
Rafa memperhatikan kedekatan antara Fita dan Defa, yang terjalin akhir - akhir ini. Ia berdeham kemudian menghampiri kedua sahabatnya, dengan seulas senyum.
" Cie... Makin akrab aja nih, sayang aku cemburu loh " Goda Rafa sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Fita.
" Makan nih upil " Rafa mendongakkan kepalanya sambil tersenyum geli.
" Gurih dong... Secara upilnya neng Fita sayang, kalo upilnya neng Fita babang Rafa juga mau " Fita begidik geli
" Ish... Sumpah stress lo kumat lagi Fa " Defa menimpali
" Gegara sayang Fita sih... Jadi gue kek gini lagi " Fita berdecih
" Idih kenapa lo bawa - bawa gue? " Protes Fita
" Sayangku ko gitu sih sekarang... Udah nggak sayang ama babang Rafa lagi ya? " Fita terdiam lalu memutar bola matanya malas.
" Sejak kapan gue suka sama lo " Defa tertawa lepas sedangkan Rafa hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
" ****** lo... Gas pol Fit, jangan kasih kendor "
" Mana yang kendor? Neng Fita sayang tenang aja, babang Rafa siap mengencangkan segala sesuatu yang kendor " Fita memicingkan matanya heran
" Hah? Maksud lo apaan? "
" Ih nggak paham ya, wkwkwk " Fita memutar bola matanya malas
" Sumpah gak jelas banget "
" Lo yang terlalu polos Fa " Defa dan Rafa saling melempar tatapan geli, saat melihat tanda tanya besar diwajah Fita.
" Oh ya, yang lain mana? "
" Lagi ke kantin, bentar lagi juga dateng "
" Neng babang kangen dah sumpah, sama neng Fita tersayang " Sambung Rafa sambil menyandarkan kembali kepalanya pada bahu Fita.
" Lo pengin gue gampar lagi? "
" Gampar aja Fit, kalo perlu reka adegan waktu lo gampar Rafa... Secara waktu itu gue kan nggak liat " Rafa mengerucutkan bibirnya
" Sirik aja lo netijen +62 "
" Udah deh... Lo bedua bisa diem nggak sih! " Kontan Defa dan Rafa terdiam mendengar perintah dari Fita.
" Fita " Panggil Rafa lembut, membuat si empunya nama menoleh.
" Apaan? "
" Gue mau nanya, tapi lo jangan marah ya? " Defa menatap Rafa curiga
" Nanya apa? "
" Lo... PMS ya " Rafa tergeragap saat Fita menatapnya tajam.
" Ng... Nggak, soalnya akhir - akhir ini lo sering banget emosi " Fita mencengkram kerah seragam Rafa dan hendak menghadiahkan sebuah bogem mentah, tepat diwajah tampan pria itu.
" Hahaha... Hajar aja Fit, gue dukung lo "
" Temen apaan lo Fa! Bantuin gue kek " Defa menggeleng dengan seulas senyum.
" Sorry Fa, gue nggak punya kuasa buat menghentikan semua perilaku Fita ke elo "
" Jahat lo! "
" Eh lepasin nggak! " Riska menarik lengan Fita menjauh dari kerah seragam Rafa.
Rafa menghela nafas lega, karena Riska datang tepat pada waktunya.
" Berani - beraninya lo mau mukul ayang embeb gue! " Fita berdecih
" Ayang embeb... Ayang embeb... Makan tuh ayang embeb lo! " Fita mendorong tubuh Rafa kearah Riska, hingga keduanya limbung dan hampir terjerembab ke lantai.
" Asik... Keren nih Fita " Sorak seorang siswa disambut gelak tawa siswa lainnya.
" Gumoh gue... Gumoh gue... Gumoh gue " Rafa begidik geli seraya berjalan menjauh dari Riska.
" Ih ko gumoh sih... Harusnya kan lo seneng! " Rafa mengusap bulu romanya yang berdiri sejak tadi.
" Dari pada dapet cewek kek lo... Mending gue jadi jomblo "
" Ih Rafa kejem banget sih sama akoh "
" Udah Ris sikat aja, nggak usah malu - malu kek gitu "
" Mata lo yang gue sikat! " Sergah Rafa membuat senyum diwajah Defa semakin mengembang.
" Rafa! " Panggil Riska manja yang kontan membuat bulu kuduk Rafa berdiri
***
" Kalian udah siap? " Tanya Fahmi
" Siap pak "
" Rafa " Kontan si empunya nama menoleh dengan seulas senyum.
" Selalu dong... " Defa memutar bola matanya malas.
" Ok kalau begitu, Fit ayo dimulai sekarang "
Fita mengangguk, ia memutar sebuah lagu untuk didengarkan oleh teman - temannya.
Jakku neobake anboyeo
" Wait... Wait " Fita menghentikan alunan musiknya sesuai instruksi Rafa.
" Lagu Korea? " Fita mengernyitkan dahi
" Iya, emang kenapa? "
" Pak emang ada lagu Koreanya? "
" Kemungkinan ada, karena musik Korea sedang digandrungi anak muda. Ini hanya untuk berjaga - jaga "
" Oh. Kalo gitu lanjutin Fit " Fita memutar kembali lagu dari dalam ponselnya hingga lirik terakhir
Eojekkajina saranghal geoya
" Nah sekarang Fita akan mempraktekkan cara bernyanyinya, tapi sebelum itu... " Fita mengangguk, ia menyerahkan selembar kertas pada masing - masing anak.
" Ini lirik? "
" Tepat sekali, jadi kalian akan lebih mudah menghafal. Untuk sementara satu lagu dulu, setelah itu lagu kedua "
" Tapi ada repnya pak " Fita memicingkan matanya
" Emang kenapa? "
" Ish... Gue kan nggak bisa, kalo bisa nggak mungkin secepet itu "
" Oh. Lo tenang aja, gue yakin Defa bisa ko " Kontan si empunya nama menoleh heran
" Lah kenapa gue? " Fita tersenyum
" Gue tau lo punya lagu ini, jadi gue yakin lo udah hafal "
" Lah... Lo ko bisa tau sih? " Fita tersenyum geli
" Waktu itu gue nggak sengaja denger lo nyanyi lagu ini "
" Nah masalah udah selesai kan? Jadi Rafa yang pertama nyanyi, setelah itu Defa bagian repernya "
" Maaf pak, saya rasa mereka berdua harus sama - sama memegang bagian reper " Rafa membuka mulutnya seraya membelalak lebar, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
" Mati gue " Batin Rafa
" Loh kenapa? "
" Soalnya lagu ini didominasi bagian reper, minimal harus dibagi dua. Walaupun Defa yang harus dapat bagian lebih banyak "
Fahmi mengangguk setelah menimang beberapa saat.
" Ok kalau begitu, bapak setuju. Rafa nanti kamu harus lebih sering berlatih dengan Fita " Senyum diwajah Rafa langsung mengembang
" Asiyap... "
" Defa harus menghafal lagu kedua, karena sudah hafal lagu pertama " Defa mengangguk
" Dan yang lainnya, kalian juga harus banyak berlatih karena lomba tinggal beberapa minggu lagi. Satu hal yang harus kalian ingat, menang kalah itu biasa yang terpenting kita ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara. Mengerti? "
" Siap mengerti pak "
" Bagus... Kalian bisa berlatih lagi besok, sekarang kalian bisa pulang karena ini sudah sore "
" Iya pak " Mereka mencium punggung tangan Fahmi sesaat sebelum pria itu pergi.
Rafa duduk disamping Fita yang tengah membereskan buku, ia meletakkan kepalanya diatas meja dengan seulas senyum.
" Hust... Sayang " Fita memutar bola matanya malas
" Apa? "
" Jangan cuek gitu dong, hati babang Rafa sakit tau "
" Bomat "
" Rasain lo Fa " Dodit menimpali sambil terkekeh kecil
" Udah... Kalo udah ditolak, mending pergi aja deh " Rafa berdecih
" Sirik aja lo semua " Salman tersenyum geli
" Kalo gue jadi lo ya Fa, gue bakal lari terus ngumpet digorong - gorong. Tapi untungnya gue bukan elo wkwk "
" Setuju gue Man... Kalo gue jadi Rafa juga, bakal ngumpet digorong - gorong " Defa menimpali
" Jangan kek gitu... Kasihan tuh si babang Rapa, mukanya udah kek kucing oyen kalah saingan " Fita tersenyum geli melihat tingkah teman - temannya.
" Ahay... Kucing oyen bar - bar " Ucap Aziz sambil mengelus kepala Rafa.
Rafa mendengus kesal, karena mereka bersekongkol untuk menjatuhkannya didepan Fita.
" Brisik lo semua! Neng Fita mau babang anterin pulang? " Fita memicingkan matanya
" Emang lo punya motor? "
***
Rafa menatap Wawan dari balik tembok saat pria paruh baya itu tengah duduk disofa, dengan mata yang berfokus pada laptop dan setumpuk dokumen.
" Ngomong apa nggak ya? Ngomong salah, nggak ngomong salah " Gumam Rafa pada dirinya sendiri
" Ngapain kamu? " Rafa tergeragap, ia menghampiri Wawan dengan seulas senyum.
" Ng... Nggak " Sergah Rafa
" Mau hadiah apa? " Mata Rafa membelalak lebar
" Tau aja nih... Rafa nggak mau pesta ultah, yang terpenting Rafa minta motor " Ucap Rafa memelan diakhir
Wawan menatap wajah Rafa intens, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke laptop didepannya.
" Buat apa? " Rafa berdecak kesal
" Buat kesekolah, males juga kalo tiap kali berangkat harus pesen ojek "
" Liat nanti "
Tok tok tok
" Assalamuallaikum " Kontan Rafa dan Wawan menoleh kearah pintu, yang memperlihatkan seorang gadis dengan balutan jeans, T-shirt dan dilengkapi oleh blezer.
" Waalaikumsallam " Wawan menatap Rafa intens, saat putranya bangkit dan menghampiri gadis itu dengan senyum merekah.
" Eh Fita, masuk Fit " Fita mengangguk
" Duduk dulu Fit "
" Om " Wawan menerima uluran tangan Fita, detik berikutnya gadis itu sudah mencium tangannya.
" Oh iya, btw ngapain lo kesini? "
" Kita latian "
" Terus yang laen mana? "
" Nggak ada " Rafa memicingkan matanya heran
" Lah kenapa? "
" Defa udah hafal semua lagunya, Dodit, Aziz dan Salman udah lumayan. Tinggal lo doang " Rafa tersenyum kuda, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Oh, kalo gitu gue mau siap - siap dulu ya. Lo duduk dulu " Fita mengangguk, detik berikutnya ia sudah pergi kekamar.
Suasana berubah hening sepeninggal Rafa, hanya terdengar suara ketikan keyboard laptop dan beberapa lembar dokumen.
" Ayo Fit " Fita mengangguk, ia bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Wawan.
Wawan menerima uluran tangan Fita, sedangkan Rafa hanya menatapa heran.
" Udah? " Fita menatap Rafa heran
" Lo nggak... " Fita menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat, Rafa memutar bola matanya malas lalu mengulurkan tangannya.
" Pah " Wawan menatap Rafa heran, tapi detik berikutnya ia menerima uluran tangan putranya.
" Assalamuallaikum " Fita memukul perut Rafa dengan sikunya, membuat si empunya meringis kesakitan.
" I... Iya, assalamuallaikum " Wawan mengangguk
" Waalaikumsallam "
Rafa menggandeng tangan Fita keluar, membuat gadis itu tersentak kaget apa lagi mereka melakukannya didepan Wawan.
" Ok, jadi kita pergi make apa? " Fita menarik lengannya kasar
" Ih... Nggak usah malu - malu gitu " Rafa menyandarkan kepalanya dibahu Fita membuat si empunya memutar bola matanya malas.
" Lo cari taksi gih " Sergah Fita
" Ok, tapi kita mau pergi kemana? "
" Kita cari tempat yang nyaman, gimana kalo taman? "
" Taman? Gue punya ide " Fita menyipitkan matanya curiga
" Ayo kita kesana, lagian nggak jauh dari sini. Jadi kita bisa jalan kesana "
" Lo yakin? " Rafa mengangguk mantap, ia menarik lengan Fita menjauh dari area rumahnya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai disebuah taman yang cukup ramai.
" Ayo kesana " Rafa menarik lengan Fita lalu mereka duduk dibawah pohon rindang.
" Lo sering kesini? " Rafa mengangguk
" Dulu gue, Defa ama Ela sering banget kesini "
" Oh " Fita mengeluarkan ponsel serta sebuah kertas dari dalam tasnya.
" Nih lo pegang " Rafa menerima kertas berisi lirik
" Gue nggak nyangka lo bisa lagu bahasa Korea "
" Emang kenapa? "
" Nggak, cuma nggak nyangka aja "
" Abang gue kan guru musik sekaligus guru les vokal, jadi gue bisa kek gini karena dia... Udah lebih baik lo dengerin " Fita memasang headset pada telinga Rafa.
***
" Makasih " Neyla menerima ice cream dari Panji dengan senyum merekah.
" Buruan makan, ntar meleleh " Neyla mengangguk, ia mulai memakan ice cream vanilanya sedikit demi sedikit.
" Gue nggak nyangka, ternyata lo suka ketaman ini "
" Iya... Itu dulu, sekarang nggak pernah. Lagian taman ini deket dari rumah gue " Neyla kembali menjilati ice creamnya.
" Lepas! " Fita menyingkirkan tangan Rafa, membuat si empunya terkekeh kecil.
" Pelit amat lo Fit, gue kan cuma mau ngerangkul lo doang "
" Lama - lama gue gampar juga lo " Rafa berdecak
" Lo tuh ya, jadi cewek rada feminim kenapa sih? Ntar gue juga makin sayang sama lo " Fita menatap Rafa dengan kening berkerut.
Rafa menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Fita yang tertinggal beberapa meter darinya.
" Kenapa berhenti? "
" Ish... Gue bener - bener pengin gampar lo sekarang, apa lagi setelah denger kalimat lo itu! "
" Ish... Nyonya Rafa galak bener dah, tapi nggak papa. Lo selow aja karena babang Rafa bakal tetep cinta ama neng Fita, ok? " Rafa merangkul bahu Fita
" Stress lo ya " Rafa terkekeh kecil
" Rafa? " Kontan si empunya nama berhenti, lalu menoleh pada seorang gadis yang tengah memakan ice cream dengan kekasihnya.
Panji ikut bangkit dari kursinya.
" Ela? " Neyla menatap heran, sorot matanya ia alihkan pada tangan Rafa yang tengah merangkul Fita.
" Lo berdua ngapain disini? " Rafa tersenyum simpul
" Jalan - jalan "
" Lo berdua udah... " Rafa tersenyum saat Neyla menggantung kata - katanya.
" Kita udah jadian " Rafa mempererat rangkulannya
Mata semua orang membelalak lebar mendengar penuturan Rafa, tidak terkecuali dengan Fita.
" Ish, nih bocah emang udah stress... Sejak kapan kita jadian coba? " Batin Fita kesal
" Sejak kapan? " Kini Panji bersuara diikuti anggukan dari Neyla.
" Tadi... Iya kan sayang " Fita menoleh pada Rafa dengan tatapan tidak percaya.
" I... Iya " Jawabnya kemudian
" Oh. Kalo gitu selamat buat lo berdua "
" Thanks " Rafa menerima uluran tangan Panji dengan seulas senyum.
" Jadi lo berdua abis dari mana? "
" Biasa quality time, namanya juga pasangan baru. Iya nggak Fit " Fita mengangguk lemah dengan seulas senyum canggung.
" Taksi " Sebuah taksi berhenti tepat didepan mereka
" Kita duluan ya, ayo Fit "
" Ish... Kenapa tuh cewek mau ama cowok stress kek gitu " Batin Panji sambil mengepalkan tangannya kuat
" Gue nggak nyangka mereka udah jadian " Panji melemparkan tatapan dingin dan tajam pada Neyla, saat tengah memperhatikan taksi yang ditumpangi Rafa dan Fita menjauh dari area taman.
" Gue anterin lo pulang sekarang! " Sergah Panji
" Hah? Cepet banget " Protes Neyla tapi tidak direspon oleh Panji
Rafa dan Fita hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang, mereka lebih fokus pada pikiran masing - masing.
" Nih cowok nggak punya inisiatif, buat jelasin semuanya apa? "
Fita melirik tajam kearah Rafa, yang tengah fokus pada ponsel ditangannya. Ia berdecak kesal, lalu melipat kedua tangannya dibawah dada.
" Maap ya neng... Tapi babang Rafa emang nggak punya inisiatif, buat jelasin semuanya " Rafa tersenyum simpul
Setelah beberapa menit, taksi yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah Fita. Gadis itu segera turun disusul Rafa dibelakangnya.
" Ngapain lo turun? " Rafa tersenyum, ia mengangkat tangannya kemudian meletakkannya diatas kepala Fita.
Fita tersentak kaget, pipinya merona merah saat Rafa mengusap lembut kepalanya.
" Lo inget ya, sekarang lo punya gue " Ucap Rafa dengan senyum merekah