
" Lo udah mau tampil? " Panji tersenyum
" Kalo gitu semangat ya " Panji mengangguk sambil mengusap lembut kepala Arsya
" Lo juga balik gih, masa dewan juri maen pergi... Pergi aja " Arsya terkekh kecil
" Iya... Iya, kalo gitu gue pergi sekarang. Good luck guys " Panji dan yang lainnya mengangguk
Ibnu dan Arya pergi menghampiri Panji, sesaat setelah Arsya pergi.
" Ish... Matep lo Nji " Panji menyeringai tajam
" Jelas dong "
" Panji " Kontan si empunya nama menutar bola matanya malas
" Cewek lo Nji "
" Brisik lo! " Panji berusaha untuk tersenyum manis
" Ada apa? "
" Lo mau tampil? " Panji mengangguk dengan seulas senyum
" Kalo gitu semangat ya! "
" Iya sayang! " Panji mengusap kepala Neyla lembut, membuat rona merah diwajah gadis itu
" Kita sambut penampilan dari kelas 11 IPS 1! "
" Gue naik dulu ya "
" Iya "
Panji dan yang lainnya naik keatas panggung, disambut tepuk tangan dari Neyla dan siswa lainnya. Neyla segera berlari kedepan panggung dengan antusias.
" Silahkan kalian ambil kertas gulungan, setelah itu tunjukkan kertasnya ke semua penonton " Panji mengangguk, ia mengambil sebuah kertas dari dalam kotak kaca
Panji membuka gulungan itu secara perlahan, lalu memperlihatkan isinya pada penonton. Setelah itu ia menyerahkannya pada pembawa acara.
" Bahasa Inggris. Mari kita lihat bersama, penampilan dari Panji dan teman - temannya "
" Hua... Panji! "
" Bagaimana apa kalian siap? " Panji mengangguk dengan seulas senyum
" Baiklah, mari kita mulai "
Panji menarik nafas dalam - dalam, lalu mengawali dengan alunan lembut suara gitar.
I wanna follow her where she goes
I think about her and she know it
I wanna let it taje control
Cause everytime that she gets closer
She pulls me in enought to keep me guessing
And maybe i should stop and start confessing
Confessing...
" Whoa... "
Oh, i've been shaking
I love you when you go crazy
You take all my inhibitions
Baby, there's nothing holding me back
You take me places that tear up my reputation
Fita terdiam mengamati Panji dan teman - temannya.
" Tuh cowok kek liatin gue ya? " Batin Fita, ia mengedarkan pandangannya kesekitar lalu kembali mengamati Panji hingga pandangan keduanya saling bertemu
Ternyata dugaannya benar, Panji diam - diam tengah memperhatikannya dari balik mic. Pria itu tersenyum sambil terus bernyanyi, dengan diiringi suara petikan gitar.
" Ternyata bener, apa gegara masalah bolos waktu itu ya? "
Fita tergeragap saat seseorang memegang bahunya.
" Lo ngapain disini sendirian? "
" Eh lo Def, gue cuma mau nonton aja ko " Kilah Fita
" Oh iya, pulang sekolah nanti lo sibuk nggak? "
" Nggak tau, emang ada apaan? "
" Hari ini si Rafa ultah "
" Oh, kita liat nanti aja. Emang dirayain? "
" Nggak sih... Tapi rencananya gue ama yang lain, mau ngadain pesta kecil - kecilan disini "
" Gue nggak bisa jamin bakal dateng "
" Karena Neyla ya? " Fita tergeragap
" A... Apa? Nggak lah, emang apa urusannya gue ama tuh cewek " Defa mengamati perubahan ekspresi diwajah Fita
" Apaan sih lo? Kenapa liatin gue kek gitu " Fita melipat kedua tangannya dibawah dada
" Nggak " Defa tersenyum kuda
" Hmm... Lo masih mau disini? " Fita mengangguk
" Kalo gitu gue kesana dulu ya, gabung aja kalo lo udah selesai. Ok? " Fita mengangguk dengan seulas senyum
" Itulah penampilan dari 11 IPS 1, beri tepuk tangan yang meriah "
" Ish... Ngapain tuh cowok, deket - deket si Fita " Panji menatap tajam kearah Defa dan Fita
***
" Dengan mba Fita? " Fita mengangguk
" Ini kuenya, totalnya 285 ribu " Fita mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet, lalu menukarnya dengan kue yang telah ia pesan
" Makasih ya pak "
" Sama - sama, permisi " Fita mengangguk
Fita melangkahkan kakinya kembali kedalam sekolah.
" Defa bilang acaranya bakal diadain dikelas, tapi ko keknya sepi - sepi aja ya "
" Fit... Ternyata lo disini " Fita tergeragap
" Defa... " Futa mengusap dadanya yang berdegup kencang
" Ngapain lo disini? " Fita memicingkan matanya heran
" Lo bilang acaranya disini " Defa mentipitkan mata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Apa iya gue ngomong kek gitu? " Fita tersenyum jahil
" Ish... Coba gue gampar dulu, siapa tau lo inget " Defa tergeragap
" Eh... Eh... Iya gue inget... Gue inget "
" Katanya nggak inget " Defa tersenyum kuda
" Hehe sekarang udah inget ko "
" Terus dimana acaranya? "
" Taman agro, ayo! " Fita mengangguk, ia berjalan berdampingan dengan Defa
" Btw... Lo bawa apa? " Defa mengalihkan tatapannya pada plastik yang dibawa Fita
" Kue "
" Oh "
Fita menghentikan langakahnya secara tiba - tiba, membuat Defa yang ada disampingnya menatap heran.
" Ada apa Fit? "
" Ng... Nggak. Def gue baru inget, gue ada janji ama bang Aldo. Gue titip kue ini ama lo aja ya, titip salam juga buat Rafa ama yang laennya. Ok? "
" Tapi Fit... "
Fita berlari menjauhi Defa, yang tengah menatapnya heran. Defa mengalihkan pandanganya pada Rafa, pria itu terlihat tengah tertawa bersama Neyla dan beberapa teman mereka.
" Neyla! " Gumam Defa dengan tangan mengepal kuat
" Loh si Fita mana? " Rafa celingukan mencari sosok gadis yang dimaksud
" Ada urusan! " Mata Rafa tertuju pada kantong plastik ditangan Defa
" Terus lo bawa apaan? "
" Kue dari Fita, khusus buat elo " Ucap Defa penuh penekanan, membuat Neyla memutar bola matanya malas
" Dia cuma nitip kek gitu? " Defa terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Neyla
" Dia juga nitip salam, buat lo semua "
" Kalo gitu, kita potong kuenya bareng - bareng "
Fita berdiri ditepi jalan raya, kejadian beberapa menit lalu ternyata cukup membekas diingatannya.
" Udahlah Fit, dia bukan siapa - siapa lo. Terus buat apa lo mikirin dia! " Batinnya sambil berusaha untuk tetap fokus
" Lo ngapain disini? " Fita tergeragap, ia menoleh pada sosok Panji yang sudah berada tepat disampingnya
" Elo? " Panji mengedikkan bahunya acuh
" Gue nanya "
" Lo sendiri, ngapain lo disini? " Panji menoleh pada Fita
" Gue mau pulang, lo sendiri? " Fita mengalihkan pandangannya, pada jalan raya didepan mereka
" Pulang "
Semuanya berubah hening selama beberapa detik.
" Lo nggak bareng mereka? " Fita menoleh
" Maksudnya mereka? "
" Rafa ama temen - temennya "
" Gue ada urusan "
" Oh, lo nggak bolos lagi? "
" Nggak, waktu itu gue bolos karena kelas lagi free " Kilah Fita
" Lo sendiri, lo masih suka bolos? " Panji tersenyum simpul
" Terkadang, gue bolos sesuai jadwal aja " Fita menatap Panji heran
" Jadwal? Lo punya jadwal bolos? " Panji mengangguk tanpa menoleh
" Senin, Rabu, Jumat ditambah kalo kelas lagi free "
" Abis tampil gue pergi "
" Terus pengumumannya? "
" Lo nggak pernah liat? Gue nggak pernah hadir pas pengumuman " Fita mencoba mengingat - ingat kejadian beberapa hari ini
" Eh iya juga, gue nggak pernah liat lo "
" Hmm... Yang naik pas pengumuman itu ketua kelas gue " Fita mengangguk paham
***
" Tumben weekend lo dirumah aja " Gani mengambil posisi disamping Neyla
" Pergi salah, dirumah juga salah. Mau lo apaan sih? "
" Kapan gue ngomong kek gitu? Oh gue inget, waktu itu gue ngelarang lo pergi karena lo sering pulang malem ama tuh cowok. Gue bakal ijinin lo jalan, dengan syarat lo harus inget waktu "
" Papih setuju sama bang Gani " Neyla tersenyum
" Neyla juga mau minta maaf pih, Neyla emang salah "
" Terus hari ini Ela mau pergi? " Neyla mengangguk
" Ama Rafa " Gani menatap Neyla heran
" Lo bilang Rafa udah punya pacar "
" Emang, terus kenapa? " Sergah Neyla
" Lo nggak lagi... Jadi pelakor kan? " Neyla berdecih
" Assalamuallaikum "
" Nah tuh udah dateng " Neyla berlari kearah pintu
" Waalaikumsallam " Neyla membuka pintu rumahnya perlahan, hingga terlihat sosok Rafa yang tengah berdiri didepan pintu
" Lo udah siap? "
" Rafa? "
" Eh bang Gani " Rafa mencium punggung tangan Gani
" Lo mau jalan ama Neyla " Rafa mengangguk dengan seulas senyum
" Terus cewek lo gimana? " Rafa terdiam
" Dia lagi ada urusan " Gani mengangguk
" Oh, kalo gitu kalian boleh pergi deh "
" Makasih bang "
" Eh udah mau berangkat? " Rafa mencium punggung tangan Gusti
" Om, iya "
" Kalo gitu ati - ati ya " Rafa mengangguk
" Assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam "
Rafa dan Neyla pergi, setelah mencium punggung tangan Gusti dan Gani. Rafa membawa Neyla kesebuah mall, yang biasa mereka datangi.
" Gue nggak bohong, lo keliatan cantik pas pake dress itu. Kek itu tuh... Fita yang beda, ama Fita yang sekarang " Fita terkekeh kecil
" Cantikan mana ama Fita yang sekarang? " Defa terlihat tengah menimang
" Dua... Duanya sih, cuma kek beda kepribadian aja "
" Bisa aja lo " Keduanya terkekeh
" Kesana yuk! " Fita mengangguk
" Jadi ultah lo kapan? "
" Kenapa? Lo mau kasih hadiah ke gue? "
" Ok, lo tinggal bilang mau gue kasih apa? "
" Ish... Sombong banget lo "
" Jadi kapan? "
" Kepo " Fita melenggang pergi disusul Defa dibelakangnya
" Ayolah Fit, masa nggak ada yang tau tanggal ultah lo sih " Protes Defa
" Defa " Kontan keduanya menoleh
" Neyla " Defa memicingkan matanya heran melihat Rafa dan Neyla, berada ditempat dan waktu yang sama
" Lo berdua ngapain disini? " Defa terdiam
" Jalan " Rafa menatap Fita tidak percaya
" Lo jalan ama Defa? Lo jalan ama sahabat gue?! " Fita berdecih
" Lo pikir, lo itu siapa? "
" Gue pacar lo " Fita terdiam
" Kalo lo pacar gue. Lo nggak bakalan deket, apa lagi jalan ama cewek lain "
" Neyla cuma sahabat gue " Sarkas Rafa
" Begitupun Defa, udahlah lagian kita nggak punya hubungan apa - apa. Jadi nggak usah so ngelarang - ngelarang gue mau jalan ama siapa "
" Lo cemburu kan? " Fita menyipitkan matanya
" Maksud lo? "
" Lo cemburu liat gue jalan ama Neyla, iya kan? " Fita berdecih
" Cukup Fa, ini tempat umum " Sergah Defa
" Lo juga, kenapa lo jalan ama pacar gue " Defa mendengus kesal
" Kita cuma jalan biasa. Kalo lo nggak percaya, kita bisa jalan berempat "
" Ok! "
" Apaan sih " Sarkas Neyla
" Eh gue kesini cuma buat jalan ama Rafa, bukan ama lo berdua! " Sambung Neyla membuat Defa berdecih
" You can see? Ayo Fit! " Fita membeku saat Defa menggenggam tangannya
" Gue sebagai sahabat Neyla ama Rafa, mau minta maaf buat kejadian tadi ya Fit " Fita mengangguk dengan seulas senyum
" Nggak papa ko "
***
" Thanks ya buat hari ini " Rafa tersenyum miris, ia menerima helm yang diserahkan Neyla
" Lain kali kita bisa jalan kek gini lagi nggak? " Rafa menatap Neyla selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk dengan seulas senyum
" Bisa dong, lagain gue ini sahabat lo. Nggak usah ngerasa nggak enak " Rafa mengusap lembut kepala Neyla
" Thanks ya, kalo gitu gue mau masuk dulu " Rafa mengangguk
" Dah "
Rafa memacu motornya menuju rumah Fita, sesaat setelah Neyla masuk kedalam rumah.
" Assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam, eh Rafa " Rafa mencium punggung tangan Aldo
" Bang "
" Ada apa ya? "
" Hmm... Fita udah pulang? " Aldo menggeleng
" Belom, tadi dia pulang bentar. Terus pergi lagi "
" Ama Defa? " Aldo menggeleng
" Nggak, dia pergi pake taksi "
" Kalo boleh tau, Fita pergi kemana ya bang? "
" Diliat dari pakeannya sih, keknya dia pergi ke makam papah "
" Kalo boleh tau, makamnya dimana bang? "
" TPU dijalan Fatmawati "
" Oh, kalo gitu gue permisi dulu bang " Pamit Rafa sambil mencium punggung tangan Aldo
" Ati - ati ya " Rafa mengangguk
" Thanks bang " Aldo mengangkat salah satu tangannya ke udara sebelum akhirnya masuk kedalam rumah
Rafa memacu mobilnya kearea TPU yang dimaksud Aldo, sesampainya disana ia menyempatkan diri untuk membeli sebuah buket mawar. Rafa mengedarkan pandangannya mencari sosok Fita, tatapannya terpaku pada seorang gadis dengan balutan dress mocca yang tengah duduk disamping sebuah pusara.
Fita mendongakkan kepalanya, saat seseorang meletakan sebuah buket mawar merah diatas pusara sang ayah.
" Rafa " Si empunya nama tidak menjawab, ia mengambil posisi tepat disamping Fita
Rafa mengusap nisan yang ada didepannya.
" Hai om, saya Rafa pacar Fita " Rafa menatap Fita dengan seulas senyum
" Anda punya putri yang cantik dan baik, tapi hari ini aku membuat kesalahan padanya. Karena itu aku ingin memintamu, untuk membujuk Fita agar mau memaafkanku. Katakan padanya aku siap melakukan apapun, agar dia mau memaafkanku " Fita mengalihkan pandangannya, lalu mengusap air mata yang mengalir dikedua pipinya
Fita mengusap pusara ayahnya dengan seulas senyum.
" Papah... Aku harap kau tidak percaya dengannya, kami tidak memiliki hubungan apapun " Rafa tersenyum
" Liahatlah, putrimu masih enggan mengakui hubungan kami. Tolong beritau dia jika aku dan Neyla hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu " Fita berdecih
" Aku rasa cukup untuk hari ini pah " Fita mengusap pusara ayahnya sesaat sebelum pergi
" Om lihat, dia masih malu - malu untuk mengakui hubungan kami. Lebih baik Rafa menyusul Fita sekarang, kita ketemu lagi nanti ya om "
Rafa berlari mengejar Fita, kontan gadis itu menghentikan langkahnya saat Rafa menarik salah satu tangannya.
" Fit gue minta maaf "
" Lo nggak harus minta maaf, karena lo nggak salah apa - apa "
" Jelas gue salah, nggak seharusnya gue pergi ama Neyla. Waktu perayaan ultah gue, lo pergi karena Neyla kan? " Fita terdiam, detik berikutnya air mata mengalir dari salah satu sudut mata cokelatnya
Rafa menarik Fita kedalam pelukannya, lalu mengusap lembut kepala gadis itu.
" Gue minta maaf. Lo bisa ngomong atau lakuin apa aja ke gue, gue bakal terima asal lo mau maafin gue " Bisik Rafa membuat Fita semakin terisak
Fita memeluk tubuh Rafa dan langsung dibalas oleh pria itu dengan erat.
" Maaf karena gue marah ke elo ama Defa, kalian berdua adalah orang yang berharga buat gue. Nggak seharusnya gue ngomong kek gitu "
Setelah lebih tenang, Rafa membawa Fita kembali kerumah dengan motor miliknya.
" Thanks " Ucap Fita lirih, saat Rafa melepas helm dari kepalanya
Rafa tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala Fita.