
Aldo menatap langit - langit kamarnya, ia tidak bisa tidur sejak bertemu dengan Panji kemarin. Ia merasa sakit hati sekaligus kecewa karena Panji menyembunyikan semuanya, tapi disisi lain ia merasa iba karena kehidupan Panji hancur setelah kejadian itu.
" Sejak kejadian itu nyokap gue minta cerai, sejak itu pula nyokap gue lebih mentingin pekerjaan, pacar ama party. Dia bahkan nggak tau apa gue udah makan apa belom, gue dimana atau gue masih idup apa nggak " Jelas Panji sambil tersenyum miris
" Terus kenapa lo nggak terus terang sejak awal? " Tanya Aldo dengan tangan mengepal kuat, membuat Panji menelan salivanya sendiri
" Gue nggak berani... Jujur awalnya gue mau bales dendam ke Fita, karena buat bokap gue masuk penjara. Tapi sejak gue kenal Fita semakin dalam, gue ngrasa nyaman ama dia. Gue nggak mau nyakitin si Fita, karena itu gue nggak mau bales dendam lagi "
" Apa lo bales dendam, karena disuruh ama bokap lo? " Panji menggeleng mantap
" Nggak. Justru sebaliknya, bokap gue minta supaya gue jagain Fita. Dia nggak mau Fita terluka, karena dia udah cukup terluka ama kejadian 10 tahun lalu " Panji menatap Aldo dengan wajah memelas, setetes air mengalir dari sudut matanya
" Maafin gue ama bokap gue bang, tolong jangan bawa bokap gue ke penjara lagi. Cuma dia yang gue punya, cuma dia yang peduli ama gue... Tolong bang " Aldo berdecih
" Lo masih punya nyokap, jadi lo nggak bener - bener sendiri " Panji menggeleng
" Nyokap gue nggak pernah ada buat gue. Dia nggak tau apapun tentang gue, dia lebih mentingin pekerjaan ketimbang gue. Gue mohon bang, jangan bawa bokap gue ke penjara. Gue bakal ngelakuin apa aja, supaya kalian mau maafin kita " Ucap Panji memelas sambil terus terisak
" Kita liat nanti "
" Panji "
Aldo bangkit lalu melangkahkan kakinya kedapur.
" Lagi ngapain lo? " Fita tergeragap kemudian mendaratkan sebuah pukulan pada lengan Aldo
" Sakit bambang! " Gerutu Aldo seraya mengusap lengannya yang terasa berdenyut
" Lagian... Kenapa juga lo ngagetin gue, jadi kena kan? " Fita terkekeh kecil lalu melenggang pergi dengan nampan berisi air dan camilan
Aldo berjalan mengekeor dibelakang Fita dan mendapati Rafa bersama teman - temannya sudah ada diruang tamu.
" Eh ada tamu "
" Bang " Aldo mengangguk, lalu menerima uluran tangan dari Rafa dan teman - temannya
" Cie adik ipar gue udah dateng... Udah lama nggak ketemu, si Fita kangen sama elo tuh " Kontan si empunya nama menoleh dengan pipi bersemu merah
" Beneran bang? " Semua orang tertawa melihat wajah Fita yang memerah dan Rafa yang terlihat antusias
" Bener, tante liat sendiri Fita selalu ngliatin poto kamu dari ponselnya " Hani memimpali membuat pipi Fita semakin memerah
" Ih mamah... Apaan sih, Fita nggak kek gitu "
" Ya Allah berarti kita samaan dong, gue juga kek gitu. Sebelum tidur selalu liat poto lo dulu, emang ya kalo jodoh nggak kemana "
" Jodoh? Enak aja! " Sarkas Fita
" Kalo gue sebelum tidur liatin poto si Rafa dulu, biar setan nggak berani dateng " Defa menimpali disambut gelak tawa
" Lo pikir gue apaan? "
" Setan ama jin kan peliaraan elo, masa lo lupa ama kata - kata sendiri " Fita menimpali
" Kapan gue ngomong kek gitu " Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Amnesia udah... Kalo si Rafa udah kek gini, dijamin ampe upin ipin tumbuh rambut juga nggak bakalan inget "
" Ish... Gue udah inget bambang! "
***
Aldo berdiri tidak jauh dari rumah Panji dengan jaket, topi dan masker yang digunakan sebagai alat penyamaran.
" Pokoknya gue harus tau, semua yang diomongin Panji itu bener apa nggak "
30 menit berlalu, mulai terdengar kegaduhan dari dalam rumah Panji. Aldo bangkit kemudian bersembunyi dibalik pohon besar yang ada dibelakangnya.
" Panji! " Pekik Farah
" Panji nggak mau tinggal ama ibu! "
Langkah Panji seketika terhenti, saat Farah berhasil mencegat tangannya.
" Lepas! "
" Nggak. Kamu mau kemana? Apa kamu mau pergi ke pria sialan itu, iya? " Sarkas Farah dengan disaksikan beberapa orang tetangga
" Pria sialan itu ayah Panji, setidaknya pria sialan itu tau kalo Panji masih idup! Nggak kek ibu yang sibuk ama cowok nggak jelas! "
Plakk
" Astaga " Pekik beberapa orang saat melihat Farah menampar pipi Panji, hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya
" Jaga omongan kamu ya! Ibu menyekolahkan kamu supaya tau cara hormati orang tua! " Panji berdecih sambil mengusap darahnya yang terus mengalir
" Panji nggak bakal kek gini, kalo ibu selalu ada buat Panji. Tapi kenyataannya apa? Ibu nggak pernah ada buat Panji, sekarang Panji bersikap kek gini karena siapa? Itu karena ibu nggak pernah ada buat Panji, ibu selalu punya 1001 alesan buat ngehindar dari tanggung jawab ibu! "
" Jaga omongan kamu ya! "
" Apa? Ibu mau nampar Panji lagi, iya? Silahkan karena pada kenyataannya, ibu lebih peduli ama pacar - pacar ibu ketimbang Panji kan? "
" Panji! "
Panji menatap lamat - lamat wajah Farah, tidak terlihat rasa takut sedikitpun dari wajah Panji yang ada hanya amarah dan rasa sakit hati.
" Kenapa orang - orang disini cuma diem coba? Mereka nggak berniat melerai atau gimana gitu? "
Panji mengambil ransel miliknya yang jatuh, kemudian bergegas pergi dengan berjalan kaki.
" Panji! " Teriak Farah tapi tidak digubris oleh Panji
Aldo bergegas menyusul Panji hingga kesebuah warnet.
" Ngapain si Panji kemari? "
Panji berdiri didepan warnet seperti tengah menunggu seseorang, dengan tangan mengapit sebuah rokok yang masih mengepul.
" Eh lo udah nyampe aja " Sapa Ibnu dan Arya yang baru saja sampai
" Hmm... Gue nggak punya duit, jadi kali ini lo berdua yang bayar! " Tukas Panji sambil mengisap rokoknya
" Siap, minta rokoknya dong "
" Nih "
" Korek? "
" Modal dikit napa sih? " Sarkas Panji dengan asap yang terus mengepul dari mulutnya
" Ya sekalian napa, masa ngasi rokok nggak ada koreknya " Gurau Arya disambut anggukan dari Ibnu
" Ayo masuk sekarang! "
" Hmm... "
Panji membuang rokok ditangannya, kemudian menginjak benda tersebut sesaat sebelum masuk kedalam warnet.
Aldo mengikuti seorang penjaga warnet, yang baru saja keluar dan hendak pergi kesebuah mini market terdekat.
" Eh siapa lo? " Pekik si penjaga warnet yang terkejut karena Aldo tiba - tiba menarik tangannya
" Hust... Gue temennya Panji, lo kenal Panji kan? "
" Oh... Ngomong kek dari awal, nggak usah kek gini! "
" Sorry, gue cuma mau nanya. Si Panji ama temen - temennya sering ya dateng ke warnet elo? "
" Ho'oh. Waktu sekolah aja dia bisa maen ampe 5 jam, apa lagi pas liburan kek gini "
" 5 jam? Gimana ama sekolahnya? " Penjaga warnet itu mengedikkan bahunya acuh
" Lah mana gue tau, paling juga bolos "
" Oh iya satu pertanyaan lagi, mereka ngapain di warnet elo? "
" Paling juga mabar " Aldo mengangguk paham, lalu menyodorkan beberapa uang tutup mulut pada penjaga warnet
***
" Ayah nggak berniat gitu, ambil semua aset milik ayah " Diko terkekeh kecil lalu menggeleng mentap
" Buat apa? Toh selama ini yang ngurus itu semua ibumu, jadi ayah udah nggak punya hak lagi "
" Ya tetep aja, itu punya ayah. Ayah masih punya hak, meskipun nggak seberapa sih "
" Nggak... Ayah udah nggak peduli sama itu semua, yang penting ayah bisa hidup tenang " Panji terdiam, kata - kata yang diucapkan Diko sama seperti perkataan Fita sesaat sebelum ia menghilang dulu
" Gue cuma pengin idup tenang "
" Nji! " Panji tergeragap tapi berusaha untuk tetap bersikap tenang
" Apaan yah? "
" Soal kamu nyanyi di cafe itu... Kamu beneran mau kerja bantuin ayah? "
" Ho'oh, lagian bosen juga cuma diem dikontrakan. Udah gitu nggak punya temen lagi "
" Lah dua temenmu itu dimana? "
" Maksud ayah si Ibnu ama Arya? "
" Iya, mereka pada kemana? "
" Ada. Kalo gitu Panji berangkat sekarang yah "
" Jangan pulang malem - malem! "
" Nggak " Panji mencium punggung tangan Diko dengan seulas senyum
" Ati - ati dijalan "
" Iya, ayah tidur aja nggak usah nunggu Panji. Panji bakalan pulang malem "
" Iya. Titip salam buat om Reza ya " Panji mengangguk
" Kalo gitu Panji berangkat sekatang ya. Assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam "
Panji memacu motornya kesebuah cafe milik Reza, disana sudah terlihat Rafa yang tengah menunggunya.
" Sorry, tadi macet " Kilah Panji asal
" Oh, kalo gitu kita masuk sekarang! "
" Eh kalian udah dateng? " Sapa Reza yang langsung disambut anggukan dari keduanya
" Om dapet salam dari ayah "
" Seriusan? Kalo gitu salam balik ya, kapan - kapan om bakal maen ke kontrakan kalian " Panji mengangguk
" Kalo gitu om permisi dulu ya "
" Iya om " Jawab Panji dan Rafa serentak
" Lo tinggal dikontrakan? "
" Ho'oh " Jawab Panji seadanya
" Ko gue baru tau sih? " Panji berdecih sambil menarik salah satu sudut bibirnya
" Semua hal juga lo baru tau. Buru naik ke panggung sekarang " Rafa mengerucutkan bibirnya kesal
" Iya... Iya "
" Biasanya lo bawain lagu apa? " Rafa mengusap dagunya dengan mata disipitkan
" Ya apa aja... Kalo ada yang minta dinyanyiin lagu tertentu, kita harus mau asal kita tau lagunya aja awokawok "
" Stress akut lo... Udah mulai kambuh lagi kah? "
" Enak aja, biarpun gue stress setidaknya gue jadi bahan rebutan syewek - syewek " Jelas Rafa mendramatisir
" Kalian segera naik ke panggung ya " Keduanya mengangguk pada seorang pelayan
Panji dan Rafa duduk disebuah kursi, yang telah dipersiapkan sebelumnya.
" Selamat malam semua, hari ini gue bawa temen nih... Kenalin namanya Panji, buat kalian cewek - cewek yang minat bisa ko hubungin gue " Celetuk Rafa sebelum mulai bernyanyi
" Ganteng juga "
" Iya, nggak kalah ama si Rafa " Bisik beberapa orang gadis
" Perkenalin nama gue Panji, untuk sementara kek gitu dulu. Ok? "
" Cool bat dah "
" Gue setuju banget " Gumam beberapa gadis
" Kalo ada yang mau tanya - tanya soal Panji, bisa sambung nanti. Ok? Sekarang kita mau bawain lagu yang spesial, untuk kalian semua yang spesial "
Waktu pertama kali, kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini, inginkan dirimu
Hati tenang mendengar, suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu...
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
***
" Kita duduk disana ya mah " Hani mengangguk
Aldo membawa kursi roda Hani kesebuah meja, yang terletak tidak jauh dari panggung.
Terimalah lagu ini, dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang ku punya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Owoo...
" Bukannya itu temenmu Fit? " Fita mengalihkan pandangannya pada dua orang yang tengah bernyanyi diatas panggung
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang ku punya hanyalah hati yang setia
Yang ku punya hanyalah hati yang se... tia...
Terimalah cintaku yang luar biasa
Hmmm...
Tulus padamu
" Panji? " Gumam Fita dengan tangan mengepal kuat
" Sekian... Lagu berikutnya bakalan kita bawain 10 menit lagi, jadi tetep stay disini ya "
Panji bergegas bangkit, lalu keluar dari dalam cafe disusul Rafa.
" Loh mereka mau kemana? " Tanya Aldo heran lalu menyusul keduanya keluar
" Mah? "
" Kita ikuti mereka! " Fita mengangguk lalu mendorong kursi roda Hani keluar dari cafe
" Panji! " Kontan si empunya nama menoleh
Panji mendengus kesal, lalu melipat kedua tangannya dibawah dada.
" Sejak kapan kamu kerja disini? "
" Farah " Panggil Reza
" Ada apa ini? " Sambungnya
" Kenapa kamu membiarkan Panji kerja disini? "
" Maaf Far, tapi Panji sendiri yang minta "
" Sejak kapan dia kerja disini? "
" Ini baru hari pertama "
" Apa Diko yang meminta kamu kerja disini, iya? " Panji berdecih
" Emang apa urusannya sih ama ibu, toh Panji kerja disini juga karena ibu kan? "
" Ibu? " Gumam Rafa yang berdiri tidak jauh dari Panji dan Farah
" Dia itu nyokapnya si Panji " Aldo menimpali membuat Rafa tergeragap
" Sejak kapan abang disini? "
" Barusan "
" Ada apaan sih bang? " Senyum diwajah Rafa seketika mengembang melihat kehadiran Fita
" Eh ada neng Fita, ama tante juga "
" Rafa " Sapa Hani ramah
" Udahlah... Ibu nggak usah ikut campur ama kehidupan aku! "
" Jaga omongan kamu ya, gimanapun juga ibu ini ibunya kamu! " Panji berdecih
" Farah " Panggil seorang pria, yang sedari tadi berdiri dibelakang Farah
" Kau Panji kan? Perkenalkan aku Andre, sebentar lagi aku dan ibumu akan... "
" Melangsungkan pernikahan? " Potong Panji disambut gelak tawa Andre
" Kau sudah mengetahuinya? "
" Aku hanya menebak, karena itu yang selalu dilakukan oleh ibuku. Lagian kau adalah pria kesekian kali yang dikenalkan padaku " Wajah Farah berubah merah padam
" Panji! " Panji memutar bola matanya malas
" Hust... Biar aku yang urus, ok? " Bisik Andre membuat Farah hanya bisa mengangguk pasrah
" Jadi begini, aku dan ibumu akan segera melangsungkan pernikahan. Jika tidak keberatan kami ingin kau hadir, bagaimana? " Panji mengedikkan bahunya acuh
" Lagi? Kalau begitu kau akan menjadi ayah ke 6 ku, hebat sekali "
" Panji! " Pekik Farah diiringi sebuah tamparan dipipi Panji
Panji berdecih, tapi berusaha untuk tetap terlihat tenang dihadapan Farah dan Andre.
" Astagfirullah " Pekik Hani, Fita dan Rafa secara bersamaan
" Ibu mau tau alasan kenapa Panji lebih milih hidup miskin ama ayah, dibanding hidup bergelimang harta ama ibu? "
" Itu karena ayah lebih ngerti tentang Panji, ayah selalu ada buat Panji. Nggak kek ibu yang selalu sibuk ama hal - hal... Panji nggak tau harus bilang apa lagi, tapi tolong nggak usah ganggu hidup Panji lagi " Sambung Panji lalu melenggang pergi dengan motornya
" Jadi semua yang dibilang sama Panji itu bener? " Batin Hani, seketika rasa kasihan dan penyesalan menyeruak dari dalam hatinya
" Kita masuk " Ucap Aldo memecah keheningan
" Ternyata idup gue ama si Panji nggak beda jauh ya, pantesan aja dia mau kerja disini "