Rafa

Rafa
Luka Masa Lalu



Panji mengetuk pintu berwarna cokelat didepannya, dengan diiringi suara salam.


" Waalaikumsallam "


Selang beberapa saat Fita keluar, ia mempersilahkan Panji duduk sementara dirinya pergi kedapur.


" Eh... Ada temennya Fita "


Deg


Jantung Panji terasa berhenti saat melihat wanita paruh baya, duduk diatas kursi roda menatapnya dengan seulas senyum.


" I... Iya, maaf kalo boleh tau tante ini si... Siapa ya? "


" Saya Hani, ibunya Fita "


" I... Ibu? " Hani mengangguk


" Kamu nggak papa kan? " Panji mengangguk lemah, tubuhnya bergetar dan jantungnya berdetak kencang hingga terasa hampir lepas


" Se... Sepertinya saya datang disaat yang salah "


" Salah? Memangnya ada apa? " Panji menggigit bibir bagian bawah guna menutupi rasa takut, penyesalan, kekhawatiran dan kesedihan yang kini bercampur dalam hatinya


" Nji lo nggak papa? " Fita yang baru saja datang dari dapur, menatap Panji khawatir


" Gu... Gue nggak papa ko? "


" Seriusan? Muka lo pucet banget, lo yakin nggak papa? "


" Sebenernya... " Panji menelan salivanya sendiri, ia menutup kedua matanya rapat - rapat sambil berupaya untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya


" Ada apa? "


" Fita... Minta dia untuk duduk, agar lebih tenang " Fita mengangguk, ia memegangi lengan Panji lalu menuntunnya untuk duduk


" Lo duduk dulu ya "


" Kalo begitu mamah mau masuk kekamar du... "


" Tante " Potong Panji cepat


" Iya? "


" Sebenernya kedatangan saya kesini karena... Maaf " Ucap Panji memelan diakhir dengan wajah tertunduk dalam - dalam


" Maaf? Memangnya ada apa? "


" Kondisi tante dan keluarga ini... Semua karena perbuatan ayah saya " Fita dan Hani tersentak kaget


" Maksud lo apaan Nji? "


" Bokap gue yang nabrak nyokap ama bokap lo, 10 tahun lalu Fit... "


Deg...


Jantung Fita terasa berhenti, perlahan ia berjalan menjauh dari Panji. Perasaannya berkecamuk antara sedih, kecewa dan marah, bagaimana mungkin dia bisa berteman dengan anak seorang pembunuh?


" Fit... Tante... Saya minta maaf "


Hani hanya terdiam sambil menatap lamat - lamat wajah Panji, terlihat jelas penyesalan, ketakutan dan kesedihan yang tercetak disana.


" Mending lo pergi sekarang! " Ucap Fita lemah yang berupaya menyembunyikan kesedihannya


" Fit gue minta maaf... Sejak kejadian itu bokap gue masuk penjara, karena hal itu pula nyokap gue minta cerai. Sejak itu nyokap gue sibuk ama pekerjaan dan pacarnya, dia bahkan lupa kalo ada gue didunia ini " Fita berdecih


" Itu masalah lo... Asal lo tau, karena bokap elo nyokap gue nggak bisa jalan lagi. Dan lebih nyesek lagi karena bokap lo, bokap gue jadi meninggal! " Sarkas Fita dengan berlinang air mata


" Gue minta maaf Fit... Tante saya minta maaf " Panji berlutut dihadapan Hani yang kini tengah terisak


" Udah... Lebih baik, lo pergi dari sini sekarang! " Fita menarik paksa lengan Panji hingga keambang pintu


" Fit... Gue bener - bener minta maaf "


" Nggak ada gunanya lo minta maaf, selama ini kemana aja lo? Dan kenapa lo baru minta maaf sekarang? " Panji mulai menitihkan air mata saat melihat Fita yang tengah terisak


Ingin rasanya Panji menarik gadis itu dalam pelukannya, sama seperti saat Fita menangis dulu.


" Maaf Fit... Gue emang salah, gue bakal lakuin apa aja supaya lo mau maafin gue ama bokap gue " Ucap Panji memelas


" Balikin bokap gue dan sembuhin nyokap gue, apa lo bisa? " Panji terdiam, mustahil baginya melakukan kedua hal itu dan sama artinya dengan dia tidak akan pernah mendapatkan maaf dari Fita atau keluarganya


" Lebih baik lo pergi sekarang! "


" Fit... "


Brak


Fita membanting pintu rumahnya tepat didepan wajah Panji.


***


" Nji " Panggil Diko lembut, saat melihat gelagat anaknya yang berubah menjadi pendiam setelah kembali dari rumah keluarga Fita


" Mereka nggak mau maafin kita " Diko mendengus kecewa


" Bagaimana dengan Fita? " Panji tersenyum miris, apa yang harus ia katakan pada Diko soal dirinya dan Fita? Ia bahkan tidak tau apa mereka masih berteman atau sebaliknya


" Panji nggak tau, tapi Fita nggak mau maafin kita... Terutama Panji " Ucap Panji memelan diakhir


" Maafin ayah ya Nji, karena ayah hubungan kalian jadi... " Panji menggeleng


" Nggak... Sejak awal Panji emang udah salah, Panji berteman ama Fita dengan berlandaskan kebohongan. Jadi Panji harus nerima konsekuensinya " Jelas Panji sambil tersenyum miris


" Udah malem, kamu nggak mau pulang kerumah? "


" Rumah? Kalo gitu Panji pulang dulu yah "


" Hati - hati dijalan, titip salam buat ibumu " Panji berdecih


" Panji nggak janji, assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam "


Panji melangkahkan kakinya menjauh dari rumah Diko, ia tidak tau hendak kemana. Tidak mungkin ia pulang ke rumah Farah, karena ia tidak tau lelaki mana lagi yang akan dibawa wanita itu kerumah.


Dia juga tidak bisa pergi ke apartemen, karena jaraknya yang cukup jauh dan ini sudah terlalu larut untuk memesan taksi.


" Gue mesti kemana lagi? " Panji mengacak - acak rambutnya frustrasi


Ddrrttt


Panji memutar bola matanya malas, lalu menempelkan ponsel miliknya ketelinga.


" Hmm... "


" Kamu dimana? "


" Emang kenapa? "


" Cepet pulang, ibu mau ngenalin kamu sama om Zaki " Panji berdecih mendengar penuturan Farah yang tersengar begitu antusias


" Lagi? "


" Lebih baik kamu cepat pulang, ibu sama om Zaki udah nunggu kamu buat makan malem bersama "


" Udah nggak usah, malem ini Panji nggak pulang "


" Lagi? Kamu jangan bikin ibu malu Panji, sekarang kamu pulang kerumah! "


" Nggak bakalan, Panji bakalan pulang kerumah kalo itu emang harus "


" Panji... Kamu harus pulang sekarang juga! "


" Nggak bakalan, lagian Panji juga udah makan ama ayah "


" Lelaki itu? Jadi kamu lebih memilih bersama ayahmu dari pada ibu. Iya? "


" Panji nggak milih siapapun, lagian tumben banget ibu nyuruh Panji balik. Biasanya kalo Panji nggak ada dirumah, ibu juga nggak bakalan nyarin kan? "


" Sekarang beda, lagi pula ibu ini ibu kamu. Jadi coba untuk bersikap layaknya seorang anak pada ibunya! "


" Apa? Ibu nggak salah? Selama ini emang ibu pernah bersikap layaknya seorang ibu ke Panji? Nggak kan? Yang ibu peduliin cuma pekerjaan, pacar - pacar ibu ama party. Ibu nggak tau apa Panji udah makan apa belom, Panji udah tidur apa belom, bahkan Panji idup atau matipun ibu nggak tau kan? " Ucap Panji penuh penekanan sambil terisak, ia tidak peduli dengan tatapan heran dari orang - orang yang lalu lalang didepannya


Panji benar - benar sudah muak dengan Farah dan ia tidak mampu lagi bersikap seolah semuanya baik - baik saja.


" Ibu nglakuin itu semua buat kamu Nji, buat masa depan kamu! "


" Masa depan? Panji nggak peduli ama masa depan, Panji nggak minta ibu buat mikirin masa depan Panji. Panji cuma pengin ibu selalu ada buat Panji, ibu bersikap layaknya ibu lainnya yang selalu ada dan ngasih kasih sayang buat anaknya! " Farah terdiam sambil mendengar suara isakan dari Panji


" Maafin ibu Nji, tapi ibu nglakuin ini demi kamu " Ucapnya kemudian, tapi Panji sudah tidak peduli lagi. Panji mematikan ponselnya secara sepihak, lalu terkulai lemas diatas trotoar jalan.


***


" Permisi... Assalamuallaikum "


Hening beberapa saat, Diko mengedarkan pandangannya ke segala arah guna mencari tau keberadaan pemilik rumah.


" Assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam "


Diko mundur beberapa langkah, saat pintu didepannya perlahan mulai terbuka.


" Maaf apa benar ini kediaman ibu Hani Safitri? "


" Iya, kalau boleh tau... Anda ini siapa ya? "


" Oh, perkenalkan saya... "


" Maaf, apa anda ibu Hani? "


" I... Iya, anda siapa ya? "


" Saya... "


" Masuk dulu om "


" Terima kasih "


" Silahkan duduk, mah Aldo kebelakang dulu ya " Hani mengangguk sambil menatap kepergian putranya


" Jadi begini bu, kedatangan saya kemari untuk meminta maaf sedalam - dalamnya atas keadaan ibu dan keluarga sekarang ini "


" Maaf? Sebenarnya anda ini siapa? " Diko menghela nafas berat, setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan wanita yang ditabraknya 10 tahun silam


Karena kejadian itu pula ia harus dipenjara dan menerima kenyataan pahit, bahwa dirinya digugat cerai oleh Farah.


" Saya Diko... Diko Arif Wibowo, pria yang sudah menabrak anda dan suami anda 10 tahun silam "


Senyum diwajah Hani seketika menghilang, darahnya mendidih dan air mulai menggenang dikedua kelopak matanya. Setelah 10 tahun lamanya akhirnya ia bertemu dengan pria yang bertanggung jawab, untuk kematian suaminya sekaligus kondisi dirinya dan keluarganya saat ini.


" Untuk apa anda kemari? Apa anda tidak cukup menghancurkan hidup saya? " Sarkas Hani sambil terisak


" Maafkan saya... Kehadiran saya kemari untuk meminta maaf, saya benar - benar menyesal. Saat itu saya... "


" Pergi! " Potong Hani yang tidak mampu lagi meredam emosinya


" Saya mohon, dengarkan dulu penjelasan saya. Saya ingin meminta maaf... "


" Pergi! "


" Mamah " Pekik Aldo yang langsung memeluk tubuh Hani, saat wanita paruh baya itu kehilangan kontrol untuk emosinya


" Lebih baik om pergi sekarang! "


" Saya benar - benar... "


" Pergi kamu! "


" Mamah... Mamah tenang dulu ya, lebih baik om pergi sekarang "


" Tapi... "


" Pergi! " Aldo menarik pengan Diko hingga keambang pintu


" Maaf, tapi lebih baik anda pergi dan jangan pernah kembali lagi " Ucap Aldo ketus lalu membanting pintu rumahnya tepat didepan wajah Diko


" Mamah tenang dulu ya " Aldo kembali memeluk tubuh Hani, berharap wanita itu bisa sedikit lebih tenang


Tok  tok  tok


" Maaf untuk semuanya, saya tau saya salah. Tapi tolong maafkan Panji, karena ia tidak tau apa - apa " Jelas Diko diiringi suara ketukan pintu


" Panji? " Gumam Aldo


" Antar mamah kekamar, mamah capek... Mamah pengin istirahat " Aldo mengangguk lalu mengantar ibunya kekamar


" Ibu Hani... Saya minta maaf untuk semuanya. Saya juga ingin memohon agar Fita mau memaafkan Panji, selama ini Panji sudah cukup menderita. Jika kalian mau, kalian bisa memasukan saya kembali kedalam penjara... Tapi tolong minta Fita untuk memaafkan Panji, karena cuma Fita yang mampu membuat Panji tersenyum "


" Sebenernya ada apa mah? " Hani hanya terdiam lalu memejamkan matanya rapat - rapat


Aldo yang seolah paham dengan kode yang diberikan Hani, memilih untuk pergi dan meninggalkan wanita itu sendirian.


" Bu... Saya minta maaf, tolong maafkan semua kesalahan saya. Tapi tolong jangan bawa Panji dalam masalah ini bu " Ucap Diko memelas, tanpa disadari setetes air mengalir dari salah satu pelupuk matanya


" Sebenernya siapa om itu? Lalu apa hubungan dia dan Panji? "


***


Tok  tok  tok


Fita menoleh dan mendapati Aldo tengah berdiri diambang pintu.


" Abang boleh masuk? " Fita mengangguk


" Tumben malem - malem kesini, ada masalah apa? " Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu duduk tepat disamping Fita


" Lo sibuk nggak? "


" Nggak, cuma... Emang ada apa? Tumben banget nanya kek gitu? " Fita meletakkan ponselnya diatas nakas dan bersiap mendengar penjelasan dari Aldo


" Sebenernya tadi siang ada om - om dateng kesini "


" Siapa? "


" Gue nggak tau, tapi dia ngobrol ama mamah. Terus bawa - bawa si Panji, setelah itu mamah marah ampe ngusir om itu " Fita berdecih sambil memalingkan wajahnya enggan


" Sebenernya dia siapa sih? " Sambung Aldo


" Kenapa lo nggak tanya langsung aja ama mamah? " Aldo tersenyum miris saat mengingat ekspresi Hani tadi siang


" Gue takut mamah bakal nangis lagi, apa lagi ampe marah " Fita menggeleng seraya mengedikkan bahunya acuh


" Gue nggak tau "


" Oh... Kalo gitu gue ke kamar dulu. Lo jangan lupa belajar, jangan maen hp mulu! "


" Iya gue paham "


" Good girl " Ucap Aldo seraya mengusap pucuk kepala Fita gemas


Aldo melenggang pergi menuju kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam.


" Panji? Sebenernya ada apa sih? Gue ngerasa ada yang disembunyiin ama mamah dan Fita deh, tapi apa ya? " Aldo meraih ponselnya dari atas nakas dan bersiap menghubungi seseorang, yang kemungkinan mampu menghilangkan tanda tanya besar dibenaknya


Panji


" Halo Nji "


" Coach Aldo? Maksud gue bang Aldo " Ucap Panji dengan suara bergetar


" Iya, gue mau nanya sesuatu sama elo. Kira - kira lo bisa keluar nggak? "


" Hmm... Nanya soal apa ya bang? "


" Soal... Lebih baik kita ketemu aja, bentar doang ko "


" Ok deh, tapi diaman bang? "


" Ntar gue share lok "


" Ok, gue tunggu "


Aldo mengenakan kardigan miliknya dan bersiap untuk pergi.


" Si Panji mana ya? "


" Bang... Sorry gue telat, lo pasti udah nunggu lama ya? " Aldo tersenyum lalu mempersilahkan Panji untuk duduk


" Tenang aja, lo mau pesen apa? "


" Nggak usah repot - repot bang "


" Nggak repot ko, pelayan! "


" Iya? "


" Dua avocado juice "


" Tolong tunggu sebentar " Aldo mengangguk sambil menatap kepergian pelayan itu


" Jadi... " Panji menatap wajah Aldo lamat - lamat dnegan jantung berdegup kencang


" Sebenernya ada masalah apa antara lo, Fita, mamah ama om - om yang dateng ke rumah gue tadi siang "


" Om - om? "


" Iya... Dia minta maaf ke mamah, terus minta Fita agar mau maafin elo " Panji terdiam sambil menundukan wajahnya dalam - dalam, apa yang harus ia katakan? Apa mungkin ia harus menceritakan semuanya atau justru sebaliknya


" Jusnya "


" Terima kasih "


" Sama - sama "


Aldo berdeham membuat Panji tergeragap, tapi berupaya untuk tetap terlihat tenang.


" Jadi ada masalah apa? " Panji menelan salivanya sendiri, tapi ia sadar jika kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya


" Sebenernya... Gue itu a... Anak dari... Pak Diko, orang yang udah nabrak bu Ha... Hani dulu "


Deg


Jantung Aldo terasa berhenti, saat mendengar penuturan Panji.


" Maafin gue bang... Gue tau bokap gue salah, tapi tolong maafin bokap gue bang " Aldo tidak merespon perkataan Panji, ia tidak percaya dengan semua yang didengarnya


" Bokap gue yang udah nabrak bu Hani, sejak itu bokap gue ditahan dan nyokap gue minta cerai. Gue mohon maafin gue karena nggak jujur sejak awal " Jelas Panji sambil terisak tapi Aldo masih tetap bungkam


Ia berusaha mencerna kata - kata menyakitkan, yang baru saja dilontarkan oleh Panji.


" Lo anak... " Suara Aldo tertahan, membuat Panji semakin terisak.


Melihat Panji terisak, membuat Aldo merasa iba tapi dia sendiri merasa sakit hati untuk semua perbuatan Diko dulu.