
Dian tersentak kaget, saat Neyla memukul meja didepan mereka.
" Lo kenapa sih La? " Neyla menatap tajam kearah Dian
" Ada yang salah ya ama pertanyaan gue? Tapi kayaknya nggak ada deh " Dian mengingat - ingat kejadian beberapa detik lalu
" Ish... Gue benci banget deh ama atuh cewek kecentilan! " Dian menyipitkan matanya heran
" Lo ngomongin siapa? "
" Ya itu cewek kecentilan yang suka deketin Rafa ama Defa "
" Oh cewek tomboy itu? " Neyla memutar bola matanya malas
" Hmm... Siapa lagi coba! "
" Emang ada masalah apa? "
" Ya kali si Rafa pacaran ama tuh cewek centil, maksud gue emang dia nggak bisa cari yang lain apa? "
" Emang apa masalahnya? Lagian lo kan udah punya Panji, terus buat apa cemburu coba? " Mata Neyla membelalak lebar lalu berdecih
" A... Apa? Gue nggak cemburu ko " Sergah Neyla
" Lah terus? "
" Lo ko nggak bisa ngertiin gue banget sih! " Neyla bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi menuju kantin.
Langkah Neyla terhenti, saat ia melihat Fita tengah tertawa lepas bersama Defa dan yang lainnya dikantin.
" Awas lo Fit! " Gumamnya sebelum melangkah pergi kembali ke kelas
" Ya kek gitu... " Tawa Aziz seketika terhenti
" Fit, gue boleh nanya nggak? " Kontan si empunya nama menoleh dengan seulas senyum
" Nanya apa? "
" Lo itu kan cewek... Tapi kenapa nggak punya sisi feminim sih? " Fita tersedak oleh salivanya sendiri, saat mendengar pertanyaan Aziz.
" Ish... Kepo banget sih lo "
" Tapi bener kata Aziz, kebanyakan cewek kan suka tuh tampil cantik dengan pake mek ap lah apa lah. Kenapa lo itu beda ya? " Salman menimpali
" Lo mau tau jawabannya? " Mata Salman dan Aziz berbinar
" Apaan? " Sergah Defa
" Alesannya... Gue nggak bakal kasih tau lo semua " Kontan temannya mengerucutkan bibir
" Udahlah... Fita nggak pake mek ap aja cantik, apa lagi kalo make ya kan? " Fita mengangguk setuju dengan perkataan Dodit
" Tumben lo pinter "
" Oh iya, gue punya satu pertanyaan lagi? "
" Apaan? "
" Lo kan punya rumah gedong, lantai dua tapi kenapa sepi ya? Orang tua lo kemana sih? " Fita terdiam, seketika senyum diwajahnya menghilang
" Fit... Lo nggak papa? " Tanya Defa sambil mengusap lembut bahu gadis itu.
Fita tergeragap, ia menoleh pada Defa dengan seulas senyum.
" Gue nggak papa. Lo penasaran dimana orang tua gue? " Mereka mengangguk serentak
" Ntar gue bawa kalian ketemu mereka, ok? "
" Seriusan? " Fita mengangguk
" Ok, matep nih "
" Oy, ada apaan nih? " Rafa yang baru saja datang mendorong tubuh Defa menjauh, hingga pria itu hampir saja terjatuh.
" Kampret lo Fa "
" Hust... Nggak boleh gitu, dosa ferguso! " Defa bangkit lalu mengambil posisi disamping Dodit
" Lo juga sama " Rafa terkekeh kecil
" Lo semua denger ya... Mulai sekarang nggak boleh ada yang pegang - pegang Fita, karena dia punya gue! " Kontan mata mereka membelalak lebar tidak percaya, mendengar penuturan Rafa.
" Halah halu aja lo bambang "
" Idih nggak percaya... Tanya langsung tuh sama Fita " Fita yang tengah meminum jus alpukatnya, dibuat tersedak saat namanya tiba - tiba dipanggil.
" Beneran tuh Fit? " Fita tergeragap
" I... Itu, apaan sih lo Fa " Fita memukul lengan Rafa membuat si empunya meringis kesakitan.
" Udahlah gue cabut, bu uangnya diatas meja ya " Fita melangkah pergi dengan pipi merona merah.
" Neng Fita nggak usah malu - malu gitu! "
" Brisik! " Rafa mengejar Fita disambut tatapan heran teman - temannya.
" Beneran nggak sih? " Defa hanya mengedikkan bahu
***
Panji
Lo dimana?
Neyla menghela nafas gusar, ia menatap lamat - lamat pesan dari Panji.
Lo pulang duluan aja, gue harus kerja kelompok dulu
Setelah beberapa menit, ada sebuah notifikasi pesan dari Panji.
Panji
Oh
" Lo yakin mau nunggu Fita disini? " Neyla memgangguk mantap
" Gimanapun caranya, gue harus minta penjelasan langsung dari mulut tuh cewek! "
" Gimana kalo tuh cewek, barang sama Rafa atau yang lainnya? "
" Gue udah perhatiin, tuh cewek kalo pulang nggak pernah bareng ama si Rafa ataupun Defa "
Tidak berselang lama Fita keluar seorang diri, Neyla dan Dian langsung mencegat gadis itu dan membawanya menuju area parkir sekolah yang sudah sepi.
" Eh, apaan sih! "
" Nggak usah banyak omong lo Fit! " Sarkas Neyla
" Lo berdua punya masalah apa sih sama gue! " Neyla berdecih
" Ada hubungan apa lo sama Rafa? "
" Rafa? Lo nglakuin ini cuma gegara Rafa? " Fita berdecih seraya tersenyum meremehkan
" Iya. Berani - beraninya lo ngrebut Rafa dan Defa dari gue! "
" Ngrebut? Lo halu ya? Jelas - jelas lo udah jadian ama tuh kakak kelas, terus kenapa lo manggil gue perebut "
" Nggak usah banyak omong deh lo! "
Fita menangkap tangan Neyla, yang hendak menampar dirinya.
" Lepas nggak! Dian! " Fita menatap tajam kearah Dian, membuat gadis itu begidik ketakutan
" Kalo lo berani maju satu - satu, jangan kek pengecut beraninya keroyokan! " Fita menghempaskan tangan Neyla kasar, membuat si empunya meringis kesakitan
" La lo nggak papa? " Neyla menatap tajam kearah Fita
" Sakit! "
" Lain kali nggak usah macem - macem ama gue, karena lo nggak kenal gue dan nggak tau apa yang bakal gue lakuin ama cewek kek lo berdua. Paham! "
Fita melangkahkan kakinya menjauh dari area parkir sekolah.
" Awas aja lo Fita! " Neyla melangkah pergi diikuti Dian dibelakangnya
Fita memasang seulas senyum, saat melihat sosok Aldo yang tengah berdiri didepan gerbang.
" Udah lama? " Aldo menoleh sambil memicingkan matanya
" Lama amat sih lo? " Fita mengerucutkan bibirnya
" Ya elah... Cuma telat beberapa menit aja udah kena omel "
" Bukan ngomel tapi gue khawatir, gue nggak mau lo kena masalah lagi kek waktu di SMA sebelumnya "
" Ih selow aja kali... Gue ini anak baek "
" Halah... Ayo pulang! "
" Eh bentar dulu, kita pergi ke supermarket dulu sebelum pulang " Aldo mengernyitkan dahi heran
" Mau ngapain? "
" Gini nih kalo punya abang nggak pernah terjun kedapur, kita udah nggak punya beras, sayur ama persediaan snack "
" Oh. Ngomong kek dari tadi " Fita memutar bola matanya malas
" Lo pikir tadi gue ngapain? Ndumel? " Aldo terkekeh sambil mengusap kepala Fita
" Eh coach Aldo " Kontan si empunya nama menoleh dengan seulas senyum
" Rafa? Lo belom pulang? " Rafa mengangguk
" Coach mau jemput Fita? "
" Iya. Btw jangan panggil gue coach, kalo kita nggak lagi latihan. Ok? "
" Terus panggil apa dong? "
" Abang aja. Oh iya, keliatannya lo akrab banget ama adik gue " Fita mendongakkan kepalanya dengan pipi bersemu merah
" Bukan deket lagi, kita udah... " Aldo terkekeh melihat Rafa mengerucutkan bibir, sambil menempelkan kedua jari telunjuknya.
" Lo berdua udah pacaran? Kapan... Kapan? " Tanya Aldo antusias membuat rona diwajah Fita semakin terlihat
" Sejak... "
" Halu lo, ayo bang! " Sergah Fita
" Ayo! Mau kemana neng? " Tanya Rafa
" Ih... Bukan lo kampret " Fita berlari menuju mobil
" Ternyata adek gue bisa malu juga, eh lo beneran udah... "
" Abang! "
" Iya... Iya, kita sambung nanti ya " Rafa mengangguk
***
" Assalamuallaikum "
" Bang " Sapa Rafa sambil meraih tangan pria itu lalu menciumnya
" Rafa? Ada apa ya? Bukannya kita nggak ada jadwal les hari ini " Rafa hanya terdiam dengan seulas senyum
" Eh tunggu... Lo kesini karena Fita kan? " Rafa mengangguk mantap
" Ish... Mantap nih mau ngajak adek gue jelong - jelong, btw ayo masuk dulu "
" Makasih bang "
" Santai aja, tunggu bentar ya si Fita lagi masak " Rafa mengernyitkan dahi heran
" Masak? Buat apa? "
" Sarapan " Rafa melirik jam tangannya
" Sarapan? " Aldo terkekeh kecil
" Iya... Gue sama Fita telat bangun, jadi sarapan ama makan siang digabung dah "
" Kenapa nggak ngomong, kalo abang ngomong sejak awal bakalan gue bawain sarapan buat kalian "
" Ish... Jadi gini rasanya punya ade ipar " Rafa terkekeh kecil
" Abang bisa aja, btw emang si Fita bisa masak? "
" Jangan diragukan, kalo lo nggak percaya bisa nyobain ko "
" Bang udah siap! " Teriak Fita dari dapur
" Iya! Tuh lo denger kan, ayo makan dulu "
" Nggak usah bang, gue nunggu disini aja "
" Halah nggak usah malu -malu gitu, ayo! " Aldo menarik lengan Rafa hingga ke meja makan
" Loh Rafa, ngapain lo disini? " Rafa hanya tersenyum
" Mau ngajak lo jalan, lagian ini weekend jadi gue setuju aja kalo dia ajak lo jalan "
" Jalan? "
" Udah... Ayo makan dulu, setelah makan lo mandi terus siap - siap. Ok? " Fita memutar bola matanya malas
Mereka duduk bersama dan mulai menikmati hidangan, yabg telah disajikan oleh Fita.
" Enak juga " Puji Rafa tulus
" Fita " Sergah Fita bangga
" Nah kalo gini kan enak. Ntar kalo kita nikah, gue bisa makan masakan lo tiap hari "
" Bagus, gue dukung lo berdua " Aldo dan Rafa terkekeh lalu saling beradu tos
" Kepedean banget sih lo berdua! "
" Emang apa yang salah dari Rafa coba, dia itu ganteng, baek, pinter nyanyi terus... "
" Pinter bohong, bolos, tidur, kepedean... " Potong Fita tanpa menoleh
" Jangan jujur... Jujur amat kali Fit " Sergah Rafa sambil mengerucutkan bibirnya
" Udah nggak usah dengerin si Fita, dia emang gitu orangnya "
" Thanks bang. Untung aja gue punya calon kakak ipar kek lo, yang bisa bantu gue ngadepin si Fita " Fita memicingkan matanya jengah
" Iya, tapi lo harus ati - ati ama si Fita "
" Kenapa bang? " Tanya Rafa heran
" Dia tuh... Ya Allah udah kek cowok, bener dah... " Fita mendaratkan sebuah pukulan pada bahu Aldo, membuat si empunya merintih kesakitan
" Ish... Apaan sih "
" Maksudnya gimana bang? "
" Lo semua nggak penasaran, kenapa nih bocah pindah ke SMA lo setelah beberapa minggu di SMA lama? " Rafa menggeleng
" Gue pikir karena SMA yang dulu, nggak terlalu bagus or sejenisnya lah " Aldo menggeleng
" Dia gue pindahin ke SMA tempat lo - lo pada, karena di SMA yang lama dia udah berani gampar cowok nyampe babak belur coba... Padahal dia baru masuk beberapa hari " Fita berdecih
" Salah tuh cowok lah, namanya aja cowok tapi kelakuan kek banci! "
" Emang tuh cowok ngelakuin apa? "
" Dia nggak sengaja nabrak terus megang paha si Fita, eh malah digampar "
" Ya iya lah... Kalo dia mau minta maap aja, udah selesai tuh masalah " Rafa menggeleng tidak percaya
" Ish... Ternyata lo kejam juga Fit "
***
Fita berjalan menyusuri area mall, sambil mengisap milkshake cokelat yang diberikan Rafa.
" Udah lo jujur aja napa sih? " Rafa menatap Fita heran
" Maksud lo? "
" Lo nggak usah pura - pura jadi pacar gue, apa lagi sampe ngomong ke orang - orang " Fita kembali mengisap milkshake ditangannya
" Gue nggak bohong ko " Ucap Rafa setelah hening beberapa saat
" Terserah lo aja dah "
" Oh iya Fit " Fita menoleh saat namanya disebut oleh Rafa
" Apaan? "
" Bb lo berapa? " Fita yang tengah meminum milkshakenya dibuat terkejut, hingga hampir tersedak karena pertanyaan yang dilontarkan Rafa.
" Kepo banget sih lo! " Rafa tersenyum geli
" Ternyata bener ya, cewek itu sensitif kalo ditanya soal bb "
" 50 " Rafa menatap Fita geli
" Kenapa mata lo? Pengin gue colok ya? " Sambung Fita
" Lo berat juga ya " Goda Rafa membuat pipi Fita bersemu merah
" Ih ng... Nggak lah, malah bb gue itu kurang tau "
" Ah masa "
" Gue gampar juga lo lama - lama "
" Sorry... Sorry, galak banget sih lo "
" Lo sendiri, berapa bb lo "
" Gue nggak tau " Mata Fita membelalak lebar
" Halah bohong lo ya "
" Ih sumpah gue nggak tau, bener dah. Kalo gue bohong, gue rela bin bersyukur kalo lo mau cium gue sekarang juga "
" Ish... Najis " Sergah Fita
" Tapi bener gue nggak tau, kalo tinggi badan gue tau " Fita menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Rafa
" Berapa tinggi badan lo? "
" 180 - 182, ya sekitar itu lah. Lo sendiri? "
" 165 " Fita memicingkan matanya heran saat Rafa terkekeh kecil
" Lo pendek juga ya "
" Enak aja, buat ukuran cewek Indo gue itu termasuk dalam kategori tinggi ya! " Protes Fita
" Iya... Iya "
" Kaki lo panjang juga ya? " Mata Fita terfokus pada kaki jenjang Rafa
" Keren kan " Fita berdecih
" Gue tau alasan kenapa kaki lo bisa panjang " Rafa menatap Fita tidak percaya
" Jangan sok tau " Fita tersenyum lebar
" Ih beneran, lo mau denger nggak? Kalo ngga juga nggak papa "
" Ok... Ok, gue dengerin. Jadi apa alesannya? "
" Kayaknya nyokap lo, ngidam jerapah deh waktu hamil lo. Makanya kaki, tangan ama leher lo panjang " Rafa terkekeh kecil
" Enak aja lo "
" Tapi bener kan " Fita terkekeh kecil
" Kalo nyokap lo, pasti ngidam pepes kecoa pas hamil lo kan? "
" What? Enak aja lo! " Fita memukul pelan lengan Rafa membuat si empunya terkekeh kecil.
" Tapi pendek juga nggak papa, malah gue lebih suka cewek pendek kek lo " Fita menatap Rafa heran
" Kenapa? "
" Soalnya kalo mau dicium gampang, coba lo bayangin gimana jadinya kalo si cewek lebih tinggi " Fita terdiam beberapa saat kemudian tertawa kecil
" Si cowok auto jinjit, kalo mau nyium tuh cewek kan? "
" Haha... Lo pinter juga, kalo cowok yang tinggi kan enak tinggal nunduk sampe deh "
" Terus nih ya kalo cewek pendek gampang dimainin " Sambung Rafa membuat mata Fita membelalak lebar
" Maksud lo? "
" Iya. Cewek pendek bisa diketekin, dipeluk, dicium bahkan... "
" Bahkan? " Pancing Fita membuat senyum diwajah Rafa semakin mengembang
" Kepo banget sih lo "
" Kan elo yang bikin gue kepo "
" Lo mau tau? " Fita mengangguk mantap dengan mata berbinar
" Tapi cium gue dulu ya " Bisik Rafa membuat pipi Fita merona
" Nggak usah kasih tau gue! "
" Tunggu! Jangan ngambek gitu dong " Fita memutar bola matanya malas
" Bomat! " Rafa menempelkan jari telunjuknya pada dahi Fita
" Ini jawabannya " Kontan senyum diwajah Fita kembali terukir.