Rafa

Rafa
Pindah



Fita mengerjapkan matanya beberapa kali, matanya terasa tertusuk oleh sebuah cahaya terang.


" Lo udah bangun? " Fita melirik kesamping dan mendapati Aldo, tengah menatapnya dengan wajah sendu


" Gu nggak papa ko, bang... " Panggil Fita dengan suara bergetar


" Hmm... " Aldo mengusap pucuk kepala Fita dengan lembut


" Sorry karena... " Suara Fita tertahan


" Itu bukan salah lo kan? "


Mata Fita berkaca - kaca saat Aldo memeluk tubuhnya, detik berikutnya ia sudah terisak.


" Sorry... Selama ini gue cuma nyusahin lo, gue berusaha nggak buat masalah. Tapi mereka yang mulai duluan, gue nggak nglakuin apa - apa " Aldo mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya


" Gue percaya ko ama lo, lagian tuh cewek juga nggak papa. Nggak ada luka atau apapun, pasti lo nggak ngelawan dia kan? "


" Sorry... Karena gue lo juga ikut kena masalah, idup gue cuma nyusahin lo "


" Hust... Lo adek gue, justru gue yang minta maaf karena nggak bisa ngelindungi elo. Gue terlalu sibuk ama urusan gue, ampe gue nggak bisa ngertiin kondisi elo. Gue egois Fit, sorry karena selama ini gue nggak bisa jagain lo " Fita menggeleng lemah


" Abang nggak salah apa - apa " Keduanya kembali terisak


" Andai mamah ama papah ada disini, pasti mereka bakal marahin gue karena nggak bisa ngelindungi Fita. Iya kan pah? " Batin Aldo seraya menyeka air matanya


" Udah " Aldo menyeka air mata Fita lalu mengusap pipi gadis itu lembut


" Sekarang lo istirahat ya, kata dokter lo harus banyak istirahat " Fita mengernyitkan dahi heran


" Emang gue kenapa? " Tanya Fita dengan nafas yang lebih teratur


" Ish... Lo kena tipes, makannya kalo jajan jangan sembarangan! " Aldo berdecak kesal


" Tipes? Terus gimana ama sekolah gue? " Aldo tersenyum miris, lalu mengusap pucuk kepala Fita dengan sayang


" Lo dikeluarin "


Deg


Fita terdiam, ia menundukkan kepalanya dalam - dalam. Aldo mengangkat dagu Fita, hingga mata keduanya saling bertemu.


" Tapi lo tenang aja, gue bakal masukin lo ke SMA tempat gue ngajar. Ok? " Fita mengangguk dengan seulas senyum getir


" Udah lebih baik sekarang lo istirahat, selagi gue pergi "


" Lo mau kemana? "


" Gue mau ngajar, kenapa? Lo pengin gue bawain sesuatu? " Senyum diwajah Fita langsung mengembang


" Martabak red velvet rasa cokelat keju " Aldo mengusap pucuk kepala Fita dengan lembut


" Siap, kalo gitu gue berangkat sekarang. Assalamuallikum " Fita mencium punggung tangan Aldo


" Waalaikumsallam, ati - ati ya " Aldo mengangguk, lalu melenggang pergi


Fita kembali merebahkan tubuhnya, kini dia sendirian. Fita tersenyum miris, saat sekelebat bayangan tentang masa kecilnya kembali hadir.


" Mah... Pah "


Ddrrttt


Neyla meraih ponselnya dari atas nakas, ada begitu banyak pesan dari Panji, Rafa, Defa serta lainnya.


Panji :


Fit lo nggak papa?


Apa yang udah dilakuin si Neyla ama lo?


Gue minta maaf ya, lo kek gini karena gue


Rafa :


Fit...


Lo dimana?


Defa :


Fit lo nggak papa kan?


Gue minta maaf ya, semua ini pasti karena si Ela kan?


Fita tersenyum miris, ia mengeluarkan sim card-nya lalu membuang benda itu kesembarang arah.


" Gue udah bilang, gue cuma mau idup tenang! "


Fita menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya, detik berikutnya ia mulai terisak seraya merutuki nasibnya kini.


" Gue cuma parasit, gue nggak bisa nglakuin apa - apa. Gue cuma bisa ngrepotin bang Aldo, Panji, Defa... Rafa ama yang lainnya. Kenapa sih idup gue kek gini amat! " Fita terisak sambil mengusap tangannya yang tengah di infus


***


" Ayo, buru makan martabaknya. Nanti kalo dokter dateng, abang bisa kena omel " Fita mengangguk, sambil memasukkan potongan besar mertabak kesukaannya kedalam mulut


" Abang mau nggak " Aldo menggeleng sambil menyusap lembut kepala Fita


" Oh iya kata dokter, lo udah boleh pulang besok "


" Sukur deh, males juga lama - lama disini " Aldo berdecih


" Lo kesini juga, karena lo suka jajan sembarangan " Fita terkekeh sambil mengunyah martabaknya


" Oh iya Fit... " Kontan si empunya nama menoleh


" Apaan? "


" Hmm... Besok kita pindah ya " Fita memicingkan matanya heran


" Maksudnya? "


" Kita pindah rumah besok "


" Uhuk... "


" Ish... Kalo makan ati - ati napa sih " Fita menenggak segelas air yang diberikan Aldo hingga setengah penuh


" Maksud abang, kita pindah rumah? " Aldo mengangguk lemah


" Abang berencana jual rumah, terus uangnya buat beli rumah baru yang lebih kecil. Menurut lo gimana? " Fita tersenyum


" Nggak papa, kalo itu yang terbaik kenapa nggak. Lagian rumah itu sepi, gue juga sering ngerasa takut kalo abang lagi pergi " Kilah Fita, ia berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan Aldo


" Thanks ya "


" Emang abang udah nemu pembeli, ama rumah yang mau kita tempati? " Aldo mengangguk dengan seulas senyum


" Sebenernya gue udah lama punya rencana buat pindah, tinggal nunggu waktu yang pas aja buat ngomong ke elo " Fita berdeci lalu meletakkan martabaknya diatas nakas


" Maksud lo waktu yang pas itu, nunggu gue sakit. Iya? "


" Ya ng... Nggak lah, gue nggak sekejam itu kali " Aldo memutar bola matanya untuk menghindari tatapan tajam dari Fita


Sejujurnya meskipun Aldo adalah kakak dari Fita, tapi ia sendiri sering merasa takut saat berhadapan langsung dengan gadis itu.


" Apaan sih lo, natep gue kek gitu " Fita mengerucutkan bibir saat Aldo mengusap wajahnya dengan kasar


" Ih... "


" Ya sorry, lagian lo sadis banget sih. Gue kan abang lo, jadi nggak usah liatin gue kek gitu kali " Fita tersenyum meremehkan


" Lo takut kan? " Aldo tergeragap


" Kepedean bat sih lo! "


" Nggak usah malu - malu kek gitu, ngaku aja " Fita tersenyum bangga


" Makan nih ketek gue! "


" Ayo, kalo berani! "


" Ng... Nggak " Cicit Aldo


" Oh iya, kenapa nomor lo nggak aktif? " Fita mengedikkan bahu acuh


" Gue mau ganti nomor aja, nomor yang lama udah gue buang juga " Aldo mengangguk paham


" Ya udah, kalo kek gitu besok gue beliin yang baru. Ok? "


" Beneran? Eh sekalian skincare gue dong "


" Lah emang udah abis? " Fita tersenyum kuda


" Belom sih, tapi bentar lagi abis. Mumpung lagi ada promo, jadi harganya lebih murah " Jelas Fita dengan mata berbinar


" Nggak usah yang promo - promo " Fita menatap Aldo heran


" Lah kenapa? "


" Kalo promo itu biasanya udah mau kedaluarsa, ya kali gue beliin lo produk kek gitu. Ntar kita beli yang biasa aja, ok? "


" Lo emang abang gue yang terdebest " Aldo menyisir rambutnya dengan bangga


" Ish... Pasti dong, lo mau minta apa lagi. Tinggal bilang ke gue "


" Tinggal bilang aja " Fita tersenyum lebar


" Gue pengin ponsel baru dong, ponsel gue udah kek gini " Aldo mengambil alih ponsel milik Fita


" Ko ponsel lo udah kegores gini sih " Fita mengedikkan bahunya acuh


" Mana gue tau "


" Lo tuh emang ceroboh ya " Fita mengerucutkan bibirnya


" Nggak seceroboh lo lah "


" Apa? Coba bilang lagi? " Fita tertawa lepas saat Aldo menggelitiki perutnya


" Ampun... Ampun "


***


Panji menatap tajam ke arah Rafa dan teman - temannya, yang berdiri tidak jauh dari mereka.


" Apa lo liat - liat? " Panji berdecih


" Emang masalah buat lo? Mata - mata gue! "


" Udah deh Fa, kita kesini buat cari si Fita! " Rafa memutar bola matanya malas sambil berdecak kesal


" Iya gue tau "


Rafa dan Panji mengetuk pintu cokelat itu bersamaan.


" Lo ko ikut - ikutan sih? "


" Kepedean bat sih lo, ada juga lo tuh yang ikut - ikutan gue! "


" Eh ada apa ini? " Semua orang menatap heran, pada wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah


" Maaf... Tante siapa ya? " Tanya Defa sopan


" Saya pemilik rumah ini, kalian siapa? "


" Kita temennya Fita, Fitanya ada? "


" Fita? Oh adiknya Aldo ya? " Semua orang mengangguk serentak


" Mereka udah pindah, sekarang rumah ini punya saya "


" Pindah? " Pekik Rafa, wanita itu mengangguk


" Saya baru dua hari disini "


" Hmm... Apa tante tau kemana mereka pergi? " Sergah Panji penuh harap


" Sayangnya tidak "


" Makasih tan, kalo gitu kami permisi " Wanita itu mengangguk, lalu melangkahkan kembali kakinya kedalam rumah


" Fit lo dimana? " Batin Panji


Panji menarik nafas gusar, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kita pergi sekarang! " Arya dan Ibnu mengangguk pantuh, mereka bergegas pergi mencari keberadaan Fita ditempat lain


" Kenapa sih dia pindah nggak ngomong - ngomong dulu ke gue! " Rafa berdecak kesal, lu menendang pohon yang ada didekatnya


" Dia nggak bakal kek gini, kalo lo nggak terus - terusan nyudutin dia " Pekik Defa dengan wajah merah padam, rahangnya mengerat kuat hingga urat - urat lehernya terlihat jelas


Rafa berdecih, ia menatap Defa tidak kalah tajam.


" Lo nyalahin gue? "


" Semua ini emang salah lo! Coba aja lo nggak salahin si Fita, cuma gegara si Neyla! " Rafa mendaratkan sebuah bogem mentah kewajah Defa, hingga si empunya hampir saja terjatuh andai Salman dan Aziz tidak memeganginya


" Kenapa? Emang faktanya kek gitu kan! " Defa menatap Rafa tajam


" Gue emang salah, terus lo sendiri gimana? Nyadar diri dong lo, sejak awal juga lo nggak berbuata apa - apa kan? Lo juga salah ama si Fita, jadi nggak usah banyak omong! " Sarkas Rafa lalu melenggang pergi dengan motornya


" Pergi aja lo! Pergi yang jauh "


" Udah Def! " Defa menyergah tangan Dodit dari bahunya


" Gimanapun juga, si Rafa itu sahabat lo " Defa berdecih mendengar kata sahabat antara dirinya dan Rafa


" Orang Kek gitu nggak cocok dijadiin sahabat, dia cuma tau cara mainin hati cewek. Emang kurang aja dia! Gue mau balik, lo semua mau tetep disini apa gimana? "


" Kita disini dulu " Ucap Salman disambut anggukan Aziz dan Dodit


" Kalo gitu gue balik dulu "


Defa memacu motornya kembali kerumah, dengan hati siliputi rasa bersalah sekaligus amarah.


" Gue nggak nyangka mereka bakal kek gini " Dodit menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Tapi bener juga apa kata si Defa, ini semua salah Rafa karena terus - terusan nyalahin si Fita " Salman berdecih mendengar penjelasan Aziz


" Si Rafa juga ada benernya, dari awal si Defa dan kita cuma diem liat Fita diperlakukan kek gitu " Dodit melipat tangannya dibawah dada


" Terkadang gue heran, sebenernya si Rafa itu suka ama siapa sih? Fita apa Neyla? " Aziz menepuk bahu Dodit sambil tersenyum miris


" Cuma dia yang tau "


***


Brakk


Rafa yang tengah emosi membuang semua benda yang ada diatas meja belajarnya. Ia benar - benar marah, kecewa, sedih sekaligus menyesal karena kepergian Fita.


" Kenapa lo pergi si Fit! Kenapa lo pergi? "


" Argh... " Pekik Rafa sambil membuang semua benda dari atas ranjangnya


Kini dirinya terkulai lemas diatas lantai yang dingin, hatinya terasa sakit ketika mengingat bagaimana perlakuannya pada Fita hanya demi melindungi Neyla.


" Kenapa lo bodoh banget sih Rafa! Disaat lo udah nemu seseorang yang mampu nyembuhin sakit hati elo ama si Neyla, tapi dengan mudahnya lo singkirin dia cuma demi cewek yang nggak pernah nganggep lo ada! Otak lo dimana Rafa! " Rafa memukuli kepalanya dan tanpa disadari, setetes air mengalir dari pelupuk matanya


" Fit... Gue minta maaf, tolong balik Fit. Gue rela nglakuin apa aja supaya lo mau balik lagi, cuma elo yang bisa ngertiin gue. Balik Fit " Rafa terisak sejadi - jadinya, sambil mengamati foto dirinya dan Fita dari dalam ponsel


Tok  tok  tok


" Bang... Abang nggak papa? " Rafa menyeka air matanya sambil berupaya untuk mengatur ritme nafasnya


Rafa menarik nafas panjang dan berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Rafa mengeluarkan kepala dan sebagian anggota tubuhnya dari pintu, yang sengaja tidak dibuka terlalu lebar.


" Ada apa bi? "


" Abang kenapa? " Rafa tergeragap


" Hmm... Tadi ada... Ada kecoa, iya bi ada kecoa. Serem banget sumpah " Kilah Rafa sambil berupaya untuk tetap tersenyum


" Kecoa? Kalo gitu besok bakal bibi bersihin kamar abang, sebersih - bersihnya supaya nggak ada kecoa lagi " Rafa tersenyum


" Nah gitu dong, btw bibi ada perlu apa lagi nih? " Rina menepuk dahinya pelan dengan senyum mengembang


" Eh iya, bibi ampe lupa. Makan malem udah siap bang "


" Rafa nggak selera makan bi " Rina mengusap pipi Rafa lembut


" Ada masalah apa? " Rafa kenundukkan kepalanya dalam - dalam, sambil berupaya menghindari tatapan Rina


" Nggak ada ko bi, kalo gitu bibi duluan aja. Bentar lagi Rafa turun " Rina mengangguk lalu melenggang pergi kelantai bawah


Rafa membasuh wajahnya dengan air dingin, kemudian menyusul Rina dan anggota keluarganya yang lain.


" Ish... Udah pada ngumpul aja nih " Celetuk Rafa


Rafa mengerucutkan bibirnya, saat seluruh anggota keluarga tidak merespon perkataannya.


" Kek gini lagi... Oy lo semua beneran nggak sadar ada gue, apa pura - pura nggak liat sih?! " Rafa berdecak sebal sambil mengambil posisi tepat disamping ibunya


" Bagaiaman? Apa dia sudah dikeluarkan? " Rafa menatap Wawan heran


" Siapa? "


" Gadis yang pernah datang kemari, apa dia sudah dikeluarkan setelah memukul putri Gusti? " Rafa berdecih


" Hmm... Tapi Fita nggak pernah mukul Neyla, si Neyla aja yang berlebihan " Wawan menyeringai tajam


" Jadi Neyla bohong? Jika memang iya, kenapa temanmu tidak melawan " Rafa mengeratkan genggamannya, pada sendok dan garpu yang ada ditangannya


Namun sesaat kemudian genggamannya mulai mengendur, bersamaan dengan nafasnya yang kembali teratur.


" Hanya berusaha untuk menghindari konflik, lagian papah tau dari mana? Keknya nggak ada yang cerita hal itu deh "


" Gusti " Rafa berdecih, ia tersenyum miris mendengar nama yang dilontarkan Wawan


" Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya ya? " Alya menatap wajah Rafa heran


" Ngomong apaan sih lo! " Rafa berdecak kesal, ia meminum air dari dalam gelas hingga habis


" Mau kemana kamu? "


" Tidur! " Rafa melenggang pergi menuju kamar, dengan emosi yang sudah tidak mampu dibendung lagi


" Lebih baik kau segera menceritakannya, atau aku sendiri yang akan melakukan itu! " Asti mengangguk patuh