
" Kenapa si Panji, nyuruh kita kumpul pagi - pagi kek gini sih? " Salman memukul lengan Aziz, hingga si empunya merintih kesakitan
" Sakit bambang! "
" Lagian lo brisik aja, diem napa sih! " Aziz memutar bola matanya malas
" Kira - kira si Panji udah dapet berita tentang Fita belom yah? " Kontan semua orang mengalihkan pandangannya pada Rafa, yang tengah menatap hamparan langit biru diatas mereka
" Udah lo yang sabar aja, gue yakin kita bakalan bawa balik si Fita " Rafa tersenyum getir mendengar penuturan Defa
" Semoga "
" Eh itu Panji ama temen - temennya " Semua orang mengikuti arah telunjuk Dodit
" Gimana Nji? " Tanya Rafa to the point
" Lo tenang, kita duduk dulu " Rafa mengangguk
" Jadi gini semalem gue udah berhasil nemu akun instagram si Fita, postingan terakhir sekitar 2 bulan lalu. Tapi gue nggak tau arti postingan itu apaan " Rafa memicingkan matanya heran
" Kenapa lo bisa nggak tau? "
" Masalahnya postingan terakhir itu lirik lagu Korea, sedangkan gue nggak tau apa artinya. Lebih baik lo semua liat sendiri "
Panji memutar postingan terakhir Fita dihadapan semua orang.
" Gimana? Lo semua pernah denger lagu ini? "
Rafa memejamkan matanya rapat - rapat, semuanya menatap Rafa heran saat pria itu mulai bersenandung kecil.
" Gue tau "
" Yang bener? " Rafa mengangguk mantap
" Gue ama Fita pernah nyanyi lagu ini, kalo lo semua nggak percaya... " Rafa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia memutar sebuah vidio yang memperlihatkan kedekatan antara dirinya dan Fita
" Lo semua liat kan? Si Fita pernah nyanyi lagu kek gitu, gue juga punya liriknya "
" Kalo gitu, apa lo semua inget apa yang terjadi tanggal 2 Desember taun lalu? " Defa mengusap pelipisnya, guna membantu mengingat kejadian yang dimaksud Panji
" Gue inget "
" Apaan? " Tanya Panji dan Rafa serentak dengan mata berbinar
" Kalo nggak salah tanggal 2 Desember itu... Neyla mukul si Fita di area parkir sekolah, saat itu cuma Panji, Ibnu ama Arya yang belain si Fita " Rafa terdiam sambil menundukkan kepalanya dalam - dalam
" Gue juga udah dapet arti dari lirik lagu si Fita " Ibnu menyodorkan ponselnya ditengah - tengah mereka
" Intinya lagu menceritakan tentang seorang cowok yang nggak pernah melihat cewek didekatnya, ternyata si cewek punya perasaan terpendam ama tuh cowok. Tapi cowok itu lebih fokus ama cewek laen " Arya menimpali
Semua orang kontan menoleh pada Rafa dengan tatapan menghakimi.
" Gue? Tapi gue ko nggak yakin ya, selama ini si Fita selalu ngomong kalo dia nggak punya perasaan ama gue " Dodit berdecih
" Ish... Lo kek nggak tau, mahluk bernama cewek aja sih " Salman berdeham
" Denger ya Fa, cewek itu nggak suka ngomong tentang perasaan mereka secara langsung "
" Mereka lebih suka, kalo si cowok itu peka " Ucap Aziz penuh penekanan
Rafa mendesah berat, ia mengusap wajahnya kasar.
" Terus sekarang gimana? "
" Semalem gue minta bantuan ama om Reza, dia bisa ngelacak nomor ponsel si Fita "
" Terus gimana hasilnya? "
" Nomor si Fita udah ganti, kalo akun instagramnya udah nggak aktif 2 bulan lalu. Tapi gue tau tempat terakhir si Fita sebelum pergi "
" Dimana? "
" Rumah Sakit Pelita Bunda "
" Kalo kita pergi kesana, terus minta info pasti nggak bakalan dikasih " Ibnu menimpali disambut anggukan setuju dari Panji
" Nah itu dia, jadi kita harus cari cara laen " Rafa memicingkan matanya heran
" Wait... Lo bilang si Fita di rumah sakit? Emang dia kenapa? " Panji mengedikkan bahunya
***
" Tipes? " Pekik semua orang
" Tolong jangan berisik disini "
" Maafkan anak - anak sus. Kalo boleh tau berapa lama Fita dirawat? "
" Menurut data, gadis itu hanya dirawat sehari setelah itu mereka pergi "
" Ada lagi? "
" Maaf, tapi kami tidak bisa memberikan informasi lebih dari ini " Reza mengangguk paham
" Kalau terima kasih sus " Reza melenggang pergi diikuti Panji dan teman - temannya
" Kalian sudah dengar sendiri kan? "
" Terus kita mesti gimana om? " Reza menggeleng lemah, dia menatap wajah Panji dengan teman - temannya yang terlihat sangat kecewa
" Kelihatannya gadis bernama Fita itu, sangat berharga bagi kalian " Panji tersenyum getir
" Hmm... Kalau begitu om permisi sekarang " Panji mengangguk
" Makasih om, hati - hati dijalan "
" Iya, semoga kalian bisa cepat menemukan gadis itu "
Mereka menatap kepergian Reza dengan raut wajah kecewa.
" Terus kita harus kemana lagi? " Tanya Defa
Rafa menatap lamat - lamat layar ponselnya yang memperlihatkan akun instagram Fita.
Apapun yang terjadi, kita tidak boleh lupa pada Tuhan🌸
Seulas senyum terukir diwajah Rafa, kala membaca postingan milik Fita.
" Gue duluan ya " Defa menatap Rafa heran
" Lo mau kemana? " Rafa tersenyum sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam saku
" Gue ada urusan bentar, kalo udah kelar gue bakal nyusul kalian "
" Tapi... " Belum selesai Defa menyelesaikan kalimatnya, Rafa sudah melenggang begitu saja dengan motornya
" Semoga bukan tentang si Neyla " Panji menimpali disambut anggukan dari teman - temannya
Rafa memacu motornya kesebuah masjid, langkahnya terhenti sesaat sebelum memasuki area masjid.
" Udah lama gue nggak sholat, apa mungkin Tuhan mau nerima sholat gue? "
Rafa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia kembali melihat akun instagram milik Fita.
Percayalah Tuhan akan selalu bersama kita💐
Sebesar apapun dosamu, yakinlah jika Tuhan itu maha pengampun💜
Rafa tersenyum, ia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku dan bersiap untuk wudhu. Setelah selesai Rafa menunaikan sholat sunah dua rokaat, bersama jamaah yang tersebar dibeberapa titik masjid. Selesai sholat, Rafa sempat mengedarkan pandangannya kebeberapa jemaah masjid.
" Fita " Gumam Rafa, ia menoleh dan berusaha mencari sosok gadis yang tadi berada didekat pintu keluar
Rafa bergegas keluar, ia mengedarkan pandangannya keseluruh area masjid. Bahkan dia harus berlari menuju tempat wudhu wanita dan area parkir.
" Fit lo dimana? Ini gue Rafa " Rafa terus berlari dan berlari, hingga keringat membasahi kaos yang tengah dikenakannya
Rafa mengacak rambutnya frustrasi, ia menendang ban motornya lantaran gagal mencari sosok Fita.
" Gue nggak percaya, setelah sedekat ini... Gue masih nggak bisa ketemu ama lo Fit " Rafa tertunduk disamping motornya, setetes air mata mulai mengalir dari salah satu pelupuk matanya
Rafa mengusap wajahnya kasar, ia bersiap pulang setelah berhasil mengatur ritme nafasnya.
" Gue pulang " Ucap Rafa sesaat setelah membuka pintu
" Dari mana lo? " Rafa memutar bola matanya malas, lalu melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan Alya
" Gue heran kenapa bisa punya adek kek lo, mamah nemu elo dari mana sih! "
Deg
Rafa menghentikan langkah kakinya, ia menoleh pada Alya yang tengah menatapnya dengan tampang tanpa dosa.
" Kenapa lo nggak tanya langsung aja ama mereka? "
" Kurang ajar lo ya! " Pekik Alya membuat senyum diwajah Rafa mengembang
" Makasih, sekarang gue kekamar dulu ya "
***
" Lo yakin kemaren ketemu si Fita disini? " Rafa mengangguk mantap
" Gue yakin banget, tapi pas gue kejar dia udah nggak ada " Panji menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Kemungkinan besar, si Fita tinggal disekitar sini. Gini aja Rafa nunggu si Fita disini, Dodit ama Aziz bakalan ke utara, Salman ama Arya ke selatan, Ibnu ama Defa ke timur terus gue bakal ke barat. Kalo udah ketemu jangan lupa telepon. Ok? "
Semua mengangguk, mereka bergegas pergi sesuai dengan aba - aba dari Panji.
" Permisi... Om, tante pernah liat cewek ini? " Ibnu menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan foto Fita
Kedua pasutri itu mengamati foto Fita lamat - lamat, detik berikutnya mereka menggeleng mantap.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga dua jam lamanya.
Ddrrttt
Defa mengamati wajah Ibnu, yang tengah menatap layar ponselnya.
" Ada apa? " Ibnu memasukkan kembali ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Defa
" Kita mesti balik ke masjid "
" Fita udah ketemu? " Ibnu mengedikkan bahunya
" Gue nggak tau, lebih baik kita pergi sekarang " Defa mengangguk setuju, mereka melajukan motornya kembali ke tempat awal
" Gimana? Lo semua udah punya petunjuk soal si Fita? " Mereka menggeleng serentak
" Terus gimana dong? Si Ela udah mulai curiga lagi " Panji menghela nafas berat sambil menundukkan wajahnya dalam - dalam
" Sebenernya... " Kontan semua menoleh pada Panji yang terlihat sengaja menggantung kalimatnya
" Apaan? " Sergah Rafa penuh harap
" Kita bisa pergi ketempat, dimana nyokapnya si Fita dirawat " Arya dan Ibnu saling melempar tatapan, dengan raut wajah terkejut
Sedangkan Rafa dan lainnya mengernyitkan dahinya heran, lantaran Panji tau tentang kondisi ibunya Fita.
" Dari mana lo tau tentang nyokapnya si Fita? " Panji tergeragap, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan bersikap setenang mungkin
" Itu... "
" Itu nggak penting, yang penting kita tau dimana nyokap si Fita dirawat " Potong Ibnu membuat Panji menghela nafas lega
" Gue setuju ama si Ibnu " Arya menimpali
Defa menepuk bahu Rafa, membuat si empunya menoleh dengan tatapan heran.
" Mereka bener Fa "
" Ok, tapi siapa yang tau dimana nyokap si Fita dirawat? " Semua orang menoleh pada Panji dengan tatapan heran, saat pria itu mengangkat tangannya ragu
" Lo tau? " Tanya Defa memastikan
" Iya " Jawab Panji singkat hanya dalam satu tarikan nafas
" Tapi gimana lo bi... "
" Lebih baik kita pergi kesana sekarang! " Potong Arya cepat
Defa dan lainnya mengangguk setuju, berbeda dengan Rafa yang menyimpan tanda tanya besar didalam benaknya.
" Gimana Panji bisa kenal, ama nyokapnya si Fita? " Batinnya
" Buru Fa! "
Rafa tersentak kaget, saat Salman menarik lengannya menuju area parkir masjid. Mereka bergegas pergi menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Panji.
" Permisi sus "
" Iya? Ada yang bisa saya bantu? "
" Kami sedang mencari pasien atas nama Hani Safitri "
" Kami teman dari Fita, anaknya ibu Hani " Ralat Panji cepat, saat melihat ekspresi menyelidiki dari suster didepannya
" Oh kalian semua temannya Fita? " Semua mengangguk serentak
" Iya "
" Gila, bahkan Panji tau nama nyokapnya si Fita. Sebenernya ada apaan sih? " Batin Rafa
" Maaf... Tapi pasien dengan nama Hani Safitri, sudah dirujuk kerumah sakit lain "
" Kalo boleh tau, kapan dan dimana rumah sakit rujukan itu sus? "
" Kalau dimana saya kurang paham, tapi itu sudah terjadi hampir tiga bulan lalu " Panji mendengus pasrah
" Oh. Makasih sus "
" Sama - sama " Panji mengusap wajahnya kasar
" Setelah sedekat ini, kita masih aja gagal "
***
Luki memperhatikan Defa, yang sedari tadi hanya mengacak - acak makanan didepannya.
" Oy! " Kontan Defa meloncat kaget, saat Luki berteriak tepat ditelinganya
" Kaget bambang! " Luki terkekeh kecil sambil memukul pelan lengan Defa
" Lagian elo, makanan itu buat dimana bukan buat mainan " Defa mengerucutkan bibirnya seraya memutar bola matanya malas
" Ada masalah apa? " Tanya Ayu yang seolah paham, dengan gelagat yang ditunjukan sang anak
" Nggak ada apa - apa ko mah "
" Yakin? " Defa mengangguk dengan seulas senyum, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan
Luki menatap Defa dengan seulas senyum jahil.
" Paling juga masalah si Fita, iya kan? " Defa yang salah tingkah tanpa sengaja menyenggol gelas berisi air, hingga tumpah dan membasahi celana Luki
" Ish... Basah celana gue, ceroboh bat sih lo! " Sarkas Luki sambil menepuk - nepuk celananya
" So... Sorry, gue nggak sengaja "
" Sudah, lebih baik abang ganti celana dan kamu Defa " Kontan si empunya nama menoleh pada Dion
" Iya pah? "
" Pel lantainya, tapi hati - hati jangan ampe kepleset " Keduanya mengangguk patuh
Luki bergegas mengganti celananya dan kembali turun, sedangkan Defa masih sibuk dengan tugasnya.
" Mau mamah bantu? " Defa mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum
" Nggak usah mah, lagian udah selesai juga "
Defa membawa alat pelnya ke gudang, setelahnya ia kembali bargabung dengan anggota keluarganya yang lain.
" Udah selesai? " Defa menggangguk dengan seulas senyum canggung
" Laen kali ati - ati, basah kan gue! " Defa mengerucutkan bibirnya
" Sorry... Lagian gue juga nggak sengaja "
" Jadi gimana ama si Fita? " Defa hampir saja tersedak dengan nasi yang ada didalam mulutnya, kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dion
" Ma... Maksud papah gimana? "
" Si Fita udah ketemu? " Defa menatap wajah teduh Dion lamat - lamat
" Gimana papah bisa... "
" Bang Luki yang kasih tau papah, sebenernya ada masalah apa ampe si Fita dikeluarin dari sekolah " Defa tersenyum getir seraya mengedikkan bahunya
" Defa juga nggak tau pah " Luki berdecih
" Temen apaan lo semua... Si Fita pergi aja nggak tau, kalo udah pergi aja dicariin " Ayu mencubit perut Luki, membuat si empunya merintih kesakitan
" Iya... Kita emang salah, karena itu kita cari si Fita buat minta maaf ama bawa dia balik " Dion tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala Defa
" Nah begitu baru anak papah, jika berbuat salah harus meminta maaf dan menebusnya " Defa tersenyum getir
" Lebih baik sekarang kita makan "
Defa kembali ke kamarnya setelah acara makan malam selesai. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, sambil sesekali bersenandung kecil.
Sendiri dalam pikirku
Terkurung ruang dan waktu
Melihat setiap kata terucap dari mulutmu
Berharap ada tentangku, istimewa dimatamu
Tapi hanya dirinya yang ada dalam kalimatmu
Tak mungkin ada aku diantara kau dan dia
" Cie... " Defa melopat kaget dari atas ranjang, saat mendengar suara Luki dari ambang pintu
Defa berdecak kesal, melihat Luki yang memasang tampang sok polos dan seolah tanpa dosa.
" Lo tuh ya... Kalo masuk kamar orang ketok pintu kek, salam kek bukannya maen masuk - masuk aja "
" Ish... Gue kan abang lo, jadi buat apa ketok pintu. Btw lo nyanyi buat si Fita ya? " Defa tergeragap dengan wajah bersemu merah
" A... Apaan sih lo, Fita itu pacarnya si Rafa! "
" Ah yang bener? " Defa memalingkan wajahnya, guna menghindari tatapan menyelidiki dari seorang Luki
" Brisik lo! Udah malem, pergi sana gue mau tidur! "
" Tidur bareng aja, gimana? " Defa begidik geli
" Ish... Lo udah kek si Rafa ya, homo " Luki terkekeh kecil melihat ekspresi jiji diwajah Defa