Rafa

Rafa
Kecemburuan



Rafa menggenggam tangan Fita yang hendak turun dari atas motor, lalu membantu melepaskan helm yang melekat dikepala Fita.


" Wait... " Rafa mencegat tangan Fita, saat gadis itu hendak pergi


" Apaan? " Rafa tersenyum, ia merapihkan rambut Fita yang sedikit berantakan membuat si empunya tersipu malu


" La... Bukannya itu si Rafa ya? " Neyla mengikuti arah jari telunjuk Dian


Tangan Neyla mengepal kuat dengan wajah nerah padam.


" Kita urus nanti! Ayo cabut " Dian mengangguk, lalu mengekor dibelakang Neyla


Fita menepis tangan Rafa, dengan pipi bersemu merah.


" Ish... Apaan sih, malu tau " Rafa tersenyum simpul


" Udah nggak papa... Lagian lo itu pacar gue, punya gue. Jadi gue nggak salah dong " Fita berdecih


" Kapan kita jadian coba... Nembak juga nggak, ngaku jadi pacar gue " Rafa tersenyum jahil


" Lo pengin gue tembak " Pipi Fita bersemu merah


" Ih... Apaan, kalo lo tembak ntar gue mati bambang! "


" Ntar gue nyusul elo, kek romeo ama juliet gitu " Fita mengusap wajah Rafa kasar


" Halu aja lo " Rafa terkekeh


Panji menghentikan motornya, saat melihat Rafa dan Fita tengah tertawa berdua. Ia kembali memacu motornya, hingga lebih dekat pada Rafa dan Fita.


Tit  tit  tit


Rafa berdecak sebal, ia menatap Panji tajam.


" Woy minggir! " Fita mundur beberapa langkah


" Lo budeg ya! " Fita menarik lengan Rafa agar menyingkir


Panji memajukan motornya, hingga berhenti tepat disamping motor Rafa.


" Ganggu aja nih orang! " Fita menggenggam tangan Rafa, berharap pria itu tidak lepas kendali


Panji segera turun dari motor lalu melenggang pergi.


" Udah ayo masuk, lagian kita juga yang salah " Fita melenggang pergi, disusul Rafa yang mengekor dibelakangnya


" Tunggu napa! "


" Lo aja yang lelet "


" Dew liat tuh! " Dewi menoleh pada Rafa dan Fita yang tengah berjalan bersama


" Ish... Ngapain tuh cewek kecentilan, deket ama si Rafa! " Tangan Dewi mengepal kuat


" Namanya juga cewek kecentilan Dew " Dewi berdecih


" Awas aja lo, gue bakal bales. Dan lo Sal, lo harus ikut gue " Salsa mengangguk mantap


" Rafa " Fita memutar bola matanya malas, saat Riska memeluk tubuh Rafa erat


" Hai "


" Hai juga, tumben lo berangkat agak siangan " Fita mengedikkan bahu acuk, lalu melempar tasnya diatas meja


" Terus kenapa lo bareng ama Rafa? "


" Jangan - jangan lo emang udah jadian ama si Rafa ya? "


" Kepo bat dah lo semua. Lombanya dimulai jam berapa? "


" Kek biasanya aja, jam 8 teng... Baru mulai "


" Oh, masih ada waktu dong "


Kruyukkk


Fita menutup matanya dengan wajah bersemu merah, sedangkan Defa dan lainnya menatap gadis itu geli.


" Lo belom sarapan Fit? " Fita tersenyum canggung


" Belom, kantin yuk " Defa mengangguk


" Yuk, lagian gue juga belom sarapan. Lo semua mau ikut nggak? "


" Hmm... Gimana ya? "


" Gue traktir deh " Sergah Fita, kontan Defa, Aziz, Salman dan Dodit tersenyum lebar


" Nah kalo gitu kan enak... "


" Ayo "


" Eh pacar lo itu, gimana? " Fita menoleh pada Rafa, yang masih dipeluk erat oleh Riska dengan wajah memelas


" Fit tolong gue napa "


" Ogah " Fita kembali melenggang pergi


" Hayo... Neng Fita udah ngambek dan nggak terpengaruh, ama ketamfanan babang Rapa " Celoteh Dodit disambut gelak tawa temannya


" Brisik lo semua! " Sarkas Rafa


" Udah urus aja neng Riska tersayong " Mereka melenggang pergi sambil terkekeh kecil


" Lepas! " Rafa mendorong tubuh Riska menjauh


" Ih... Lo ko kasar banget sih " Rafa memutar bola matanya malas


" Gue nggak bakal begini, kalo lo punya batesan! " Rafa menyusul Fita, setelah melempar tasnya keatas meja


" Awas aja lo Fita! "


***


Rafa mengambil sebuah gulungan dan menujukan isinya pada penonton, lalu menyerahkanya pada pembawa acara.


" Korea, apa kalian sudah siap? " Rafa mengangguk mantap


" Ok, beri tepuk tangan yang meriah pada kelas 10 IPA 2 "


" Woa... Rafa! " Teriak histeris beberapa siswa permpuan


Woa... Woa.. Woa... Woa..


Jakku neobakke anboyeu


Maeumi neoman garikyeo


Geojismalcheoreom tteollineun


I gibun cheoeumiya


Wae ijeya natanan geoya


Gidaryeowassdeon unmyeong gata


Fita tersenyum simpul saat Raaf terus menatap kearahnya, dengan seulas senyum meski sedang bernyanyi.


" Kurang ajar lo Fit! Berani banget lo ngrebut perhatian sahabat gue! " Neyla mengepalkan tangannya kuat, sambil menatap tajam kearah Fita


You're the only one for me


Ojik namaneul bwajwo


Sesang kkeute isseodo dallyeoga


Naega jikil su issge


Panji menyeringai tajam, saat melihat senyum merekah diwajah Rafa dan Fita.


" Lo berdua tunggu aja! "


Defa bangkit lalu mengambil sebuah mic, ia berjalan mendekat kearah Rafa.


Jiltuwa sasohan datum, thats's not a problem


Modu sijageun seotulgo eoseolpeodo


Semua mata membelalak lebar saat Defa melakukan raper, sedangkan Rafa sibuk dengan gitar ditangannya.


" Wah... Ternyata tuh Defa keren juga "


" Gue nggak nyangka banget "


" Woa... Defa! "


Defa duduk, lalu memukul kembali drumnya.


" Ish gue nggak, nyangka ternyata mereka berdua keren banget! "


" Defa! "


" Rafa! "


Keduanya tersenyum, saat suara dan penampilan mereka dieluh - eluhkan oleh para siswa.


" Ternyata mereka berdua keren juga " Batin Neyla sambil menatap lamat - lamat kedua sahabatnya


Rafa mengambil mic miliknya, lalu menggenggam benda itu erat dan bersiap untuk melakukan raper.


Nan neo hanamyeon dwae neo hanamyeon


Keulleop yeoja sul da piryoeopsne


Ssak byeonhan nae moseup jal bwa


" Rafa! "


Semua siswa semakin mengeluh - eluhkan Rafa. Berbeda dengan Fita yang hanya bisa tersenyum bangga, melihat penampilan teman - temannya.


Woohoo  woohoo  woohoo


Defa memukul stik dramnya keudara, sedangkan Rafa dan lainnya mengangkat kedua tangan mereka sambil bertepuk tangan. Semua orang mengangkat tangannya keudara, mengikuti Rafa dan lainnya sambil bersenandung.


You're the only one for me


Idaero meomulleojwo


Neoreul mannagi wihae


Sesange taeeonan geosman gata


I'm the only one for you


Nega animyeon andwae


Nareul salgehal dan han saram


Eojekkajina saranghal geoya


" Woa... Rafa "


" Defa! "


" Itulah penampilan dari kelas 10 IPA 2, beri tepuk tangan yang meriah untuk mereka "


" Woa.... " Teriak para siswa


Fita segera menghampiri Rafa dan teman - temannya, yang baru saja turun dari panggung.


" Rafa... Sumpah lo semua tadi keren banget " Fita menghentikan langkahnya, saat melihat Rafa tengah bersama Neyla


Fita memutar tubuhnya kembali, lalu nelenggang pergi tanpa ada yang menyadarinya.


" Lo emang suka sendirian ya? " Fita tergeragap lalu mendongakkan kepalanya


" Panji? "


" Gue boleh duduk disini? " Fita terdiam kemudian mengangguk


" Lo nggak ngucapin selamat ke pacar lo? " Fita memicingkan matanya


Panji menarik salah satu sudut bibirnya, saat melihat tanda tanya besar diwajah Fita.


" Seluruh sekolah udah tau kali "


" Tau... " Fita tersenyum miris


" Gue nggak punya hubungan apa - apa ama si Rafa, kita cuma temen "


" Bagus deh "


" Hmm... Gue nggak tau dia lagi dimana "


" Oh, lo mau bolos lagi? " Fita menatap wajah Panji lamat - lamat


" Hmm... Lo mau ikut? Mumpung lagi free " Fita menggeleng mantap


" Nggak makasih "


***


" Kemaren lo pulang ama siapa? "


" Panji " Kontan semua orang menatap Fita tidak percaya


" Maksud lo Panji kakak kelas kita? "


" 11 IPS 1 kan? " Aziz menimpali


" Ho'oh "


" Lo kenal ama si Panji? " Fita menoleh lalu mengangguk


" Gue nggak terlalu akrab sama Panji, tapi kita sering ngobrol " Rafa menatap Fita heran


" Lo tau kan, kalo si Panji itu pacarnya Neyla? " Sergah Rafa


" Terus? " Rafa mengepalkan tangannya kuat


" Lo nggak berniat ngerusak hubungan Neyla, buat bales dendam kan? " Fita memicingkan matanya dan berusaha untuk tetap tenang


" Maksud lo apaan? "


" Gue yakin lo paham dan ngerti, apa maksud gue Fit! "


Defa bangkit dan berupaya melerai kedunya, dengan bantuan Dodit, Aziz dan Salman.


" Eh udah... Udah, lo berdua kenapa sih selalu aja berantem? " Fita berdecih


" Gue nggak bakal emosi, kalo temen lo itu bisa jaga omongan! "


" Apa? Gue bener kan, lo mau bales dendam ke Neyla karena lo cemburu! " Fita memutar bola matanya jengah


" Cemburu? Bales dendam? Lo pikir gue cewek apaan, hah! " Sarkas Fita


" Terus apa alesan lo, deket ama si Panji?! " Fita menarik paksa lengannya, yang tengah dipegangi oleh Defa dan Aziz


" Cukup! Lebih baik lo semua bersiap buat lomba, ok? " Fita bergegas keluar dari dalam kelas


" Terus aja lo ngehindar! "


" Fa... Kenapa sih lo kek gitu ama si Fita? " Rafa berdecih


" Gue nggak bakal biarin Fita atau yang lainnya, ngerusak hubungan Neyla ama pacarnya "


" Kenapa? Karena lo masih suka ama si Neyla, iya? " Rafa terdiam


" Neyla itu sahabat gue dan gue nggak bakal biarin, siapapun bikin si Ela nangis. Termasuk lo atau si Fita " Ucap Rafa ketus sambil menunjuk kearah Defa


Rafa melenggang pergi, setelah menyelesaikan kalimatnya.


" Terus kita harus gimana? " Defa menoleh pada Salman


" Gue juga nggak tau "


" Semoga aja mereka bisa cepet baikan " Dodit menimpali


" Lagi? " Fita tergeragap, diam - diam ia mengusap air matanya sebelum akhirnya menoleh


" Eh elo... Ngapain lo disini? "


Panji mengambil posisi tepat disamping Fita, ia menarik salah satu sudut bibirnya.


" Harusnya gue yang nanya kek gitu ke elo. Ngapain lo disini sendirian? " Fita terdiam


" Gue lagi nyari angin " Kilahnya


Panji terkekeh kecil, membuat Fita menatap pria itu heran.


" Gue tau kalo lo abis nangis " Fita tergeragap


" Ng... Nggak ko, so tau banget sih lo! "


" Pasti gegara si Rafa ama Neyla kan? " Fita terdiam dengan wajah tertunduk


" Berarti iya. Kalo gitu gue mau minta maaf, atas nama Neyla. Asal lo tau, gue juga nggak suka liat si Neyla deket ama Rafa " Fita menoleh tidak percaya


" Kenapa? " Panji berdecih


" Gue yang pacarnya aja jarang ketemu, tapi dia bisa ketemu ama si Rafa hampir tiap hari. Jadi... Gue tau apa yang lo rasain sekarang " Mata Fita mulai berkaca - kaca


" Kalo lo mau nangis, lo bisa ko pake bahu gue bu... "


" Hua... "


Tubuh Panji mengejang, saat Fita memeluknya erat sambil terisak. Panji mengangkat salah satu tangannya, lalu mengusap kepala Fita dan tangan lainnya digunakan untuk memeluk tubuh gadis itu.


" Hust... Lo boleh cerita apa aja ke gue, ok? " Fita semakin terisak


" Ish... Kenapa gue jadi kasian ama nih cewek sih! "


Tangan Rafa mengepal kuat, hingga urat - urat lehernya terlihat sangat jelas.


" Kurang ajar! " Gumamnya saat melihat Panji dan Fita dari kejauhan


***


" Siap? " Panji mengangguk


Panji membuka lagunya dengan suara keyboard yang dilantunkan Arya, disusul gitar oleh Panji dan drum oleh Ibnu.


Dahulu kita terbiasa, selalu menunggu terus menunggu


Berharap datang seseorang, untuk melengkapi kisah hidup ini


Terlalu sulit melangkah, tuk temukan yang selalu dinantikan


Hingga kitapun berjumpa, tiada lagi alasan untuk menunda


Akhirnya kita bersama, setelah menanti lama


Semoga slalu terjaga


Ahaa wohoo...


Waktu telah berbicara, menanti tak sia - sia


Karena kau yang kini ada, ahaa woo...


Sangatlah berharga


Fita bertepuk tangan, membuat senyum diwajah Panji merekah.


Bertahan di kesendirian, telah menuntunku menemukanmu


Tanpa ragu aku berikan, semua rasa cinta yang tersimpan lama


Penantian selama ini, tak membuatku jera tetap berharap


Kuyakin seseorang kan datang kepadaku, menggenggam tanganku


Seluruh penonton bersorak, tidak terkecuali Fita yang sedari tadi memperhatikan permainan Panji.


" Ngapain sih tuh cewek ngliatin Panji! Emang dasar cewek keganjenan! " Neyla menatap tajam kearah Fita


Ahaaa owoo...


Sangatlah berharga...


Fita bertepuk tangan sekuat tenaga, dengan senyum merekah saat Panji menyelesaikan lagunya. Saat turun dari panggung, Panji langsung menghampiri Fita dibarisan penonton.


" Ayo! " Panji menarik lengan Fita menjauh dari kerumunan penonton


" Gimana penampilan gue? " Fita tersenyum lalu mengacungkan kedua ibu jarinya


" Keren, sumpah keren banget "


" Seriusan? " Fita mengangguk mantap sambil tersenyum


" Ish... Kenapa nih cewek manis banget sih! "


" Kemana tuh si Fita? " Neyla celingukan mencari sosok Fita, yang sudah hilang entah kemana


" Silahkan dimulai " Rafa mengangguk


Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Fita diantara para penonton, tapi hasilnya nihil.


" Lo dimana sih Fit? "


" Fa " Rafa tergeragap, saat Dodit memegang bahunya


" I... Iya "


Kadang hati, berharap ku terbangun


Dari sebuah mimpi, ini bukan kenyataan


Namun adanya tak ada disini


Kau meninggalkanku karna kesalahanku


Mungkin ingin bertemu masih ada, ingin memeluk masih ada


Sayang kini tak bisa, kau telah memilihnya


Owoo...


Mungkin saat hatiku masih sayang, salahku memutus cinta dan kini ku menyesal


Rindu hanya didalam hati...


Rafa mengalihkan tatapannya pada Neyla, yang tengah berdiri dengan Dian. Gadis itu tersenyum kearahnya dan kontan membuat senyum diwajah Rafa kembali merekah.


Ingin memutar waktu, ingin mengulang lagi


Aku tak bisa berpaling lagi...


Begitu juga aku, jauh direlung hati


Sungguh tak mampu, berpindah cinta


Mungkin ingin bertemu masih ada, ingin memeluk masih ada


Sayang kini tak bisa, kau telah memilihnya


Owoo...


Mungkin saat hatiku masih sayang, salahku memutus cinta


Dan kiniku menyesal, rindu hanya didalam hati


Dian mencolek lengan Neyla, yang tengah terpaku dengan penampilan Rafa.


" Inget lo udah punya " Neyla terkekeh


" Gue inget ko " Neyla kembali mengalihkan tatapannya pada Rafa dan Defa


Panji dan Fita berjalan kembali menuju area panggung.


" Lo yakin nggak mau ikut ama gue? " Fita mengangguk mantap


" Dulu gue emang sering bolos, tapi sekarang nggak lagi "


" Oh... Emang alesan lo bolos apa? " Fita terlihat tengah berpikir sejenak


" Gue cuma pengin kabur aja, karena dulu gue itu nggak punya temen. Jadi gue bolos, terus jalan - jalan deh "


" Terus... Lo pernah ketangkep basah nggak? " Fita tersenyum


" Pernah, tapi gue tetep bolos. Paginya gue dihukum, berdiri dibawah tiang bendera nyampe istirahat kedua " Keduanya terkekeh


" Kalo lo? " Panji berpikir sejenak


" Pernah beberapa kali, gue bahkan sering keluar masuk BK "


" Dan lo masih nglakuin itu " Panji mengedikkan bahu


" Itu wajar buat cowok "


" Ya udah, kalo gitu gue pergi sekarang " Fita mengangguk