
" Gue nggak sabar banget pengin liat siswa baru di SMA ini " Ucap Dewi dengan wajah berbinar.
" Iya, siapa tau aja ada yang sreg dihati gue "
" Sumpah kalo ada yang kek gitu bakalan gue putusin si Hendra " Salsa menimplai
Trriinngg
Bel masuk berbunyi, semua siswa bergegas masuk kedalam kelas. Beberapa guru yang berdiri didepan pagar juga bersiap masuk kedalam kelas untuk mengajarkan ilmunya.
" Pak tunggu! " Pekik Rafa
Salah seorang guru menoleh, ia menaikkan salah satu alisnya dengan wajahnya datar. Rafa begidik saat melihat ekspresi gurunya yang sama seperti ekspresi Wawan, ketika memergokinya mengambil makanan secara diam - diam.
" Anak baru? "
" Iya pak " Jawab Rafa sambil tersenyum lebar.
" Masih baru aja udah terlambat, apa lagi nanti "
" Yah maaf pak, tadi mobil papah saya mogok. Jadi saya harus lari kesini, kalo nggak percaya liat deh keringet saya pak " Rafa menunjukan dahinya, yang penuh dengan bulir - bulir keringat sambil tersenyum lebar
" Itu bukan alasan. Ikut dengan saya! " Rafa mengernyitkan dahinya heran
" Lah kemana pak "
" Ayo ikut! "
Rafa mengangguk, ia mengekor dibelakang guru barunya. Pria paruh baya itu membawanya kegudang, yang penuh dengan peralatan kebersihan.
" Ada apa ya pak? " Tanya Rafa sok polos
" Sekarang kamu ambil sapu dan pel. Kamu sapu koridor sampai bersih terus kamu pel, anggap saja ini hukuman karena terlambat dihari pertama! "
" Tapi pak... "
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, guru itu sudah melenggang pergi meninggalkan Rafa.
" Udah susah - susah bikin alesan, tapi ujung - ujungnya tetep aja dihukum " Gerutunya
Rafa mengambil sebuah sapu, ember dan alat pel. Ia mengisi ember dengan air kemudian membawanya, menyusuri koridor sekolah.
" Hust... Siapa tuh "
" Anak baru deh keknya "
" Sumpah ganteng banget! " Pekik Dewi sambil mengibaskan tangannya didepan wajah
" OMG itu punya gue "
" Aaahhh "
" Hei... Hei ada apa ini? " Tanya seorang guru, yang tengah menulis didepan dipapan tulis
Ia mengedarkan pandangannya mengikuti beberapa siswa dan mendapati seorang siswa baru, yang tengah dihukum membersihkan koridor sekolah dengan sapu dan alat pel.
" Kenapa kamu nggak masuk? " Rafa memasang wajah memelas
" Eh ibu, saya dihukum bu "
" Anak baru ya? " Rafa tersenyum lebar
" Ko ibu tau sih? "
" Bajumu masih putih "
Rafa menoleh pada seragam osis yang melekat dibadannya.
" Ah... Ibu bisa aja " Rafa tersipu
" Udah kamu lanjutkan hukumannya sekarang, terus masuk kekelas. Mengerti? "
Guru itu melangkahkan kakinya kembali kedalam kelas, melihat ekspresi beberapa kakak kelasnya membuat Rafa memiliki ide tersendiri. Rafa mengambil sapu dan mulai menyapu koridor yang kotor, sesekali ia meluruskan pinggangnya yang terasa nyeri. Hal itu justru memantik sorak dari kakak kelas yang didominasi wanita, Rafa tersenyum geli saat guru yang ada didalam kelas itu menatapnya tajam.
" Bu " Sapa Rafa dengan seulas senyum, membuat para siswa kembali bersorak heboh
" Kalian semua diam! Dan kamu cepat bersihkan! " Bentak guru itu
" Iya bu "
Rafa kembali menyapu koridor, sesekali ia menoleh pada kakak kelasnya dan mendapati beberapa dari mereka lebih fokus padanya dari pada pelajaran. Rafa kembali tersenyum jahil, ia menegakkan tubuhnya lalu mengusap peluh yang mengalir dari dahi layaknya adegan slow-motion.
" Ahh... Ganteng banget ***** "
" Pengin "
" Aduh godaan banget sumpah "
Teriak beberapa orang siswa, membuat Rafa tersenyum geli.
" Hai kamu! " Panggil guru wanita itu dengan wajah merah padam.
" Saya bu? " Tanya Rafa dengan wajah sok polos.
" Lebih baik kamu masuk ke kelas sekarang juga! "
" Yes! Berhasil juga! " Batinnya
" Tapi hukuman saya gimana bu? "
" Biar penjaga sekolah yang urus, sekarang kamu masuk! "
" Iya bu, makasih "
Rafa bergegas menuju kelasnya dengan senyum merekah.
***
" Gila lo ya, baru hari pertama aja udah telat " Rafa memutar bola matanya malas
" Dih suka - suka gue dong "
" Jadi gimana tuh ama hukuman lo? "
" Beres dong. Nih ya... Pas gue dihukum bersihin koridor depan kelas 11 IPS 3, gue sadar kalo mereka lebih merhatiin gue dari pada pelajaran " Jelas Rafa bangga
" Kepedeaan lo... Terus gimana? " Tanya Defa antusias
" Alah... Kepedean juga, lo minta nambah nih cerita "
" Udah ayo lanjutin " Defa menopang dagu, dengan kedua tangannya
" Nah saat itu, otak gue mendapat pencerahan dari Tuhan " Defa menyipitkan matanya
" Pencerahan? "
" Ho'oh. Gue kerjain aja tuh kakak kelas, gue senyum ke mereka, ngusap kening gue pake adegan slow-motion, terus nyapa tuh guru pake senyuman termanis gue "
" Terus gimana lagi? "
" Ya pada histeris lah... Secara gue ini kan Rafa " Ucap Rafa bangga
" Terserah lo aja dah. Terus gimana lagi "
" Gurunya auto marah ama gue, dia minta gue masuk kelas gegara kelas dia nggak mau diem, wkwkwk " Defa terkekeh kecil
" ***** pinter juga lo "
" Jelas dong "
" Eh tapi Ela mana ya? " Sambung Rafa, wajahnya menyusuri deretan kursi yang ada didalam kelas.
" Lah lo nggak tau? Ela kan beda kelas ama kita "
" Ah yang bener lo? "
" Gue berani sumpah... Ampe dicium Kim Kadarshian aja gue rela "
" Alah itu mah harapan lo " Ucap Rafa kesal sambil memukul pelan lengan Defa.
" Tau aja dah nih banci "
" Brisik lo curut. Jadi dia kelas berapa? "
" Siapa? " Tanya Defa polos membuat darah Rafa mendidih.
" Nggak udah so polos gitu *****, jiji gue liatnya " Defa mengerucutkan bibirnya
" Idih gue kan tanya bener - bener "
" Ya Ela lah " Sergah Rafa
" Oh... Dia IPA 4 tuh "
" Lah kenapa gue bisa masuk IPA 2, harusnya gue IPA 4 juga "
" Cuma Ela doang, disekolah ini juga banyak yang lebih cantik dari tuh bocah. Lo nggak inget pas lo masuk tadi pagi "
" Inget apa? "
" Siswa dikelas ini histeris liat lo "
" Ish... Maklum dah, secara mereka itu ketemu ama Rafa "
" Terserah lo dah, sebahagia lo aja " Rafa tersenyum geli
" Kayaknya muka lo bahagia karena terpaksa nih, lo sirik ya ama ketamfanan gue "
" Aigoo... "
" Cia elah, lo suka drakor? "
" Emang kenapa masalah buat lo? "
" ***** gue cuma nanya, kenapa lo ngegas? "
" Iya gue suka " Sarkas Defa
" Ish... Drama apa yang lo suka? "
Defa menyipitkan matanya saat mendengar pertanyaan dari Rafa.
" Apa urusan lo? Jangan - jangan... "
" Gue juga suka drakor anying "
" Seriusan? "
" Ho'oh "
" Ih... " Defa dan Rafa menggerakkan kedua jari - jari tangannya didepan dada, sambil tersenyum jahil.
" Tapi bohong " Potong Rafa cepat sambil mengalihkan pandangannya kedepan, Defa memicingkan matanya saat melihat ekspresi Rafa.
" Fa... Fa sini dah " Panggil Defa, sontak Rafa memicingkan matanya namun ia tetap menuruti perkataan Defa.
" ****** lo banci " Bisik Defa
" Biarin dari pada tampang kek curut, yang barusan kecebut digot "
" Enak aja lo, gue lebih ganteng dari curut ya! " Protes Defa
" Tetep aja, liat tuh rambut lo. Udah kek curut kecebur "
" Hai anak baru " Sapa seorang gadis yang baru saja datang bersama anggota gengnya.
" Siapa tuh? " Tanya Defa
" Mana gue tau, paling juga salah alamat "
" Hai gue Dewi, kakak kelas lo "
" Oh. Kantin yuk Def "
" Ya elah... Baru juga kenal, udah dicuekin " Gerutu Dewi
***
Neyla bergegas menuju perpustakan sekolah bersama Dian sahabatnya, mereka mendapat tugas pertama setelah satu bulan tahun ajaran baru. Saat tengah berlari Neyla tidak sengaja menyenggol bahu seorang pria, hingga dirinya hampir saja terjatuh.
" Eh La, lo nggak papa kan? " Tanya Dian khawatir
" Nggak papa ko, maaf ya ka " Ucap Neyla sambil menundukkan wajahnya.
" Santai aja "
Neyla mendongakkan kepalanya sambil tersenyum, untuk sepersekian detik keduanya saling melempar pandangan.
" La ayo! " Ucap Dian membuat Neyla tergeragap.
" I... Iya, kita permisi dulu ka. Sekali lagi maaf "
Neyla dan Dian kembali berlari menuju perpustakaan, diikuti sorot mata tajam Panji.
" Lumayan tuh Nji " Arya menyenggol lengan Panji, membuat si empunya menaikkan salah satu sudut bibirnya
" Iya "
" Target? "
" Target. Ayo! "
Panji dan Arya kembali ke kelas mereka, setelah Neyla dan Dian menghilang dibalik bangunan perpustakaan.
" Lama banget lo berdua " Gerutu Ibnu sahabat Panji
" Biasa... Lagi cari target baru "
" Gila... Tadi si Panji ditabrak ama cewek, cakep lagi " Mata Ibnu membelalak lebar
" Beneran tuh Nji? "
" Ho'oh "
" Wih target baru tuh "
" Yoi, gimanapun caranya gue bakalan dapet tuh siswa baru "
" Terus gimana tuh sama pacar lo? " Panji menyeringai tajam
" Ya tinggal dibuang aja, apa susahnya toh cewek kek gitu juga banyak "
" Btw... Katanya sekolah kita bakal ngadain lomba nyanyi, buat dikirim keperlombaan tingkat nasional. Lo ikut nggak Nji? "
" Harus lah, soalnya dari situ dia bakalan dapet fans baru. Ya nggak Nji? "
" Tumben otak lo encer "
" Iya dong, otak gue mah mendadak encer kalo masalah cewek "
" Emang kapan tuh lomba? "
" Kayaknya 3 bulan lagi "
" Yang bener lo? Kenapa nggak ada pengumuman? "
" Katanya sih, hari ini bakal diumumin "
" Bagus deh, makin cepet makin baik. Jadi secepetnya gue bisa dapat banyak fans "
" Tapi sebelum itu gua harus dapetin tuh cewek baru " Sambung Panji sambil menyeringai tajam.
Panji mengambil tas yang tergeletak dikolong meja, kakinya yang panjang melangkah menuju gedung belakang sekolah yang sepi. Kedua sahabatnya ikut mengekor sambil membawa tas mereka masing - masing, Ibnu dan Arya memanjat sebuah tembok belakang sekolah yang memiliki tinggi 3 meter. Setelah berhasil berada diatas tembok, mereka membantu Panji untuk naik.
" Ayo! " Ketiganya melompat keluar secara bersamaan dan mendarat tepat disebuah semak - semak.
" Jadi kita mau kemana nih? "
" Biasa. Basecamp "
" Lah terus motor lo gimana tuh? "
" Udah biarin aja, ntar pas pulang gue bakalan ambil tuh motor "
Panji dan kedua sahabatnya pergi kesebuah warnet yang berjarak 500 meter dari sekolah.
" Kalian main aja sepuasnya, gue traktir " Ucap Panji bangga
" Wih banyak duit nih "
" Masalah duit mah gampang "
" Mentang - mentang anak semata wayang "
" Iya, gampang banget dapet duit. Lah gue boro - boro "
" Nah makanya, lo bisa main sepuasnya. Selagi gue masih baik ama lo berdua "
" Asik, untung jam pulang sekolah masih lama "
" Bang 5 jam " Ucap Ibnu
" Wih banyak duit lo pada "
" Biasa... Panji traktir "
" Ok deh, btw sendiri - sendiri atau... "
" Sendiri lah "
" Ok, kalian tinggal masuk aja "
" Thanks ya bang "
" Yoi. Sering - sering aja kemari "
" Gue disini, lo berdua terserah " Ucap Panji disambut anggukan dari kedua sahabatnya.
***
" Nah berhubung lomba nyanyi itu diadain bulan depan, jadi kita punya waktu nih buat siap - siap. Jadi siapa dari kalian yang bisa nyanyi? " Tanya Defa selaku ketua kelas.
" Ayo yang bisa nyanyi sapa? " Tanya Arif
" Gimana kalo kita adain seleksi, semua siswa harus ikut tanpa terkecuali "
" Ok deh, kalo gitu enaknya kita adain kapan tuh? "
" Kalo sekarang... Bisa nggak? "
" Boleh deh "
" Fa? Lo bisa nggak? " Tanya Arif
Rafa melirik jam hitam yang melingkar dipergelangan tangannya, jam yang diberikan Neyla sebagai hadiah ultah tahun lalu itu masih terlihat bagus.
" Kira - kira si Ela udah pulang belom ya? " Batin Rafa
" Rafa! " Panggil Defa membuat Rafa tergeragap.
" I... Iya? Apaan? "
" Lo bisa nggak ikut seleksi sekarang? "
" Hmm... Ok deh, gue juga nggak sibuk - sibuk amat "
" Bagus dah, kita mulai sesuai absen ya "
" Terus yang bakalan nilai penampilan kita siapa? "
" Nanti pak Fahmi selaku wali kelas kita bakal ikut andil dalam hal ini " Jelas Arif
" Ok deh "
" Gimana semua udah siap? " Tanya Fahmi yang baru saja datang dari kantor.
" Udah pak, kita bisa mulai sekarang? " Fahmi mengangguk
" Ok deh, nanti yang mau nyanyi maju kedepan ya "
" Siap pak "
Semua siswa mulai bernyanyi sesuai dengan nomor absen mereka, hingga tiba giliran Rafa.
" Setau saya, suara Rafa itu bagus pak " Bisik Defa, disambut sebuah anggukan dari Fahmi
" Ngomong apa tuh curut ama pak Fahmi? Awas aja kalo ngomong yang macem - macem, gue bacok juga tuh orang lama - lama " Batin Rafa sambil menyipitkan matanya kearah Defa
" Semoga saja. Jadi kita bisa langsung milih dia, tanpa melanjutkan cara ini "
" Tapi masalahnya dia itu keras kepala pak, susah buat dibujuk "
" Nanti biar bapak turun tangan "
" Baik pak "
" Nah sekarang coba kamu nyanyi sesuatu " Ucap Fahmi kemudian
" Maaf nih pak, tapi saya nggak bisa nyanyi " Tolak Rafa
"Nggak papa, kita liat dulu. Kalo emang nggak bagus kamu boleh pergi, tapi kamu harus serius karena acara ini sangat penting. Mengerti? "
Rafa mendengus kesal, pasti Defa sudah mengatakan sesuatu tentang dirinya. Apa lagi ia bisa melihat senyuman diwajah sahabatnya itu, sebuah senyuman jahil tepatnya.
" Lagu apa ya pak? " Tanya Rafa so polos.
" Terserah kamu aja " Rafa menatap kecewa
" Oh... Tapi nggak ada yang ketawa, ok? " Rafa mengingatkan disambut anggukan semua siswa.
Rafa menarik nafas dalam - dalam sambil menutup matanya, ia menggenggam erat sebuah spidol yang sebelumnya diberikan oleh Arif.
It started with a kiss
Semua orang terpaku saat mendengar bait pertama yang dilantunkan oleh Rafa.
On your moma's couch
2012 was nothing serious
And then we caught the feels
It got really real
Too good to be true
I guess i thought you was yeah
Why did i run away, run away, run away
Oh, your love was everything, everything, everything
I know it's gettin late, gettin late, gettin late
But can i still be on my way, on my way? Yeah
Rafa menghentikan nyanyiannya, lalu membuka kedua mata cokelatnya. Setelah hening beberapa detik akhinya ia bisa mendengar riuh tepuk tangan dari seluruh siswa.
" Bagus Rafa, bagaiman jika kau menjadi perwakilan kelas? "
" Apa? " Pekik Rafa
" Iya, suara kamu bagus. Tinggal latihan dikit aja " Rafa mengangguk lemah
" I... Iya pak "