Rafa

Rafa
Buku Harian



Fita mengusap lembaran buku yang telah disobek oleh Rafa, jumlahnya cukup banyak bahkan hampir setengah bagian buku itu telah dirobek oleh Rafa. Entah apa isinya, mungkin sesuatu yang tidak diinginkan Rafa lagi.


Sorot matanya langsung tertuju pada lembaran bagian depan buku yang bertuliskan dengan tinta biru.


14 Desember 2018


Harapan gue, cinta gue hilang bersama sebuah kesalahan


Semua perjuangan berakhir sia - sia, karena sebuah kenangan masa lalu


Fitađź’™


Tangan Fita bergetar, ini adalah saat ketika ia keluar dari SMA Dwi Bakhti kemudian pergi ke Solo selama dua bulan sebelum akhirnya kembali ke Jakarta karena ibunya siuman.


26 Februari 2018


Secercah harapan muncul, bersama siluet bayangan mentari


Tepat dibawah naungan tempat suci


Masjid Baiturrahman


Fitađź’™


11 November 2019


Cahaya mentari gue hadir, bersamaan dengan sebuah harapan baru tim bola basket


Fitađź’™


1 Januari 2020


Perbedaan besar dalam sebuah keluarga


Ya... Gue bukan bagian keluarga Ramadhan, sesuai hasil tes DNA yang gue lakuin sebanyak 3 kali


Terus gue siapa?


30 Januari 2020


Akhirnya sebuah pengakuan terlontar dari mulut seorang putri


Setidaknya masih ada kebahagiaan ditengah duka


Rafa&Fitađź’™


9 Februari 2020


Tirai kebenaran perlahan teringkap


Ibu Deswita?


23 Februari 2020


Lagi - lagi sebuah penolakan


Tapi tidak masalah, karena semua luka pasti akan berakhir bahagia


Pak Rian?


Semua catatanya berakhir? Apa tidak ada catatan soal Neyla atau yang lainnya? Atau mungkin catatan yang dirobek itu berisi tentang Neyla dan yang lainnya? Tapi mengapa semua itu dirobek oleh Rafa?


Pertanyaan itu terus saja terngiang dalam benak Fita, kenapa semua catatan ini hanya soal dirinya dan Rafa? Fita meraih ponselnya dari atas nakas, saat kedua bola matanya menangkap foto beberapa anak kecil berlatarkan sebuah panti asuhan.


" Halo om, assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam, kenapa Fit? "


" Ngga, Fita cuma nau nanya. Om Rian sibuk nggak hari ini? " Tanya Fita ragu, sejak kepergian Rafa hubungan antara Fita dan Rian memang cukup dekat apa lagi jika ada hubungannya dengan Rafa


" Nggak terlalu sih, emang ada apa? "


" Fita pengin ngajak om kepanti asuhan "


" Panti asuhan? " Tanya Rian memastikan


" Iya om, kemaren Fita bawa kotak private area milik Rafa. Didalem kotak itu ada buku harian, surat, foto Rafa ama anak - anak panti sama foto lama. Tapi Fita nggak tau itu foto siapa "


" Om kesana sekarang " Tukas Rian tanpa pikir panjang


Setelah menunggu beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu diikuti suara serak khas seorang Rian.


" Waalaikumsallam, masuk om " Pinta Fita disambut anggukan oleh Rian


" Rumahmu sepi Fit? "


" Iya om, bang Aldo lagi nganter mamah checkup. Fita ambilin minum bentar ya om "


" Nggak usah repot - repot Fit " Tolak Rian berusaha sesopan mungkin agar tidak melukai perasaan Fita


" Nggak repot ko om, tunggu sebentar ya "


" Makasih ya " Ucap Rian tulus saat Fita menyuguhkan secangkir teh chamomile


" Silahkan diminum om, Fita mau ambil kotaknya dulu " Rian mengangguk, ia menyeruput teh buatan Fita yang terasa begitu nikmat sama seperti buatan Deswita dulu


" Gadis ini memang memiliki kesamaan dengan Deswita "


" Ini kotaknya om "


" Terima kasih "


Rian tenggelam dalam tulisan tangan Rafa, air mata kembali menitih mengingat bagaimana pertemuan singkat keduanya.


" Kita ke panti sekarang Fit? "


" Iya. Fita ambil tas bentar ya om "


" Iya "


***


" Jadi kalian keluarganya bang Rafa? "


" Iya. Apa Rafa sering kemari? "


" Iya, biasanya sebulan sekali bang Rafa kemari untuk memberikan bantuan dana. Terkadang dia juga memberi bantuan dalam bentuk pakaian untuk anak - anak "


" Oh, jadi itu alasan kenapa begitu banyak kwitansi pembelian pakaian? " Batin Fita


" Ngomong - ngomong bang Rafa kemana ya? Sudah lebih dari sebulan bang Rafa tidak kemari, anak - anak sering sekali menanyakan tentang keberadaan bang Rafa "


Rian dan Fita saling melempar tatapan sendu, kemudian menarik nafas panjang dan berat.


" Anak saya sudah meninggal sebulan lalu "


" Astagfirullah " Pekik beberapa pengurus panti tidak percaya


" Kami turut berduka cita pak "


" Terima kasih "


" Bang Rafa itu baik sekali, dia sering berbagi, bermain bahkan sholat bersama anak - anak panti "


" Sholat? "


" Iya. Mungkin lain kali, kami bisa ziarah ke makam bang Rafa "


" Dengan senang hati, kami akan mengantarkan " Ucap Rian dengan seulas senyum


" Oh iya bu, saya mau menyerahkan ini "


Pengurus panti menerima sebuah celengan berwarna merah yang disodorkan oleh Fita.


" Apa ini? "


" Ini tabungan Rafa, untuk... Melamar saya " Ucap Fita memelan diakhir


Rian menoleh pada Fita tidak percaya, ternyata begitu besar cinta Rafa untuk Fita hingga rela menabung sebagian hasil jerih payahnya agar bisa melamar Fita.


" Saya tidak tau jumlahnya berapa, karena saya tidak pernah menghitung atau bahkan membukanya. Berhubung Rafa sudah tidak ada, jadi saya mau menyerahkan ini. Anggap saja ini sebagai sedekah dari Rafa "


" Terima kasih, kami akan menggunakannya dengan sebaik mungkin untuk keperluan anak - anak "


Setelah berbincang beberapa lama, Rian dan Fita pamit untuk pulang.


" Om rasa pilihan Rafa itu memang tepat " Fita menoleh heran


" Maksud om? "


" Kamu memiliki kesamaan dengan Deswita, itu yang om lihat "


" Hmm... Apa om masih menyukai tante Deswita? " Rian tersenyum getir tapi masih fokus pada jalanan didepannya


" Iya, mungkin " Ucap Rian memelan diakhir


" Oh iya, apa kamu punya foto bersama Rafa? "


" Banyak. Om mau Fita kirimin semua foto Rafa? "


" Tentu saja "


Fita mengambil ponselnya dan mulai mengirim semua foto yang berisikan sosok Rafa.


" Sudah Fita kirim semua om "


" Makasih ya "


" Sama - sama "


" Oh iya Fit, makasih ya "


" Buat apa om? "


" Makasih karena kamu selalu ada buat Rafa, kamu mau nemenin Rafa, kamu mau mencintai dia disaat semua orang membencinya "


Fita mulai menitihkan air mata, entah mengapa perkataan Rian seolah berasal dari dalam hati. Fita seakan tengah berbicara langsung dengan Rafa, tapi dalam wujud yang berbeda.


" Fita juga mau ngucapin makasih, karena om dan tante Deswita mempunyai anak sebaik Rafa "


" Andai saja dulu orang tua om tidak menetang hubungan kami, mungkin om bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Deswita dan Rafa. Tapi nasi sudah menjadi bubur "


" Oh iya, kalo om boleh tau apa hadiah yang dibrikan Rafa pada kamu? " Ucap Rian berusaha mengalihkan arah pembicaraan, agar suasana tidak berlarut - larut terlalu lama


" Hijab " Jawab Fita singkat dengan seulas senyum


" Hijab? " Fita mengangguk mantap


" Iya. Dia pengin Fita nutup aurat, kata Rafa dia nggak mau kalo aurat Fita diliat ama orang lain "


" Bagaimana keputusan kamu? "


" Fita masih mikir - mikir om. Kalo om sendiri? Apa hadiah dari Rafa buat om? "


" Surat, lain kali om bakal nunjukin ke kamu "


" Seriusan? " Rian tersenyum sembari mengusap kepala Fita lembut, ia sudah menganggp Fita seperti putri kandungnya sendiri


" Iya "


***


Aldo membuat menu sarapan dengan dibantu oleh Hani, meski berada dikursi roda tapi itu tidak menghalangi gerak Hani.


" Fita mana bang? "


" Paling juga masih tidur mah " Ucap Aldo acuh yang masih sibuk dengan piring diatas meja makan


" Enak aja " Protes Fita yang langsung mengambil posisi didekat Hani


Hani dan Aldo menatap Fita dengan mulut terbuka sempurna.


" Lo... Lo pake hijab? " Tanya Aldo terbata


" Emang kenapa? "


" Masya Allah, anak mamah makin cantik aja " Puji Hani membuat pipi Fita bersemu merah


" Kena angin apaan lo? Tiba - tiba pake hijab, oh jangan - jangan lo abis dapet wangsit ya? " Goda Aldo


" Wangsit? Apaan tuh? " Tanya Fita polos yang mampu membuat Aldo dan Hani tertawa gemas


" Udah nggak usah dipikirin, abangmu emang suka kaya gitu "


" Oh iya mah, hari ini Fita mau pergi ama om Rian "


" Mau kemana? "


" Kita mau ke... "


" Assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam, biar Fita yang buka mah "


Fita berlari ke pintu, terlihat Rian tengah berdiri diambang pintu dengan membawa buket mawar merah.


" Om " sapa Fita, ia meraih punggung tangan Rian dengan senyum merekah


" Silahkan masuk om "


Rian mengangguk, ia menyerahkan buket bunganya pada Fita yang langsung diterima dengan sennag hati.


" Makasih om "


" Eh pak Rian "


" Bu Hani " sapa Rian ramah, ia mengangguk dengan seulas senyum.


" Om " sapa Aldo yang baru saja datang dari dapur, ia meraih tangan Rian .


" Kalian mau ke Rafa? "


Rian dan Fita mengangguk serentak, Hani mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya tanda setuju. Fita meraih tangan Hani dan Aldo, mereka pergi kemakam Rafa sama seperti biasanya.


" Jadi gimana sama sekolah kamu Fit? " tanya Rian disela - sela kegiatannya mengemudi dibelakang stir


" Alhamdulillah om, lancar "


" Syukurlah kalau begitu "


" Oh iya, anak - anak panti nanyain om terus "


Rian menoleh, ia menatap wajah cantik Fita dengan seulas senyum sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan didepan mereka.


" Benarkah? "


Fita mengangguk.


" Mungkin om akan pergi besok, apa kau punya waktu? Kita bisa pergi kesana bersama? "


" Insya Allah, Fita punya waktu ko om "


" Kalau begitu, besok antar om membeli beberapa baju,buku dan sembako untuk mereka. Bagaimana? "


Fita mengangguk antusias. Rian dan Fita keluar, saat mobil yang mereka tumpangi berhenti ditempat pemakaman Rafa.


Sebelum memasuki area pemakaman, Rian dan Fita menyempatkan diri membeli buket bunga untuk diletakan diatas pusara Rafa.


" Ayo Fit "


Fita mengangguk, ia berjalan mendahului Rian sesuai dengan instruksi pria itu.


***


" Pak "


Seorang penjaga makam yang kebetulan berada didekat pusara Rafa mendekat, ia menatap Rian heran.


" Iya pak? "


" Hmm... Apa bapak tau siapa yang meletakkan buket bunga dipusara anak saya? "


Penjaga makam itu mengikuti arah telunjuk Rian.


" Oh itu, setiap hari memang ada sepasang suami istri dan anak perempuannya. Mereka datang dengan buket bunga dan berdoa disini selama 30 menit "


" Suami istri? "


Fita menoleh, ia menatap pusara Rafa yang penuh dengan buket bunga dan sebagian besar sudah kering. Fita mengusap batu nisan Rafa dengan mata berkaca - kaca.


" Hari ini mereka juga datang "


" Mereka sudah datang? "


Penjaga makam itu mengangguk.


" Mereka baru pergi, sekitar 10 menit lalu "


Rian mangut - mangut, penjaga makam itu pergi setelah Rian mengucapkan terima kasih.


" Sepertinya itu mereka "


Rian menoleh, ia tersenyum tipis lalu mengambil posisi berjongkok tepat disamping Fita.


" Tidak papa, lagi pula mereka adalah keluarga Rafa "


Fita berdecih, apa katanya? Keluarga? Keluarga mana yang tega menyakiti hati anaknya? Keluarga mana yang selalu menyia - nyiakan anaknya? Begitu pikir Fita saat ini.


" Om yakin, mereka menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukan pada Rafa "


Rian menepuk bahu Fita lembut, mereka mulai memanjatkan doa untuk almarhum Rafa. Setelah selesai, mereka bersiap pergi ketempat dimana Defa dan teman - teman yang lainnya sudah menunggu.


" Penyesalan memang datang diakhir, kita tidak akan tau seberapa berharganya sesuatu atau seseorang sampai kita benar - benar kehilangan mereka "


Fita mendongak, matanya menerawang langit yang begitu cerah dengan dihiasi beberapa awan putih.


" setidaknya sekarang lo bisa tenang disana Fa, nggak ada yang bisa nyakiti elo lagi. Dan semoga kita bisa bertemu secepatnya, aamiin "