Rafa

Rafa
Memulai Hubungan Baru



Rafa berdeham pada Rina, yang terlihat sibuk membantu Asti membuat kue untuk acara arisan hari ini.


" Ish... Sibuk nih, Rafa bantuin ya " Asti menatap Rafa tidak percaya, entah apa yang merasuki tubuh anaknya hingga mau terjun kedapur apa lagi membantu mereka


" Nggak usah, kamu main aja "


" Rafa minta ijin ke bi Rina. Boleh kan bi? " Rina terlihat tengah menimang perkataan Rafa, sambil berusaha membaca kode yang diberikan oleh Asti


" Ng... Nggak usah bang, lebih baik sekarang abang main aja ama temen - temen "


Rafa berdecih sambil mengerucutkan bibirnya, ia menatap lamat - lamat Rina dengan wajah memelas.


" Temen Rafa pada sibuk semua, jadi Rafa udah nggak punya temen main " Kilah Rafa membuat hati Rina yang memang dasarnya melodramatis, terasa begitu teriris dan terasa hampir menangis


Apa lagi saat melihat wajah memelas milik Rafa, perpaduan antara kasihan dan gemas sebenarnya membuat Rina tidak mampu menolaknya. Tapi lagi - lagi ia harus menelan keinginannya, lantaran merasa takut pada Asti.


" Pacar abang mana? "


" Pacar yang mana? " Tanya Rafa dengan tampang so polos, membuat Rina jadi semakin bersalah dan tak tega menolak keinginan Rafa


" Yang pernah kesini dulu, abang juga punya fotonya kan? "


" Oh, Fita. Dia bukan pacar aku, lagian... Keknya dia nggak punya rasa deh sama aku " Rina mengacak - acak rambut Rafa gemas


" Aduh... Kasihan "


" Makanya cariin jodoh buat Rafa dong bi " Ucap Rafa memelas, matanya mengerjap beberapa kali


Ini adalah jurus terampuh, yang sering digunakan oleh Rafa pada Rina dan biasanya selalu berhasil tanpa harus melanjutkan rencana b.


" Iya udah nanti bibi cariin pacar buat bang Rafa, emang bang Rafa pengin jodohnya kek gimana? "


" Nggak usah muluk - muluk bi, cukup kaya Kayle Jenner aja Rafa udah bahagia dunia akhirat plus lahir batin. Sumpah dah "


" Kayle Jenner? Artis mana bang? " Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tentu saja Rina tidak paham artis sekelas Kayle Jenner


Rafa memejamkan matanya rapat, mencoba berpikir siapa artis yang mungkin diketahui oleh Rina.


" Gini aja deh bi, Rafa pengin pacar yang nggak terlalu cantik, nggak usah langsing atau putih. Cukup kaya Aril tatum aja, Rafa siap ko nampung " Rina tersenyum kuda, ia tidak tau siapa itu Kayle Jenner ataupun Aril tatum


" Orang Indonesia ya bang? " Rafa tertawa lepas, tertawa paling keras yang pernah didengar Rina ataupun Asti


Bahkan jika boleh jujur, ini adalah tawa pertama yang didengar Asti langsung dari mulut Rafa. Pertama kalinya dalam sejarah Asti melihat Rafa tertawa, tapi sayangnya bukan dirinya yang membuat Rafa tertawa.


" Terserah bibi aja dah... Rafa mah ngikut, mau dijodohin ama malika juga Rafa mah siap - siap aja wkwkwk "


Ddrrttt


Fita :


Lo dimana?


Gue :


Dirumah, emang ada apa?


Fita :


Nggak. Cuma mau ngajak main aja


Gue :


Ish... Gue lagi sibuk nih


Fita :


Sibuk? Ko gue nggak percaya ya😏


Gue :


Ya Allah, jahad banget dah. Gue lagi cari jodoh tau, jadi nggak bisa diganggu😋


Fita :


Hah jodoh? Emang ada yang mau ama elo?😆


Gue :


Ntar juga lo bakal tau


" Dari siapa bang? "


" Temen, Rafa sibuk nih. Mau rapat ama kedutaan besar Turki, udah dulu ya yuh dadah babay! "


" Bahkan anakku lebih dekat kepada seorang pembantu, dari pada aku! " Asti menatap Rina tajam, membuat wanita itu hanya bisa berdiri mematung sambil menelan salivanya sendiri


***


" Jadi gimana ama nyari jodohnya? " Rafa mengedikkan bahu acuh sambil menikmati air mineral miliknya, yang entah mengapa terasa begitu nikmat ditengah udara panas kota Jakarta


" Bi Rina nggak tau ama kriteria gue "


" Maksud lo? "


" Lo nggak bakalan paham, cuma gue ama Allah SWT aja yang tau. Oh iya, ama dua malaikat sisi kanan ama kiri gue " Rafa membasuh wajah dan rambutnya dengan air, berharap bisa sedikit melembabkan kulitnya yang mulai terasa panas


Sama seperti hatinya yang terasa panas, saat mengingat kedekatan antara Fita dan Defa. Fita diam - diam memperhatikan bagaimana bulir - bulir air menetes dari pelipis dan rambut Rafa, yang ternyata mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Fita.


" Fit " Panggil Rafa dengan tatapan memandang jauh kedepan mereka


" Hmm... "


" Kalo gue boleh tau nih ya, lo nganggep gue apa sih? " Tubuh Fita seketika membeku, saat Rafa menatapnya dengan tatapan serius


Ini pertama kalinya Rafa terlihat begitu serius, Fita terasa tengah berbicara dengan orang asing. Bukan dengan Rafa yang ia kenal, Rafa yang humoris dan terkesan tidak pernah serius.


" Gue... Lo sahabat gue lah "


Deg


Hati Rafa terasa sakit, apa yang ia perjuangakan selama ini hanya dianggap tidak lebih dari seorang sahabat.


" Fa... Lo nggak papa? " Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali, ia mendengus berat kemudian tersenyum simpul


" Sahabat ya? "


" E... Emang ada yang salah ya ama omongan gue? "


" Nggak ko, gue anter lo pulang sekarang ya "


" Tapi kita kan baru aja... "


" Gue sibuk " Potong Rafa cepat tanpa sempat menoleh


Hati Fita berkecamuk karena sepanjang perjalanan pulang hanya diisi oleh kesunyian, apa mungkin ia sudah mengatakan sesuatu yang salah.


" Kenapa si Rafa diem aja sih? Tumben bat dah "


" Fita " Kontan si empunya nama tergeragap sambil mengerjapkan matanya beberapa kali guna mengumpulkan semua kesadaranya


" Iya? "


" Udah nyampe, lo nggak mau turun sekarang? "


" I... Iya, thanks " Rafa menerima helmnya sambil tersenyum tipis, bahkan terlihat seperti tidak tersenyum sama sekali


" Hmm, kalo gitu gue balik dulu. Oh iya, titip salam buat nyokap ama abang lo ya " Fita mengangguk lemah


" Fa "


" Hmm... "


" Lo marah ya ama gue? "


" Hah? Kenapa gue harus marah? "


Fita terdiam, wajahnya tertunduk dalam - dalam seakan tidak mampu menatap mata Rafa secara langsung.


" Soal tadi... Fa lo nggak serius soal nyari jodoh itu kan? " Tanya Fita memelan diakhir


" Gue serius ko "


" Kalo gue boleh nanya... "


" Boleh, lo mau nanya apa? "


" Kenapa lo mau nyari pacar? " Rafa berdecih lalu melepas helm yang tengah dikenakannya


" Supaya gue nggak jadi bahan rebutan, antara Kayle Jenner ama Kim Kadarshian wkwkwk "


" Ish... Gue serius Rafa! "


" Lo pengin tau alesannya? "


" Hmm... Jadi apa alesannya? "


" Gue suka elo " Mata Fita membelalak lebar mendengar pengakuan Rafa


" Lo... Lo seriusan? "


" Jangan lo anggep cowok humoris itu nggak bisa serius Fit. Dari dulu gue udah bilang, gue suka ama elo. Tapi elo cuma nganggep gue sahabat, dari pada gue berjuang tapi disia - siain kek gini... Mending gue cari yang laen kan? "


" Bukan maksud gue nyia - nyiain elo Fa " Rafa bergegas turun dari kotor saat Fita tiba - tiba saja terisak


" Kenapa lo nangis? " Fita menggeleng, lalu berlari masuk kedalam rumah


***


" Mamah mau kemana? " Tanya Rafa saat melihat Asti mondar - mandir diruang tamu, dengan pakaian yang rapi


" Arisan "


" Oh "


Rafa melangkahkan kakinya dengan malas menuju meja makan, ini memakan sarapannya sambil sesekali menguap. Setelah beberapa menit Rafa selesai dengan sarapannya, ia berniat untuk kembali tidur karena hari ini tidak ada rencana kegiatan.


" Iya "


" Oh " Rafa kembali melangkahkan kakinya menuju kamar dan bersiap untuk merebahkan tubuhnya


Ddrrttt


" His... Apaan lagi! " Rafa mengambil ponselnya dari atas nakas, seketika matanya membelalak lebar saat melihat notifikasi yang dibuatnya setahun lalu


Oyyy!


Ini hari ulang tahun mamah! Pasti lupa lagi dah😑 emang susah ya kalo ngingetin orang sebangsa gue😴... Yang diinget cuma makan, tidur, maen, ama cewek cantik sekelas Kim Kadarshian😂😂


Ish... Jelas dong, Rafa gitu😆😆


" Ultah mamah? "


Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bergegas bangkit lalu mengganti pakaiannya. Sebagai sentuhan akhir, Rafa menyemprotkan parfum beraroma citrus untuk menonjolkan sisi maskulinnya.


" Udah ganteng aja lo... Udahlah nggak usah mandi, udah ganteng gini " Gumam Rafa pada pantulan dirinya


Ddrrttt


" Halo? "


" Fa lo dimana? "


" Rumah. Kenapa? "


" Kita bisa ketemu nggak? " Rafa mengernyitkan dahinya heran, kenapa Fita ingin bertemu dengannya pagi - pagi begini


" Sorry gue sibuk " Ucap Rafa kemudian


" Please Fa... Gue mau ngomong penting penting, please mau ya! " Rafa mendengus berat seraya mengacak - acak rambutnya


" Ok. Tapi lo mesti bantu gue "


" Bantu apa? "


" Ntar lo bakalan tau, gue kerumah lo sekarang "


Rafa memutuskan panggilan teleponnya, ia bergegas menuju rumah Fita dan baru sampai setelah beberapa menit berkendara. Rafa disambut oleh sosok Fita, yang sudah menunggunya didepan rumah.


" Lo udah nyampe? "


" Hmm... Jadi lo mau ngomong apa? "


" Soal kemaren... Lo serius kan ama kata - kata lo, kalo lo itu beneran suka ama gue? "


" Emang kenapa? "


" Ish... Beneran nggak? " Tanya Fita gemas


" Kepo "


" Rafa! " Rafa berdecih kemudian memutar bola matanya malas


" Emang apa untungnya juga gue jujur ama elo? "


" Ish... Gue suka ama elo Rafa, gue nanya kek gini karena gue pengin tau lo itu beneran suka nggak sama gue! " Rafa menoleh kearah Fita sambil tersenyum jahil


" Nggak usah ngegas gitu dong... Kalo lo suka ama gue, kan bisa ngomong baek - baek " Fita mendengus kesal dan berniat untuk kembali kerumah, andai saja Rafa tidak mencegat tangannya


" Gue juga suka sama elo ko " Seketika pipi Fita langsung bersemu merah, saat Rafa memeluk tubuhnya erat sambil mengusap pucuk kepalanya dengan lembut


" Akhirnya lo jujur juga, masa iya gue harus pura - pura marah dulu biar elo mau ngaku ama gue " Bisik Rafa membuat pipi Fita semakin bersemu merah


" Lepas Fa! Ntar ada yang liat "


" Nggak papa, secara lo itu pacar gue. Lagian pelukan kek gini kan enak, berasa anget - anget gimana gitu "


" Apa? " Pekik Fita sambil mendorong tubuh Rafa menjauh, hingga tubuh itu limbung dan hampir saja terjerembab ke aspal yang keras


" Masih aja galak, tapi babang Rafa tetep cintah ko " Jelas Rafa mendramatisir sambil mengerjapkan matanya beberapa kali


" Lo kelilipan? "


" Ish... Ayo, sekarang lo harus bantu gue beliin hadiah "


" Buat siapa? "


" Seseorang "


" Lo punya cewek laen? " Tanya Fita memastikan dengan wajah merah padam


" Ho'oh. Kalo cewek laen itu nyokap gue, berarti jawabannya iya "


***


" Ini aja, bagus tau " Rafa menyipitkan matanya guna mengamati dress maroon yang ditunjukan oleh Fita, dress itu terlihat cantik dengan motif bunga sederhana namun terluhat elegan


" Gimana? " Tanya Fita dengan mata berbinar dan semangat 45


" Cantik kan? Cantik kan? "


" Ish... Rafa! "


Rafa terperanjat kaget detik berikutnya ia tersenyum kuda sambil menggusap tengkuknya.


" Gimana ya... "


" Nggak bagus ya? " Rafa menggeleng cepat tatkala melihat raut sedih diwajah Fita


" Bukan kek gitu, tapi... Gue nggak tau ukuran nyokap gue " Ucap Rafa memelan diakhir sambil terkekeh kecil


" Serius? Kalo gitu punya fotonya? " Rafa kembali tersenyum kuda lalu menggeleng lemah, jujur saja ia memang tidak punya foto anggota keluarganya yang lain


Fita mendengus berat, bagaimana bisa mereka membeli pakaian jika tidak tau ukuran si pengguna? Jika saja Fita pernah melihat ibunya Rafa, walau untuk sekali saja mungkin mereka tidak akan kesulitan seperti sekarang.


" Terus gimana? "


" Ya kek gitu " Rafa terkekeh kecil


" Kita beli ini aja, keknya cocok deh. Nyokap lo nggak terlalu gendut kan, ma... Maksud gue nyokap lo langsing kan? " Rafa terlihat tengah berpikir sejenak sebelum akhirnya terkekeh kecil


" Mungkin... Gue nggak tau, gue nggak pernah ngamati bentuk tubuh orang "


" Gue nggak salah nih pacaran ama Rafa? " Fita mendengus kesal, melihat tingkah Rafa yang seolah tidak tau apapun


" Ya udahlah, kita beli ini aja. Gue yakin bakalan cocok ko "


" Ok "


Selesai dari butik, Rafa membawa Fita untuk berkeliling mall sekaligus untuk merayakan aniversarry mereka yang ke 3 jam.


" Lo pengin makan apa? " Fita menatap Rafa tidak percaya


" Lo punya duit? "


" Punya lah, ayo sekarang mau makan apa? Bentar lagi makan siang, cacing gue udah siap buat demo nih "


" Hmm... Gimana kalo, gue punya satu resto favorit tapi tema Chinese gitu. Nggak papa kan? "


" Selagi enak, gue mah ikut - ikut aja "


" Seriusan? Kalo gitu ayo! "


Fita menarik tangan Rafa dengan antusias, namun mereka harus menelan pil pahit lantaran resto itu tengah disewa untuk acara ultah seseorang.


" Yeah... Gimana dong? "


" Kita cari yang lain aja, lo punya tempat favorit lain nggak? "


" Hmm... "


" Rafa " Kontan si empunya nama menoleh pada sosok lelaki paruh baya, yang baru saja keluar dari dalam retoran itu


" Om Satya? Apa kabar om? "


" Baik. Ini siapa? "


" Ish... Pacar "


" Serius? Akhirnya kamu punya pacar ya? " Rafa terkekeh kecil


" Btw... Siapa yang ultah om? " Satya menatap Rafa heran, namun detik berikutnya ia bersikap seolah semuanya sudah sangat wajar


" Hmm... Ibu kamu "


Rafa terdiam beberapa saat kemudian mengangguk paham.


" Oh. Kalo gitu Rafa permisi dulu om " Fita menatap Rafa tidak percaya, kenapa ia tidak bergabung dengan acara ultah ibunya?


" Lo nggak mau... "


" Nggak " Potong Rafa cepat, seolah ia tau arah pembicaraan Fita


" Satya " Rafa menatap wajah Wawan nanar, begitupun sebaliknya


" Sedang apa kamu disini? "


Fita tersenyum dan hendak menyapa Wawan, namun urung dilakukan ketika menyadari raut wajah Rafa yang berubah dingin.


" Main "


" Bagus deh, sekarang kamu boleh pergi "


Deg


Sumpah demi apapun hati Rafa terasa sakit, ini adalah acara ulang tahun Asti namun ia sama sekali tidak tau ataupun diundang. Meskipun ini hal yang sudah biasa dan akan terjadi setiap tahun, tapi tetap saja rasa sakitnya seolah tak mampu dibendung.


" Dengan senang hati "


Rafa menarik tangan Fita menjauh, ia bahkan tidak memperdulikan rintih kesakitan dari Fita karena yang ada dalam benaknya hanya bagaimana cara ia pergi menjauh.