Rafa

Rafa
Fakta Seorang Rafa



" Def "


" Hmm... Apaan? "


" Kalo gue boleh tau... Gimana sih hubungan antara Rafa ama keluarganya? "


"Uhuk... Uhuk... " Fita berubah panik, saat Defa tiba - tiba saja tersedak oleh sesuatu mungkin salivanya sendiri?


" Nih minum, lo nggak papa kan? "


" Kenapa tiba - tiba lo nanya kek gitu? Emang ada masalah apa? " Fita tersenyum getir, Defa memang salah satu orang yang mampu membaca pikirannya selain Aldo, Hani dan Panji


" Kemaren gue ama Rafa... Si Rafa diusir sama bokapnya, karena nggak sengaja dateng ke pesta ultah nyokapnya dia "


" Oh. Itu udah biasa ko " Fita menatap Defa tidak percaya, bagaimana mungkin ia bisa setenang itu saat mengetahui fakta tentang Rafa


" Lo ko tenang - tenang aja sih? Lo nggak ada niatan bantu si Rafa apa? " Ucap Fita menggebu - gebu, lantaran menahan emosi karena sikap Defa yang seolah acuh pada sahabatnya sendiri


" Kita nggak bisa berbuat apa - apa Fit, nyokap ama bokap gue bahkan nyokap ama bokap Neyla udah pernah ngomong ke orang tuanya Rafa "


" Terus gimana hasilnya? " Defa menggeleng lemah


" Gue nggak tau, tapi mereka minta gue buat nggak ikut campur masalah keluarga Ramadhan "


" Eh... Btw, lo pernah liat nyokap ama bokap Rafa nggak? " Sambung Defa menyelidiki


" Nggak, gue cuma pernah liat bokapnya Rafa. Itupun cuma dua kali, emang kenapa? "


" Nggak. Gue cuma heran aja, kenapa muka si Rafa ama kedua orang tuanya itu beda... Beda bat sumpah "


" Hah? Seriusan? "


" Sumpah demi apapun, bahkan gue pernah berpikir kalo si Rafa itu bukan akan kandung mereka "


" Masa sih? "


" Hayo! Pada ngomongin apa nih? Ngomongin gue ya? Iya lah pasti ngomongin gue kan? Hayo ngaku lo berdua? " Sarakas Rafa membuat wajah Fita seketika berubah pucat pasi


" Eh Fa, kasian tuh si Fita. Mukanya udah kek maling ketangkep basah " Celetuk Salman disambut gelak tawa teman - temannya


" Enak aja! "


" Lo semua kenapa baru dateng? " Tanya Defa coba mengalihkan topik pembicaraan


" Nungguin si Panji, biasa... Ama neng Neyla, Panji dan Neyla duduk dibawah pohon dan berciuman awokawok... Awokawok... Jeng jeng jeng jeng jeng dumlak ding ding jos! "


" Lo nggak salah milih dia jadi pacar lo? " Fita mengedikkan bahunya sambil tertawa geli melihat tingkah konyol seorang Rafa


" Gue nggak pernah ciuman, ama cewek manapun! " Ucap Panji datar kemudian melipat kedua tangannya dibawah dada


" Serius? Demi apa? " Tanya Arya mendramatisir membuat Panji berdecih seraya memutar bola matanya malas


" Hust... Kasihan anak bapak, udah sayong nggak usah nangis ya. Ntar bapak cariin cewek yang bersedia nyium kamu nak " Ucap Rafa mendramatisir seraya mengusap kepala Panji, membuat si empunya hanya mampu terdiam sambil berupaya menahan emosinya


" Songong amat lo, lo aja baru pacaran ama si Fita. So - soan cariin cewek yang mau nyium Panji " Ibnu menimpali disambut gelak tawa dan anggukan setuju dari teman - temannya


" Se-enggaknya gue punya wkwkwk... Emang susah ya ngomong ama gerombolan jomblo abadi, yang kerja di PT mencari cinta sejati awokawok "


" Berarti gue belom terjamah, gue itu masih suci lahir batin "


" Halah... Suci lahir batinnya elo pas hari raya Idul Fitri doang, besoknya juga maksiat lagi " Celetuk Rafa yang mampu membuat Dodit tersenyum getir dan seolah tidak nampu melawan


" Terus gimana hubungan elo ama Neyla? Nggak ada niatan buat balikan gitu? " Panji tergeragap tapi berupaya untuk tetap tenang, saat mendengar pertanyaan Fita yang begitu tiba - tiba


" Entahlah "


***


" Fit " Panggil Rafa lembut membuat si empunya seketika menoleh heran


" Apaan? "


" Gue nggak tau kenapa, tapi... Gue bisa nggak nitip kunci ini ke elo? "


Fita menatap tajam benda mungil yang ada ditangan Rafa, ia mengalihkan pandangannya kearah Rafa yang tengah menatap jauh kedepan dengan tatapan kosong.


" Kunci apa? "


" Lo bakal tau nanti. Ini kunci duplikat, kunci aslinya gue yang pegang " Fita mengambil alih kunci berwarna emas itu dengan ragu


" Terus harus gue apaain kuncinya? "


" Simpen aja, ntar kalo udah tiba waktunya juga lo bakalan tau ko "


" Oh. Ok deh "


" Soal masalah kemaren... Lo pasti udah nanya ama si Defa kan? " Rafa menatap Fita dengan seulas senyum getir


" Sorry ya, nggak seharusnya gue nanya hal pribadi soal elo ama keluarga elo "


Fita menundukkan kepalanya dalam - dalam, ia merasa meyesal sekaligus takut jika Rafa akan memarahinya.


" Nggak papa, lagian bukan salah elo juga ko " Fita mendongakkan kepalanya, kemudian menatap Rafa dengan seulas senyum canggung


" Gue udah biasa ko diperlakukan kek gitu, jadi lo jangan heran ya. Dan soal alesan kenapa mereka kek gitu... Lo bakalan tau, nanti saat elo udah tau apa gunanya kunci itu " Fita menatap kunci ditangannya dengan tanda tanya besar, ia membuka tas untuk mencari dompet miliknya kemudian memasukkan benda tersebut kedalam dompet


" Gue bakalan jaga kunci ini ko "


" Thanks ya " Ucap Rafa tulus sambil mengusap pucuk kepala Fita gemas


" Sekarang lo ikut gue ya "


" Kemana? "


" Gue mau bawa elo jalan - jalan, kita ke mall. Gimana? "


Fita terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju.


" Ok deh "


Rafa memasangkan helm dikepala Fita, sambil sesekali merapikan rambut panjang Fita gemas.


" Sejak nyokap lo siuman, lo banyak berubah ya "


" Hah? Berubah gimana? "


" Iya. Sekarang lo udah lebih feminim aja, jadi nambah cantik " Rafa mencubit pipi Fita yang mulai bersemu merah itu dengan gemas


" Jadi lo nambah suka ama gue? " Tanya Fita polos disambut anggukan


" Yap. Karena sekarang lo udah lebih feminim, gimana kalo kita beli dress buat elo?  Secara waktu acara ultah elo, gue kan nggak ngasi apa - apa "


" Tapi ultah gue masih beberapa bulan lagi "


" Udah nggak papa, ayo naik! " Fita mengangguk, ia naik keatas motor dengan bantuan Rafa


Setelah beberapa 30 menit berkendara dengan kecepatan sedang, akhirnya mereka sampai disebuah mall yang dekat dengan kediaman Fita. Mereka mulai memasuki satu persatu butik, untuk mencari dress yang cocok dengan Fita.


" Lo lagi ngapain? " Tanya Fita heran saat melihat Rafa berdiri didepan rak yang penuh dengan hijab


" Nggak "


" Lo mau beli hijab? "


" Penginnya sih gitu, tapi gue nggak tau warna apa? "


" Biar gue bantu, pasti buat nyo... "


Rafa menoleh pada Fita dengan seulas senyum geli, saat melihat gadis itu tiba - tiba terdiam sambil menggigit bibir bagian bawah.


" Bukan. Ini buat sahabat gue " Fita mengangguk paham


" Kalo gue boleh tau, apa warna kulitnya? "


" Putih "


" Kalo gitu... Coba deh pasmina cokelat susu ini "


" Cokelat susu? Maksud lo coksu? " Fita mengangguk


" Ok deh, gue ambil yang ini. Lo udah selesai? " Fita kembali mengangguk dengan seulas senyum


" Coba gue liat? Ish... Bagus, gue yakin lo bakalan cantik pake dress itu "


" Thanks "


***


" Kenapa susah banget ya? "


" Eh bi... Bi... Bi... " Pekik Rafa histeris saat dirinya yang baru saja kembali dari meja makan, melihat Rina hendak membuka lemari miliknya


" Kenapa bang? "


" Bibi mau ngapain? "


" Bibi kau beresin lemari abang, semuanya udah diberesi. Tinggal lemari ini aja yang belom "


" Eh... Bi... Bi... " Pekik Rafa lagi saat Rina kembali berusaha untuk membuka lemarinya


" Kenapa bang? "


" Biar Rafa aja yang beresin lemari ini, lagian bibi kan tau kalo Rafa nggak pernah ngijinan siapapun buka lemari ini. Dari Rafa orok sampe nafas terakhir... Nggak boleh ada yang buka lemari ini, kecuali... " Ucap Rafa mendramatisir membuat Rina merasa gemas


" Kecuali? "


" Calon istri Rafa, udah lah bibi keluar aja. Biar Rafa sendiri yang bersihin lemari ini " Rafa mendorong tubuh Rina hingga ke ambang pintu, ia tidak ingin Rina mengusik lemari yang berisi semua rahasia hidupnya


" Tapi bang...  "


" Dadah... " Rafa mendesah pelan, pada akhirnya ia bisa membuat Rina kenjauh dari lemarinya


" Mesti gue apaain ya tuh lemari, biar nggak ada yang berani buka selain gue ama Fita? "


Rafa mengacak - acak rambutnya frustrasi kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Masalah lemari bisa ia selesaikan kapan - kapan, yang diinginkannya sekarang hanya melanjutkan tidur yang sempat terganggu karena sarapan.


" Bosen juga... Hidup cuma kek gini doang, kira - kira mereka ada dimana ya? Apa mereka nggak punya iktikad baek, buat ketemu terus minta maaf ke gue gitu? " Rafa menggelengkan kepalanya untuk membuang pemikiran itu jauh - jauh


" Udahlah... Bodo amat! "


Rafa memejamkan matanya rapat dan semakin rapat, hingga akhirnya ia hanyut dalam bunga tidurnya.


" Tidak perlu mempedulikan dia! Apa kau lupa dengan semua perbuatan mereka?! "


" Aku tidak akan pernah lupa. Tapi dia tetap anak kita! "


" Anak? Sejak kapan kamu mengakui dia sebagai anak? "


" Aku hanya... Dia tetaplah anakku! "


Prangg


" Apaan sih? " Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar suara benda pecah, Rafa menatap langit - langit kamarnya dengan tatapan nanar dan kosong


" Pah! Papah apaan sih? " Pekik Alya sambil terisak


" Kenapa? Apa kamu juga ingin melindungi dia? " Bentak Wawan yang langsung memenuhi seisi rumah, bahkan sampai ke gendang telinga Rafa


" Alya nggak peduli sama dia pah, Alya cuma peduli sama mamah! Kenapa sih papah melampiaskan kesalahan mereka ke mamah?! " Tanya Alya sambil terus terisak


Rafa mendengus kesal kemudian bangkit dari ranjangnya, ia berjalan keluar kamar dan melihat Wawan tengah bertengkar hebat dengan Asti dan Alya. Entah apa yang menjadi pertengkaran mereka, tapi hal itu terlihat sangat penting.


" Bang Rafa " Panggil Rina dengan tatapan sayu, wanita itu langsung menghampiri Rafa yang berdiri tidak jauh dari tangga


Alya menatap Rafa tajam, kemudian menghampiri Rafa dengan tangan mengepal kuat.


Plakk


Alya mendaratkan pukulan pada pipi Rafa, hingga meninggalkan bekas kemerahan dan terasa sedikit berdenyut.


" Ini semua karena elo, kenapa sih elo harus hadir ditengah - tengah keluarga gue! " Rafa berdecih kemudian menatap Alya tak kalah tajam


" Alya! " Pekik Asti


Rafa menatap Asti dan Wawan secara bergantian, ia menarik salah satu sudut bibirnya lalu melenggang pergi kembali ke kamarnya.


***


Jingga diujung langit


Menuntun kita pada, malam yang tak berbintang


Hingga kini terasa, terhapus semua janji yang pernah terucap


Jingga diujung langit


Menuntun kita pada, malam yang tak berbintang


Hingga kini terasa, terhapus semua janji yang pernah terucapkan...


A.. Aahaaa...


" Terima kasih buat kalian semua, yang udah bersedia dengerin lagu dari gue. Sekian dari gue, kita ketemu lagi besok "


Rafa bergegas turun dari panggung sambil diiringi riung pikuk tepuk tangan. Saat berada dibelakang panggung, ia sudah disambut oleh Fita yang setia menunggu dirinya dengan seulas senyum.


" Sorry ya gue lama " Fita menggeleng kemudian menggenggam tangan Rafa erat, terselip kebahagiaan dan rasa nyaman saat kedua tangan mungil gadis itu mengusap punggung tangan Rafa


Rafa mengusap kepala Fita gemas.


" Udah malem, gue anterin lo pulang sekarang ya? " Fita kembali mengangguk


Keduanya berjalan menuju tempat parkir dimana sepeda motor Rafa berada.


" Biar gue pakein " Rafa memasang helm dikepala Fita dengan hati - hati, kemudian merapikan helai demi helai rambut Fita yang berantakan


" Lo liatin gue mulu, gue cantik ya? " Rafa tersenyum sambil mengusap pipi Fita gemas


" Banget. Makanya gue beruntung dapetin elo, thanks ya lo udah bersedia jadi pacar gue "


Fita mendaratkan sebuah pukulan pada dada bidang Rafa dengan pipi bersemu merah.


" Ih... Gombal aja terus "


" Tapi lo suka kan? "


" So tau " Rafa terkekek kecil


Rafa mulai mengenakan helm miliknya, setelah selesai ia membantu Fita untuk naik.


" Lo udah siap? "


Fita mengangguk, seraya mengeratkan pelukannya pada Rafa.


" Iya "


" Kita pergi sekarang, bismillah "


Rafa memacu motornya menuju rumah Fita, keduanya terlibat obrolan kecil sepanjang perjalanan hingga membuat mereka sesekali terkekeh.


" Udah sampe, thanks ya Fa " Rafa menerima helm yang diberikan Fita dengan seulas senyum


" Ada juga gue yang bilang terima kasih, thanks ya lo udah mau nemenin gue kerja. Sorry nih gue nggak bisa mampir, soalnya udah malem banget. Gue nitip salam aja ya, buat calon mertua ama calon kakak ipar gue "


Fita terkekeh kecil, mendengar kata - kata Rafa.


" Calon mertua? Enak aja, tapi bakal gue salamin ko "


" Kalo gitu gue balik sekarang "


" Iya. Ati - ati dijalan "


" Yups... My honey, ati - ati juga ya. Awas jangan ampe kepleset krikil atau apapun itu, apa lagi ampe kepleset anak orang. Naik tangganya juga harus ati - ati dan jangan lupa baca bismillah. Ok? " Fita berdecih kemudian melipat kedua tangannya dibawah dada


" Iya, buru lo balik. Udah malem "


" Ok... Ok, assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam "


Fita menatap kepergian Rafa yang hilang ditelan kegelapan, sebelum akhirnya melangkah masuk kedalam rumah. Sebelum pulang Rafa menyempatkan diri untuk membeli kue black forest kesukaan Asti, anggap saja kue itu sebagai ucapan terima kasih karena tadi siang Asti bersedia mencegat perbuatan Alya yang semena - mena pada Rafa.


Apa lagi hal itu tidak didasari alasan yang jelas, bahkan cenderung tidak beralaskan. Setelah 20 menit berkendara, akhirnya Rafa sampai dirumah dengan aman dan selamat sama seperti perkataan Fita.


" Assalamuallaikum "


" Waalaikumsallam, baru pulang bang? "


" Ho'oh. Hmm... Yang laen pada kemana bi? "


" Udah pada tidur, abang beli apa? " Rafa mengangkat kantong plastik ditangannya, kemudian meletakkannya diatas meja makan


" Kue, buat mamah. Kalo ada yang tanya dari siapa, bilang aja ada malaikat tamfan yang ngenterin ini dengan suka cita. Demi sebuah ucapan terima kasih, yang tak mampu disampaikan secara langsung. Ok? " Rina terkekeh kecil sebelum akhirnya mengangguk paham