas senyum merekah dibibirnya saat mengingat kejadian hari ini. Dimana dirinya diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Defa, disana ia diperlakukan seperti anak mereka sendiri. Sesaat kemudian senyumannya berganti tetesan air mata, ketika mengingat bagaimana perlakuan orang tuanya.


Ddrrttt


Rafa meraih ponsel dari dalam saku jeans, saat benda hitam itu bergetar didalam sana.


Neyla cantikk :


Besok lo ajak Defa kerumah gue, kita ngerayain kesuksesan kecil ini bareng - bareng. Gimana?


Rafa membalas pesan yang dikirim Neyla dengan mata berbinar.


Asiyap Neyla cantikku...


Neyla cantikk :


Idih... udah gila lo ya!


Gue :


Demi Neyla gue rela nglakuin apa aja


Neyla cantikk :


Emang udah gila akut lo tuh...


Rafa terkekeh kecil, untuk sesaat ia bisa melupakan perkataan Wawan berkat bantuan Neyla. Pria itu meletakkan ponselnya diatas nakas dan bersiap untuk tidur.


Keesokan paginya


" ****... Gue telat! " Gerutu Rafa saat melihat layar ponselnya.


Ia bangkit dari ranjang dan bergegas masuk kekamar mandi, setelah lima menit ia keluar dengan tubuh yang masih basah. Ia memakai kaos putih yang dipadukan dengan bomber dan jeans, tidak lupa ia menambahkan jam tangan dan sneaker. Rafa melirik ponselnya seraya menuruni anak tangga, ada begitu banyak pesan dari Defa dan Neyla.


Ddrrttt


Rafa menerima panggilan masuk dari Neyla, sambil melangkah menuju kulkas yang ada didapur.


" Iya gue kesana sekarang "


" Cepet napa, semua orang udah nungguin lo disini! "


" Sabar, bentar lagi gue nyampe... Ini gue kejebak macet "


" Ya udah, gue tunggu lo. Cepetan dateng! "


" Iya... Iya "


Rafa memasukkan ponselnya kedalam saku, ia mengambil sebotol susu dari dalam kulkas kemudian melenggang pergi tanpa memperdulikan sarapan yang sudah disiapkan ibunya tadi pagi. Setelah 15 menit ia sampai dikediaman Neyla, dengan ojek online yang telah dipesan sebelumnya.


" Lama banget sih " Neyla mengerutkan dahinya


" Alah cuma telat 47 menit aja " Jawab Rafa enteng seraya melangkahkan kakinya melewati Neyla.


" Cuma 47 menit? " Gerutu Neyla sambil menyipitkan matanya.


" Assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam, eh Rafa udah dateng. Ayo duduk disini " Pinta Gusti


Rafa mengangguk, ia duduk disamping Gani yang tengah asik dengan ponsel ditangannya.


" Sibuk nih mas bro " Gani meletakkan ponselnya diatas meja, saat menyadari kehadiran Rafa disampingnya.


" Eh Rafa... Calon adik ipar gue, udah dateng " Rafa tersenyum bangga


" Iya dong " Neyla memicingkan matanya


" Adik ipar? Enak aja! "


" Udah nggak usah malu -malu gitu, Rafa itu emang cocok banget sama lo yang sulit ditaklukan " Gani merangkul bahu Rafa


" Iya dong, secara gue ini Rafa... Penakluk hati wanita " Semua orang tertawa saat melihat Neyla melempar sebuah bantal pada Rafa


***


" Oh jadi kalian bertiga daftar diSMA yang sama? " Tanya Gani


" Ho'oh... Lagian gue daftar di SMA itu, supaya bisa ngelindungi Neyla cantik "


" Idih amit - amit gue " Sergah Neyla geli


" Udah de nggak papa... Gue rela kalo lo mau melangkahi, abangmu yang ganteng ini " Gani menyisir rambutnya kebelakang


" Najis banget sumpah, punya abang sama sahabat otaknya gesrek semua "


Neyla melangkah pergi menuju dapur dengan diiringi gelak tawa Rafa, Gani dan Defa.


" ***** nggak nyangka, kalian berdua bisa berkolaborasi dengan apik " Puji Defa sambil mengacungkan kedua ibu jarinya keudara.


" Harus itu, secara gue udah merestui hubungan Neyla sama Rafa. Iya nggak Fa "


" Yoi mas bro "


Keduanya beradu tos diiringi gelak tawa.


" Kepedean banget lo Fa, jelas - jelas Ela nolak lo tadi "


" Hust... "


Rafa bangkit kemudian duduk disamping Defa, ia merangkul tubuh sahabatnya itu dengan senyum merekah.


" Ela itu masih malu - malu, bentar lagi juga luluh sama ketamfanan gue. Iya nggak mas bro "


" Yoi adik ipar gue tercintah " Defa berdecih


" Bener kata Ela, lo berdua emang udah gesrek "


" Otak boleh gesrek, tapi kalo masalah hati... Uh, jangan diragukan Def "


" Emang kalo masalah hati gimana bang? " Tanya Defa antusias


" Sama aja gesreknya " Rafa menimpali membuat ketiganya tertawa lepas.


" Eh... Kalian kenapa sih? " Tanya Gusti yang baru saja kembali dari kamar.


" Eng... Enggak pih "


" Oh, terus kalian berdua gimana "


" Gimana apanya om? " Defa mengernyitkan dahi


" Kalian ngambil program apa? "


" IPA om " Ucap Defa dan Rafa serentak, Defa menoleh pada Rafa dengan kening berkerut.


" Lo IPA? "


" Iya... Emang kenapa? "


" Ya nggak, heran aja gitu. Bukannya lo nggak suka fisika, kimia dan sebagainya? "


" Iya... Gue harus berubah kan? "


" Om setuju itu "


" Wih adik ipar gue emang debest banget, salut... "


" Berubah? Kerasukan jin penunggu mading kali nih bocah " Batin Defa


" Syukur deh kalo lo mau berubah... Semoga aja kali ini, lo emang bener - bener berubah " Defa tersenyum jahil, Rafa menyipitkan matanya mendengar perkataan Defa yang seolah menyindir dirinya.


" Emang pengadu lo, dasar curut got " Gerutu Rafa dalam hati


" Nanti om tunggu kabar baik dari kalian ya " Ucap Gusti sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu dapur.


" Hah kabar baik? Maksudnya om udah merestui gue sama Ela nih? " Mata Rafa membelalak lebar


" Ya elah... Kepedean banget lo tong " Defa menepuk punggung sahabatnya


" Sirik aja lo "


" Tenang aja Fa, gue selalu dukung lo buat bersanding sama Ela. Karena cuma lo satu - satunya cowok, yang mau sama singa itu "


" Bisa aja lo bang, biarpun singa yang penting tetep cantik dimata gue "


" Alah semua cewek juga lo bilang cantik. Kalo ada cowok yang nyamar, jadi cewek juga bakalan lo bilang cantik " Defa menimpali


" Enak aja lo, gue juga punya standar kecantikan " Jelas Rafa seraya mengerucutkan bibirnya.


" Udah nggak usah malu - malu gitu, yang penting kan cantik " Rafa berdecih


" Cantik? Kepala lo kejedot tiang listrik ya? Sampe konslet gitu "


" Udah... Udah, pokoknya Rafa harus jadi adik ipar gue titik "


" Tuh denger! " Defa mengedikkan bahu acuh