Rafa

Rafa
Bahagia Berdua



Dian tersentak kaget, saat Neyla memukul meja didepan mereka.


" Lo kenapa sih La? " Neyla menatap tajam kearah Dian


" Ada yang salah ya ama pertanyaan gue? Tapi kayaknya nggak ada deh " Dian mengingat - ingat kejadian beberapa detik lalu


" Ish... Gue benci banget deh ama atuh cewek kecentilan! " Dian menyipitkan matanya heran


" Lo ngomongin siapa? "


" Ya itu cewek kecentilan yang suka deketin Rafa ama Defa "


" Oh cewek tomboy itu? " Neyla memutar bola matanya malas


" Hmm... Siapa lagi coba! "


" Emang ada masalah apa? "


" Ya kali si Rafa pacaran ama tuh cewek centil, maksud gue emang dia nggak bisa cari yang lain apa? "


" Emang apa masalahnya? Lagian lo kan udah punya Panji, terus buat apa cemburu coba? " Mata Neyla membelalak lebar lalu berdecih


" A... Apa? Gue nggak cemburu ko " Sergah Neyla


" Lah terus? "


" Lo ko nggak bisa ngertiin gue banget sih! " Neyla bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi menuju kantin.


Langkah Neyla terhenti, saat ia melihat Fita tengah tertawa lepas bersama Defa dan yang lainnya dikantin.


" Awas lo Fit! " Gumamnya sebelum melangkah pergi kembali ke kelas


" Ya kek gitu... " Tawa Aziz seketika terhenti


" Fit, gue boleh nanya nggak? " Kontan si empunya nama menoleh dengan seulas senyum


" Nanya apa? "


" Lo itu kan cewek... Tapi kenapa nggak punya sisi feminim sih? " Fita tersedak oleh salivanya sendiri, saat mendengar pertanyaan Aziz.


" Ish... Kepo banget sih lo "


" Tapi bener kata Aziz, kebanyakan cewek kan suka tuh tampil cantik dengan pake mek ap lah apa lah. Kenapa lo itu beda ya? " Salman menimpali


" Lo mau tau jawabannya? " Mata Salman dan Aziz berbinar


" Apaan? " Sergah Defa


" Alesannya... Gue nggak bakal kasih tau lo semua " Kontan temannya mengerucutkan bibir


" Udahlah... Fita nggak pake mek ap aja cantik, apa lagi kalo make ya kan? " Fita mengangguk setuju dengan perkataan Dodit


" Tumben lo pinter "


" Oh iya, gue punya satu pertanyaan lagi? "


" Apaan? "


" Lo kan punya rumah gedong, lantai dua tapi kenapa sepi ya? Orang tua lo kemana sih? " Fita terdiam, seketika senyum diwajahnya menghilang


" Fit... Lo nggak papa? " Tanya Defa sambil mengusap lembut bahu gadis itu.


Fita tergeragap, ia menoleh pada Defa dengan seulas senyum.


" Gue nggak papa. Lo penasaran dimana orang tua gue? " Mereka mengangguk serentak


" Ntar gue bawa kalian ketemu mereka, ok? "


" Seriusan? " Fita mengangguk


" Ok, matep nih "


" Oy, ada apaan nih? " Rafa yang baru saja datang mendorong tubuh Defa menjauh, hingga pria itu hampir saja terjatuh.


" Kampret lo Fa "


" Hust... Nggak boleh gitu, dosa ferguso! " Defa bangkit lalu mengambil posisi disamping Dodit


" Lo juga sama " Rafa terkekeh kecil


" Lo semua denger ya... Mulai sekarang nggak boleh ada yang pegang - pegang Fita, karena dia punya gue! " Kontan mata mereka membelalak lebar tidak percaya, mendengar penuturan Rafa.


" Halah halu aja lo bambang "


" Idih nggak percaya... Tanya langsung tuh sama Fita " Fita yang tengah meminum jus alpukatnya, dibuat tersedak saat namanya tiba - tiba dipanggil.


" Beneran tuh Fit? " Fita tergeragap


" I... Itu, apaan sih lo Fa " Fita memukul lengan Rafa membuat si empunya meringis kesakitan.


" Udahlah gue cabut, bu uangnya diatas meja ya " Fita melangkah pergi dengan pipi merona merah.


" Neng Fita nggak usah malu - malu gitu! "


" Brisik! " Rafa mengejar Fita disambut tatapan heran teman - temannya.


" Beneran nggak sih? " Defa hanya mengedikkan bahu


***


Panji


Lo dimana?


Neyla menghela nafas gusar, ia menatap lamat - lamat pesan dari Panji.


Lo pulang duluan aja, gue harus kerja kelompok dulu


Setelah beberapa menit, ada sebuah notifikasi pesan dari Panji.


Panji


Oh


" Lo yakin mau nunggu Fita disini? " Neyla memgangguk mantap


" Gimanapun caranya, gue harus minta penjelasan langsung dari mulut tuh cewek! "


" Gimana kalo tuh cewek, barang sama Rafa atau yang lainnya? "


" Gue udah perhatiin, tuh cewek kalo pulang nggak pernah bareng ama si Rafa ataupun Defa "


Tidak berselang lama Fita keluar seorang diri, Neyla dan Dian langsung mencegat gadis itu dan membawanya menuju area parkir sekolah yang sudah sepi.


" Eh, apaan sih! "


" Nggak usah banyak omong lo Fit! " Sarkas Neyla


" Lo berdua punya masalah apa sih sama gue! " Neyla berdecih


" Ada hubungan apa lo sama Rafa? "


" Rafa? Lo nglakuin ini cuma gegara Rafa? " Fita berdecih seraya tersenyum meremehkan


" Iya. Berani - beraninya lo ngrebut Rafa dan Defa dari gue! "


" Ngrebut? Lo halu ya? Jelas - jelas lo udah jadian ama tuh kakak kelas, terus kenapa lo manggil gue perebut "


" Nggak usah banyak omong deh lo! "


Fita menangkap tangan Neyla, yang hendak menampar dirinya.


" Lepas nggak! Dian! " Fita menatap tajam kearah Dian, membuat gadis itu begidik ketakutan


" Kalo lo berani maju satu - satu, jangan kek pengecut beraninya keroyokan! " Fita menghempaskan tangan Neyla kasar, membuat si empunya meringis kesakitan


" La lo nggak papa? " Neyla menatap tajam kearah Fita


" Sakit! "


" Lain kali nggak usah macem - macem ama gue, karena lo nggak kenal gue dan nggak tau apa yang bakal gue lakuin ama cewek kek lo berdua. Paham! "


Fita melangkahkan kakinya menjauh dari area parkir sekolah.


" Awas aja lo Fita! " Neyla melangkah pergi diikuti Dian dibelakangnya


Fita memasang seulas senyum, saat melihat sosok Aldo yang tengah berdiri didepan gerbang.


" Udah lama? " Aldo menoleh sambil memicingkan matanya


" Lama amat sih lo? " Fita mengerucutkan bibirnya


" Ya elah... Cuma telat beberapa menit aja udah kena omel "


" Bukan ngomel tapi gue khawatir, gue nggak mau lo kena masalah lagi kek waktu di SMA sebelumnya "


" Ih selow aja kali... Gue ini anak baek "


" Halah... Ayo pulang! "


" Eh bentar dulu, kita pergi ke supermarket dulu sebelum pulang " Aldo mengernyitkan dahi heran


" Mau ngapain? "


" Gini nih kalo punya abang nggak pernah terjun kedapur, kita udah nggak punya beras, sayur ama persediaan snack "


" Oh. Ngomong kek dari tadi " Fita memutar bola matanya malas


" Lo pikir tadi gue ngapain? Ndumel? " Aldo terkekeh sambil mengusap kepala Fita


" Eh coach Aldo " Kontan si empunya nama menoleh dengan seulas senyum


" Rafa? Lo belom pulang? " Rafa mengangguk


" Coach mau jemput Fita? "


" Iya. Btw jangan panggil gue coach, kalo kita nggak lagi latihan. Ok? "


" Terus panggil apa dong? "


" Abang aja. Oh iya, keliatannya lo akrab banget ama adik gue " Fita mendongakkan kepalanya dengan pipi bersemu merah


" Bukan deket lagi, kita udah... " Aldo terkekeh melihat Rafa mengerucutkan bibir, sambil menempelkan kedua jari telunjuknya.


" Lo berdua udah pacaran? Kapan... Kapan? " Tanya Aldo antusias membuat rona diwajah Fita semakin terlihat


" Sejak... "


" Halu lo, ayo bang! " Sergah Fita


" Ayo! Mau kemana neng? " Tanya Rafa


" Ih... Bukan lo kampret " Fita berlari menuju mobil


" Ternyata adek gue bisa malu juga, eh lo beneran udah... "


" Abang! "


" Iya... Iya, kita sambung nanti ya " Rafa mengangguk


***


" Assalamuallaikum "


" Bang " Sapa Rafa sambil meraih tangan pria itu lalu menciumnya


" Rafa? Ada apa ya? Bukannya kita nggak ada jadwal les hari ini " Rafa hanya terdiam dengan seulas senyum


" Eh tunggu... Lo kesini karena Fita kan? " Rafa mengangguk mantap


" Ish... Mantap nih mau ngajak adek gue jelong - jelong, btw ayo masuk dulu "


" Makasih bang "


" Santai aja, tunggu bentar ya si Fita lagi masak " Rafa mengernyitkan dahi heran


" Masak? Buat apa? "


" Sarapan " Rafa melirik jam tangannya


" Sarapan? " Aldo terkekeh kecil


" Iya... Gue sama Fita telat bangun, jadi sarapan ama makan siang digabung dah "


" Kenapa nggak ngomong, kalo abang ngomong sejak awal bakalan gue bawain sarapan buat kalian "


" Ish... Jadi gini rasanya punya ade ipar " Rafa terkekeh kecil


" Abang bisa aja, btw emang si Fita bisa masak? "


" Jangan diragukan, kalo lo nggak percaya bisa nyobain ko "


" Bang udah siap! " Teriak Fita dari dapur


" Iya! Tuh lo denger kan, ayo makan dulu "


" Nggak usah bang, gue nunggu disini aja "


" Halah nggak usah malu -malu gitu, ayo! " Aldo menarik lengan Rafa hingga ke meja makan


" Loh Rafa, ngapain lo disini? " Rafa hanya tersenyum


" Mau ngajak lo jalan, lagian ini weekend jadi gue setuju aja kalo dia ajak lo jalan "


" Jalan? "


" Udah... Ayo makan dulu, setelah makan lo mandi terus siap - siap. Ok? " Fita memutar bola matanya malas


Mereka duduk bersama dan mulai menikmati hidangan, yabg telah disajikan oleh Fita.


" Enak juga " Puji Rafa tulus


" Fita " Sergah Fita bangga


" Nah kalo gini kan enak. Ntar kalo kita nikah, gue bisa makan masakan lo tiap hari "


" Bagus, gue dukung lo berdua " Aldo dan Rafa terkekeh lalu saling beradu tos


" Kepedean banget sih lo berdua! "


" Emang apa yang salah dari Rafa coba, dia itu ganteng, baek, pinter nyanyi terus... "


" Pinter bohong, bolos, tidur, kepedean... " Potong Fita tanpa menoleh


" Jangan jujur... Jujur amat kali Fit " Sergah Rafa sambil mengerucutkan bibirnya


" Udah nggak usah dengerin si Fita, dia emang gitu orangnya "


" Thanks bang. Untung aja gue punya calon kakak ipar kek lo, yang bisa bantu gue ngadepin si Fita " Fita memicingkan matanya jengah


" Iya, tapi lo harus ati - ati ama si Fita "


" Kenapa bang? " Tanya Rafa heran


" Dia tuh... Ya Allah udah kek cowok, bener dah... " Fita mendaratkan sebuah pukulan pada bahu Aldo, membuat si empunya merintih kesakitan


" Ish... Apaan sih "


" Maksudnya gimana bang? "


" Lo semua nggak penasaran, kenapa nih bocah pindah ke SMA lo setelah beberapa minggu di SMA lama? " Rafa menggeleng


" Gue pikir karena SMA yang dulu, nggak terlalu bagus or sejenisnya lah " Aldo menggeleng


" Dia gue pindahin ke SMA tempat lo - lo pada, karena di SMA yang lama dia udah berani gampar cowok nyampe babak belur coba... Padahal dia baru masuk beberapa hari " Fita berdecih


" Salah tuh cowok lah, namanya aja cowok tapi kelakuan kek banci! "


" Emang tuh cowok ngelakuin apa? "


" Dia nggak sengaja nabrak terus megang paha si Fita, eh malah digampar "


" Ya iya lah... Kalo dia mau minta maap aja, udah selesai tuh masalah " Rafa menggeleng tidak percaya


" Ish... Ternyata lo kejam juga Fit "


***


Fita berjalan menyusuri area mall, sambil mengisap milkshake cokelat yang diberikan Rafa.


" Udah lo jujur aja napa sih? " Rafa menatap Fita heran


" Maksud lo? "


" Lo nggak usah pura - pura jadi pacar gue, apa lagi sampe ngomong ke orang - orang " Fita kembali mengisap milkshake ditangannya


" Gue nggak bohong ko " Ucap Rafa setelah hening beberapa saat


" Terserah lo aja dah "


" Oh iya Fit " Fita menoleh saat namanya disebut oleh Rafa


" Apaan? "


" Bb lo berapa? " Fita yang tengah meminum milkshakenya dibuat terkejut, hingga hampir tersedak karena pertanyaan yang dilontarkan Rafa.


" Kepo banget sih lo! " Rafa tersenyum geli


" Ternyata bener ya, cewek itu sensitif kalo ditanya soal bb "


" 50 " Rafa menatap Fita geli


" Kenapa mata lo? Pengin gue colok ya? " Sambung Fita


" Lo berat juga ya " Goda Rafa membuat pipi Fita bersemu merah


" Ih ng... Nggak lah, malah bb gue itu kurang tau "


" Ah masa "


" Gue gampar juga lo lama - lama "


" Sorry... Sorry, galak banget sih lo "


" Lo sendiri, berapa bb lo "


" Gue nggak tau " Mata Fita membelalak lebar


" Halah bohong lo ya "


" Ih sumpah gue nggak tau, bener dah. Kalo gue bohong, gue rela bin bersyukur kalo lo mau cium gue sekarang juga "


" Ish... Najis " Sergah Fita


" Tapi bener gue nggak tau, kalo tinggi badan gue tau " Fita menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Rafa


" Berapa tinggi badan lo? "


" 180 - 182, ya sekitar itu lah. Lo sendiri? "


" 165 " Fita memicingkan matanya heran saat Rafa terkekeh kecil


" Lo pendek juga ya "


" Enak aja, buat ukuran cewek Indo gue itu termasuk dalam kategori tinggi ya! " Protes Fita


" Iya... Iya "


" Kaki lo panjang juga ya? " Mata Fita terfokus pada kaki jenjang Rafa


" Keren kan " Fita berdecih


" Gue tau alasan kenapa kaki lo bisa panjang " Rafa menatap Fita tidak percaya


" Jangan sok tau " Fita tersenyum lebar


" Ih beneran, lo mau denger nggak? Kalo ngga juga nggak papa "


" Ok... Ok, gue dengerin. Jadi apa alesannya? "


" Kayaknya nyokap lo, ngidam jerapah deh waktu hamil lo. Makanya kaki, tangan ama leher lo panjang " Rafa terkekeh kecil


" Enak aja lo "


" Tapi bener kan " Fita terkekeh kecil


" Kalo nyokap lo, pasti ngidam pepes kecoa pas hamil lo kan? "


" What? Enak aja lo! " Fita memukul pelan lengan Rafa membuat si empunya terkekeh kecil.


" Tapi pendek juga nggak papa, malah gue lebih suka cewek pendek kek lo " Fita menatap Rafa heran


" Kenapa? "


" Soalnya kalo mau dicium gampang, coba lo bayangin gimana jadinya kalo si cewek lebih tinggi " Fita terdiam beberapa saat kemudian tertawa kecil


" Si cowok auto jinjit, kalo mau nyium tuh cewek kan? "


" Haha... Lo pinter juga, kalo cowok yang tinggi kan enak tinggal nunduk sampe deh "


" Terus nih ya kalo cewek pendek gampang dimainin " Sambung Rafa membuat mata Fita membelalak lebar


" Maksud lo? "


" Iya. Cewek pendek bisa diketekin, dipeluk, dicium bahkan... "


" Bahkan? " Pancing Fita membuat senyum diwajah Rafa semakin mengembang


" Kepo banget sih lo "


" Kan elo yang bikin gue kepo "


" Lo mau tau? " Fita mengangguk mantap dengan mata berbinar


" Tapi cium gue dulu ya " Bisik Rafa membuat pipi Fita merona


" Nggak usah kasih tau gue! "


" Tunggu! Jangan ngambek gitu dong " Fita memutar bola matanya malas


" Bomat! " Rafa menempelkan jari telunjuknya pada dahi Fita


" Ini jawabannya " Kontan senyum diwajah Fita kembali terukir.