Rafa

Rafa
Defa



Defa menatap Rafa yang sedari tadi tersenyum kearah Fita, yang terlihat tengah fokus pada ponsel ditangannya.


" Fit lo nggak jiji diliatin kek gitu terus? " Kontan Rafa menatap tajam kearah Defa yang sudah mengusik ketenangannya


" Sirik aja lo! " Sarkas Rafa


" Ih... Gue nanya ama si Fita "


" Jiji sih jiji, tapi mau gimana lagi. Toh si Rafa emang susah bat buat diubah kan? "


" Bener juga lo " Keduanya terkekeh kecil


" Lo semua emang tega ya ama gue... Eh gue punya tebak - tebakan nih "


" Apaan? " Sergah Salman dengan mata berbinar


" Kiss... Kiss apa yang bikin bergetar? Ayo jawab! "


" First kiss? "


" Salah "


" Kiss ama bi Siska pemilik kantin? "


" Itu mah dasar elo aja yang ngarep! " Aziz menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Hehe... Tau aja dah "


" Ayo apa? "


" Bener apa kata Fita. Jawabannya itu first kiss, bambang! " Jawab Defa gemas


" Udah gue bilang salah. Ayo siapa yang tau? "


" Udah kasih tau aja " Rafa berdecih


" Ok deh, karena lo semua maksa. Jawabannya kissetrum menara sutet, ampe bibir lo cetar membahana badai syalalala... Awokawok " Rafa tertawa lepas dengan jawaban miliknya sendiri, tapi tidak dengan yang lainnya


" Lucunya... Berasa pengin gue sentil dah ginjal lo " Ucap Fita geram


" Ish... Kalo mau nyentil jangan di ginjal, tapi dihati abang aja neng. Biar berasa gitu cintanya "


" Ashek, si Rafa masih berjuang aja "


" Iya dong, demi neng Fita apa sih yang nggak "


" Gue lagi yang dibawa " Gumam Fita seraya meminum ice coffe miliknya


" Nih gue ada tebak - tebakan lagi "


" Apaan lagi Fa? " Kini giliran Dodit yang terlihat antusias dengan terbak - tebakan milik Rafa, yang bisa dibilang hanya Rafa saja yang tau alurnya


" Buat kalian para penggemar K-pop. Apa bahasa Koreanya ganteng? "


" Saranghae? " Tebak Salman disambut gelak tawa teman - temannya


" Saranghae itu artinya i love you kampret! " Ucap Fita gemas sambil mendaratkan sebuah pukulan dibahu Salman


" Iya deh? Ko gue baru tau ya, wkwkwk "


" Saranghae too " Ucap Rafa sambil mengedipkan kedua matanya


" Jih najis! " Fita mengusap bulu kuduknya yang berdiri serempak


" Jadi apa nih bahasa Koreanya genteng? "


" Jalsaeng-gida " Tukas Defa singkat


" Makasih... Repot - repot dah lo muji gue, tapi itu emang kenyataan sih " Ucap Rafa bangga, dengan rasa percaya diri diatas rata - rata


" Bisa ae lo kepala ikan kakap "


" Gue lebih ganteng, dari kepala ikan kakap! " Sarkas Rafa tidak terima


" Tebak - tebakannya ada lagi nggak Fa? "


" Hmm... Ngomongin soal ikan, Fit lo tau nggak bedanya ikan ama elo? " Fita mengedikkan bahunya acuh


" Bodo amat! "


" Ish... Yang laen? "


" Ikan itu buat dimakan, kalo Fita itu buat dipeluk? " Jawab Dodit asal disambut gelak tawa


" Enak aja lo, dipikir gue cewek apaan coba "


" Namanya juga tebak - tebakan Fit, iya kan Fa? "


" Ho'oh, jadi jawabanya yaitu... Jeng jengĀ  jeng jeng... Kalo ikan itu bau amis, kalo neng Fita itu amisyu "


" Hahaha gila lo Fa "


" Awas ntar puser lo muter lagi! "


" Eh iya... Coba liatin puser gue dong, siapa tau aja muter. Awokawok " Rafa membuka kaosnya tepat dihadapan Dodit, Salman dan Aziz


" ****... Puser lo dalem juga ya! "


" Bau nggak Fa? " Rafa mengedikkan bahunya


" Mana gue tau, masa mau gue ciumin sih tuh puser "


" Ya siapa tau aja "


" Coba lo ciumin puser gue dong, ntar gue traktir bakso bi Siska deh "


" Beneran nih ya "


" Temen lo udah pada stress ya Def? " Bisik Fita geli


" Udah biasa "


***


" Si Fita beneran udah pacaran ama si Rafa? " Tanya Luki disela - sela kegiatan makan malam dengan keluarganya


" Mana gue tau, tapi yang gue tau si Fita nggak mau ngakuin Rafa sebagai pacarnya " Dion menatap Defa tidak percaya


" Ah masa sih? Yang papah tau, mereka itu udah deket banget. Masa iya sih nggak pacaran? "


" Mamah setuju pah, mereka itu udah cocok banget "


" Iya mungkin... "


" Lo sendiri? Kapan lo punya pacar kek Rafa? " Defa mengedikkan bahunya acuh, ia tidak mau ambil pusing dengan perkataan Luki yang selalu bisa merusak moodnya


" Keknya nggak ada deh cewek yang mau ama elo " Sambung Luki sambil tersenyum jahil saat melihat ekspresi datar milik Defa


" Emang lo udah punya? Pake nanya gue udah punya apa belom? "


" Ish... Jelas gue udah punya lah, mamah ama papah aja udah kenal. Iya kan mah? Pah? " Defa menatap Luki tidak percaya, bagaimana mungkin ada wanita yang mau menjadi kekasih pria sebangsa dengan Rafa


Defa mendengus kesal, mungkin dunia ini hanya adil bagi orang - orang sebangsa Rafa dan Luki. Dunia ini bisa menjadi begitu sangat menjengkelkan, bagi orang - orang seperti dirinya.


" Gue nggak percaya! Paling juga kalian bertiga sekongkol lagi, kek biasanya aja " Gerutu Defa yang masih fokus pada makanan miliknya, ketimbang mendengarkan kata - kata so bijak dari seorang Luki


" Ayolah Def, bentar lagi kamu udah mau 19 tahun tapi masih aja jomblo "


" Emang apa hubungannya umur ama status coba "


" Mamah kan pengin kamu dateng kerumah ama pacar kamu, kenalin pacar kamu ke mamah ama papah "


" Defa bakal bawa pacar Defa kerumah "


" Kapan? " Tanya Ayu memastikan


" Nunggu umur Defa 25 tahun. Ok? "


Defa bangkit dari kursi lalu melenggang pergi menuju kamarnya, ia tidak ingin berlama - lama dengan anggota keluarganya jika menyangkut masalah pacar atau hal - hal sejenis itu.


" Tuh kan bener kata Luki... Si Defa pasti homo! "


" Hust... Amit - amit mamah punya anak homo! " Ucap Ayu jiji sambil mengusap perutnya yang terasa mual, meski hanya mengucapkan kata - kata itu


" Kalo udah waktunya juga bakal ngenalin sendiri, papah masuk dulu "


" Papah ama Defa sama aja ya mah " Ayu mengangguk setuju, Dion dan Defa memang memiliki kesamaan apa lagi dalam hal keseriusan


" Buruan makannya bang "


" Emang kenapa? "


" Udah malem... Mamah mau masuk sekarang "


" Lah terus Luki ditinggal gitu? " Protes Luki sambil mengamati Ayu yang tengah menaiki satu persatu anak tangga


" Lagian suruh siapa lama "


" Yeah mamah, nggak asik ah... Masa Luki ditinggal sendirian sih! "


Luki memakan makananya dengan tidak berselera, ia mendengus kesal lalu pergi kekamar menyusul anggota keluarganya yang lain.


" Lagi enak - enak makan malah ditinggalin, pada nggak asik dah " Gerutu Luki sepanjang perjalanan menuju kamarnya


" Punya abang kerjaannya nggrutu terus... Emang udah paling cocok dah ama si Rafa " Batin Defa yang sedari tadi menguping perkataan Luki, dari balik pintu kamarnya


Defa berjalan ke arah ranjang kemudian menjatuhkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur. Dia harus cepat tidur, karena besok ada janji untuk bertemu Fita dan yang lainnya. Bagaimanapun juga ia tidak boleh terlambat, apa lagi mereka memiliki kejutan khusus untuk Fita.


***


Happy birthday... Happy birthday


" Selamat ulang tahun istriku tersayang, tercinta, termanis, terter tersegalanya dah pokoknya "


" Masih aja usaha " Gerutu Panji saat melihat tingkah Rafa yang mirip seperti anak yang baru mengenal kata cinta


" Sirik aja lo! " Sarkas Rafa tidak terima


" Udah deh... Eh Fa, gue ini bukan istri lo ya! Jadi nggak usah banyak tinggah, apa lagi sampe ngaku - ngaku kek gitu! " Rafa mengerucutkan bibirnya


" Ayo tiup lilinya Fit " Pinta Defa disambut anggukan setuju dari teman - temannya


Fita meniup lilin dengan angka 18, kemudian memotong kuenya untuk dibagikan kepada yang lain.


" Kue pertama buat gue kan? " Tebak Rafa penuh percaya diri, sama seperti biasanya


" Kepedean bat sih lo, ini buat Defa "


" Lah ko gue? "


" Karena lo yang udah nyiapin ini semua kan? "


" Oh. Kalo gitu thanks ya "


" Yap, hmm... Kalo boleh gue boleh nih ya, lo tau dari mana soal ultah gue? "


" Ig lo "


" Oh "


" Emang kenapa? "


Semua orang menoleh pada Fita, guna mencari jawaban yang kini tengah menyelimuti pikiran mereka.


" Nggak, cuma... Kalo gue boleh jujur nih ya, sekarang bukan ultah gue "


" What? " Pekik Rafa mendramatisir


" Biasa aja bambang! "


" Mendramatisir amat, udah kek sinetron emak aja lo! " Sarkas Aziz


" Biar greget gimana gitu, wkwkwk "


" Bentar lagi ada musik, jeng jeng jeng jeng... "


" Lo semua emang udah pada gesrek yah! " Ucap Panji ketus disambut anggukan dari kedua sahabatnya


" Kadang - kadang aja, iya kan Fa? "


" Yoi... Yoi " Rafa, Aziz, Salmam dan Dodit terkekeh kecil sambil saling beradu tos


" Terus kalo bukan sekarang, kapan dong ultah elo? "


" Tanggalnya sih udah bener, tapi ultah gue masih 3 bulan lagi "


" Yeah... Berarti kita zonk dong... Tapi nggak papa deh, yang penting gue udah dapet kue " Rafa kembali memakan kue ditangannya dengan perasaan bahagia


" Ayo makan... Makan, nggak usah malu - malu kek gitu. Kalo kurang nambah lagi "


" Wih paham aja lo, thanks ya Fa " Ucap Dodit seraya menepuk bahu Rafa, keduanya kembali terkekeh kecil tanpa tau apa yang sebenarnya mereka tertawakan


" Terus gimana? "


" Iya... Kita lanjutin aja, btw thanks ya lo semua udah mau nyiapin kek ginian buat gue "


" Sama - sama, ayo lanjutin "


" Gue nggak tau kenapa, tapi gue ngrasa kalo perhatiannya Defa ama si Fita itu udah kelewat batas ya " Batin Rafa sambil mengamati kedekatan antara Defa dan Fita, yang kini sudah dicap sebagai kekasihnya


" Eh Fa! " Rafa tergeragap saat Aziz menepuk bahunya


" Diem - diem bae lo "


" Hmm... Gue baru inget, gue punya janji ama... Ama nyokap gue " Kilah Rafa


" Oh. Tumben banget lo "


" I... Iya, maksud lo tumben? " Tanya Rafa sambil menyipitkan kedua matanya, yang mampu membuat Dodit menelan salivanya sendiri


" Ngga Fa, gue becanda kali "


" Hmm... Kalo gitu gue pergi dulu ya "


" Lo nggak mau pamit ama si Defa dan Fita dulu? "


" Halah... Lo kan bisa nyampein ke mereka berdua, udah ya gue udah telat nih "


Rafa bergegas pergi dengan sepeda motornya, meninggalkan pesta ulang tahun Fita.


" Si Rafa mau kemana? " Tanya Ibnu sesaat setelah motor Rafa pergi


" Pasti cemburulah... " Batin Panji, seolah bisa membawa situasi kedekatan antara Defa dan Fita


***


Luki mengamati kedekatan antara Defa dan Fita, yang tengah asik dengan kue ditangan mereka.


" Nambah deket aja nih " Celetuk Luki dihadiahi tatapan tajam dan dingin dari seorang Defa


" Eh bang Luki "


" Fit " Luki menerima uluran tangan Fita dengan senang hati, kemudian ia mengambil posisi didekat Defa


" Apa kabar nih, tumben nggak ama si Rafa "


" Iya, tadi si Rafa pergi. Katanya sih ada janji ama nyokapnya "


" Janji ama nyokap? Tumben banget " Gumam Luki sambil mengusap dagunya, seolah tengah memikirkan kata - kata yang dilontarkan Fita


" Bang... Ternyata disini "


Luki menoleh pada sosok Dion yang kini sudah berada tepat dibelakangnya, pria itu terlihat sibuk hal itu dapat dilihat dari beberapa dokumen ditangannya.


" Kenapa pah? "


" Om " Sapa Fita ramah yang langsung dibalas dengan senyuman dan anggukan dari Dion


" Eh Fita. Papah perlu bantuan, om pinjem Luki bentar ya "


" Silahkan om "


Luki berjalan mengekor dibelakang ayahnya, yang akan membawanya menuju ruang kerja Dion.


" Ayo dimakan lagi " Ucap Ayu yang baru saja kembali dari dapur dengan nampan berisi kudapan dan air


" Makasih tan, tapi Fita harus pulang sekarang "


" Loh ko cepet banget "


" Hehe iya tan, mamah udah nyariin Fita. Terus minta Fita supaya cepet pulang "


" Oh, kalo gitu biar Defa anter kamu pulang ya "


" Nggak usah tan, Fita bisa mesen taksi " Tolak Fita halus, ia berupaya untuk tidak menyakiti perasaan Ayu apa lagi Defa yang sudah cukup baik padanya


" Udah nggak papa, ayo Def antar Fita pulang " Defa mengangguk, ia dan Fita bergegas pergi setelah berpamitan pada Ayu


Sepanjang perjalanan ke rumah Fita hanya diisi oleh kesunyian, Defa tengah fokus pada jalanan yang terhampar didepan mereka. Begitupun dengan Fita yang fokus pada pemikirannya sendiri, lebih tepatnya ia sedang memikirkan soal Rafa.


" Ish... Kenapa lo tiba - tiba pulang coba? Udah gitu nggak pamit lagi ama gue, cowok apaan kek gitu! " Gerutu Fita sambil memukul pelan punggung Defa, membuat si empunya tersentak kaget tapi berusaha untuk fokus pada jalanan didepannya


" Lo kenapa Fit? "


" Apa? Ng... Nggak ko "


" Oh. Soal si Rafa ya? " Tebak Defa yang selalu tepat sasaran


" Ng... Nggak ko " Kilah Fita namun tidak berhasil meyakinkan Defa


Defa menghela nafas berat sambil menarik salah satu sudut bibir, dari balik helm yang dikenakannya.


" Keknya si Rafa udah punya hubungan yang baik deh ama keluarganya "


" Maksud lo? "


" Iya... Selama ini Rafa itu kek nggak akur gitu ama keluargnya, apa lagi ama bokap dan Alya kakanya. Kalo ada lomba ngomong terlama, gue jamin deh mereka bakalan menang " Fita terkekeh kecil


" Mana ada kek gitu "


" Mereka itu kalo udah adu argumen, sosah banget buat berhenti apa lagi kalo nggak ada yang mau ngalah. Udah nyampe "


Fita bergegas turun dan melepas helm yang dikenakannya, kemudian memberikan benda itu pada si pemilik.


" Thanks ya " Defa tersenyum sambil menerima helm yang disodorkan padanya


" Sama - sama. Lebih baik lo masuk gih sekarang " Fita menggeleng mantap


" Gue nunggu lo balik aja deh "


" Nggak papa, gue bakal pergi setelah lo masuk " Fita berdecih, detik berikutnya ia tersenyum lalu mengangguk setuju


" Kalo gitu gue masuk sekarang ya, lo ati - ati dijalan ya. Oh iya, titip salam buat nyokap ama bokap lo "


" Pasti "


Defa tersenyum saat Fita melambaikan tangannya, sesaat sebelum tubuh mungilnya hilang dibalik pintu.


" Andai lo tau Fit... Tapi sayangnya lo lebih milih si Rafa dan ini berarti, gue harus ngerelain cinta pertama gue supaya bisa bahagia bareng sahabat gue sendiri " Defa tersenyum miris lalu melajukan motornya kembali