
Neyla tengah duduk diantara Gusti dan Ratih, lebih tepatnya ia berusaha merayu kedua orang tuanya agar mau pergi ke restoran tempat Panji bekerja.
" Ayolah pih " Rintih Neyla sambil memeluk erat lengan Gusti
" Kemarin kita udah kesana kan? "
" Papih bener, kemarin kita udah kesana. Jadi lebih baik sekarang kita makan dirumah " Ratih menimpali
" Ih... Nggak mau, pokoknya kita harus makan disana! Kalo nggak... Kasih Ela uang buat makan disana, boleh ya? "
" Emang disana ada apaan sih? " Neyla tersenyum kuda, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Nggak ada apa - apa ko, cuma makanannya enak aja " Kilah Neyla asal, ia tidak mau keluarganya tau jika Panji bekerja disana dan alasan kenapa dirinya ingin sekali pergi adalah demi Panji
" Tapi mamih udah masak " Neyla mendengus kecewa
" Yah... Tapi Neyla pengin makan disana, kali ini aja. Boleh ya mih, pih " Ucap Neyla dengan wajah memelas tapi tidak mampu membuat Gusti dan Ratih bergeming
" Nggak. Mamih mau ke dapur dulu " Neyla mendengus kesal, lalu beranjak pergi menuju kamar tanpa sepatah katapun
" Kenapa tuh si Ela? " Tanya Gani yang baru saja keluar dari kamarnya
" Pengin makan direstoran yang kemarin, tapi mamih ama papih nggak ngijinin " Gani mengangguk paham
" Ilham mana pih? " Gani celingukan mencari sosok adik laki - lakinya yang sedari tadi tidak terlihat diantara mereka
" Lagi mandi ama bibi. Gimana hari pertama keja? "
" Cape pih, baru pertama kerja aja udah dikasih banyak tugas "
" Namanya juga kerja diperusahaan orang, abang yakin nggak mau kerja diperusahaan kita? " Gani menggeleng mantap
" Nggak pih, Gani pengin ngerasain gimana rasanya kerja diperusahaan orang. Jadi Gani udah punya persiapan buat ngembangin perusahaan kita " Gusti menepuk bahu Gani bangga dengan pemikiran putra sulungnya yang sudah mampu berpikir dewasa
" Nah gitu dong. Kalo gitu papih mau kekamar dulu, bentar lagi makan malem "
" Gani juga pih "
Neyla harus rela mengendap - endap, agar bisa keluar dari dalam kamar tanpa diketahui oleh keluarganya.
" Sumpah... Kalo bukan demi Panji, gue nggak bakal mau ngendap - endap kek gini. Udah kek maling dirumah sendiri! "
Setelah merasa situasi aman, Neyla bergegas keluar dari rumah dan pergi menuju restoran dengan taksi yang telah dipesan sebelumnya. Ia sampai direstoran setelah beberapa menit, dalam hati ia bersyukur karena hari ini restoran tidak terlalu ramai.
" Si Panji mana ya? " Neyla celingukan mencari sosok Panji, diantara deretan pelanggan restoran
" Ada yang bisa dibantu? " Neyla tergeragap lalu menoleh pada pelayan dibelakangnya
Kontan senyum diwajah Neyla langsung merekah, saat menyadari sosok Panji yang sudah berada didekatnya.
" Panji? "
" Lo mau pesen apa? "
" Gue... " Neyla membuka buku menu dengan perasaan berbunga, akhirnya ia bisa bertemu Panji
" Nasi katsu ama orange juice aja "
" Ok "
" Tunggu Nji! " Kontan Panji mengurungkan niatnya untuk pergi setelah mendengar kalimat Neyla
" Iya? "
" I... Itu, lo pake kemeja dari gue kan? " Tanya Neyla memastikan dengan pipi bersemu merah
" Hmm... Ada lagi? "
" Seriusan? Yeah... " Pekik Neyla membuat Panji terkejut, begitupun dengan pelanggan lain yang menatapnya geli
" Hmm... Maksud gue, udah itu aja "
" Kalo gitu gue... "
" Iya... Iya "
Panji mengangguk lalu melenggang pergi dengan seulas senyum geli,meninggalkan Neyla yang hanya bisa tersenyum bahagia. Neyla berusaha menyembunyikan rona merah pipi dan rasa bahagianya, diantara kedua tangannya yang tertangkup.
" Arghh... Panji make kemeja dari gue, sumpah demi apa? "
***
" Kita mau duduk dimana nih? " Tanya Defa malas, detik berikutnya matanya tertuju pada sosok gadis yang terlihat cantik dengan balutan dress soft pink dan rambut gergerai indah
" Itu Neyla kan? " Bisik Luki membuat Defa tergeragap tapi berusaha untuk bersikap normal
" Ho'oh "
" Mah kita duduk ama si Neyla aja, kebetulan dia sendirian tuh "
" Beneran? Mana? " Luki mengedikkan dagunya kearah meja Neyla
" Oh iya, kita gabung ama si Neyla aja pah " Dion mengangguk setuju
" Apa? Ta... Tapi kan... " Defa mendengus kesal lantaran keluarganya begitu antusias bertemu dengan Neyla, bahkan mereka tidak memperhatikan Defa yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya
" Neyla " Kontan si empunya nama menoleh
" Tante? Om? " Neyla bangkit lalu mencium punggung tangan Dion, Ayu dan Luki
" Sendirian aja? Mamih sama papihmu mana? " Neyla tersenyum kuda
" Mereka dirumah " Cicit Neyla membuat Defa menatapnya curiga
" Oh gitu. Kami boleh nggak gabung sama kamu? "
" Boleh tan, boleh banget malah "
" Makasih ya "
Mereka duduk bersama dan saling bercengkrama sama seperti dulu.
" Silahkan pesanannya "
" Eh... Kamu udah pesen La? " Neyla mengangguk lalu mengedarkan pandangannya pada Panji
" Kalo gitu kami pesan... Pah mau pesan apa? " Dion menatap lamat - lamat buku menu yang ada ditangannya
" Oh. Jadi alesan si Ela makan disini, demi ketemu ama si Panji. Pinter juga lo La " Batin Defa sambil tersenyum geli saat melihat ekspresi Neyla, yang tidak bisa berhenti menatap Panji dengan mulut terbuka sempurna
" Ish... Kenapa lo bisa keren kek gini sih Nji, lo tuh udah bikin gue susah move on tau! " Batin Neyla gemas
" Kalo gitu saya permisi "
Panji melenggang pergi dengan buku menu ditangannya, membuat Neyla hanya bisa mendengus pasrah karena pangerannya pergi kembali.
" Kenapa sekarang jarang main ke rumah? " Neyla tergeragap menapat pertanyaan dari Ayu yang begitu tiba - tiba
" Iya tan, lagi sibuk aja "
" Oh. Lain kali main ya, udah lama nggak main. Tante jadi kangen liat kalian bertiga main bareng lagi "
" Insya Allah Ela usahain tan "
" Itupun kalo si Defa, nggak ngusir gue dari rumahnya " Sambung Neyla dalam hati sambil menatap tajam ke arah Defa
" Kenapa si Ela natep gue tajem kek gitu sih? Nggak nyadar diri bat sih lo "
Setelah beberapa menit berbincang, akhirnya pesanan milik keluarga Defa datang. Tapi kali ini pesanan mereka tidak diantar oleh Panji, melainkan oleh pelayan lain.
" Lah si Panji mana? " Neyla celingukan mencari sosok Panji, berharap pria itu akan muncul didepan mereka
" Terima kasih. Ayo dimakan La "
" I... Iya tan "
Setelah makan malam selesai, keluarga Defa mengantar Neyla hingga kembali kerumah dengan selamat.
" Makasih ya om, tante karena udah nganterin Ela pulang "
" Sama - sama. Lain kali main ya ke rumah "
" Iya "
" Kalo gitu kami pergi, titip salam buat mamih sama papih kamu "
" Iya tan "
" Assalamuallaikum "
" waalaikumsallam "
Neyla masuk kedalam rumah setelah Defa dan keluarganya pergi, sesampainya didalam rumah Neyla langsung disambut tatapan tajam dari seluruh anggota keluarganya.
" Dari mana kamu? " Neyal menelan salivanya sendiri mendengar kalimat dingin Gusti
" Re... Restoran, ama keluarga Defa. Mereka juga titip salam buat mamih ama papih "
" Keluarganya Defa? "
" Iya. Kalo gitu Ela masuk dulu ya, udah ngantuk "
Neyla bergegas menuju kamarnya, guna menghindari semua pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh Gusti.
***
Defa berdeham, membuat semua orang menoleh dengan tatapan heran.
" Apaan? " Tanya Rafa tanpa mengeluarkan suara, Defa mengedikkan dagunya pada Panji yang terlihat tengah asik dengan buku ditangannya
" Kalo ada masalah bilang, nggak usah make bahasa isyarat gitu " Tukas Panji yang seolah paham dengan kelakuan teman - temannya
" Hehe... Tau aja lo " Ucap Rafa sambil menggusap tengkuknya yang terasa pegal
Panji meletakkan buku ditangannya, kemudian mengalihkan tatapannya pada Defa dan Rafa secara bergantian.
" Hmm... Masalah kemaren, lo ama Neyla masih... "
" Nggak " Potong Panji cepat
" Neyla? Masalah apa? " Tanya Fita yang baru saja datang bersama Arya dan Ibnu
" Eh elo Fit, kenapa baru dateng? "
Fita menarik salah satu sudut bibirnya seraya menggeleng pelan, lantaran dirinya belum sempat bicara tapi sudah didahului oleh Ibnu.
" Kita nggak lo tanyain gitu? "
" Ish... Gue nanya ke Fita karena dia calon bini gue! " Jelas Rafa dengan rasa percaya diri diatas rata - rata
" Emang si Fita mau ama elo? " Tanya Panji to the poin membuat senyum di wajah Rafa seketika menghilang
" Kalian jangan kek gitu ama peliaraan gue! "
Defa menepuk bahu Rafa pelan, membuat si empunya menoleh dengan tatapan curiga.
" Udah Fa... Kalo si Fita nggak mau, setidaknya elo masih punya Riska ama si Dewi kan? "
" Ish... Jiji gue "
" Tumben lo belajar? " Tanya Fita seraya mengeluarkan beberapa bungkus makanan ringan dan minuman dari dalam kantong plastik
" Bentar lagi ujian " Fita mengangguk dengan mulut terbuka sempurna
" Halah... So - soan belajar, paling juga dapet zonk. Wkwkwk "
" Enak aja lo! " Sarkas Panji tidak terima
" Eh Fa... Meskipun Panji kek gini, tapi jangan anggep remeh " Ibnu mengangguk setuju
" Si Panji itu juara kelas tau "
" Hah? Seriusan? " Pekik semua orang tidak percaya, Panji hanya mengedikkan bahu acuh sambil terus fokus pada buku dan minuman ditangannya
" Serius. Nggak belajar aja dapet peringkat satu, apa lagi kalo belajar kek gini coba "
" Karena itu kita mau berteman ama Panji, iya kan Ya? "
" Yoi! Hahaha " Arya dan Ibnu terkekeh kecil tanpa memperdulikan tatapan heran dari semua orang
" Maksud lo berdua apaan sih? " Tanya Aziz disambut anggukan dari beberapa temannya
Arya mendengus kesal sambil memutar bola matanya malas.
" Ish... Dasar lola! "
" Maksud si Arya, Panji itu udah kek kunci jawaban berjalan. Kalo ada pr, ujian, ulangan atau apapun itu... "
" Panji jadi tempat kita berlabu " Potong Arya mendramatisir
" Oh. Berarti dengan kata laen, kalian bertiga homo dong! " Gurau Dodit yang langsung dihadiahi buku tebal tepat dikepalanya
" Sakit bambang! " Gerutu Dodit seraya memegangi kepalanya
" Hahaha... Rasain lo, lagi aja Nji! "
" Lebih sakit juga hati kita, karena dengan teganya lo bilang kalo kita ini homo " Jelas Ibnu mendramatisir yang langsung disambut ciuman dari buku tebal milik Panji
" Sakit! " Pekik Ibnu disambut gelak tawa
" Lo juga bikin gue jiji! "
" Lo mau kemana? " Tanya Fita heran karena Panji tiba - tiba bangkit dan mulai mengemasi barangnya
" Hayo... Si Panji udah mulai ngambek noh "
" Palang merah... Palang merah " Panggil Rafa dengan tangan ditempelkan pada pipinya
" Siap! Ada apa bos? "
" Kasih pembalut ke neng Panji, keknya dia lagi bocor deh "
" Siap! Wiuw... Wiuw... Wiuw "
" Gue gampar juga lo berdua! "
" Ih sorry " Cicit Salman dan Rafa bersamaan
" Gue mau kerja dulu "
***
Disinilah Panji sekarang, tepat dibawah pohon besar yang ada disebuah taman dekat rumah Neyla. Ia sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Neyla, setelah berdebat sekian lama antara dirinya dan kedua sahabatnya.
" Sorry udah nunggu lama "
Panji membuka matanya, ia menatap.lamat - lamat wajah Neyla yang terlihat cantik dengan balutan dress navy.
" Lo udah dateng? To the poin aja, kenapa lo minta gue kesini. Terus kenapa si Arya ama Ibnu, bersikeras nyuruh gue supaya ketemu ama elo " Panji tergeragap tapi berusaha untuk tetap tenang, ketika Neyla menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya hanya dengan senyuman
" Gue... Gue pengin ngajak lo jalan, kali soal Arya ama Ibnu... " Panji menatap Neyla curiga, lantaran gadis itu seolah sengaja menggantung kalimatnya
" Lo nyuap mereka? "
" Hehe... Gue cuma janji bakal traktir mereka makan "
" Apa? Dimana lo ngajak mereka makan? "
" Tempat kalian nongkrong "
" Kantin bi Siska? " Neyla mengangguk dengan seulas senyum
Panji mendengus kesal, ternyata kedua sahabatnya masih sama. Mereka adalah dua mahluk yang mudah sekali disuap, hanya dengan makanan dan main diwarnet selama 3 jam full.
" Gue nggak bisa, gue harus kerja "
" Kalo gitu gue ikut. Kita ke restoran kan? Ayo! "
Panji menepis tangan Neyla membuat si empunya menoleh heran.
" Hari ini gue nggak kerja di restoran "
" Terus? "
" Bengkel "
" What? Lo punya berapa pekerjaan? " Panji hanya diam tak bergeming
" Kalo gitu gue tetep ikut, buru dimana bengkelnya? "
" Lo udah gila ya? "
" Ish... Gue cuma pengin sama elo, ayo buru. Entar elo telat! "
Panji mendengus kesal, tapi akhirnya ia setuju untuk membawa Neyla ke bengkel tempatnya bekerja sekarang. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai disebuah bengkel.
" Lo duduk aja disini, gue harus siap - siap "
" Ok bos! " Panji berdecih lalu melenggang pergi
" Pacar lo Nji? " Panji menoleh kearah Neyla dengan seulas senyum
" Bukan "
" Berarti boleh buat gue dong " Panji berdecih sambil menepuk pelan bahu rekan kerjanya
" Silahkan kalo dia mau "
" Ok deh, kita nggak bakal tau hasilnya kalo belum nyoba kan? "
" Ayo Bi lo pasti bisa "
Pria bernama Obi itu mengambil posisi tempat disamping Neyla.
" Hai gue Obi " Neyla tersenyum canggung tapi berusaha untuk tetap bersikap ramah
" Neyla "
" Kata si Panji lo bukan pacarnya, itu beneran? " Neyla mengalihkan pandangannya pada Panji, yang terlihat sibuk memperbaiki sebuah motor milik customer
" Iya " Jawab Neyla singkat
" Kalo gitu... Gue masih punya peluang dong? "
" Hah? Sorry... Tapi gue cuma suka ama si Panji, nggak pacaran bukan berarti nggak punya rasa kan? "
Obi tersenyum getir, ia memilih pergi meninggalkan Neyla yang kini tengah asik dengan ponselnya. 2 jam berlalu dan Neyla mulai merasakan pegal pada mata dan lehernya, karena terus menerus menatap layar ponsel.
" Nih " Neyla menerima sebotol air mineral yang disodorkan Panji dengan seulas senyum
" Thanks "
" Diminum terus kita pulang "
" Pulang? Lo udah selesai? " Panji menggeleng sambil berupaya untuk mendorong air, agar masuk ke kedalam kerongkongannya yang memang sudah terasa kering
" Gue anterin lo pulang, abis itu gue kesini lagi. Ayo! " Neyla mengekor dibelakang Panji
" Nji bentar " Panji menoleh pada Neyla yang tengah mengeluarkan beberapa lembar tisu basah dari dalam tasnya
Tubuh Panji seketika mengejang, saat Neyla menyapukan tisu ke wajah dan kedua tangannya dengan lembut.
" Tangan ama muka lo pada item tau, kalo udah bersih kek gini kan enak diliat "
" Tha... Thanks "
" Sama - sama, ayo! " Panji mengangguk lalu berjalan mengekor dibelakang Neyla yang terlihat antusias