
Panji menanggapi tatapan menyelidiki serta pertanyaan yang dilontarkan padanya dengan santai. Salahnya karena memberitau Arya dan Ibnu jika dirinya kembali berpacaran dengan Neyla.
" Lo berdua cerita apa aja, ke mereka semua? "
Ibnu dan Arya saling melempar tatapan geli.
" Semua yang lo bilang ke kita, termasuk lo ama Neyla udah... Muah.. Muah " Jelas Ibnu dengan tampang tanpa dosa yang mampu membius Panji selama beberapa detik
" Kalian berdua emang udah... "
" Hust... Panji, berita bahagia itu harus disebar. Iya kan Nu, guys? " Ucap Arya coba mencari dukungan dari teman - temannya
" Yoi... Yoi... "
" Jadi udah berapa lama? "
" Terus dimana lo nembak dia? "
" Kata - kata yang lo gunain, buat nembak dia kek apa? "
Panji mendengus kesal, kedua sahabatnya memang merupakan orang yang buruk jika menyangkut soal menjaga rahasia. Sedangkan Aziz, Dodit dan Salman adalah kumpulan orang yang mempunyai semangat 45 jika menyangkut hal - hal berbau gosip.
" Ada apaan sih? " Tanya Defa heran
Defa, Fita dan Rafa yang baru saja datang langsung mengambil posisi diantara teman - temannya.
" Si Panji udah balikan ama Neyla " Celetuk Arya yang langsung dihadiahi pukulan oleh Ibnu
Hening cukup lama setelah kalimat Arya dilontarkan.
" Seriusan? Selamet ya, btw udah berapa lama? " Panji menghembuskan nafas lega, ternyata Fita tidak marah ketika mendengar kabar tentangnya dan Neyla
" Lo nggak marah? "
" Buat apa marah? Masalah gue ama Neyla kan udah selesai, lagian itu cuma kesalah pahaman doang ko "
" Ish... Pacar gue emang terdebest dah, uwuuu... Babang jadi makin cayang deh " Ucap Rafa manja sambil mengusap - usapkan kepalanya pada bahu Fita
" Dasar kucing oyen " Celetuk Defa melihat tingkah Rafa yang berhasil membuatnya merasa mual
" Baru dua hari ini "
" Oh. Langgeng terus ya "
" Thanks Fit " Fita terkekeh kecil
" Buat apa minta maaf coba "
" Fit... Lo nggak geli ya? Liat tingkah Rafa, yang udah kek kucing oyen bar - bar gitu? " Tanya Dodit sambil mengusap bulu kuduknya yang berdiri sempurna
" Iya Fit, gue aja geli bin jiji " Ibnu menimpali
" Sirik aja sih lo semua... Kita kan udah pacaran jadi wajar dong, iya kan cayangku cintaku padamu bagaikan bola salju ea ea ea "
Fita terkekeh kecil kemudian menggeleng mantap, membuat teman - temannya merasa heran.
" Bisa nggak sih, mereka nggak kek gitu didepan gue! " Batin Defa dengan tangan mengepal kuat
" Lo pake pelet apa sih Fa? Ampe cewek - cewek pada luluh, puncaknya si Fita bisa ampe kebal gitu ama elo? "
" Pelet cintah... Kalo cewek - cewek pada luluh ke gue itu karena ketamfanan gue yang tiada taranya ini. Dan sayangnya gue nggak bakalan kasih tau ama elo semua, apa rahasia ketamfanan dari babang Rafa " Jelas Rafa dengan rasa percaya diri tingkat dewa
Defa berdecih melihat tingkah Rafa, yang semakin hari semakin gila bin absurd.
" Ketamfanan? Si Ela aja nolak elo, ketamfanan apaan? " Rafa menatap Defa tajam
" Ish... Sirik aje lo kutil curut "
" Sekali - kali bawa Neyla kesini, biar nambah rame "
" Bener Nji, masa cewek disini cuma si Fita doang "
" Kalo perlu ajak Dian, Riska, Fitri, Dewi ama Salsa... "
" Auto perang demi memperebutkan cinta babang tanos "
" Mana ada tanos setamfan gue! " Protes Rafa tidak terima dirinya disamakan dengan tokoh antagonis pada film marvel
" Ada ko, nah tuh elo sebagai bukti "
" Tapi gue masih penasaran deh... Gimana sih Fa cara elo nembak si Fita, dan Panji nembak si Neyla? "
" Kepo! " Teriak Panji, Rafa dan Fita bersamaan
***
Luki pergi menghampiri Defa yang tengah duduk termenung seorang diru diruang tamu. Entah apa yang dipikirkan Defa, dirinya menjadi pendiam sejak pulang dari bertemu dengan teman - temannya.
" Oy! " Defa terperanjat kaget, dalam hati ia merutuki Luki sambil mengusap dadanya yang berdetak tidak karuan
" Stress lo ya? " Luki mengerucukan bibirnya
" Sorry. Lagian lo diem - diem bae, ada masalah apa tong? Coba cerita ke abang lo yang baik hati, tidak sombong dan suka menolong ini " Defa berdecih, apa katanya tadi? Suka menolong?
" Suka menolong apaan? Yang ada lo itu bisa bikin gue stress, ama tingkah nyleneh lo itu! "
" Ish... Biasa aja dong, jangan ngegas gitu. Babang Luki jadi atut nich " Ucap Luki mendramatisir detik berikutnya ia terkekeh sendiri
Defa menatap Luki heran, entah kenapa pria yang disebut sebagai abangnya itu tiba - tiba tertawa tanpa alasan yang jelas.
" Lo udah stress? "
" Kadang - kadang aja, huft... Jadi gimana temu kangennya? Lancar? "
" Temu? Huft... Kita itu kumpul biasa, tiap minggu juga kita kumpul ko. Jadi nggak bisa dikategorikan sebagai temu kangen " Jelas Defa penuh penekanan
" Terserah lo aja deh. Eh iya, lo nggak minta Rafa ama yang laennya maen kesini? "
" Rafa ama Fita pergi nggak tau kemana, Panji sibuk ama Neyla dan yang laennya gue nggak tau... Kegiatan mereka itu gaib, nggak ada yang tau "
" Oh. Ngomong - ngomong soal gaib... Kapan lo punya pacar? "
" Idih... Nggak ada sangkut pautnya pacar ama hal - hal gaib "
" Ada, kalo disangkut - sangkutin "
" Halah terserah lo aja dah " Ucap Defa kemudian, berdebat dengan Luki tidak akan membantunya menyelesaikan masalah soal kecemburuannya pada Rafa dan Fita
Justru sebaliknya, berdebat dengan Luki sama saja dengan mengorek lukanya yang masih basah. Apa lagi jika kakaknya itu bertanya perihal Rafa dan Fita, dalam hati ia merutuki Luki yang tidak bisa mengkondisikan mulutnya.
Harusnya Luki bisa membaca raut ekspresi Defa, saat mereka tengah membicarakan kedekatan antara Rafa dan Fita.
" Udahlah, gue mau mandi dulu bentar lagi makan malem "
" Yups... Tapi jangan lama - lama ya, gue nggak punya temen nih "
" Tinggal telepon pacar elo, suruh maen kesini. Kenalin ke kita "
" Pacar? Oh iya, thanks ya buat sarannya "
" Hmm... "
Saat berada didepan kamarnya, Defa tidak sengaja berpapasan dengan Dion yang kelihatannya baru saja keluar dari kamar.
" Udah pulang? "
" Iya pah, kalo gitu Defa masuk dulu ya. Defa mau mandi "
" Ok. Kalo udah selesai jangan lupa turun, bentar lagi makan malem "
" Iya pah "
" Kalo gitu papah turun dulu ya " Defa mengangguk
Ia masuk ke kamar, setelah Dion turun untuk menemui Luki.
" Cape... "
Defa menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, hari ini cukup berat untuk Defa karena lagi - lagi ia harus melihat Rafa dan Fita bermesraan didepan matanya sendiri.
" Lagi - lagi kek gini, emang susah kalo punya cinta pertama lebih milih sama sahabat sendiri. Alhasil gue harus makan ati mulu tiap hari, kalo kek gini caranya kapan gue bisa gemuk coba wkwkwk " Defa terkekeh sendiri, namun detik berikutnya ia mulai terisak sambil merutuki nasibnya saat ini
Bukannya ia tidak suka Rafa dan Fita bersama, hanya saja sulit untuk merelakan cinta pertamanya bersanding dengan orang yang paling dekat dengan dirinya.
***
" Fa... Kalo lo belum siap, kita berhenti aja. Nggak usah dilanjutin lagi, gue nggak mau lo sakit hati Rafa " Ucap Fita lembut yang mampu membuat hati Rafa terasa sedikit lega
" Nggak papa Fit, lagian kita udah deket ama fakta tentang keluarga Ramadhan "
" Tapi... " Fita menghela nafas panjang, ia tau ini penting bagi Rafa tapi ia sendiri tidak mau Rafa semakin tersakiti
" Apa lo yakin Fa? Kemaren kita udah dateng kesana, lo yakin mau kesana lagi? Gimana kalo security ngusir kita lagi? " Rafa tersenyum kemudian mengusap kepala Fita lembut
" Lo tenang aja ya, kali ini gue janji nggak bakalan buat onar kek kemaren lagi. Ok? "
" Lo janji ya? " Rafa terkekeh kecil melihat Fita mengacungkan jari kelingkingnya ke udara
" Janji " Ucap Rafa sambil mengaitkan jari kelingking mereka
" Pake helmnya dulu ya "
Rafa memasangkan helm dikepala Fita sama seperti biasanya, setelah itu ia membantu Fita untuk naik keatas motor.
" Udah siap? "
Fita tersenyum, sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang Rafa.
" Siap! "
" Ok, kita berangkat ya. Bismillah "
Rafa memacu motornya menuju sebuah perusahaan yang ada dipusat kota Jakarta, ia sendiri memerlukan waktu 2 jam untuk pulang pergi dengan kecepatan sedang.
" Kita sudah sampe, ayo turun " Fita turun dengan dibantu Rafa
Rafa turun dari motor kemudian melepas helm yang dikenakannya, ia juga tidak lupa melepaskan helm dari kepala Fita.
" Lo janji ya, nggak bakalan buat onar kek kemaren lagi? " Tanya Fita khawatir, ia tidak mau jika Rafa terlibat perselisihan lagi dengan pihak keamanan kantor
" Gue janji, ayo! "
Rafa menggandeng tangan Fita, menuju pintu masuk sebuah bangunan kantor yang berlantai 15.
" Pak " Sapa Rafa ramah pada seorang petugas keamanan yang berdiri diambang pintu
" Kalian lagi? Mau apa kalian datang kemari? Apa kalian mau membuat onar lagi? "
" Maaf untuk masalah kemaren pak, tapi kali ini kami datang baik - baik. Kami ingin bertemu pak Rian Adi Setiawan, tolong pertemukan kami dengan pak Rian " Petugas keamanan itu menatap Rafa dan Fita tajam, sambil melipat kedua tangannya dibawah dada
" Lebih baik kalian pergi sekarang! Pak Rian tidak ada dikantor! "
" Tidak ada? Kira - kira pak Rian kemana ya? Dan kapan pak Rian kembali? "
" Saya tidak tau, jadi kalian bisa pergi sekarang! "
Emosi Rafa memuncak saat petugas keamanan itu tiba - tiba mendorong tubuh mereka, hingga membuat Fita hampir saja terjatuh.
" Eh pak jangan main kasar gitu dong! Jangan bapak pikir karena bapak lebih tua, terus saya nggak berani sama bapak ya! " Sarkas Rafa sambil mengacungkan telunjuknya
" Fa... Udah Fa " Fita memegangi lengan Rafa, ia khawatir Rafa akan berbuat nekat kali ini
" Tapi dia udah berani - beraninya dorong elo Fit! " Sarkas Rafa tidak terima
" Gue nggak papa, kita balik sekarang aja. Nggak enak, kita diliatin orang banyak Fa "
" Lebih baik, kalian pergi sekarang atau saya akan panggil pihak berwajib! " Ancam petugas keamanan yang lainnya
" Fa... "
Rafa mendengus kesal, ia mengangguk setuju kemudian melangkah pergi bersama Fita.
***
Fita dan Rafa tidak benar - benar pergi, mereka hanya duduk disebuah warteg yang ada diseberang jalan sambil mengamati situasi kantor.
" Sorry buat masalah tadi ya Fit " Fita menoleh dengan seulas senyum, ia menggenggam tangan Rafa erat membuat si empunya ikut tersenyum
" Nggak papa, lagian itu bukan sepenuhnya salah elo ko "
" Thanks ya, karena elo udah mau temenin gue "
" Nggak papa. Lo mau makan? Gue pesenin ya " Rafa menggeleng
" Nggak usah, kalo laper lo tinggal pesen aja "
" Nggak, gue nggak laper. Oh iya, lo udah tau gimana tampang pak Rian? "
" Gue punya fotonya tapi itu foto 19 tahun silam, gue harap mukanya masih sama wkwkwk " Keduanya terkekeh kecil sambil mengamati sebuah foto yang tengah dipegang oleh Rafa
" Dipikir apaan coba "
" Eh Fit... Fit... "
" Hmm... "
" Itu orangnya kan? "
" Siapa? " Fita mengikuti arah telunjuk Rafa yang tertuju pada sebuah mobil sedan silver, yang baru saja keluar dari area kantor
" Pak Rian! Ayo buru Fit, kita ikutin "
Rafa dan Fita bergegas mengikuti mobil yang diyakini sebagai milik Rian, setelah 15 menit mobil yang mereka buntuti berhenti disebuah cafe yang terletak tidak jauh dari area kantor.
" Ayo Fit " Rafa menggandeng tangan Fita masuk kedalam cafe
Mereka mencari sosok yang diyakini sebagai Rian, hingga sorot mata keduanya tertuju pada pria berusia sekitar 45 tahun. Pria dengan setelan jas abu - abu itu terlihat begitu berwibawa.
" Ayo Fit " Fita mengangguk
" Selamat siang " Rian mendongakkan kepalanya
" Siapa? "
" Saya Rafa dan dia Fita "
" Pak " Rian mengangguk pelan
" Nama bapak pasti Rian kan? "
" Iya. Kalian siapa? Oh... Apa jangan - jangan kalian anak yang membuat onar dikantor saya? " Rafa menggatuk kepalanya yang tidak gatal
" I... Iya pak, tapi itu cuma salah paham ko "
" Apa yang kalian inginkan? "
" Begini pak, nama saya Rafa Al - Ayubi Ramadhan anak dari Wawan dan Asti Ramadhan "
Rian menggebrak meja dihadapannya, ia bangkit dari kursi dengan disaksikan tatapan heran dari para pengunjung cafe.
Wajah Rian berubah datar seketika, tangannya mengepal kuat dengan sorot mata tajam. Seolah ia enggan berbicara perihal keluarga Ramadhan ataupun hal - hal dari masa lalunya.
" Apa yang kalian inginkan? Saya tidak mau berurusan dengan keluarga Ramadhan lagi, jadi kalian bisa pergi sekarang atau saya akan panggil pihak keamanan " Ancam Rian tapi tidak mampu mengurungkan niat Rafa, untuk mencari tau fakta soal dirinya
" Tapi pak... Tidak masalah jika bapak tidak mau berurusan dengan keluarga Ramadhan, saya kemari hanya untuk bertanya soal wanita bernama Deswita Maharani "
Mata Rian berubah sayu, ia menatap lamat - lamat wajah Rafa sebelum akhirnya kembali duduk diatas kursi dengan tubuh lunglai.
" Apa bapak mengenal wanita bernama Deswita Maharani, dia meninggal 18 tahun lalu "
" Deswita "
" Iya pak, dia... " Rafa menelan salivanya sendiri, ia tidak mampu melanjutkan kata - katanya
" Apa benar dia memiliki seorang anak? Anak dengan pak Rian? " Rian menggeleng lemah
" Tidak... Saya tidak punya anak dengan Deswita "
" Tidak? Kalo begitu... Apa bapak tau dimana kediaman keluarga ibu Deswita, atau bahkan makam ibu Deswita? " Rian menatap Rafa tajam, ia tidak mungkin memberi tau fakta soal Deswita pada seorang anak dari garis keturunan Wawan
" Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa sangkut pautnya antara hal itu denganmu? "
" Karena... Saya memperoleh cerita dari bi Rina, pembantu dikediaman Ramadhan soal ibu Deswita " Rian berdecih, ia menatap Rafa tajam membuat yang ditatap hanya bisa terdiam
" Kau tau jika itu bukan jawaban, dari pertanyaan yang saya ajukan bukan? " Rafa menelan salivanya sendiri, apa yang harus ia katakan sekarang?