Rafa

Rafa
Fita



" Bisa aja lo! " Aziz menepuk punggung Dodit


" Kalian udah dateng? " Tanya Aldo


" Iya coach, baru aja nyampe "


" Bentar lagi Panji selesai ko, kalian nggak papa kan nunggu bentar? "


" Nggak papa ko coach "


" Bang gue berangkat sekarang ya " Pamit Fita


Kontan mata semua orang membelalak lebar melihat penampilan baru Fita. Gadis itu terlihat cantik dengan balutan dress soft pink dan flat shoes hitam, apa lagi rambut panjangnya dibiarkan tergerai.


" Fita... Lo... " Ucap Defa terbata


" Cantik " Sambung Dodit


Fita berdecih lalu mencium punggung tangan Aldo.


" Lo udah pesen taksi kan? " Fita mengangguk


" Terus ongkos taksi, ama yang laennya? "


" Udah ada ko " Fita mengusap tas hitam kecil, yang menggantung dibahu indahnya


" Ok, deh kalo gitu "


" Sayang, lo mau kemana? " Fita mengacungkan jari tengahnya


" Nih sayang! Gue duluan ya, assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam "


" Dia Fita kan? " Mata Aziz membelalak lebar


" Ade gue cantik kan "


" Banget bang " Ucap Rafa dengan mata berbinar


" Coach kita udah selesai " Kontan semua orang menoleh pada Panji dan teman - temannya yang baru saja keluar


" Iya "


" Kita duluan " Panji melenggang pergi disusul kedua sahabatnya


" Ayo, sekarang giliran kalian "


" Kita tunda dulu coach " Semua orang menatap Defa heran


" Kenapa? "


" Sebenernya Fita mau kemana? Terus kenapa si Fita beda banget, ama Fita yang biasanya " Semua orang mengangguk setuju


Aldo menghembuskan nafas berat, lalu mempersilahkan mereka semua duduk sementara ia menyiapkan seluruh keberaniannya.


" Semuanya terjadi 10 tahun lalu, dulu mamah dan papah Fita nggak sengaja ditabrak mobil pas nyebrang jalan. Papah langsung meninggal ditempat, sedangkan mamah koma selama 10 tahun ini "


Semua orang terkejut dan secara refleks menutup mulut mereka yang terbuka lebar.


" Terus gimana ama orang yang nabrak "


" Orang itu nggak papa, tapi dia harus dipenjara. Gue dan Fita menyaksikan semua kejadian kejadian itu, Fita syok sekaligus depresi apa lagi dia baru berusia 7 tahun. Waktu itu gue harus banting tulang buat bayar biaya rumah sakit mamah, sekolah Fita, biaya Fita ke psikiater, ama biaya kehidupan kita " Aldo menarik nafas sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya


" Gue jarang ada buat Fita, karena itu dia tumbuh sebagai anak nakal. Tapi itu bukan kesalahannya, dia cuma nggak tau harus berbuat apa. Jadi si Fita suka melampiaskan amarahnya ama orang lain "


" Jadi itu alasan Fita berubah jadi cewek tomboy? " Aldo mengangguk lemah


" Tapi dia bakal berubah 180° saat ulang tahun mamah, dia bakal berubah jadi cewek feminim. Dengan harapan saat mamah siuman nanti, mamah bakal seneng ama penampilan Fita "


" Btw... Gue mau ngucapin terima kasih ke elo semua " Aldo tersenyum hangat


" Buat apa coach? " Rafa, Defa, Aziz, Salman dan Dodit saling melempar tatapan heran


" Fita berubah berkat lo semua, selama ini dia nggak punya temen. Tapi lo semua mau berteman ama dia, dulu dia sering bolos sekolah, tawuran, mukul orang bahkan ditasnya selalu stand by alat - alat kekerasan. Tapi berkat lo semua, perlahan dia berubah. Di udah bisa ketawa dan sedikit terbuka ama gue "


" Kita nggak nglakuin apa - apa ko coach "


" Kalian udah ngerubah Fita gue, thanks ya "


" Gue nggak tau kalo beban idup lo berat Fit " Batin Defa


" Coba aja lo mau terbuka ama kita " Batin Rafa


" Semoga kita semua bisa ngelindungi lo Fit " Batin Dodit dan lainnya.


***


" Lo udah selesai latihan? " Panji mengangguk pelan


" Mulai besok, gue nggak bisa sering ketemu ama lo " Neyla tersenyum simpul


" Gue paham ko, lagian lo juga harus fokus ama lomba ini kan " Panji menarik salah satu sudut bibirnya


" Bagus deh kalo lo paham, keliatannya lo udah akrab lagi, ama dua temen lo itu "


" Ah nggak ko... Maksud gue cuma Rafa, kalo si Defa masih nggak mau bareng gue lagi "


" Kenapa? " Neyla mengedikkan bahu acuh


" Gue juga nggak tau, btw... Lomba itu diadain berapa hari? "


" Taun sebelumnya cuma 2 minggu, kalo taun ini gue nggak tau. Bisa lebih dari 2 minggu " Neyla tersenyum miris


" Lama juga ya "


" Soalnya mau dikirim ke tingkat nasional, lagian kalo buat pemenang. Abis lomba juga harus latian lagi, mungkin 1 bulan baru deh bisa dikirim ke tingkat nasional " Neyla mengangguk paham


" Semoga lo menang ya "


" Hmm... Terus gimana tuh ama temen - temen lo? Lo nggak mau doain mereka? " Neyla berdecih


" Defa ama Rafa? Mereka udah punya tuh cewek, terus buat apa gue doain mereka "


" Mereka sahabat lo kan? Biasanya kalo sahabat bakal doain sahabatnya " Pancing Panji


Neyla terdiam, ia tersenyum miris sebelum akhirnya mengangguk.


" Iya lo bener. Kalo gitu gue bakal doa, semoga yang terbaik yang menang "


" Dan itu gue " Neyla terkekeh


" Terserah lo aja "


Panji menghentikan motornya secara mendadak, saat seorang pria menghadang mereka tepat dirumah Neyla.


" Cepet turun! " Neyla memutar bola matanya malas


Neyla turun, lalu menghampiri Gani yang tengah berkacak pinggang.


" Apaan sih lo! " Sergah Neyla


" Lepas! " Gani melepas helmet yang dikenakan Neyla, lalu menyerahkannya pada Panji


" Udah lebih baik lo pergi sekarang! " Panji tersenyum sinis, ia memacu motornya pergi


" Panji " Gani menarik lengan Neyla, membuat si empunya merintih kesakitan


" Lo masuk sekarang! "


" Apaan sih lo! " Neyla menepis tangan Gani


" Lo tuh ya, susah banget diomong sih. Lo itu cewek, pergi dari pagi dan baru pulang sekarang. Mikir nggak sih lo! "


" Masalah buat lo! "


" Neyla! " Kontan si empunya nama terdiam saat mendnegar suara berat Gusti


" Kalo abang lagi ngomong itu didenger! Paham? " Neyla mengangguk lemah


" Abang kamu ngomong kek gitu, juga demi kebaikan kamu sendiri. Mulai besok papih nggak mau liat kamu jalan sama cowok itu lagi! "


" Tapi pih... " Gusti menatap tajam kearah Neyla, membuat gadis itu menelan salivanya sendiri


" Paham?! " Neyla mengangguk lemas


" Paham pih "


Ratih menghampiri Neyla yang tengah terisak, sesaat setelah Gusti dan Gani pergi.


" Udah... Apa yang papih dan abang kamu omongin itu bener. Jalan boleh, tapi inget waktu " Neyla mengangguk lalu pergi menuju kamarnya


Ddrrttt


Panji mengernyitkan dahinya saat menerima telepon dari Ibnu.


" Hmm... Apaan? "


" Lo udah tau kalo ketua Osis juga jadi dewan juri? " Panji mengernyitkan dahi


" Maksud lo si Arsya? "


" Ho'oh, kabarnya nilai yang dikasih ama tuh cewe. Nilainya sama kaya dewan juri laennya "


" Terus kita harus ngapain Nji? " Arya menimpali


" Gue juga nggak tau " Panji menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Sebenernya gue punya satu rencana, tapi gue ragu lo berdua bakalan setuju. Lagian gue rasa kalo kita pake rencana ini, kita bisa dapet 4  mangsa sekaligus " Panji menyeringai tajam mendengar penuturan Ibnu


" Apa rencana lo? "


***


Rafa mengambil nomor panggung untuk kelasnya.


" Berapa Fa? "


" 15 " Fahmi tersenyum


" Masih ada waktu, kalian bisa menghafal lirik - lirik yang sekiranya masih sulit " Semua mengangguk


" Pak "


" Iya Def? "


" Dibabak pertama ini langsung ada penyisihan ya? " Fahmi mengangguk


" Iya... Dan dibabak pertama ini kalian bisa menyanyikan lagu apapun, intinya bebas. Babak selanjutnya kalian akan diminta mengambil gulungan tantangan "


" Kalo gitu, lo semua bisa rencanain dulu lagu apa yang mau dibawa kali ini " Semua orang terlihat tengah berpikir


" Tapi saran gue... Mending lo maen aman dulu deh, maksudnya lo semua maen lagu yang gampang terus soft gitu. Terus pas gulungan tantangan, bom... Kalian bawain tuh lagu yang lebih energik, jadi penonton juga dibikin kagum " Mata Fahmi berbinar mendengar penuturan Fita


" Bapak setuju dengan Fita, kita harus buat kejutan nanti dan untuk awalnya kalian main lagu yang aman - aman dulu aja " Rafa mengacungkan kedua ibu jarinya


" Ish... Nyonya Rafa emang terdebest dah, nggak salah gue pilih lo " Fita berdecak kesal saat Rafa mengacak - acak rambutnya


" Rafa " Kontan si empunya nama langsung terdiam


" Kalau begitu bapak permisi dulu, kalian bisa latihan sendiri kan? " Sambung Fahmi disambut anggukan anak didiknya


" Jadi kita harus bawain lagu apa? " Defa mendekatkan wajahnya


" Gimana kalo lagu kenanglah aku, dulu kan lo nyanyi lagu itu Fa " Rafa mengernyitkan dahi


" Hah? Kapan dah? Gue nggak inget? " Salman berdecak kesal


" Susah ya kalo ngomong ama banci perempatan " Semua orang tertawa mendengar celotehan Aziz


" Enak aja lo! " Sergah Rafa


" Ya udah, gue kesana dulu ya " Rafa menarik lengan Fita sesaat sebelum gadis itu pergi


" Lo nggak mau semangatin gue dulu " Fita berdecih


" Emang lo siapa gue " Dodit terkekeh


" Hahaha... Salut bat gue Fit "


" Berisik lo buntal! " Sarkas Rafa


" Udah lah... Gue mau kedepan, inget ya Fa lo nggak boleh main - main. Karena ini mempertaruhkan harga diri kelas IPA 2! " Rafa mengerucutkan bibirnya


" Iya... Iya, gue paham sayang " Fita mengacungkan jari tengahnya


" Ok gue pergi dulu, dah "


Setelah menunggu beberapa menit, kini tiba giliran Rafa untuk tampil.


" Baiklah, kita sambut. Ini dia, 10 IPA 2... "


" Woa... My honey! "


" Go Rafa! " Fita tersenyum miris


" Ternyata bener, semua cewek disekolah ini udah gila gegara Rafa " Batin Fita


Rafa dan Salman memulainya dengan alunan lembut suara gitar, diiringi dengan suara biola milik Dodit.


Karamnya cinta ini...


" Whoa... Keren! "


" Rafa! "


" Ish... Baru mulai aja udah pada histeris, tapi gue nggak boleh kalah sama bocah yang cuma jual tampang doang! " Batin Panji sambil menyeringai tajam


Tenggelamkanku diduka yang terdalam


Hampa hati terasa


Kau tinggalkanku meski ku tak rela


Salahkah diriku hingga saat ini


Ku masih mengharap kau tuk kembali


Mungkin suatu saat nanti


Kau temukan bahagia meski tak bersamaku


Bila nanti kau tak kembali


Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Fita terdiam seiring alunan musik yang dimainkan, ia menatap Rafa lamat - lamat. Tanpa disadari ia tersenyum simpul, melihat wajah tampan pria yang menyebut dirinya sebagai kekasih Fita.


Rafa tersenyum yang memantik rona merah diwajah Fita.


Deg


Seketika senyum diwajah Fita menghilang, saat ia menyadari bahwa senyum dan tatapan Rafa hanya tertuju pada Neyla yang ada tepat disampingnya.


" Rafa senyum buat Neyla? "


***


" Sekarang kita berlanjut pada kontestan nomor 16. Kita sambut kelas 11 IPS 1 "


Semua siswa bertepuk tangan, saat Panji dan teman - temannya naik keatas panggung.


" Panji gue dukung lo "


Panji memulai aksinya dengan alunan gitar, lalu memberi jeda beberapa detik membuat jantung para penonton berdetak kencang.


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Neyla tersenyum simpul mendengar lagu yang dibawakan oleh Panji.


Hati tenang mendengar suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Fita pergi menghampiri Rafa dan teman - temannya yang ada dibelakang panggung.


" Gila kalian keren banget " Rafa tersenyum


" Thanks, btw... Gue bawain lagu itu buat lo " Seketika senyum diwajah Fita menghilang


" Lo bohong Fa... Dan gue tau itu! "


Defa mengalihkan pandangannya pada Fita, yang tengah berdiri bersama Rafa.


" Andai lo tau Fit "


Hari - hari berganti


Kini cintapun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu, anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini slalu untukmu


Terimalah lagu ini dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu...


" Ish... Jangan pacaran mulu! " Gerutu Defa yang langsung dihadiahi pukulan dari Rafa


" Syirik aje lo " Dodit berdecak kesal


" Bener kata Defa, lo berdua udah kek kentut ama taek! " Fita mencubit lengan Dodit, membuat si empunya meringis kesakitan


" Kampret emang lo! Nggak ada perumpamaan laen apa! " Aziz tersenyum jahil


" Berarti lo udah nerima babang Rapa, secara lahir batin dong? "


" Pasti dong... Apa lagi ama ketamfanan gue, iya kan Fit? " Fita berdecih


" Ngomong nih ama upil! " Fita melenggang pergi


" Fit minta! " Rafa berlari menghampiri Fita


" Fit! " Rafa meraih yangan Fita membuat si empunya menoleh


" Apaan? "


" Gue cuma mau bilang, ntar... "


" Rafa! " Kontan keduanya menoleh


" Ne... Neyla? "


Neyla tersenyum, ia mengalihkan tatapannya pada tangan Rafa yang tengah menggenggam tangan Fita.


" Ada apa La? "


" Hmm... " Rafa melepaskan tangan Fita, saat Neyla memperhatikan dirinya yang tengah menggenggam tangan Fita.


" Nah, kek gini kan lebih baik " Batin Neyla sambil tersenyum puas


" Jadi ada apa la? "


" Gue cuma mau bilang, selamet ya. Penampilan lo bagus banget, gue dan siswa laen juga suka " Rafa tersenyum bangga


" Ish... Mesti dong "


" Btw, lo pulang ama siapa? "


" Hmm... Gue... "


" Ama gue aja " Potong Neyla antusias


" Ama elo? Terus gimana ama si Panji? "


" Itu urusan gampang, gimana lo mau kan? Kita jalan - jalan ke mall lagi, terus maen ke rumah gue. Bang Gani juga sering nanya soal elo " Mata Rafa berbinar


" Beneran bang Gani sering nanya soal gue? " Neyla mengerucutkan bibirnya


" Kapan sih gue bohong? " Rafa mengacak - acak rambut Neyla gemas


Fita yang sedari tadi berdiri dibelakang Rafa, hanya bisa tersenyum miris. Ia mundur beberapa langkah sebelum akhirnya benar - benar pergi, meninggalkan Rafa dan Neyla yang tengah tertawa bahagia.


" Fit! " Kontan si empunya nama menoleh


" Eh elo Def, ada apa? "


" Si Rafa mana? " Defa celingukan mencari sosok Rafa


" Ama temennya " Defa memicingkan mata heran


" Temen? "


" Ho'oh, kelas 10 IPA 4 itu. Siapa ya namanya... " Fita sengaja menggantung kalimatnya


" Neyla "


" Ah iya, dia lagi ama cewek itu " Defa menatap lamat - lamat wajah Fita


" Terus lo ngapain disini? "


" Maksudnya? "


" Lo nggak ikut gabung ama mereka? " Fita menggeleng dengan seulas senyum


" Gue nggak akrab ama tuh cewek, jadi kesannya gimana gitu " Defa tersenyum simpul