
" Ok. Nanti pas acara lomba kalian akan diminta untuk mengambil kertas tantangan, isinya adalah jenis lagu yang harus kalian nyanyikan " Jelas Fahmi
" Jenis lagu? Nggak main sesuai keinginan kita pak? " Tanya Defa
" Sayangnya nggak, jadi kalian harus bersiap karena lomba diadakan 2 bulan lagi. Bagaimana Rafa apa kamu sudah siap? "
" Selalu pak "
" Whoa... Rafa emang terdebest " Teriak Riska salah satu penggemar Rafa dikelas IPA 2.
" Bagaimana dengan Defa, Aziz, Salman dan Dodit? "
" Siap pak " Jawab mereka serentak
" Ok kita mulai sekarang, kita awali dengan lagu berbahasa jawa "
" Tunggu pak "
Kontan semua orang menoleh pada Rafa yang tengah berdiri didepan mic, dengan gitar ditangannya.
" Maksudnya semua jenis lagu, termasuk lagu bahasa Jawa? "
" Iya, emang kenapa? "
" Saya nggak bisa pak " Rafa menggaruk tengguknya yang tidak gatal
" Eh bukannya nyokap lo orang Jawa? " Tanya Defa
" Tapi gue nggak pernah diajarin bahasa Jawa "
" Ok gini aja, bapak punya satu lagu. Kamu hafalkan terus tunjukan hasilnya besok, begitupun dengan yang lain. Untuk sekarang kita nyanyi lagu pop "
" Siap pak "
Rafa bersiap dengan gitarnya, Defa dengan drumnya, Aziz dengan keyboardnya, Salman dengan gitar dan Dodit dengan biola miliknya.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkan diriku hingga saat ini
Ku masih mengharap, kau tuk kembali
" Hua... Keren banget " Puji Riska dan beberapa siswa lainnya.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu...
Semua mata tertuju pada Rafa, yang tengah menyanyi diiringi suara petikan gitar yang lembut. Pria itu memejamkan matanya diikuti ekspresi sesuai iringan musik, penampilan yang ditunjukan Rafa layaknya seorang penyanyi profesional.
Oh... Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali...
Kenanglah aku sepanjang hidupmu...
" Hua... Hebat banget " Teriak Riska dan siswa lainnya diiringi riuh tepuk tangan.
" Bagus... Bagus, tolong pertahankan terus. Apa kalian ingin bapak daftarkan les vokal? " Tawar Fahmi
" Nggak usah lah pak "
" Nggak papa, bapak yang tanggung jawab soal biaya lesnya "
" Terima aja Fa " Bujuk Defa
" Hmm... Gimana ya, terserah bapak aja deh. Saya ngikut "
" Ok, nanti pulang sekolah kau akan bapak antar ke guru les itu. Kalau begitu kalian bisa bersiap untuk menyambung pelajaran "
" Iya, terima kasih pak "
Semua siswa kembali ketempat duduk mereka karena jam istirahat sudah berakhir, Rafa duduk dan meletakkan gitarnya disamping kursi. Sedangkan Defa dan lainnya memindahkan drum serta keyboard kebelakang kelas.
" Rafa " Panggil Riska manja, pria itu memutar bola matanya jengah.
" Apa? "
" Ntar malem lo punya acara nggak? "
" Emang kenapa? "
" Gue mau ajak lo keluar, mau ya? "
" Sorry tapi gue harus latihan vokal, lagian gue juga harus njaga suara supaya nggak... Ya lo tau kan " Ucap Rafa jengah
" Yah... Terus gimana dong "
" Kapan - kapan aja, kalo gue sempet "
" Beneran ya? " Tanya Riska dengan mata berbinar.
" Hmm "
" Yeah... Kalo gitu gue kesana dulu ya "
" Bodo amat " Gumam Rafa, tidak berselang lama Defa datang dan mengambil posisi tepat disamping Rafa.
" Ngomong apa tuh si Riska "
" Biasa, ngajak gue keluar "
" Terus lo mau? "
" Najis "
" Haha... Salut gue, ternyata banyak juga cewek yang naksir sama lo " Rafa berdecih
" Kemana aja lo? "
" Sombong amat lo tong "
" Hah lontong "
" Bodo amat "
***
Fahmi membawa Rafa dan anggota band lainnya untuk pergi kesebuah tempat olah vokal. Setelah mengantarkan anak didiknya, Fahmi berpamitan kembali kesekolah untuk mengurus beberapa persiapan lomba nanti.
" Oh jadi ini tempatnya, keren juga " Ucap Dodit yang tengah mengamati setiap jengkal rumah mewah berlantai dua, yang juga digunakan sebagai tempat olah suara.
" Kalian sudah datang? Kalau begitu ayo kita masuk " Tanya seorang pria berusia sekitar 30 tahun.
" Iya " Jawab mereka serentak
" Silahkan duduk, tunggu sebentar ya karena saya masih punya murid didalam "
" Makasih pak "
" Jangan panggil pak, panggil saja coach seperti yang lain. Mengerti? "
" Ya coach "
" Saya kedalam dulu ya "
" Iya "
" Keren juga nih rumah " Ucap Salman seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah.
" Tapi sayang sepi " Aziz menimpali
" Selamat siang "
Kontan semua orang menoleh pada gadis yang tengah berdiri diambang pintu, gadis itu terlihat cantik dengan balutan T-shirt dan Ripped jeans navy.
" Neyla? " Gumam Rafa
" Rafa? Defa? Ngapain lo berdua disini? "
" Gue... "
" Lo udah dateng? "
Kontan semua orang menoleh pria yang baru saja keluar dari dalam ruang latihan.
" Panji, lo udah selesai? " Tanya Neyla dengan senyum merekah
" Yap. Pulang sekarang? " Tanya Panji sambil mengusap kepala Neyla.
" Ok, kalo gitu kita pulang duluan ya "
" Iya " Jawab Rafa singkat dengan seulas senyum getir.
" Lo kenal mereka? " Tanya Panji saat keduanya melangkah keluar bersama.
" Cuma temen "
" Oh "
" Kalian berdua kenal tuh cewek? " Tanya Aziz heran
" Dia itu... "
" Temen " Potong Rafa cepat
" Oh, cakep juga tuh. Lo berdua nggak pernah punya rasa gitu, sama tuh cewek? "
Keduanya hanya diam, Defa memperhatikan bagaimana Rafa tersenyum getir ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Salman pada mereka.
" Lo ngomong apaan sih " Sergah Defa
" Ya kali aja "
" Mau kali, mau danau. Intinya kita nggak punya rasa ama tuh cewek, ya kan Fa? " Defa menyikut lengan Rafa, pria itu tergeragap mendengar pengakuan dari Defa namun detik berikutnya ia tersenyum sambil menggeleng pelan.
" Ok, kalian bisa masuk sekarang "
" Siap "
Mereka semua bangkit dan berjalan mengekor dibelakang Aldo.
" Udahlah Fa " Ucap Defa sambil menggenggam bahu Rafa, pria yang tengah melihat keluar pintu itu hanya tersenyum getir.
Tepat didepan mereka Neyla dan Panji tengah berpelukan dengan bahagia, sesekali Panji mengusap kepala Neyla sebelum akhirnya mereka bersiap untuk pergi dengan sebuah motor. Rafa menghela nafas berat, ia mengalihkan pandangannya pada Defa dengan seulas senyum.
" I'm ok "
" Hai ayo, kalian udah ditunggu " Ucap Dodit
Rafa mengangguk, ia berjalan mengekor dibelakang Rafa.
" Tega lo Ela " Gumam Defa sesaat sebelum pergi menuju ruang latihan.
" Siapa vokalisnya? " Rafa memgangkat tangannya
" Saya coach "
" Ok, kita lihat suara kamu dulu ya. Coba kamu nyanyikan sebuah lagu " Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Enaknya lagu apa ya coach? "
" Terserah kamu "
" Ok. Hmm... Hmm... "
Telah lama
Kau tinggalkanku
Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Tak kan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah
Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Tak kan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah.... Hoa....
" Stop... Stop " Rafa menatap Aldo heran
" Hmm... Ada apa ya coach? "
" Coba ulangi kalimat ini. Tak sedikitpun peduli... "
" Tak sedikitpun peduli... "
" Itu dia, sudah lebih baik. Kita lanjutkan? "
" Iya "
***
" Woy lo mau kemana? " Tanya Dodit
" Supermarket bentar " Jawab Rafa seraya melenggang pergi.
" Terus latihannya gimana nih? "
" Dulu aja, gue nyusul " Teriak Rafa tanpa menoleh.
" Kita duluan aja, lagian dia juga nggak pernah ingkar janji " Defa menimpali
" Ya udah deh "
Rafa pergi setelah memesan sebuah ojek online, yang akan mengantarnya ke supermarket terdekat. Ia mengambil sebuah keranjang berwarna merah, kemudian mulai mengelilingi area makanan ringan.
" Eh... " Pekik Rafa, saat tanpa sengaja ia menabrak tubuh seorang gadis hingga terjatuh dan barang belanjaannya berserakan.
" Aduh sorry... Sorry " Ucap Rafa kemudian seraya membantu membereskan barang belanjaan gadis itu.
" Lo nggak papa kan? " Tanya Rafa sambil membantu gadis dengan rambut cokelat panjang itu berdiri.
" Lain kali kalo jalan liat - liat napa sih? " Gerutu gadis itu
" Lah gue kan udah minta maap, lagian mata gue kan didepan. Mana bisa liat kebelakang " Jawab Rafa dengan tanpang tanpa dosa.
" Ya makannya, lain kali nggak usah mundur - mundur gitu! Udah salah nggak mau ngaku lagi! "
" Ya udah, maapin gue ya. Gue emang salah "
" Nah gitu dong! Apa susahnya minta maaf sih "
Gadis itu berlalu meninggalkan Rafa, yang tengah berdiri mematung didepan rak makanan ringan.
" Tumben ada cewek yang nggak terpesona ama ketamfanan gue? Apa mungkin ketamfanan gue udah luntur, gegara temenan ama tuh curut ya? " Gumam Rafa sambil menyipitkan matanya.
" Alah bodo amat, mata tuh cewek yang rabun kali " Gumam Rafa kemudian, ia mengambil beberapa snack lalu pergi kekasir.
Rafa meletakkan semua belanjaannya diatas meja kasir, ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru supermarket selagi jumlah barang belajaannya dihitung.
" Hai " Sapa Rafa dengan senyum merekah, pada seorang gadis yang berdiri tepat dibelakangnya.
" Apaan sih lo! " Gadis itu memutar bola matanya jengah.
" Cuek amat " Gumam Rafa sambil memajukan bibirnya.
" Semuanya jadi 280 ribu " Ucap wanita yang berdiri dibelakang meja kasih, yang kontan membuat Rafa menoleh dengan senyum lebar.
" 280? Bentar "
Rafa memasukkan tangannya kedalam saku jeans, kemudian menaikkannya kesaku hoodie yang tengah dikenakannya.
" Lah duit gue kemana? " Gumam Rafa tergeragap
" Gimana? "
" Bentar mba " Ucap Rafa sambil melepas hoodienya.
" Aku dulu mba " Ucap gadis itu seraya meletakkan belanjaannya diatas meja kasih.
" *****... Duit gue ilang lagi " Gumam Rafa dengan mata membelalak lebar.
" Berapa? "
" 165 ribu "
" Oh " Ucap gadis itu seraya memberikan beberapa lembar uang dari dalam dompet mungilnya.
" Sekalian ama tuh cowok "
" Serius? " Tanya Rafa dengan mata berbinar.
" Nggak mau ya... "
" Mau... Mau " Potong Rafa antusias
Gadis itu mengambil barang belanjaannya kemudian melenggang pergi, tanpa memperdulikan panggilan Rafa.
" Hai! Tunggu "
" Kenapa lagi sih tuh cowok gila! "
" Hai! " Ucap Rafa sambil meraih tangan gadis itu.
" Apaan sih "
" Ih selow... Selow, gue cuma mau bilang thanks ya. Ntar gue balikin deh duit lo "
" Hmm... Udah? Lo cuma mau ngomong kek gitu doang? "
" Nggak juga sih. Oh iya, boleh minjem duit lagi nggak? Gue nggak punya ongkos balik nih " Ucap Rafa sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
" Nih cowok, kek nggak punya harga diri banget dah " Batinnya
Gadis itu meraih uang dari dalam dompet kemudian menyerahkannya pada Rafa.
" Nih "
" Thanks ya " Ucap Rafa saat gadis itu melenggang pergi.
" Btw nama gue Rafa " Teriak Rafa sesaat sebelum gadis itu pergi dengan ojek online.
***
" Lama banget sih lo " Gerutu Defa
" Sorry... Tadi gue ke supermarket, tapi lupa bawa duit "
" Lah terus gimana tuh? " Tanya Dodit
" Untung tadi ada cewek. Ya udah, dari pada malu mending gue pinjem duit aja ama tuh cewek "
" Sama aja bambang " Aziz menimpali didambut gelak tawa temannya.
" Ya nggak lah, lagian gue juga udah janji bakal balikin tuh duit. Eh... Btw nama tuh cewek sapa ya? " Gumam Rafa sambil menyipitkan matanya.
" Halah kebiasaan bat dah, inget utang itu harus dibayar "
" Iya gue juga paham, tapi lo tenang aja. Tuh cewek udah kenal gue ko " Ucap Rafa bangga
" Halah kepedean bat dah sumpah " Gerutu Salman
" Bacot lo Fa " Aziz menimpali seraya terkekeh geli.
" Sirik aja lo Tanos, tas gue mana? "
" Lah tuh... Dibawah " Mata Rafa membelalak lebar
" Bangke lo semua, tas gue dijadiin keset " Rafa berdecak kesal, ia mengambil tas miliknya yang tergeletak dibawah meja.
" Salah lo lah "
" Gue kan cuma nitip bentar doang, *** "
Rafa membuka tas yang kini sudah berada dipangkuannya, kontan matanya membelalak lebar saat melihat dompet miliknya berada diantara baju seragam.
" ***** gue cariin lo kemana - mana, taunya ngumpet disini " Defa berdecih saat Rafa mengangkat dompetnya keudara.
" Makanya, jadi orang jangan ceroboh - ceroboh amat sih "
" Enak aja lo... Gara - gara nih dompet, ancur udah harga diri gue "
" Assalamuallaikum "
Kontan semua orang menoleh pada gadis yang tengah berdiri diambang pintu, gadis dengan balutan jeans dan T-shirt itu juga menatap kearah mereka.
" Elo? Ngapain lo disini? " Semua orang menoleh pada Rafa, yang sudah bangkit menghampiri gadis itu.
" Ada juga gue yang nanya, ngapain lo disini? "
" Dih, gak jelas bat dah lo " Gadis itu memutar bola matanya malas
" Idih... Ada juga lo tuh yang gak jelas, udah gitu kepedean banget lagi " Semua orang tertawa mendengar perkataan gadis itu.
" Tuh kan Fa, apa gue bilang... Lo itu emang kepedean ***** "
" Bacot lo " Sarkas Rafa, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
" Nih gue balikin " Gadis itu mengerutkan keningnya.
" Lo tuh ya, jadi cowok nggak ada rasa terima kasih gitu... Untung udah gue tolong " Semua orang kembali tertawa melihat pertengkaran diantara Rafa dan gadis itu, baru kali ini ada gadis yang enggan tunduk pada ketampanan seorang Rafa.
" Makasih, udah kan? " gadis itu berdecih, ia mengambil uang dari tangan Rafa lalu melenggang pergi masuk kedalam rumah.
" Lah... Tuh cewek napa masuk kedalem ya? " Tanya Dodit heran disambut gelengan dari temannya.
" Bang... " Semua orang menoleh pada gadis yang tengah lewat begitu saja didepan mereka.
" ***** cakep juga tuh cewek "
" Ho'oh mulus lagi "
" Putih, udah kek salju "
" Tapi sayang tuh cewek nggak tuduk sama ketamfanan Rafa " Rafa berdecak sebal saat semua orang mentertawakannya.
" Kenapa de? " Tanya Aldo
" Tuh didepan siapa sih? Brisik bat dah "
" Oh... Itu anak - anak yang mau latihan vokal disini, kenapa... Ganteng ya? Apa lagi yang namanya Rafa "
" Idih... Diliat dari ujung monas pake sedotan juga, masih keliatan jelek tuh cowok " Aldo terkekeh kecil kemudian mengusap kepala adiknya.
" Abang udah makan belom? " Aldo tersenyum
" Belom, tapi nanti aja deh. Nyatu ama makan malem aja "
" Oh. Kalo gitu Fita ketas dulu ya "
" Iya, awas jangan nglirik anak didik abang ya. Apalagi si Rafa " Fita berdecih
" Najis! "