
" Eh diem - diem bae lo, mikirin Lucinta ya " Dodit memutar bola matanya jengah, tapi tidak dengan teman - temannya yang justru tengah tertawa lepas.
" Enak aja lo " Sergah Dodit
" Terus kenapa lo? "
" Gue heran aja ama tuh cewek, yang masuk kerumah coach Aldo "
" Demen lo ya? " Pipi Dodit memerah saat semua temannya kembali tertawa lepas.
" Enak aja lo, gue udah punya cewek " Kilah Dodit
" Alah masa... Gue ragu ada yang mau, ama lo Dit " Rafa menimpali disambut gelak tawa teman - temannya.
" Brisik lo pada " Rafa merangkul bahu Dodit
" Udah... Udah, kasian anak bapak. Muka lo udah kaya kucing oyen, ketawan nyolong ikan asin emak awokawok " Semua orang kembali tertawa apalagi saat pipi Dodit semakin memerah.
" Brisik lo Fa "
" Udah anak bapak nggak boleh ngomong kek gitu... Dosa sayang " Dodit begidik geli saat Rafa memeluk tubuhnya dari belakang.
" *****... Lo berdua homo ya? " Ucap Defa disambut gelak tawa teman - temannya.
" Gue nggak nyangka, sosok Rafa ternyata seorang homo ya " Aziz menimpali
" Lepas Fa... "
Rafa terkekeh saat Dodit mendorong tubuhnya, hingga ia hampir terjatuh kelantai.
" Gila lo! Merinding bulu kuduk gue " Dodit berdecih seraya mengusap kedua lengannya.
Kontan semua orang terdiam, saat Fahmi berdeham sesampainya didalam kelas.
" Rafa... " Panggil Fahmi membuat yang empunya nama terdiam, seraya mengedarkan pandangannya kesegala arah.
" Mati kutu kan lo " Ucap Dodit membuat seluruh kelas tertawa lepas.
" Hust... Kita punya anggota kelas baru "
" Cewek atau cowok nih pak? " Tanya Rafa dengan nata berbinar.
" Halah lo kalo masalah cewek aja gercep "
" Ih Rafa... Lo kan punya gue " Rafa berdecih mendengar kalimat manja Riska.
" Denger nggak tuh babang Rapa... Neg Riska udah manggil tuh " Goda Defa membuat Rafa berdecak sebal.
" Najis bat gue " Ucap Rafa seraya memutar bola matanya jengah.
" Hust... Kalian ini udah besar " Ucap Fahmi yang kontan menghentikan tawa semua siswanya.
" Masuk mba " Sambung Fahmi
Seorang gadis melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas.
" Fa " Rafa mengerang saat siku Defa menghantam perutnya.
" Sakit bambang "
" Liat... Itu cewek kemaren "
" Sapa sih... " Mata Rafa membelalak lebar, ia bangkit dari kursinya diikuti tatapan para siswa.
" Eh penggemar gue... " Ucap Rafa seraya merentangkan kedua tangannya.
" Ih Rafa " Seru Riska membuat senyum diwajah Rafa seketika menghilang.
" Apa sih lo "
" Ih Rafa, aku kan penggemar kamu... Hiks "
" Makan nih upil " Ucap Rafa seraya menggali lubang hidungnya.
" Ngakak gue, wkwkwk "
" Kalo ada urusan keluarga, jangan dibawa kesini babang Rapa "
" Temen apaan lo semua " Rafa menimpali sambil memutar bola matanya jengah.
" Kalian semua diam! Kita ada siswa baru, jadi contohkan hal baik. Terutama kamu Rafa " Mata Rafa membelalak lebar saat namanya dipanggil Fahmi.
" Lah pak... Saya kan anak baek, nggak suka macem - macem, udah gitu nurut lagi " Ucap Rafa disambut gelak tawa seluruh siswa.
" Nih bocah emang suka buat onar ya? "
" Sudah... Sudah, Rafa ayo duduk "
" Iya pak " Cicit Rafa
" Nah sekarang perkenalkan dirimu "
" Perkenalkan nama saya Ginanda Fitalia Safitri, bisa dipanggil Fita "
" Kalo dipanggil sayang boleh nggak " Ucap Rafa disambut gelak tawa.
" Ih babang Rapa nggak boleh gitu, nanti neng Riska ama Dewi mau dikemanain "
" Brisik lo "
" Rafa! "
" Hahaha rasain lo "
" Kalian semua diam, terutama kamu Rafa "
" Gue lagi diem tapi tetep aja kena "
" Mati kan lo " Bisik Defa
" Sekarang kamu bisa duduk dengan Sinta "
Fita mengangguk lalu melangkah menuju kursi kosong, yang ada tepat didepan Rafa.
***
" Nih bocah tidur mulu dah " Gerutu Defa
" Hobi babang Rapa kan emang kek gitu, eh liat dah lubang idung Rafa " Salman memperhatikan Rafa, yang tengah tertidur lelap diatas meja dengan beralaskan tas.
" Kembang kempis, hahaha " Dodit menimpali disambut gelak tawa teman - temannya.
" Itu berarti si Rafa masih idup " Semua orang menoleh pada Fita yang sedari tadi duduk membelakangi mereka.
" Nih gue punya bulu " Mereka memperhatikan sebuah bulu berwarna pink yang diserahkan oleh Fita.
" Bulu apa nih? " Tanya Defa seraya mengambil alih bulu itu.
" Itu bukan bulu lo kan? " Semua orang tertawa lepas mendengar penuturan Aziz, tapi tidak dengan Fita. Wajahnya merah padam, mendengar celotehan teman barunya.
" Enak aja lo, itu bulu kemoceng bambang! " Fita memutar bola matanya jengah.
" Ish... Cewek tapi ko ngomongnya kasar "
" Lo yang mancing gue, ngmong kek gitu! "
" Udah nggak papa, kasar juga bang Dodit tetep cinta " Fita memicingkan matanya.
" Sapa tuh Dodit? "
" Nggak kenal ama abang Dodit "
" Caelah... Kenal ama babang Rapa doang ya teh "
" Eh kenapa lo semua bawa - bawa gue " Dodit memutar bola matanya jengah.
" Udah... Udah, jadi nggak nih ngerjain Rafa " Sergah Fita cepat
" Sabar teh... Nggak usah ngegas gitu "
" Hahaha gue baru sadar, kalo lobang idung Rafa gede hahaha " Aziz mengambil langkah disamping Defa.
" Gede bat dah sumpah "
" Kalo dimasukin kelereng... Bakalan muat nggak ya " Salman menimpali, diiringi gelak tawa teman - temannya.
" Lain kali, gue bakal bawa kelereng "
" Lo cewek, tapi niat amat ngerjain orang ya neng " Fita memutar bola matanya malas
" Nang neng nang neng... Nama gue Fita bambang! "
" Sabar neng... Eh maksud gue Fita, calonnya babang Rapa "
" Enak aja! " Sergah Fita cepat seraya memutar bola matanya jengah, saat teman - temannya mentertawakan dirinya.
" Eh bentar deh, gue heran ama si Rafa. Padahal kita udah ketawa ketiwi disamping dia, tapi nih bocah tetep aja tidur " Ucap Salman sambil menyipitkan matanya.
" Eh iya, jangan... Jangan "
" Fit cepet kasi napas buatan " Fita berdecih
" Idih ogah... Jiji banget gue ngasi napas buatan, ama nih bocah so kecakepan " Kontan semua orang tertawa mendengar penuturan Fita
" Hahaha salut gue... Baru kali ini ada yang bilang Rafa kek gitu "
" Udah cepet masukin tuh bulu! " Sarkas Fita disambut anggukan dari Defa.
" Baiklah... Sebelum mulai alangkah lebih baik jika kita awali dengan... "
" Alah banyak omong lo semua! " Fita merebut bulu dari tangan Defa, ia memutar ujung bulu kemoceng itu pada lubang hidung Rafa.
Sesekali Rafa mengusap hidungnya yang terasa menggelitik, tanpa berniat membuka matanya.
" Santuy amat nih bocah... Nggak ada niatan buat bangun " Bisik Aziz disambut tawa dari teman - temannya.
" Dasar kebo lo! " Rafa menarik tangan Fita, saat gadis itu tengah menggelitik hidungnya.
" Ih bambang... Tanos mau bangun " Defa mengerjapkan mata beberapa kali.
" Cabut bro... " Kontan Defa, Aziz, Dodit dan Salman pergi meninggalkan Rafa dan Fita.
" Eh... Kenapa gue ditinggal! "
" Ngapain lo! " Rafa membuka matanya dan mendapati Fita ada dihadapannya.
" Ng... Nggak ko " Sergah Fita sambil berupaya melepaskan genggaman Rafa.
" Jangan... Jangan, lo mau nyium gue ya? " Pipi Fita bersemu merah.
" Idih gumoh gue " Fita menarik tangannya paksa, kemudian berlari menyusul yang lainnya.
" Kurang ajar tuh cewek... Tapi cakep juga sih " Gumam Rafa dengan seulas senyum.
" Sayang Rafa... " Rafa bergegas pergi saat Riska berjalan menghampirinya.
" Ih Rafa "
***
Lo dimana?
Gue
Masih dikelas. Emang kenapa?
Panji
Nggak, hari ini gue ada les vokal. Lo bakal kesana kan?
Gue
Pasti dong😊
Panji
Bagus... Gue tunggu disana*
Neyla memasukkan kembali ponselnya kedalam saku, matanya berbinar dengan senyum merekah.
" Woy! " Neyla tergeragap saat Dian datang dan mengejutkan dirinya.
" Ih ngagetin mulu lo " Neyla memajukan bibirnya
" Salah lo lah... Senyum - senyum sendiri, awas... Ntar gila baru tau rasa lo " Dian mengambil posisi tepat disamping Neyla.
" Idih amit - amit " Neyla mengusap perutnya yang terasa mual mendengar kalimat Dian.
" Berapa bulan lo? " Mata Neyla membelalak lebar
" Emang kampret dah lo! " Dian terkekeh
" Selow... Selow, gue cuma becanda kali "
" Btw... Gimana lo sama ka Panji? " Neyla memicingkan matanya heran.
" Maksud lo? "
" Iya maksudnya, dia itu baik ke lo apa gimana? Secara tuh orang terkenal banget suka buat onar di SMA ini " Neyla tersenyum simpul
" Dia baik ko, cuma kadang - kadang suka emosian gitu "
" Tapi dia nggak main tangan kan? " Neyla mengerjapkan matanya beberapa kali.
" Kenapa lo nanya kek gitu? "
" Iya nggak kek gitu, soalnya banyak yang ngomong dia itu suka banget main tangan. Makanya ka Panji and geng udah jadi langganan guru BK, lo ati - ati aja ya " Neyla mengangguk paham
" Kita dapet tugas dari bu Selma, katanya kita harus ngerjain buku tugas halaman 67 sampe 70 diperpus "
" Kapan nih? "
" Sekarang lah "
" Otw bosque "
Semua siswa bergegas pergi menuju perpustakaan, disana mereka bertemu dengan kelas IPA 2 yang sama - sama tengah mengerjakan tugas.
" Ish... Nih bocah emang hobi tidur ya? " Fita memperhatikan Rafa yang tengah tertidur pulas dipojok perpustakaan, hanya dengan beralaskan buku paket dan lantai yang dingin.
" Eh Fit... Lo lagi ngapain sama si babang Rapa " Defa tersenyum jahil tatkala pipi Fita merona merah.
" Gu... Gue cuma liat dia tidur ko, nggak lebih " Sergah Fita sambil menggeleng cepat.
" Lebih juga nggak papa ko, mumpung sepi awokawok "
" Idih... Kaya nggak ada cowok lain aja " Fita memutar bola matanya jengah.
" Eh btw lo bawa kelereng nggak? " Fita mengernyitkan dahinya heran.
" Buat apa? "
" Katanya mau bawa kelereng " Fita memukul dahinya pelan.
" Oh iya gue lupa "
" Eh, lagi pada ngapain lo semua. Jangan - jangan... " Aziz, Salman dan Dodit datang dengan senyum merekah.
" Enak aja... Sekate - kate lo, kalo ngomong "
" Gila, udah pinter ngegas aja nih bocah " Fita berkacak pinggang sambil memutar bola matanya.
" Brisik lo semua, mending sekarang lo cari sesuatu buat nutup lobang idung nih bocah " Fita bangkit kemudian melenggang pergi.
" Gue aja yang nyari "
" Peka "
Fita pergi mencari sesuatu disekitar perpustakaan, mata cokelatnya tertuju pada sebuah spidol yang ada diantara rak buku.
" Nah, nemu juga " Gumam Fita
Ia segera mengambil sepidol itu kemudian berjalan kembali menuju pojok ruangan, dimana Rafa and geng sudah berkumpul.
" Gue nemu ini " Kontan mata mereka membelalak lebar dengan senyum merekah.
" Good girl "
***
" La lo mau kemana? " Neyla memutar tubuhnya sambil memamerkan senyum manisnya.
" Gue mau ke pojok bentar " Dian memicingkan matanya.
" Mau ngapain? " Neyla hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum misterius, ia melenggang pergi meninggalkan Dian yang penuh dengan tanda tanya.
" Nah kalo sepi kek gini, gue kan bisa vc ama Panji. Emang paling pinter lo La " Gumam Neyla pada dirinya sendiri.
" Sini... Sini, ih budek banget dah " Aziz memanyunkan bibirnya
" Biar gue aja " Fita mengambil alih spidol dari tangan Dodit.
" Lo lagi pada ngapain? " Semua orang menoleh saat mendengar suara dari belakang mereka.
" Defa? " Kontan si empunya nama menoleh sambil tersenyum kuda melihat kehadiran Neyla.
" Eh Ela " Mata Neyla tertuju pada Rafa yang tengah tertidur dan seorang gadis yang ada disamping pria itu.
" Aduh ribut - ribut apa sih " Fita segera menyembunyikan spidol yang dipegangnya saat Rafa terbangun.
Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya menyadari kehadiran Neyla didepan mereka.
" Ela? " Mata Rafa langsung berbinar melihat sosok Neyla yang sudah lama dicarinya.
Ia bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan menuju gadis berambut panjang itu.
" Sejak kapan lo disini? "
" Sapa tuh cewek? " Bisik Fita pada Defa yang sedari tadi ada disampingnya.
" Cinta pertama Rafa "
Fita membuka mulutnya tanpa bersuara, pantas saja pria itu langsung bersemangat melihat kehadiran Neyla.
" Ngapain lo disini? "
" Biasa " Rafa tersenyum kuda, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Mending lo ngaca deh " Rafa mengernyitkan dahi tidak paham.
" Maksudnya? Oh iya, lo sendiri ngapain disini? "
" Paling juga, mau vc pacarnya " Sergah Defa membuat Rafa terdiam.
" Nah tuh lo pinter, mending gue cabut sekarang. Nggak enak juga ganggu kalian " Neyla melenggang pergi meninggalkan Rafa dengan penuh tanda tanya.
" Pergi aja yang jauh " Gumam Defa
" Kenapa dia nyuruh gue ngaca ya? " Semua orang saling melemparkan pandangan dengan seulas senyum.
" Mungkin karena ketamfanan lo Fa " Senyum diwajah Rafa langsung mengembang, mendengar penuturan Salman.
" Ish... Jelas dong, babang Rafa emang cowok tertamfan disetengah dunia ini " Fita berdecih saat Rafa mengusap rambutnya kebelakang.
" Udah lah nggak usah banyak omong, bentar lagi masuk nih " Potong Aziz disambut anggukan dari teman - temannya.
" Eh, itu Rafa kan ya? "
" Kenapa tuh mukanya? "
" Kayaknya abis kena prank dah " Bisik beberapa orang siswa
" Nggak sadar tuh bocah " Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ada apaan sih? " Tanya Rafa dengan wajah polosnya, membuat Defa and geng harus menahan tawa.
" Emang kenapa? "
" Lo semua nggak sadar ya, banyak anak - anak yang liatin kita? "
" Perasaan lo aja kali " Fita tersenyum geli melihat ekspresi polos Rafa, mungkin karena efek baru bangun tidur.
" Fa nyawa lo belom kumpul ya? " Rafa mengedikkan bahu sambil tersenyum.
" Tau aja lo, makanya gandeng babang Rafa dong biar nggak jatoh " Ucap Rafa mendramatisir sambil berjalan sempoyongan.
" Males... Lo gak sadar apa, kalo tubuh lo jauh lebih besar dari gue " Rafa berdecih, ia mengalungkan tangannya dibahu Fita membuat si empunya berdiri mematung.
" Aduh sayang aku " Defa dan lainnya tertawa lepas melihat ekspresi jiji, sekaligus takut diwajah Fita.
" Eh tanos... Kasian tuh anak orang jadi takut " Rafa memanyunkan bibirnya.
" Sirik aja lo "
" Rafa " Semua orang menoleh pada Neyla
Kontan si empunya nama melepaskan tangannya dari bahu Fita, saat menyadari kehadiran Neyla
" Nih " Rafa mengernyitkan dahi, saat Neyla menyodorkan tisu basah.
" Muka lo penuh spidol "
" What? " Pekik Rafa mendramatisir
Defa dan lainnya tersenyum kuda, lalu segera berlari menuju kelas.
" Ish... Ngrusak rencana aja tuh cewek " Gerutu Salman
" Lo semua tenang aja " Fita mengeluarkan bandana dan spidol aneka warna dari dalam tasnya
" Ish... "
" Ntar kita kerjain Rafa pake ini "