Rafa

Rafa
Berusaha Melupakan



Aldo duduk diantara Fita dan Hani, keduanya terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka.


" Jadi... " Hani menoleh saat Aldo yang dengan sengaja menggantung kalimatnya


" Ada apa? " Seketika senyum diwajah Aldo mengembang, ia merangkul bahu Hani dan Fita agar lebih dekat padanya


" Mamah ama Fita masih nggak mau maafin si Panji nih? "


" Soal itu... "


Fita menepis tangan Aldo dengan kasar, wajahnya memerah dengan sorot mata tajam.


" Nggak! " Potong Fita cepat lalu bergegas pergi menuju kamarnya


" Fita "


" Biar Aldo aja mah " Hani mengangguk, ia membiarkan putranya menyusul Fita kekamar


Tok  tok  tok


" Fit... Abang boleh masuk? "


Aldo menghela nafas berat, ia memutar kenop pintu lalu melangkah masuk kedalam kamar Fita. Terlihat Fita yang tengah duduk ditepi jendela sambil terisak.


" Kenapa sih elo ama mamah, nggak bisa ngertiin perasaan gue. Hiks... " Aldo tersenyum sambil mengusap lembut kepala Fita yang tengah terisak


" Nggak ngertiin gimana? " Tanya Aldo lembut, ia berusaha bersikap tenang sama seperti biasanya


" Gue benci ama si Panji, terus dengan mudahnya lo bilang buat maafin si Panji? Masa lo nggak inget sih, hiks... Papah itu meninggal gegara bokapnya si Panji! " Fita mengusap air matanya dengan kasar


" Itu udah lama Fit, itu juga udah takdir. Lagian yang nabrak papah itu bokapnya si Panji, bukan Panji kan? "


" Tetep aja gue benci ama mereka bang! Hiks... " Aldo menarik tubuh Fita kedalam pelukan dada bidangnya, sambil mengusap lembut kepala gadis itu


" Hust... Lo nggak boleh kek gini terus Fit, kasihan papah disana. Lo mau papah nggak tenang cuma gegara masalah ini, lagian sejak peristiwa itu idup si Panji juga sama kek kita. Dia nggak punya siapa - siapa buat berbagi, bahkan kehidupan kita masih lebih baik dari pada si Panji. Elo masih punya gue dan gue masih punya elo "


" Tapi bang... "


" Kalo lo nggak percaya, lo bisa ko nanya ke semua tetangganya si Panji. Lo bisa nanya soal kehidupan Panji, sejak bokapnya masuk penjara ampe nyokapnya minta cerai "


Fita mendongakkan kepala, ia menatap lamat - lamat wajah Aldo yang terlihat teduh sama seperti biasanya.


" Gue udah nyari tau tentang idup si Panji, karena itu gue berani ngomong ke kalian supaya mau maafin Panji " Fita menatap Aldo tidak percaya


" Kapan? "


" Belom lama ini, gue harap lo bisa bersikap bijak sama kek biasanya. Lo inget kan ama kata - kata Gus Miftah? " Fita memicingkan matanya


" Yang mana? "


" Kalo kita punya masalah, jangan fokus ama masalahnya. Tapi fokus ama yang memberi masalah, coba deh lo sholat terus minta petunjuk dari Allah. Kalo lo udah tenang, baru deh lo ngambil keputusan "


Fita menghela nafas berat, kemudian mengangguk setuju.


" Kalo gitu gue keluar sekarang ya "


" Thanks ya bang, buat sarannya "


" Apapun buat ade kesayangan gue " Aldo mencium pucuk kepala Fita gemas, membuat si empunya tersenyum bahagia dengan pipi bersemu merah


Aldo tersenyum kemudian melenggang pergi, setelah mengatakan kalimat itu. Fita bangkit, lalu melangkah menuju kamar mandi dan bersiap untuk melakukan sholat sunah dua rakaat.


" Ya Allah aku pasrahkan semuanya padamu, jika memang ini yang terbaik maka tolong berkahi. Aku mohon padamu Ya Allah, semoga papah bisa tenang di syurga-mu. Aamiin " Fita menutup doanya, dengan bersujud diatas hamparan sajadah hitamnya selama beberapa detik sebelum akhirnya bangkit


***


Tok  tok  tok


" Aduh siapa sih? Pagi - pagi kek gini bertamu, nggak tau adab bat dah! " Panji membenamkan wajahnya semakin dalam, diantara bantal - bantal lusuhnya


Tok  tok  tok


" Ish... Bentar! " Panji melempar bantal miliknya kesembarang arah, kemudian bangkit dari ranjangnya dengan malas


Panji berjalan menuju pintu dengan langkah gontai, dalam hati ia merutuki siapapun yang berani mengganggu tidurnya. Apa lagi ia baru tidur selama 15 menit, setelah pulang dari sift malamnya sebagai seorang pramuniaga disebuah restoran.


Tok  tok  tok


" Sabar napa sih? Nggak tau kalo gue ngantuk apa! " Panji memutar kenop pintunya dan bersiap untuk melontarkan semua kalimat kasar, yang sudah dipendamnya selama beberapa detik ini


" Surprise!! " Kontan mata Panji membelalak lebar saat melihat Fita berdiri diambang pintu, dengan senyum merekah dan kue ditangannya


Bukan hanya Fita tapi ada juga Rafa, Defa, Dodit, Salman, Aziz dan tidak lupa kedua sahabatnya Ibnu dan Arya.


" Lo... Lo semua ngapain disini? "


" Apa? Ish... Kalo ada tamu tuh disuruh masuk kek, bukannya ditanya kek gitu! " Gerutu Fita sambil memukul lengan Panji, membuat si empunya hanya bisa tersenyum kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Sorry... Sorry, ayo masuk "


" Assalamuallaikum " Ucap mereka serentak


" Waalaikumsallam. Silahkan duduk, maaf ya rumahnya kecil "


" Santai aja kali "


" Btw lo semua mau ngapain disini, ganggu orang tidur aja? "


" Oh jadi gitu cara lo nyambut kita? "


" Apa? Ng... Nggak, maksud gue kenapa lo semua dateng pagi - pagi. Gue baru juga tidur " Cicit Panji setelah melihat sorot mata Fita


" Lebih baik sekarang lo pake baju dulu, nggak malu tuh... Badan udah kek lidi aja masih dipamerin "


" Malu tuh ama si Fita! "


" Lah ko gue? " Protes Fita


" Iyalah... Secara disini cuma elo ceweknya " Panji menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Gue lupa, kalo gitu gue masuk dulu ya "


Fita menyalakan lilin ulang tahun, selagi Panji bersiap dikamarnya. Setelah beberapa saat Panji keluar dengan tampilan yang lebih fresh dari sebelumnya, rambutnya juga terlihat lebih rapi.


" Sekarang lo duduk disini " Panji mengangguk, lalu mengambil posisi tepat disamping Fita


" Ada acara apaan sih? "


" Ish... Ini ultah lo bambang! " Ucap Fita gemas seraya memukul lengan Panji


" Kena lagi! " Gerutu Panji sambil mengusap lengannya yang terasa berdenyut


" Eh... Lo udah nggak... " Fita tersenyum sambil mengangguk mantap


" Lagian itu udah masa lalu, jadi nggak usah diungkit lagi "


" Thanks ya "


" Hmm... Oh iya, bokap lo mana? " Fita celingukan mencari sosok Diko, yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya


" Kerja "


" Lo berdua pada ngomongin apa sih? " Tanya Defa curiga


" Neng... Babang Rafa cemburu, neng Fita ko tega banget sih deket - deket ama cowok laen. Didepan babang Rafa lagi, atit hati abang neng... Atit dah sumpah " Celetuk Rafa mendramatisir


" Lo pengin gue gampar "


" Astagfirullah, jahadnya calon istri gue "


" Brisik lo! Ayo Nji, lo bikin permohonan dulu abis itu kita potong kuenya "


Panji menghela nafas panjang dengan mata tertutup rapat, setelah beberapa saat ia membuka mata dengan seulas senyum dan bersiap untuk meniup lilinnya.


" Yeay... Potong kuenya! "


Panji memberikan potongan kue pertamanya pada Fita, membuat pipi gadis itu bersemu merah.


" Gue ngasi potongan pertama ini buat elo, sebagai ucapan terima kasih dan maaf udah bikin lo nangis "


" Thanks "


" Sakit hati babang! " Pekik Rafa sambil tersungkur diatas tikar yang tipis


***


Rafa mengamati wajah Fita yang tetap terlihat cantik, meski tengah memakan snack ditangannya. Fita berdecak sebal saat menyadari dirinya tengah diperhatikan, oleh sosok yang dipanggil dengan sebutan Rafa.


" Ngapain sih lo! "


" Cuma pengin ngeliat, gimana caranya pacar gue ngunyah ama nelen tuh makanan " Kilah Rafa asal membuat Fita begidik geli


" Stress lo ya? Udah buru makan, nggak usah bikin gue jiji! "


" Ish... Jangan marah - marah mulu, natar gue nambah sayang gimana? Lo mau gue nambah cinta ke elo gitu "


" Yang sekarang aja udah bikin gue gedeg, apa lagi kalo nambah "


" Nah tuh lo tau... Fit "


" Hmm "


" I love you " Fita memicingkan matanya heran, sambil menatap wajah Rafa lamat - lamat


" Hah? Apaan? "


" I love you "


" I love you too " Rafa terkekek kecil melihat ekspresi geli diwajah Fita


" Jiji gue... Jiji gue "


" Lo tau nggak, bedanya elo ama rumah hantu? "


" Bodo amat " Ucap Fita acuh yang kini terlihat lebih asik pada snack ditangannya, bahkan ia tidak memperdulikan sosok Rafa yang tengah menatapnya intens dengan senyum merekah


" Nih ya... Kalo rumah hantu itu sarangnya setan, kalo kamu itu sarangheyo "


" Udah gue bilang, bodo amat! "


" Ish... Susah ya kalo punya pacar cuek "


Rafa terdiam, ia tengah memikirkan bagaimana cara membuat Fita fokus padanya.


" Eh Neyla, sini Ney " Mata Fita membelalak lebar, ia bangkit seraya mengedarkan pandangannya kesegala arah


" Mana si Neyla? " Rafa terkekeh kecil kemudian mengambil alih snack milik Fita


" Nggak ada "


" Apa? " Pekik Fita geram


" Lo cemburu kan? " Fita berdecih lalu mendaratkan sebuah pukulan dibahu Rafa


" Kepedean amat sih lo "


Fita kembali duduk dikursinya, ia merebut snack miliknya dari tangan Rafa.


" Ih ko diambil sih? " Protes Rafa tidak terima


" Lah kenapa? Snack... Snack gue, nah tuh punya elo masih utuh! " Fita mengedikkan dagunya pada sebuah kantong plastik yang ada didepan mereka


" Tapi rasanya beda, punya elo itu berasa lebih wah gitu "


" Halah... Ngomong aja lo pengin punya gue, biar punya elo tetep utuh kan? Giliran punya gue abis, ntar elo baru buka snack itu kan? " Rafa terkekeh kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Lo udah paham tak - tik gue ya? "


" Banget! "


" Neyla! "


" Udah nggak mempan "


" Eh elo Fa " Kontan mata Fita membelalak lebar, ia menoleh pada gadis yang tengah berdiri dibelakangnya


" Lo ngapain disini? "


" Gue mau beli kado buat si Panji, kemaren dia ultah kan? "


" Oh "


" Lo berdua... Kenapa duduk diluar? "


" Biasa, lo mau beli apaan? "


" Ya apa aja, kalo gitu gue masuk sekarang " Rafa mengangguk sambil menatap kepergian Neyla


" Terus aja! " Fita menggebrak meja didepannya, lalu melenggang pergi disusul Rafa dengan tatapan geli


" Lo cemburu kan? " Fita berdecih


" Buat apa gue cemburu coba? Nggak guna banget " Kilah Fita


" Cemburu juga nggak papa, lo tenang aja... Cinta gue cuma buat elo seorang ko "


" Basi! "


" Ish... Kalo lo nggak percaya " Fita menatap Rafa heran, saat pria itu menggenggam tangannya erat


" Lo lagi ngapain sih? "


" Lo tau kan kalo gue kerja, mulai sekarang gue janji... Sebagian dari uang itu bakalan gue kumpulin buat beli mahar untuk nglamar elo nanti " Fita tersenyum geli mendengar perkataan Rafa, tapi disisi lain ia merasa senang


" Apaan sih lo " Fita menarik tangannya lalu melenggang pergi dengan pipi bersemu merah


" Fit tunggu! "


***


Panji menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya lembut, selagi menunggu kedatangan Neyla. Sebenarnya ia sendiri enggan bertemu dengan gadis itu, tapi ini satu - satunya cara agar gadis itu berhenti mengganggunya.


" Lo udah lama? " Panji membuka matanya malas, ia memasang wajah datar saat menyadari Neyla tengah berada didepannya


" Nggak usah banyak omong, to the poin aja " Sarkas Panji membuat Neyal hanya bisa menghela nafas jengah


" Lo cuek amat sih? "


" Kalo lo udah tau, kenapa terus - terusan ngejar gue coba? "


" Karena lo itu cinta pertama gue, jujur gue masih suka sama elo. Nggak mudah buat ngelupain elo Panji! " Panji berdecih sambil menarik salah satu sudut bibirnya, lalu menatap wajah Neyla lamat - lamat


" Cinta pertama? Lo masih percaya ama kek gituan? "


" Gue percaya karena gue ngalami itu semua. Cuma elo cinta pertama gue Panji, cuma elo! " Ucap Neyla penuh penekanan, seakan ia ingin menunjukan keseriusannya


" Halah... Nggak usah banyak omong, to the poin aja. Kenapa lo nyuruh gue kesini? "


Neyla tersenyum, lalu menyodorkan kotak berwarna merah dengan pita putih diatasnya.


" Apaan? " Tanya Panji dengan kening berkerut


" Kado, kemaren lo ultah kan? Sorry ya gue telat " Panji berdecih seraya memutar bola matanya malas


" Buat lo aja "


" Ih... Gue beliin ini buat elo Nji, khusus buat elo. Bahkan gue harus muter - muter dimall, selama berjam - jam cuma buat beli ini "


" Gue nggak minta elo buat beliin ini kan? " Neyla mendengus kesal, ia memberikan kadonya pada Panji lalu melenggang pergi dengan membawa amarah


Panji berdecih melihat tingkah Neyla, yang tidak pernah berubah sejak dulu. Gadis itu akan tetap sama, kekanak - kanakan dan juga manja. Panji memasukkan kado dari Neyla kedalam tasnya, lalu bergegas pergi kembali ke kontrakan.


" Assalamuallikum "


" Waalaikumsallam, baru pulang Nji? " Panji menoleh dengan seulas senyum, pada Diko yang tengah bersiap untuk pergi bekerja


" Iya, bapak udah mau berangkat? "


" Iya. Diatas meja udah ada makanan, kalo gitu bapak berangkat sekarang ya " Panji mengangguk kemudian mencium punggung tangan Diko


" Hati - hati dijalan pak "


" Iya. Assalamuallikum "


" Waalaikumsallam "


Panji menutup pintu setelah kepergian Diko, ia bergegas pergi ke kamar sambil membawa tasnya. Panji duduk diatas ranjang dan mulai membuka kado yang diberikan oleh Neyla.


" Kemeja? " Gumam Panji saat melihat isi kadonya, yang ternyata sebuah kemeja berwarna putih dan sebuah surat diatasnya


Teruntuk Panji


Gue tau ko, kalo sekarang lo udah kerja sebagai pramuniaga. Waktu itu gue nggak sengaja ngeliat elo kerja, jadi gue beliin kemeja ini buat elo. Semoga elo suka ya


Penuh cinta Neyla💜


Nb: Jangan lupa dipake ya😊


Panji berdecih, detik berikutnya seulas senyum terukir jelas diwajahnya. Panji segera melepas kaos yang tengah dikenakannya, kemudian segera memakai kemeja pemberian Neyla yang ternyata pas dengan badannya.


" Cocok kan? " Gumam Panji sambil mengamati pantulan dirinya dari sebuah cermin


Ddrrttt


Panji mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mendapati nama Neyla disana.


Gimana kemejanya? Pas nggak?


Panji tersenyum, ini memang Neyla yang sama seperti sejak pertama mereka bertemu.


Hmm... Btw, thanks ya


Neyla :


Seriusan? Sama - sama😊


Tapi lo suka kan?


Gue :


Hmm


Neyla :


Jangan lupa dipake ya, gue nggak sabar liat lo pake kemeja dari gue. Ok? Bye😇😇


Panji terkekeh kecil sambil mengamati pesan dari Neyla.


" Thanks "