
Setahun sudah semenjak Fita menghilang, sejak itu pula hubungan antara Rafa, Defa dan Neyla menjadi renggang. Rafa dan Defa menyalahkan kepergian Fita karena Neyla, begitupun sebaliknya.
" La... " Panggil Dian tepat ditelinga si empunya nama
" Hmm... Apaan? "
" Hari ini ada pertandingan basket disekolah kita, lo nggak mau keluar gitu " Neyla memicingkan matanya heran, detik berikutnya ia mengangguk paham
" Rafa kan? Atau Panji? Mungkin juga Defa? " Tebak Neyla yang selalu tepat sasaran
" Nah tuh lo tau, ayo kita kesana. Lagian disini juga sepi, semua orang pada ngumpul didepan kelas buat nonton pertandingan basket ama voly disekolah ini. Jarang - jarang tau sekolah kita jadi tuan rumah buat... "
" Ayo! " Potong Neyla cepat lalu melenggang pergi
" Ish... Tunggu! " Pekik Dian yang berusaha mengimbangi langkah kaki Neyla
Saat berada didekat lapangan, Dian menarik tangan Neyla hingga gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas bangku yang keras.
" Sakit bambang! " Dian tersenyum kuda melihat kemarahan Neyla
" Sorry, gue nggak sengaja. Kita duduk disini aja, mumpung masih kosong! " Neyla mengedikkan bahunya acuh, lalu mengedarkan pandangannya kedepan
Tepat didepan mereka sedang dilangsungkan pertandingan basket pria, antara SMA Dwi Bakti dengan SMK Karyatama.
" Eh La... Liat tuh Panji, Defa ama Rafa keren bat yah maen bola basket " Puji Dian dengan mata berbinar
Neyla hanya tersenyum tipis, memang ketiganya terlihat tampan dan keren apa lagi saat mereka mendribel bola dengan keringat yang tak berhenti menetes. Hal itu seolah menjadi daya tarik untuk seluruh kaum perempuan di SMA Dwi Bakti, ataupun tamu undangan yang hadir.
" Sumpah keren bat... Lo nggak mau kesana, terus ngasi air or haduk buat ngelap keringet mereka gitu? " Senyum diwajah Neyla seketika mengembang mendengar inisiatif yang diberikan Dian
" Ide bagus, kebetulan bentar lagi kelar. Kita kesana sekarang, ayo! "
Dian mengangguk dengan senyum merekah, ia berjalan mengekor dibelakang Neyla tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya.
" Rafa " Kontan si empunya nama meendengus kesal lalu menoleh dengan malas, pada dua orang gadis yang berdiri dibelakangnya
" Apaan? "
" Ish... Lo ko cuek bat sih, gue kesini cuma mau kasih air buat kalian " Rafa berdecih
" Nggak usah, makasih... Gue kek gini juga karena lo berdua, jadi nggak usah banyak omong. Ngerti? " Sarkas Rafa lalu melenggang pergi menuju kantin bersama yang lainnya
Wajah Neyla merah padam mendengar penuturan Rafa, ia bahkan melempar air mineral yang ada ditangannya lalu melenggang pergi dengan disaksikan tatapan geli oleh beberapa siswa.
" Nggak punya malu bat sih tuh bocah, udah buat salah masih aja deketin Rafa and geng " Ucap Dewi saat melihat Neyla pergi dengan membawa amarahnya
" Lo bener bat Dew, gue heran deh. Jangan... Jangan urat malu dua bocah itu, udah putus kali ya " Salsa menimpali disambut gelak tawa Dewi dan beberapa siswa yang ada didekat mereka
" Bukannya udah putus... Tapi emang nggak punya urat malu "
" Gue setuju bat sama elo Dew, hahaha "
" Btw SMA Ambarawa belom dateng ya? " Salsa menoleh sambil mengedikkan bahunya, pada Dewi yang berdiri tepat disampingnya
" Paling juga bentar lagi, emang kenapa? "
" Ya nggak... Gue penasaran aja ama tim bola basket SMA itu, katanya tim ceweknya hebat " Salsa mengangguk paham dengan mulut terbuka sempurna
" Oh kek gitu "
***
" Udah setahun... Dan akhirnya gue kembali kesini, tapi dengan status yang beda. Ironis emang! "
Priit...
Peluit berbunyi pertanda jika pertandingan bola basket putri, antara SMA Ambarawa dan SMK Karya Kita dimulai.
Salsa menyikut lengan Dewi, membuat si empunya menatap tajam kearah Salsa.
" Apaan sih? " Sarkas Dewi penuh emosi
" Itu bukannya... "
" Fita? " Pekik Dewi
" Ney... Itu Fita Ney! " Pekik Dian membuat mata Neyla membelalak lebar
" Fi... Fita " Gumam Neyla dengan suara bergetar
" Itu tim SMA Ambarawa ya? " Tanya Dodit membuat teman - temannya kontan menoleh kearah lapangan
" Fita? " Pekik Rafa dan Panji bersamaan
" Mana? " Ibnu memutar kepala Defa hingga menghadap lapangan basket, dimana Fita dan teman - temannya tengah bermain basket
" Ih sumpah... Itu beneran Fita! "
" Eh itu bebeb Rafa " Pekik Riska, ia dan Fitri pergi menghampiri Rafa and geng yang tengah menatap jauh kedepan
" Kalian ngliatin apaan sih? "
" Ris... Itu Fita! " Pekik Fitri membuat mata Riska membelalak lebar
" Fita " Gumam Riska tidak percaya
Mereka semua terpaku pada seorang gadis yang tengah mendribel bola, bukan pada permainan yang dimainkannya. Gadis itu adalah Fita, gadis yang sudah mereka cari setahun lamanya dan akhirnya mereka bertemu lagi ditempat yang tidak terduga.
Priitt
Peluit istirahat berbunyi, Fita dan teman - temanya pergi ke pinggir lapangan dengan keringat yang terus mengalir.
" Fita " Kontan si empunya nama menoleh, detik berikutnya ia sudah berada dalam pelukan Rafa dan lainnya
Fita terpaku, saat tubuhnya tiba - tiba direngkuh oleh delapam orang sekaligus. Pipinya memerah saat para siswa dan teman - temannya menyaksikan kejadian yang tengah terjadi, tapi hal itu tidak menghalangi senyum diwajahnya untuk merekah.
" Fita lo kemana aja? " Tanya Rafa sambil melepaskan pelukan mereka
" Apa kabar Fit? "
" Ish... Lo itu ya, kalo pergi kasih kabar dulu kek "
" Kita semua kangen sama elo Fit " Fita tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya
" Lebih baik kita duduk dulu, ok? " Semuanya mengangguk
" Fita kenal ama mereka? "
" Mana gue tau " Bisik beberapa siswa dari SMA Ambarawa
" Gimana kabar lo " Fita tersenyum
" Gue baik ko, lo semua gimana? "
" Seperti yang lo liat "
" Kita semua udah nyari elo, selama setahun ini " Panji menimpali membuat mata Fita membelalak lebar
" Seriusan? " Semuanya mengangguk serentak membuat Fita terkejut dan tidak bisa berkata - kata
" Tapi setidaknya kepergian gue ada dampak positifnya, iya kan? "
" Maksud lo? "
" Iya... Lo semua jadi akrab, padahal dulu lo musuhan " Fita menunjuk pada Rafa dan Panji sambil tersenyum geli
" Btw, lo kemana aja sih? "
" Gue... "
" Fita pertadingannya mau dimulai " Fita mengangguk
" Kita sambung nanti ya "
" Kita pasti dukung lo "
" Thanks "
Fita bergabung ketengah lapangan dengan seluruh anggota timnya.
" Mereka siapa? " Fita tersenyum
" Sahabat gue "
Priitt
" Go Fita... Go Fita go! "
" Fit kita dukung lo! "
Fita terkekeh kecil melihat Rafa and geng menari, dengan pompom warna warni ditangan mereka. Hal berbeda dilakukan oleh Panji and geng, yang lebih memilih untuk memukulkan dua botol air mineral kosong sebagai alat musik.
" Udah setahun gue tinggal, tapi masih gesrek aja "
" Ish... Mereka apaan sih, ada juga dukung sekolah sendiri bukannya sekolah laen " Salsa memgangguk setuju
" Lo bener bat Dew, gue heran deh apa sih kelebihan si Fita "
" Gue benci bat sama cewek kecentilan itu! " Gumam Neyla dengan tangan mengepal kuat
" Lagi - lagi gue dicampakin " Gumam Riska kecewa
" Sabar Ris " Riska menepis tangan Fitri lalu melenggang pergi
***
Seminggu berlalu dan kini tiba waktunya untuk acara final bola basket. Tim bola basket putri SMA Ambarawa akan melawan tim putri dari SMA Dwi Bakti.
" Cie yang bakalan nglawan tim dari mantan SMA " Fita terkekeh kecil sambil mengikat rambut panjangnya
" Iya deh, terserah lo aja "
" Semoga kita bisa dapet juara satu, jadi kita bisa ngimbangi tim putra yang dapet juara tiga. Iya kan? "
" Yap... Lo bener "
" Fit " Kontan si empunya nama menoleh pada Panji yang tengah berjalan kearahnya
" Panji "
" Gue duluan ya " Fita mengangguk
" Fita "
" Apaan? "
" Gue cuma mau bilang, semoga lo menang " Fita tersenyum seraya memicingkan matanya heran
" Lo nggak dukung SMA lo sendiri? " Panji menggeleng mantap
" Gue dukung lo aja "
" Yang laen mana? " Fita mengedarkan pandangannya ke segala arah
" Lagi persiapan... Oh iya, gue boleh maen ke rumah lo nggak? "
" Maen? Boleh, ama siapa aja? "
" Cuma gue, ada sesuatu yang pengin gue omongin ama lo dan bang Aldo " Fita tersenyum jahil
" Lo mau nglamar gue? " Pipi Panji bersemu merah dan berupaya untuk menghindari tatapan geli Fita
" A... Apaan sih lo, kita masih kecil nggak usah ngomong kek gituan " Fita terkekeh seraya memukul lengan Panji
" Sakit bambang! " Batin Panji sambil mengusap lengannya yang terasa sedikit berdenyut
" Gue juga bercanda ko, kalo mau lo tinggal maen aja "
" Emang dimana alamat lo? "
" Perumahan Rembulan jalan Kebangsaan "
" Wait... Berarti rumah lo deket dong ama rumah gue "
" Hah yang bener? Nomor rumah lo berapa? "
" 45, lo sendiri? "
" Gue 39 "
" Berarti kita deket dong "
" Gue nggak nyangka banget, gue udah disana hampir setahun ini. Tapi nggak pernah liat elo tuh? " Panji menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Iya... Gue jarang dirumah, lebih sering di apartemen "
" Oh gitu "
" Jadi gimana? Gue boleh kan maen ke rumah lo? " Fita mengangguk mantap
" Boleh aja, tapi lo bawa jajan sendiri ya " Keduanya terkekeh kecil
" Nggak gue bercanda ko "
" Ih nggak papa, lo pengin gue bawaain apa? "
" Nggak usah, gue bercanda. Jangan dianggep serius napa "
" Lo yakin nggak mau gue bawain sesuatu gitu "
" Hmm... Kao boleh, martabak red velvet rasa cokelat keju " Panji tersenyum geli melihat wajah Fita yang berbinar
" Berapa? "
" Satu aja cukup "
" Ada lagi? "
" Ih nggak usah, lagian harusnya kan gue yang kasih makanan ke elo "
" Nggak papa, kalo gitu besok gue maen ya " Fita mengangguk dengan senyum merekah
" Gue tunggu... Kalo gitu gue pergi dulu ya, lombanya bentar lagi mau dimulai "
" Iya, good luck ya "
" Thanks "
Fita berlari ketengah lapangan dan bergabung bersama yang lainnya.
" Nji " Panji tergeragap saat Arya menepuk pundaknya dari belakang
" Apaan? "
" Lo nggak persiapan? "
" Halah nggak usah, kek nggak biasanya aja "
" Jadi... Lo udah ngomong, ama si Fita? " Panji mengangguk dengan seulas senyum canggung
" Terus gimana selanjutnya? " Ibnu menimpali membuat senyum diwajah Panji seketika luntur
" Gue nggak tau, tapi bakal gue terima apapun konsekuensinya. Lagian bokap gue bebas dari penjara kemaren, jadi semuanya bakal lebih gampang. Mungkin " Jelas Panji memelan diakhir
" Semoga aja nggak ada masalah baru lagi "
" Aamiin "
***
" Selamat ya, tim lo dapat juara satu " Fita menerima uluran tangan Defa dengan senang hati
" Thanks, lo semua juga selamat ya karena udah dapet juara satu "
" Fita! " Kontan semua orang menoleh pada Neyla dan Dian yang tengah berjalan menghampiri mereka, dengan wajah merah padam dan tangan mengepal kuat
" Apaan? " Panji mencegat tangan Neyla, yang hendak berjalan lebih dekat kearah Fita
" Lo mau ngapain lagi? " Neyla berdecih seraya menarik paksa lengannya dari genggaman Panji
" Eh urusan gue bukan ama lo ya! "
" Nggak usah banyak omong, sekarang lo mau ngapain gue lagi? " Sarkas Fita to the point
" Kalo lo berani, lawan gue... Jangan kek pengecut yang sembunyi dibelakang orang laen! " Fita berdecih mendengar penuturan Neyla
" Sorry... Gue nggak salah denger tuh? Bukannya lo yang pengecut ya? Lo mukulin gue ama tuh temen lo, ampe gue dikeluarin dari sekolah ini! "
" Itu alesan lo aja... Ngomong aja kalo lo itu lemah, tampang aja sangar tapi kelakuan kek... "
" Nggak usah banyak omong lo ya! " Potong Fita cepat mambuat Dian menelan salivanya sendiri
" Waktu itu gue cuma dorong aja lo udah nangis, apa lagi kalo gue beneran gampar lo berdua! Dan lagi waktu itu gue kena tipes, jadi nggak bisa nglawan lo berdua sekaligus. Kalo li berdua mau... Kita bisa ko ulangi kejadian waktu itu, apa lagi sekarang gue udah sehat " Sambung Fita ketus membuat bulu kuduk Neyla dan Dian berdiri seketika
" Fit " Panggil Rafa sambil menepuk bahu Fita lembut
" Lain kali kalo mau ngomong itu dipikir dulu jangan asal ceplos, percuma aja lo sekolah tinggi - tinggi tapi tuh mulut nggak bisa dijaga " Ucap Fita datar dan penuh penekanan, ia bahkan mengangkat jari telunjuknya tepat didepan wajah cantik Neyla
" Udah Fit, biar mereka kita aja yang urus " Neyla menelan salivanya saat mendengar kalimat yang dilontarkan Panji
" Mending sekarang lo pergi aja, bentar lagi temen - temen lo juga mau balik kan? " Fita mengangguk
" Kalo gitu gue balik dulu ya, assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam " Jawab mereka serentak
Fita menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Neyla dengan senyum meremehkan.
" Oh iya La, lo tau lagu titanium nggak? "
You shoot me down
But i get up
I'm bulletproof, nothing to lose
Fire away, fire away...
" Gue duluan ya, dah " Fita melambaikan tangannya lalu melenggang pergi, seraya terus bersenandung
Cut me down
But it's you who have further to fall
" Andai aja lo nggak buat ulah, pasti kita semua bakalan tetep jadi temen lo. Tapi sayangnya lo terlalu menyedihkan, walau cuma buat dijadiin temen " Panji menatap wajah Neyla lamat - lamat, lalu melenggang pergi disusul Ibnu dan Arya dibelakangnya
" Apa yang Panji bilang itu bener La, andai lo mau berubah. Pasti kita mau jadi temen lo lagi, tapi sayangnya lo nggak bisa berubah " Ucap Defa sambil tersenyum miris lalu melenggang pergi menyusul Panji
" Dulu lo nggak kek gini, Ela yang gue kenal itu baik, ramah, lucu dan suka nolong. Tapi sekarang... Gue nggak tau kenapa sekarang lo berubah, tapi lo tenang aja karena gue masih nganggep lo sebagai temen gue ko " Rafa menepuk bahu Neyla lembut lalu melenggang pergi disusul Dodit, Aziz dan Salman dibelakangnya
" La... " Panggil Dian lembut
" Gue bakalan bales dendam ama si Fita! "
" Lo bener La, kita nggak bisa biarain si Fita menang. Berani - beraninya tuh anak bikin lo dipermaluin didepan Rafa and geng, apa lagi ampe bikin si Panji turun tangan langsung! " Neyla menoleh pada Dian dengan senyum misterius
" Lo harus bantu gue! " Dian mengangguk patuh