Rafa

Rafa
Pendekatan



Dug


Tubuh mungil Neyla jatuh, saat ia tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang yang lebih besar darinya. Gadis itu mengerang kesakitan karena ia jatuh tepat diatas aspal yang keras.


" Lo nggak papa? " Tanya seorang pria sambil mengulurkan tangannya.


Neyla mendongakkan kepalanya seraya menerima uluran tangan pria itu, tubuhnya mendadak kaku saat melihat Panji berdiri tepat didepannya.


" Ak... Aku baik " Jawab Neyla tergeragap


" Gue Panji "


" Neyla "


" Anak baru ya? "


" I... Iya, kaka yang waktu itu aku tabrak kan ya? " Tanya Neyla memastikan


" Hmm... Nggak usah formal gitu, gue bukan guru " Ucap Panji disambut sebuah anggukan dan senyuman dari Neyla.


" ***** manis banget nih cewek, emang nggak salah lo jadi target gue selanjutnya " Batin Panji sambil tersenyum


" Jadi lo kelas berapa? "


" 10 IPA 4 "


" Oh deket dong sama kelas gue "


" Emang kakak kelas berapa? "


" 11 IPS 1 "


" Oh " Gumam Neyla


" Btw, kalo gue boleh tau lo balik ama siapa? "


" Nunggu taksi lewat "


" Nunggu taksi mah lama, gimana kalo gue anterin lo? "


" Nggak usah ka, gue bisa balik sendiri "


" Udah nggak usha malu - malu gitu, bentar gue ambil motor dulu "


" Tapi ka... "


Panji pergi menuju parkiran bahkan sebelum Neyla menyelesaikan kalimatnya. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Panji datang dengan motor hitam.


" Ayo naik "


" Tapi rok gue... "


Panji mengikuti tatapan Neyla, gadis itu mengenakan rok dibawah lutut dan sulit untuk naik. Panji segera melepas bomber miliknya kemudian memberikannya pada Neyla.


" Nih lo tutupin pake bomber gue "


" Nggak... "


" Udah nggak papa, oh iya nih helmnya " Potong Panji cepat


" Makasih ka "


" Slow aja, sekarang naik "


Neyla merasa ragu namun beberapa detik kemudian ia mengangguk, gadis itu naik keatas motor setelah mengenakan helm yang diberikan Panji. Lalu menutupi area pahanya, dengan bomber maroon milik Panji.


" Udah? " Tanya Panji


" Udah "


Panji membawa motornya melaju meninggalkan area sekolah dengan seulas senyum kemenangan.


" Lah itu bukannya si Panji ya? " Tanya Ibnu heran saat melihat panji bersama gadis baru.


" Lah iya tuh, nggak nyangka gue ternyata dia gercep juga "


" Jadi itu cewek yang kalian maksud? "


" Iya, cakep nggak? "


" Mana gue tau, lo nggak liat tuh muka ditutupi helm? "


" Oh iya lupa gue, gampang lah besok tinggal minta penjelasan dari Panji "


Panji sengaja memacu motornya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan mereka dipenuhi oleh pembicaraan - pembicaraan ringan.


" Jadi dimana rumah lo? "


" Perumahan permata indah, jalan Anggrek nomor 15 ka"


" Panggil aja gue Panji "


" I... Iya ka, eh maksudnya Nji "


Panji menghentikan motornya secara mendadak saat motor lainnya menyalip mereka, kontan hal itu membuat tubuh Neyla terjungkal kedepan. Tubuh Neyla dan Panji kini sangat dekat, tanpa disadari Neyla tangan mungilnya sudah melingkar dengan cantik dipinggang pria itu.


" Lo nggak papa La? "


" I... Iya, sorry ya " Ucap Neyla seraya melepaskan pelukannya.


" Buat apa lo minta maaf, lagian itu bukan salah lo "


" Kita lanjutin? " Sambung Panji disambut anggukan oleh Neyla.


Panji memacu kembali motornya menuju rumah Neyla, gadis itu turun saat motor Panji berhenti tepat didepan rumahnya.


" Makasih ya " Ucap Neyla seraya menyerahkan helm dan jaket bomber yang baru saja dikenakannya.


" Santai. Kalo lo butuh bantuan gue, tinggal telepon aja. Ok? " Neyla mengernyitkan dahi heran


" Tapi gue nggak punya nomor lo "


" Oh iya, nih nomor gue "


Panji meraih pulpen dari saku bajunya, ia menulis beberapa angka ditelapak tangan Neyla.


" Gue cabut sekarang ya " Neyla tersenyum


" Iya, hati - hati Nji "


" Hmm... "


Neyla masuk kedalam rumah dengan senyum merekah, sesaat setelah Panji pergi.


***


" Siapa cowok yang nganter lo tadi siang? " Tanya Gani disela - sela kegiatan makan malam.


" Kepo banget sih lo " Jawab Neyla acuh membuat Gani menyipitkan matanya.


" Tuh bocah bukan pacar lo kan? " Neyla berdecih


" Idih kepo amat lo sama kehidupan pribadi gue "


" Eh La, inget ya lo itu udah gue jodohin sama Rafa "


" Najis bat dah "


" Eh kalian ini kerjaannya brantem mulu. Udah lah bang jangan ganggu ade mulu " Ucap Ratih membuat senyum diwajah Neyla langsung merekah.


" Tuh denger apa kata mamih "


" Tapi mih, Rafa itu udah paling klop sama nih singa "


" Enak aja lo manggil gue singa! " Sarkas Neyla


" Sudah... Sudah, jangan bicara apa lagi bertengkar saat dimeja makan! " Jelas Gusti penuh penekanan.


" Iya pih maaf " Ucap Gani dan Neyla serentak.


" Sekarang makan, terus tidur! "


" Iya "


Neyla menatap mata Gani dengan tajam, begitupun dengan Gani yang membalasnya tak kalah tajam. Seolah mereka sedang berbicara lewat sorot mata itu.


" Apa lo liat - liat? Gue colok juga tuh mata " Batin Neyla


" Dasar nggak tau diuntung, udah dikasih ati ama si Rafa malah minta ati ke lainnya " Batin Gani


" Apa lo liat - liat " Ucap Gani


" Idih kepedan " Ucap Neyla sambil memutar bola matanya jengah.


" Kalian berdua bisa diam?! " Tanya Gusti tajam membuat kedua anaknya langsung tertunduk takut, sambil memasukan sesuap makanan kedalam mulut mereka.


Setelah acara makan malam selesai Neyla bergegas pergi menuju kamar, diikuti oleh Gani yang berjalan mengekor dibelakangnya.


" Mau ngapain sih lo? " Tanya Neyla geram, saat Gani mencegah dirinya yang hendak menutup pintu kamar pribadinya.


" Lo belum jawab pertanyaan gue! " Neyla berdecak kesal


" Pertanyaan yang mana sih? "


" Siapa cowok yang ngenterin lo tadi siang "


" Udah gue bilang berapa kali, jangan


Pernah ikut campur kehidupan pribadi gue! "


" Eh inget ya, gue udah jodohin lo sama Rafa "


" Bodo, kenapa bukan lo aja yang nikah sama tuh banci! "


Neyla mendorong tubuh Gani agar menjauh dari depan pintu, kemudian ia segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.


" Ela... Buka La " Ucap Gani sambil mengetuk pintu kamar Neyla.


" Bodo "


Neyla merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dengan santai tangannya merayap menuju nakas tepat dimana ponselnya berada.


Panji


" Gue chat apa nggak usah ya " Gumam Neyla, ia menghela nafas panjang kemudian meletakkan ponselnya diatas ranjang.


" Ya kali cewek chat duluan, mana harga diri gue " Gumamnya sambil tersenyum miris.


" Eh tunggu, si Panji kan nggak punya nomor gue. Ish... Kenapa gue bisa lupa kek gini sih "


Neyla mengambil kembali ponsel miliknya, ia membulatkan tekad untuk mengirim pesan pada Panji.


Hai, ini gue Neyla


Neyla meletakkan kembali ponselnya diatas nakas, ia mundur beberapa langkah menuju ranjang kemudian menutupi dirinya dengan selimut. Sudah beberapa menit tapi tak kunjung ada balasan, akhirnya Neyla memberanikan diri untuk mendekati ponselnya. Ia meraih benda itu dan mulai memandangi layar yang terlihat gelap itu.


Ddrrttt


Neyla meloncat kaget, saat sebuah pesan tiba - tiba masuk kedalam ponselnya.


Panji :


Eh elo La. Ada apa nih?


Gue :


Nggak, cuma mau ngasih tau kalo gue udah save nomor lo dan ini nomor gue


Panji :


Oh, ok gue save ya


Gue :


Panji :


Btw lo lagi ngapain La?


"Aduh gue harus bales apa nih " Batinnya


Neyla mengetik beberapa huruf dengan ragu.


*Gue mau belajar


Panji :


Oh kalo gitu semangat ya


Gue :


Makasih*


" Argh... " Pekik Neyla histeris dengan pipi merona merah.


***


Defa menghampiri Rafa yang tengah berdiri didepan pagar depan sekolah, pria itu terlihat tengah menunggu seseorang.


" Nungguin gue lo ya? " Tanya Defa membuat Rafa tersenyum meremehkan.


" Kepedean banget sih lo "


" Pasti si Ela, kenapa nggak telpon aja sih "


" Kalo diangkat, gue nggak bakal nungguin dia disini "


" Dia nggak angkat telepon dari lo? Sejak kapan? " Tanya Defa sambil memicingkan matanya.


" Udah satu minggu ini, gue ngerasa dia lagi ngehindar deh. Lo pikir kenapa dia ngehindar dari gue? "


" Hmm... Mungkin dia udah punya pacar "


" Pacar? Nggak mungkin lah " Ucap Rafa sambil terkekeh kecil.


" Tau dari mana lo, kalo Ela nggak bakal pacaran? "


" Felling bro " Defa tersenyum meremehkan


" Halah filling - filling upil lo kering "


" Tapi gue mau nanya serius ya " Sambung Defa, ia menatap lamat - lamat wajah Rafa membuat pria itu balik menatap kearah dirinya.


" Soal apa? Jangan soal rahasia ketamfanan gue ya, soalnya mustahil lo bisa ngikutin "


" Idih gue juga ogah. Lo beneran suka sama tuh si Ela? "


" Emang lo pernah liat gue bohong? "


" Sering ***** " Rafa terkekeh


" Tapi yang ini beda blog, gue udah suka sama dia sejak SD dulu "


" Lah ko bisa? "


Mata Rafa menggelap, tatapannya mengarah jauh kedepan mengingat rentetan kejadian dimasa lalu.


" Lo inget nggak pas gue dimarahi bokap, gegara nggak dapet peringkat satu pas kelas 3 SD? " Tanya Rafa, ia mengalihkan pandangannya pada Defa yang sedari tadi menyimak.


" Tentu aja gue inget, keluarga gue dan Ela kan nggak sengaja liat hal itu "


" Haha iya " Ucap Rafa sambil tersenyum getir.


" Lo inget gimana Ela ngehibur gue? "


" Waktu lo nangis ditaman itu? Terus si Ela ngasih lolipop ke elo? "


" Iya sejak itu gue suka sama Ela, dalam artian suka sebagai temen. Lama - lama perasaan suka gue berkembang dan kek gini deh akhirnya "


" Lo kan udah tau si Ela nolak lo mentah - mentah, apa lo nggak minat cari pengganti Ela? "


" Kalo segampang itu, udah gue lakuin dari dulu curut "


" Apa susahnya sih, banyak cewek disekolah ini yang suka sama lo. Cantik - cantik lagi "


" Masalahnya dia cinta pertama gue ***, lo kaya nggak pernah meratapi first lope aja "


" Hai Rafa, lo pulang bareng siapa? " Tanya Dewi yang baru saja datang.


" Dian " Panggil Rafa pada seorang gadis yang berjalan melewati mereka.


" Iya? "


" Lo temennya Ela kan? "


" Iya. Emang ada apa ya? "


" Lo liat Ela? "


" Oh Ela, bukannya dia udah pulang ama pacarnya ya? " Rafa tersenyum getir


" Pacar? "


" Iya, dia kan pacarnya Panji "


" Panji? " Pekik Dewi


" Maksud lo Panji 11 IPS 1 itu? " Sambungnya disambut anggukan dari Dian.


" Lo kenal dia? " Tanya Rafa heran


" Jelas lah, siapa yang nggak kenal sama dia. Secara dia itu suka benget bikin onar "


Tidak berselang lama ada sebuah motor yang melintas didepan mereka, untuk sepersekian detik Rafa saling melempar tatapan dengan gadis yang tengah dibonceng oleh pria itu.


" Lah itu Panji " Ucap Dewi sesaat setelah motor itu meninggalkan area sekolah.


" Berarti yang dibelakang itu... "


" Neyla " Potong Dian cepat


" Kalo gitu gue duluan ya " Pamitnya disambut anggukan dari Defa.


Defa mengusap pelan bahu Rafa, saat ia melihat rasa sakit dikedua bola mata Rafa.


***


Rafa merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tatapannya memandang jauh keluar jendela yang memperlihatkan langit senja berwarna jingga. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan perlahan matanya mulai terasa panas, detik berikutnya sebuah air menetes dari sudut mata cokelatnya.


" Gue kurang apa sih La? " Gumamnya, Rafa menutupi wajahnya dengan salah satu lengannya.


Rentetan kejadian tadi siang kembali terngiang dalam benak Rafa, saat ia melihat seorang wanita dengan wajah tertutup oleh helm menatap kearahanya untuk sepersekian detik.


Ddrrttt


Rafa melirik ponsel yanga ada diatas nakas, benda itu terlihat bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Rafa melewatkan panggilan itu hingga ponselnya kembali bergetar, ia mendengus kesal dan bersiap untuk memaki siapapun yang berani mengganggunya.


Neyla cantik


Mata Rafa membelalak lebar saat melihat nama Neyla terpampang dilayar ponselnya, ia bergegas menerima telepon dari Neyla dengan seulas senyum.


" Fa ini gue "


" Iya gue juga tau ini elo La " Jawab Rafa dengan seulas senyum, mendengar suara Neyla setelah seminggu lamanya rasanya seperti ada sesuatu yang merekah didalam hatinya.


" Lo udah tau kan kalo gue... "


" Pacaran? Gue udah tau " Potong Rafa sambil tersenyum getir.


" Fa, sorry ya "


" Buat apa? "


" Karena gue nggak pernah cerita ke kalian, soal hubungan gue sama Panji "


" Oh, itu hak elo kali La "


" Lo nggak papa kan? " Rafa tersenyum getir


" Lo ngarep gue kenapa? "


" Ih maksud gue... Lo bohong soal perasaan lo, ke gue itu kan? "


" Emang kenapa? "


" *Ya gue nggak suka aja "


Deg*


Senyum diwajah Rafa seketika menghilang bersamaan dengan penolakan yang diberikan oleh Neyla, sebenarnya ia sudah biasa ditolak oleh gadis itu. Tapi entah mengapa sekarang rasa sakitnya berbeda, rasa sakit dihatinya terasa semakin kuat bersamaan dengan ingatan tentang kejadian tadi siang.


" Gue bo'ong kali La " Ucapnya kemudian


" Syukur deh, jadi kan gue nggak usah ngumpet - ngumpet lagi. Kalo gitu udahan ya "


" Hmm "


" Oh iya, mulai sekarang gue bakalan jarang kumpul sama lo berdua. Gue harap lo berdua bisa ngerti "


" Iya. Tapi La... "


" Iya? "


" Selamat ya "


" Haha thanks ya Fa, gue bersyukur punya sahabat kek lo. Udahan ya, dah "


" Iya "


Rafa melempar ponselnya kesisi lain ranjang, ia menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.


" Jadi gini rasanya perjuangan yang sia - sia, gue nggak nyangka ternyata sakit juga *** " Gumam Rafa sambil tersenyum getir.


" Lo jahat bat dah La, abis ini gue harus bersikap kek apa ke elo? Apa gue harus bersikap kek biasa atau... "


Tok  tok  tok


" Bang ayo makan " Ucap Rina diikuti suara ketukan pintu.


Rafa menghela nafas gusar, ia bangkit sambil mengacak - acak rambut cokelatnya.


" Pokoknya lo harus bersikap biasa aja, ok? " Batinnya


" Ada apa bi? " Terlihat Rina tengah berdiri diambang pintu, dengan senyum merekah


" Makan dulu bang " Rafa mengerucutkan bibirnya


" Ah bibi kaya nggak tau aja, kalo... "


" Nggak ada orang dirumah bang " Potong Rina cepat membuat mata Rafa membelalak lebar.


" Emang pada kemana? "


" Bibi juga kurang paham, ayo bang turun. Bibi udah masak, makanan kesukaan abang loh "


" Asik, banyak nggak tuh? "


" Banyak, makanya ayo turun "


" Siap bos "


" Si abang ini. Ayo "


Rafa mengangguk, ia berjalan mengekor dibelakang Rina hingga dimeja makan.