Rafa

Rafa
Membolos



" Kita free lagi! "


" Yeah! " Semua siswa bersorak gembira, mendengar kabar dari Dodit


" Hust? " Aziz menyikut perut Rafa


" Aduh... Sakit bambang! "


" Kenapa tuh si Fita? " Rafa mengalihkan tatapannya pada Fita, yang tengah menyandarkan kepalanya pada tembok dengan mata terpejam.


" Apaan? " Dodit menghampiri Aziz, sesaat setelah Rafa pergi


" Keknya masalah kemaren deh "


" Sebenernya ada masalah apa sih antara Fita ama coach Aldo? " Defa menimpali


Fita tergeragap saat Rafa menyentuh bahunya lembut.


" Lo kenapa? " Fita mengernyitkan dahinya heran


" Maksud lo? "


" Tumben lo diem aja? "


" Gue diem, karena lo semua nggak ngajak gue ngobrol " Kilah Fita


" Oh, kalo gitu ayo gabung bareng lainnya " Rafa menarik tangan Fita menuju ketempat dimana Defa, Aziz, Salman dan Dodit menunggu


" Lo kenapa Fit? "


" Maksud lo apaan Def? "


" Maksud Defa, kenapa lo diem aja? " Fita tersenyum getir


" Gue males, lagian lo semua nggak ngajak gue ngomong "


" Sorry... Sorry, lagian lo diem - diem bae "


" Kek cewek lagi PMS " Salman menimpali diiringi gelak tawa yang lainnya


" Cewek PMS? " Fita memicingkan matanya


" Iya... Diganggu salah, diemin lebih salah " Fita terkekeh kecil


" Btw... Kira - kira berapa tinggi tembok pembatas sekolah ini? " Rafa memicingkan matanya heran


" Lo mau bolos? "


" Apa? Ng... Nggak lah, gue ini cewek baek - baek tau " Kilah Fita


" Terus? " Aziz menimpali


" Gue penasaran aja "


" Iya, kira - kira 2,5 sampe 3 meteran gitu " Fita mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk paham


" Lo jangan bolos ya " Fita menatap Rafa geli


" Kenapa lo mikir kek gitu? "


" Soalnya lo tanya masalah kek gitu " Fita berdecih


" Hai Rafa " Riska duduk disamping Rafa, sambil berusaha merayu pria itu


" Apaan sih! " Sergah Rafa sambil menarik lengannya yang dipegang oleh Riska


" Eh Ris, lo nggak tau kalo Raf udah punya pacar? " Riska menatap Dodit tidak percaya


" Bullshit "


" Dodit bener, gue ama Fita udah jadian " Seketika Riska terdiam, tidak berselang lama air matanya mulai menitih


" Ih... Lo ko tega banget sih Fa, hiks... Gue kan udah suka ama lo duluan. Hiks... "


Rafa gelagapan saat Riska menangis dengan kencang, ditambah lagi tatapan heran sekaligus geli semua siswa ketika melihat gadis itu memukuli lengan Rafa.


" Eh Ris... Lo apaan sih, nggak usah lebay gitu bambang! " Rafa berupaya menghentikan Riska, tapi tangisan gadis itu malah semakin mengencang


" Eh... Lo bantuin gue napa? Dipikir nggak sakit apa! "


Defa, Salman dan Dodit berupaya menghentikan Riska, tapi usaha mereka sia - sia lantaran tangisan gadis itu malah semakin kencang.


" Rafa! " Semua siswa menoleh pada seorang gadis yang berdiri diambang pintu


" Siapa tuh? " Gumam Aziz


" Ish... Bantuin gue bambang! "


Dewi dan Salsa berjalan kearah Rafa dan langsung menarik lengan pria itu.


" Dih apaan sih lo! " Sergah Rafa


" Semua itu nggak bener kan? Lo nggak pacaran ama tuh cewek aneh kan? " Rafa berdecak kesal


" Ish... Apa urusannya sama lo berdua sih! "


" Eh Rafa itu punya gue! " Riska berdecih, ia menatap Dewi tajam


" Enak aja lo! Dia itu punya gue! "


Riska menepis tangan Salman dan Defa, begitupun dengan Dewi dan Salsa yang menepis lengan Dodit dan Aziz.


" Apaan sih lo... Eh lo tuh nggak pantes ama Rafa ya! Dasar cewek manja " Wajah Riska merah padam


" Kurang ajar! " Pekik Riska, ia menarik rambut Dewi membuat si empunya mengerang kesakitan


" Lepas! " Dewi menarik rambut Riska


" Eh... Lo semua bantuain gue, jangan cuma nonton! " Sarkas Rafa pada semua siswa


***


" Untung aja ada si Riska, ama tuh kakak kelas stress "


Fita menggendong tasnya, ia menyusun beberapa batu bata sebagai pijakan.


" Ish... Nggak nyampe lagi " Fita berupaya meraih puncak dinding pembatas sekolah, tapi usahanya sia - sia


" Ngapain lo! " Fita tergeragap, ia menoleh ke belakang dan mendapati Panji beserta anggota gengnya


" Elo! " Pekik Fita


Panji berdecih lalu berjalan mendekati Fita.


" Lo mau bolos kan? " Fita memutar matanya jengah


" Kepo bat sih lo! " Sarkas Fita


Panji menarik salah satu sudut bibirnya, ia melirik batu bata yang telah disusun Fita.


" Tinggi dinding pembatas ini 3 meter dan lo cuma punya 5 batu bata? " Fita berdecih


" Setidaknya gue usaha, lo sendiri? Kenapa lo bertiga ada disini? "


" Rutinitas " Fita memicingkan matanya heran


" Maksudnya? " Panji menarik salah satu sudut bibirnya


" Ya... Kek lo, bolos "


" Oh "


" Kalo lo mau... Lo boleh ikut kita " Fita mengernyitkan dahinya


" Maksud lo... Gue bolos bareng lo bertiga? " Panji mengedikkan bahu acuh


" Terserah lo mau nganggep apa. Ayo! " Panji menyatukan kedua tangannya sambil berlutut, detik berikutnya Ibnu langsung berdiri diatas tangan Panji


" Siap? " Ibnu mengangguk, Panji bangkit hingga tangannya ikut terangat yang otomatis menganggkat tubuh Ibnu


Ibnu meraih puncak tembok kemudian duduk diatasnya, hal yang sama berlaku pada Arya.


" Lo mau ikut nggak? " Fita terdiam


" Nji cepet! Ntar ada guru yang liat! " Panji mengangguk


" Lo ikut nggak? " Fita mengangguk


Panji mengangguk, ia berlutut untuk memudahkan Fita.


" Ayo! "


" Bentar! "


Fita menarik celananya yang dikenakannya hingga panjang dibawah lutut.


" Ok, gue siap "


" Ish... Nih cewek ternyata udah persiapin semuanya! Keren juga " Batin Panji, ia mengangguk lalu Fita berdiri diatas tangannya


Panji mengangkat tubuh Fita dan langsung dibantu, oleh Arya dan Ibnu dari atas.


" Ayo Nji! " Panji mengangguk, ia menerima uluran tangan kedua sahabatnya.


Saat berada diatas Panji mengambil posisi tepat disamping Fita.


" Terus gimana cara kita turun? " Panji menarik salah satu sudut bibirnya


" Lo liat disana ada semak - semak? "


" Maksud lo tumpukan jerami dibawah kita? "


" Iya, kita lompat kesana "


" Oh "


" Ayo! "


Arya melompat terlebih dahulu, disusul oleh Ibnu dan Panji.


" Cepetan! " Sergah Panji


Fita menarik nafas panjang, ia berdiri kemudian lompat diatas jerami sama seperti yang dilakukan Panji dan kedua temannya.


" Keren juga lo! " Puji Arya


" Baru kali ini, gue liat cewek bolos " Ibnu menimpali


" Jadi lo mau kemana? " Fita tersenyum tipis seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya


" Bukan urusan lo, tapi thanks udah bantu gue " Fita mulai mengenakan jaket, masker dan topi yang sudah ia siapkan sebelumnya


" Ish... Ternyata lo udah persiapin semuanya " Fita mengedikkan bahu


" Thanks "


Fita melenggang pergi sambil mengayunkan salah satu tangannya keudara, tanpa menoleh pada Panji dan kedua rekannya.


" Salut gue ama tuh cewek " Panji menyeringai tajam, sambil memandangi tubuh Fita yang perlahan menghilang


" Jadi apa rencana kita selanjutnya? Kita bolos bukan cuma buat bantuin tuh cewek kan? " Panji berdecih


" Nggak lah, bantuin tuh cewek itu bonus. Sekarang kita pergi ke base camp " Arya dan Ibnu mengangguk bersamaan


" Gue penasaran kenapa tuh cewek, mau ama cowok modelan kek Rafa " Panji memutar bola matanya malas


" Paling juga khilaf, ayo! "


***


Aldo mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik kearah Fita, yang tengah sibuk dengan ponsel ditangannya.


" Lo lagi chatan ama si Rafa? " Fita tergeragap dengan pipi merona merah


" Apa? Ng... Nggak lah " Aldo tersenyum simpul


" Terus? "


" Oh, emang ada urusan apa? " Fita terdiam


" Ish... Nggak mungkin gue ngomong, kalo Dodit nanya kenapa kemaren gue bolos "


" Oy! " Fita tersentak kaget


" Ish... Kaget bambang! " Aldo terkekeh kecil


" Sorry... Sorry, lagian lo ditanya malah ngelamun "


" Dodit tanya soal pr kemaren " Kilah Fita lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela


" Besok weekend, jadi lo boleh ke tempat mamah. Tapi gue nggak bisa ikut " Fita menoleh tidak percaya


" Lah kenapa? "


" Besok hari terakhir Rafa dkk les, lo harusnya udah tau kan? "


" Oh iya, gue lupa. Nggak papa deh, gue pergi pake taksi aja "


Aldo menghentikan mobilnya, saat benda itu berhenti tepat didepan sekolah Fita.


" Ok, gue turun dulu. Assalamuallaikum " Pamit Fita lalu mengecup punggung tangan Aldo


" Waalaikumsallam, awas jangan nakal apa lagi sampe bolos " Fita tersentak kaget tapi berupaya tetap tenang


" Kenapa lo ngomong kek gitu? "


" Belajar dari pengalaman sebelumnya " Fita berdecak kesal


" Gue anak baek! "


" Anak baek apaan " Fita mendengus kesal


Fita turun dari mobil, meninggalkan Aldo yang tengah terkekeh kecil.


" Pagi " Sapa Fita sambil melempar tasnya diatas meja


Rafa, Defa, Dodit, Salman dan Aziz langsung menghampiri Fita.


" Eh Fit kemaren lo bolos ya? "


" Iya " Jawab Fita singkat dengan tampang tanpa dosa


" Lo tuh kenapa bolos sih? " Fita berdecih mendengar pertanyaan Rafa


" Emang kenapa sih? Lagian kemaren gue ada urusan penting " Kilah Fita


" Asal lo tau ya Fit, gue itu khawatir sama lo karena lo ngilang gitu aja! Apa lagi lo nggak angkat telpon dari Defa dan lainnya! " Fita terdiam


Defa menyikut perut Rafa, saat melihat ekspresi Fita.


" Sorry "


" Sebenernya ada apa sih Fit? " Defa duduk disamping gadis itu


Fita menoleh saat Defa menggenggam lembut tangannya.


" Kalo ada masalah, lo bisa ko cerita ama kita " Fita tersenyum getir


" Nggak ada masalah ko, kemaren gue cuma bosen aja. Jadi gue pergi " Kilah Fita


" Lo yakin? " Fita mengangguk mantap


" Eh cewek keganjenan! " Fita memutar bola matanya malas saat melihat Riska


" Lo mau apa lagi sih? " Sarkas Rafa sambil memegangi tangan Riska


" Lepas! Gue mau kasih pelajaran ama tuh cewek. Dasar cewek keganjenan lo ya! Idup lo nggak cukup ama satu cowok apa, ampe semua cowok lo deketi "


" Jaga mulut lo ya! " Riska menelan salivanya sendiri saat melihat wajah Fita yang merah padam


" Ta... Tapi bener kan? " Fita berdecih lalu mengacungkan salah satu jarinya kearah Riska


" Jangan buat gue marah, apa lagi ampe gampar tuh mulut lo ya! Buat apa lo sekolah tinggi - tinggi, kalo tuh mulut lo nggak bisa dijaga! "


" Emang kenapa kalo gue nggak bisa jaga omongan gue, toh ini mulut - mulut gue! "


Tangan Fita mengepal kuat, ia bangkit dan mendorong tubuh Defa agar menyingkir dari jalannya.


" Coba lo ngomong kek gitu lagi! " Jantung Riska berdegup kencang, saat wajah Fita hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya


" Eh Ris... Ris, mending kita pergi aja " Sergah Fitri sambil menarik lengan sahabatnya


" Awas aja lo! " Fita berdecih, ia mengalihkan tatapannya pada Defa


" Sorry Def "


" Gue nggak papa ko " Fita tersenyum miris


***


" Fit... " Kontan si empunya nama menoleh pada Rafa


" Apa? "


" Gue mau minta maaf soal tadi pagi, nggak seharusnya gue ngomong kek gitu ke elo " Fita tersenyum simpul


" Nggak papa, lagian gue juga yang salah "


" Btw... Lo pulang ama siapa? "


" Biasa "


" Sama gue aja gimana? Kita naik motor "


" Hmm... Boleh deh "


" Oh iya Fit, sorry kemaren gue ga telpon lo " Fita tersenyum tipis


" Nggak papa, lo pasti sibuk kan? "


" Nggak juga sih, ponsel gue mati "


" Oh "


" Ayo " Fita mengangguk


" Rafa " Kontan keduanya menoleh, pada dua orang gadis yang tengah berlari menghampiri mereka


" Ela? "


" Lo pulang ama siapa? "


" Gue... "


" Bareng gue ya? Please " Potong Neyla dengan wajah memelas


" Tapi gue... "


" Please... Boleh ya Fa "


Rafa mengalihkan tatapannya pada Fita, gadis itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan saat sadar dirinya tengah diperhatikan.


" Ok deh, Fit kita... "


" Ayo! " Neyla menarik lengan Rafa bahkan sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya


" Eh... Ta... Tapi... " Fita memperhatikan kepergian Rafa dan Neyla sambil tersenyum miris


" Mereka cocok kan? " Fita tergeragap


" Lo tuh jadi cewek sadar diri napa sih, jelas - jelas si Ela cinta pertama Rafa. Jadi lo nggak usah ngarep berlebihan, kalo jatuh ntar sakit. Ok? "


Dian melenggang pergi dengan senyum merekah, sesaat setelah mengatakan hal menyakitkan itu pada Fita.


" Gue sadar diri ko " Fita tersenyum miris


" Sekarang lo beda ya Fa? " Rafa memicingkan matanya heran


" Maksud lo? "


" Iya... Lo udah beda aja, sejak kenal ama tuh cewek "


" Kenapa lo cemburu ya, awokawok? " Neyla memukul lengan Rafa


" Enak aja "


" Terus gimana hubungan lo ama Panji? "


" Baik "


" Lo nggak takut si Panji salah sangka gitu, liat lo jalan ama gue " Neyla terkekeh kecil


" Nggak lah, lagian Panji juga tau kalo hubungan kita nggak lebih dari sahabat "


" Sahabat? "


" Iya " Rafa tersenyum miris


" Lagian dia juga ngijinin gue deket ama lo dan Defa ko. Oh iya, btw Defa gimana? "


" Baik, cuma ya gitu "


" Defa kenapa sih nggak mau jalan bareng gue lagi " Rafa mengusap kepala Neyla, saat melihat kesedihan diwajah gadis itu


" Dia lagi sibuk latihan, ayo dimakan ice creamnya " Neyla mengangguk


Rafa menenggak air mineral, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku.


Ddrrttt


Fita meraih ponselnya dari dalam saku, seketika senyumnya mengembang melihat nama yang tertera disana.


Babang Rafa tersayang, yang gantengnya dari ujung barat ampe timur💙😘 :


Sayang, lo lagi ngapain?


Fita (mine💙) :


Stress lo ya, kenapa kontak nama lo diganti kek gitu sih. Jiji bambang😒


Babang Rafa tersayang, yang gantengnya dari ujung barat ampe timur 💙😘 :


Nggak papa, karena itu kenyataan😋😘


Fita (mine💙) :


Kepedean banget sih lo... Lagian gue udah pernah bilang, jangan pake emot kek gitu lagi!😒


Babang Rafa tersayang, yang gantengnya dari ujung barat ampe timur 💙😘 :


Nggak papa, kita kan udah pacaran jadi wajar lah😋


Fita (mine💙) :


Lebih tepatnya pemaksaan😫


Rafa tergeragap saat Neyla tiba - tiba berdeham.


" Sorry ya gue udah ganggu lo ama Fita "


Rafa memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


" Ganggu? Lo tuh sahabat gue, jadi nggak usah ngomong kek gitu " Rafa mengusap lembut kepala Neyla, membuat si empunya tersenyum lebar.


" Lo mau ice cream gue nggak? "


" Tumben banget lo baek? " Neyla mengerucutkan bibirnya


" Baek salah, nggak salah " Rafa terkekeh kecil


" Nggak makasih, buat lo aja. Lagian gue udah beli air ko tadi "


" Andai lo tau, kalo cinta gue cuma buat lo La " Rafa tersenyum miris