Rafa

Rafa
Waktu Bersama



Rafa berjalan mendekati seorang gadis berambut panjang, yang tengah duduk tepat dibawah pohong rindang dengan sebuah novel ditangannya. Gadis itu terlihat fokus pada novelnya, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang didekatnya.


" A true love? " Kontan Neyla langsung menyembunyikan novel didalam tas merah muda miliknya.


" Ra... Rafa, sejak kapan lo disini? " Rafa tersenyum lebar


" Udah dari tadi La, lo aja yang nggak sadar. Btw kenapa diumpetin tuh buku " Neyla tergeragap


" Ng... Nggak "


" Udah nggak usah malu - malu kek gitu " Rafa melirik tas milik Neyla yang sedikit terbuka


" Buat apa juga malu " Sergah Neyla dengan pipi memerah


" Kalo gitu gue boleh dong baca novel lo? " Goda Rafa membuat pipi Neyla semakin memerah


" Ih... Enak aja, cari buku sendiri sana! " Neyla memeluk tasnya erat - erat seolah takut kehilangan benda itu.


" Pinjem bentaran doang, pelit amat sih! " Rafa berupaya merebut tas Neyla, tapi berhasil dihalangi oleh gadis itu.


" Eh lo berdua! " Kontan keduanya menoleh pada seorang pria yang baru saja datang, dengan kantong plastik ditangannya.


" Eh baru dateng lo! " Rafa beradu tos dengan Defa yang baru saja datang.


" Lo berdua ribut aja, nih gue bawa snack " Defa menyerahkan snack ditangannya, yang langsung disambut senyum sumringah dari Rafa.


" Tau aja nih kalo gue laper " Defa memicingkan matanya


" Bukannya lo emang gampang banget laper ya? " Rafa terkekeh


" Nah tuh pinter, laen kali sering - sering aja bawa kek gini buat gue. Ok? "


" Iya lah... Dari pada liat lo berdua berantem terus, mending gue bawain makanan. Secara lo berdua itu kan... " Defa mengerang kesakitan saat Rafa memukul lengannya


" Gila lo ya! " Gerutu Defa disambut gelak tawa kedua sahabatnya


Neyla mengambil sebuah roti dan susu cokelat, ia memakan rotinya tanpa memperdulikan tatapan geli sahabatnya.


" Lo tuh La... Bentar lagi masuk SMA, tapi nggak berubah juga " Rafa tertawa geli


" Lo pikir gue Sailor Moon apa? Yang bisa berubah kek gitu? " Neyla berdecak kesal, Rafa tersenyum jahil


" Dia tuh bakal berubah, kalo udah nemu cinta sejatinya. Iya kan La? " Pipi Neyla bersemu merah


" Seriusan? Lo tau dari mana? " Pipi Neyla semakin merona merah lantaran Defa juga ikut menggoda dirinya.


" Serius... Tadi gue liat dia lagi... "


Bug


Rafa mengerang kesakitan, saat Neyla memukul kepalanya dengan tas berisi buku pelajaran.


" Udahlah... Males gue bareng sama lo berdua " Neyla melenggang pergi dengan pipi merah padam


" Rasain lo Fa... "


Kontan Defa menghentikan tawanya, saat Rafa mengacungkan jari tengahnya tepat didepan wajahnya. Tatapannya masih terpaku pada Neyla, yang perlahan menghilang dibalik kerumunan orang.


" Kayaknya si Ela lagi PMS dah " Rafa menatap Defa heran


" PMS? Apaan tuh? " Defa memicingkan matanya


" Lo beneran nggak tau? " Rafa mengangguk pasti


" Ish... Gini nih, kalo dikelas kerjaannya tidur. Cewek PMS itu ibarat kek singa, sensitip. Jadi jangan diganggu " Defa melenggang pergi meninggalkan Rafa seorang diri


" Woy maksudnya apa? " Teriak Rafa


Rafa berdecak kesal, ia meraih ponsel dari dalam saku.


" Ok google, apa itu PMS "


" Menurut Mitra Keluarga, PMS adalah sekelompok gejala pada wanita biasanya diantara ovulasi dan menstruasi "


" Oh... Jadi intinya apaan ya? " Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Liat tuh "


" Ada - ada aja " Rafa menatap heran pada beberapa orang yang menatapnya geli


" Pacarnya lagi PMS kali " Wajah Rafa bersemu merah, lantaran ia lupa mengecilkan volume ponselnya.


" ****! " Gerutu Rafa, ia segera berlari menjauhi area taman


***


" Rafa gila! " Neyla memukul bantal yang ada didepannya


Ia mengeluarkan novel, bersampul merah muda dari dalam tasnya.


" Ini semua gegara lo! "


Tok tok tok


" De ada apa? " Tanya Ratih dari balik pintu


" Ng... Nggak ada mih "


" Oh. kalo gitu ayo turun, bentar lagi makan malem "


" Bentar lagi mih, aku mau mandi dulu "


" Ok. Mamih tunggu dibawah ya "


" Iya "


Neyla merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tatapannya tertuju pada langit - langit kamarnya.


" Males banget gue! Kira - kira kapan ya, gue bakal ketemu sama first love gue " Mata Neyla mulai memberat, seiring dengan alunan musik yang bermain dalam telinganya.


10 menit berlalu, Ratih kembali kekamar Neyla. Ia mengetuk pintu berwarna putih itu namun tak kunjung ada jawaban, Ratih yang kalut lalu memanggil seluruh anggota keluarganya. Gusti dan Gani datang, kemudian mendobrak pintu kamar Neyla secara bersamaan.


" Ela " Pekik Ratih


Gani menarik selimut yang membungkus tubuh adiknya.


" Bangke! " Gani menarik headset yang menempel ditelinga Neyla, hingga si empunya tersentak kaget.


" Apaan sih? " Pekik Neyla setengah emosi


" Lo tuh yang kenapa! Dasar ade laknat lo, bisanya cuma bikin khawatir orang " Gani mengerang kesakitan saat Gusti mencubit pantatnya


" Abang nggak boleh kek gitu! " Gani mengerucutkan bibirnya


" Ayo turun sayang "


" Males ah mih " Gani mengambil sebuah guling lalu memukulkannya pada lengan Neyla.


" Buru bangun nggak lo! "


" Aduh... Sakit tau! "


" Abang! " Gani menghembuskan nafas jengah lalu melenggang pergi, diikuti Gusti yang mengekor dibelakangnya.


" Sekarang ade cuci muka terus turun, kita makan sama - sama " Neyla mengangguk, ia melangkah menuju kamar mandi dengan malas.


Neyla turun kelantai bawah, menuju meja makan yang sudah dipenuhi anggota keluarga lainnya.


" Halo Indra " Neyla mengusap pipi adiknya gemas


" Duduk de " Neyla mengangguk


Gani dan Neyla saling melempar tatapan maut, sesaat setelah gadis itu duduk.


" Apa lo liat - liat? Nggak pernah liat cewek secantik gue ya " Gani berdecih


Neyla menyibak rambut panjangnya, hingga tanpa sengaja mengenai wajah tampan Gani.


" Dikuncir napa sih? Ganggu aja nih rambut! " Gani mengusap wajahnya yang terasa berdenyut, sedangkan Neyla hanya memutar bola matanya jengah.


" Terserah gue lah, rambut - rambut gue! "


" Kalian ini... Coba sekali aja nggak usah ribut, kalian harus jadi contoh yang baik buat Indra " Gani dan Neyla menundukkan kepala patuh


Setelah makan malam usai, Gani pergi mencari sosok Neyla diarea dapur. Gani berdeham, membuat Neyla tergeragap.


" Gue penasaran bat dah, sebenernya perut lo punya berapa lambung sih? " Neyla menatap tajam kearah Gani


" Apaan sih lo? " Gani tersenyum jahil


" Lo tuh ya, jadi cewek harus bisa ngatur pola makan. Jangan apa aja dimakan! "


" Suka - suka gue lah " Sergah Neyla membuat senyum diwajah Gani semakin mengembang


" Btw... Gimana hubungan lo sama Rafa? "


" Maksud lo apaan? " Gani berdecih


" Masa lo nggak paham juga sih, gue udah ngrestuin hubungan lo berdua "


" Idih... Najis! " Neyla melenggang pergi diikuti Gani yang mengekor dibelakangnya


" Udah nggak usah malu - malu kek gitu, gue rela ko dilangkahi ama lo berdua "


Neyla membanting pintu kamarnya, membuat tawa Gani semakin pecah.


" Oy nggak usah malu - malu " Gani terkekeh sambil mengetuk pintu kamar Neyla


" Berisik! pergi lo sana! "


***


" Bentar "


Neyla berlari keluar rumah, ia mendapati Gani berdiri diambang pintu dengan kening berkerut.


" Ayo! " Gani berdecak kesal


Gani pergi menuju mobil, tanpa menjawab kata - kata adiknya.


" *****... Abang gue jutek amat sih "


" Buru! "


" Iya... Iya, sabar napa sih "


" Udah mau berangkat de? "


" Iya mih " Gani mendengus kesal dari balik kemudi


" Buru Ela! "


" Iya... Iya, mih Ela berangkat dulu ya "


" Ela! " Pekik Gani


" Iya! Assalamuallaikum " Neyla berlari menuju mobil, sesaat setelah mencium punggung tangan Ratih.


" Waalaikumsallam "


Gani memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia mengantarkan Neyla terlebih dahulu karena adiknya akan menjalani UN.


" Thanks ya, abang gue tersayang " Gani memutar bola matanya malas, saat Neyla tersenyum lebar seraya mengedipkan kedua matanya dengan cepat.


" Apaan sih lo? Buruan turun! "


" Cueknya... Salim dulu dong " Gani berdecih, ia mengukurkan tangannya malas.


" Tapi bohong. Jangan ngarep, gue mau nyium tangan lo " Neyla menepis tangan Gani lalu bergegas turun dari mobil


" Adik laknat lo! " Neyla menjulurkan lidahnya


" Bomat! "


Gadis itu bergegas masuk kedalam SMP, Gani tersenyum geli melihat tingkah adiknya lalu melajukan mobilnya menuju kampus. Semua siswa masuk kedalam ruang ujian, sesaat setelah bel masuk berbunyi.


" Jika nilai a sama dengan 5 dan b sama dengan 7, lalu berapakah nilai c? " Rafa berdecih, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Ampun dah, pusing amat ya... Nih soal juga aneh, yang bikin aja nggak tau apa lagi gue coba "


" Rafa! "


" Aduh... Aduh, kenapa bu? Saya kan nggak nyontek " Erang Rafa, sambil memegangi telinganya yang terasa berdenyut.


" Emang nggak nyontek, tapi suara kamu mengganggu peserta yang lain! " Rafa tersenyum kuda


" Sorry bu... Sorry ya gaes "


" Rafa " Rafa terkekeh kecil


" Lagian soalnya susah banget deh bu, pusing kepala Rafa " Ucap Rafa mendramatisir sambil memegangi kepalanya


" Soal mudah aja kamu bilang susah, apa lagi soal lainnya! Makannya kalo ada pelajaran jangan pergi ke UKS, apa lagi sampe bolos "


" Aduh... Aduh, iya bu ampun " Rafa memegangi telinganya yang kembali berdenyut


" Cepat kerjakan soalnya! " Rafa mengerucutkan bibirnya, ia melirik jam tangannya


Rafa mengamati setiap soal yang disajikan dalam selembar kertas, lalu menyalin jawabannya dilembar kertas yang lain.


" *****... Baru 15 menit dan semua soal gue udah selesai, berarti waktu gue masih lama dong " Rafa terkekeh kecil, ia menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan beralaskan tangannya sendiri.


" Rafa! " Rafa tersentak kaget


" Aduh... Aduh, ampun bu "


" Kamu itu ya... Nggak pelajaran, nggak istirahat bahkan disaat ujianpun masih sempet buat tidur " Rafa mengerang kesakitan, lantaran kali ini telinganya tidak kunjung dilepaskan sepanjang ceramah berlangsung.


" Tapi Rafa udah selesai bu "


" Mana? " Rafa mengerucutkan bibirnya lalu menyerahkan hasil pekerjaannya


" Waktu masih 15 menit lagi, lebih baik kamu keluar sekarang dari pada mengganggu yang lain " Mata Rafa membelalak lebar


" Ibu yakin? "


" Cepet! " Rafa mengangguk


" Makasih bu Ida yang paling cuantieqq... Gue pergi dulu ya sobat seperjuangan, yuh dadah babay " Rafa melambaikan kedua tangannya diikuti tatapan heran siswa yang lainnya


" Rafa! "


" Aduh... Maaf bu " Rafa berlari keluar diiringi gelak tawa siswa lain, lantaran ia baru saja menabrak seorang guru BK yang tengah melintas tepat dibelakangnya.


***


" Tumben lo keluar cepet? " Tanya Defa sambil memicingkan matanya pada Rafa, yang terlihat tengah asik menyantap soto langganan mereka.


" Trik jitu ala Rafa " Ucap Rafa bangga, Defa berdecih


" Halah... paling juge ngitung kancing baju " Neyla menimpali lalu mengambil posisi disamping Rafa


" Syirik aje lo La " Rafa kembali menyantap sotonya


" Tapi bener kan? Kalo nggak ya, tuh soal dibacain bismilah " Defa memicingkan matanya


" Maksudnya baca bismilah? "


" Nih gue kasih tau lo ya... Si Rafa suka baca bismilah, sambil milih jawaban mana yang mau dipilih.... a, b, c, d-nya dibacain bismilah gitu " Mata Defa membelalak lebar tidak percaya


" Beneran Fa? *****... sekali - kali belajar napa sih, nggak pernah berubah lo sejak orok " Rafa berdecih


" Lo berdua kan tau, gue ama pelajaran tuh ibarat kek air dan minyak... Nggak pernah klop gitu "


" Terus gimana jawabannya? " Tanya Defa dengan mata berbinar


" Ya gitu... Untung - untungan, kadang bener kadang juga salah. Tapi lumayan lah dari pada kosong kan? " Defa mengacungkan kedua ibu jarinya


" *****... salut gue "


" Gila lo! Harusnya lo menuntun Rafa ke jalan yang benar, bukannya muji dia " Gerutu Neyla disambut gelak tawa kedua sahabatnya


" Lah lo kan tau, merubah seorang Rafa sama aja mencegah pemanasan global... susah "


" Nah tuh lo paham " Rafa dan Defa saling beradu tos sambil terkekeh kecil


" Iya dong "


" Hai Rafa " Rafa berdecak kesal, mendengar suara gadis yang selalu bisa membuat moodnya berantakan.


" Minggir dong! " Neyla bangkit lalu mengambil posisi disamping Defa.


" Hai Fa... Nih gue punya cokelat buat lo " Rafa memutar bola matanya jengah


" Vanya... Gue udah bilang berkali - kali, gue nggak suka lo dan jangan ganggu gue kenapa sih? "


" Ih... Lo ko jahad banget sih " Rafa memutar bola matanya malas, saat Vanya menyandarkan kepalanya dibahu Rafa.


" Nya... Nya, kita bukan muhrim " Rafa mendorong kepala Vanya menjauh


" Sikat aja Nya "


" Ho'oh jangan kasih kendor "


" Gaspol! " Mata Rafa menatap tajam kearah Neyla dan Defa, yang tengah tertawa lepas.


" Lepas Nya! " Rafa berjalan menjauh setelah berhasil melepas pelukan Vanya, kontan gadis itu mendengus kecewa.


" Eh... Siapa yang mau bayar sotonya? " Mereka saling melempar pandangan mendengar kalimat yang dilontarkan pemilik kantin.


" Vanya? " Panggil Defa, kontan si empunya nama berdecih lalu melenggang pergi bersama Tika temannya.


" Ngejar nggak dapet... Malah disuru bayarin tuh soto " Gerutu Vanya sambil berjalan menjauh dari area kantin


Defa mengalihkan tatapannya kearah Neyla, gadis itu tergeragap lalu mengambil ponselnya dari dalam tas. Fita meletakkan benda mungil itu ditelinganya, sambil berjalan menjauh.


" Iya mih, halo... Oh, iya mih "


" La! " Panggil Neyla


" Ayo bayar! " Defa mengalihkan pandangannya pada ibu kantin, yang tengah berdiri disampingnya sambil berkacak pinggang.


" Nggak bisa kas bon ya bu? " Cicit Defa


" Kas bon... Kas bon, nggak ada. Pokoknya harus bayar sekarang juga! "


" Cepetan bayar! "


" I... Iya bu, jangan marah - marah kek gitu. Ntar cepet tua loh " Rafa menyerahkan uang 20 ribu miliknya


" Biarpun tua yang penting kaya! Nih kembaliannya "


" Dua ribu? "


" Eh bersyukur tong, dua ribu juga bisa buat beli es "


" Iya bu, makasih "


" Hmm... Sering - sering aja kemari "


" Ogah... Yang makan si Rafa, eh gue yang harus bayar " Gerutu Defa sambil melangkahkan kakinya pergi