Rafa

Rafa
Kedekatan



Fita meletakkam tasnya diatas meja kemudian memilih bergabung bersama Defa and geng, yang tengah mengobrol dipojok kelas.


" Lo lagi pada ngomongin apa? " Semua orang menoleh pada Fita yang tengah tersenyum manis.


" Ish... Nggak usah senyum kali Fit " Sontak si empunya nama hanya bisa memicingkan mata heran.


" Lah kenapa? Emang ada yang salah ya, ama senyum gue? " Tanya Fita polos membuat semua temannya merasa gemas.


" Senyum lo tuh kemanisan Fit... Bisa auto diabet kita " Ucap Dodit diiringi gelak tawa.


" Ya elah gue pikir apaan, btw thanks udah ngomong gue manis " Fita tersenyum seraya memejamkan kedua matanya.


" Alah dipuji dikit aja terbang lo... Kalo jatuh ntar rasain dah " Fita mengerucutkan bibirnya.


" Ntar gue yang tangkep kalo lo jatuh " Kontan semua orang menoleh pada Rafa yang baru saja datang.


" Baru dateng lo? " Rafa mengangguk kemudian mengambil posisi diantara mereka.


" Btw gimana tuh ama lomba kalian? " Semua orang menoleh pada Fita.


" Maksudnya? "


" Iya... Maksud gue, kapan lomba itu? Terus kenapa sekarang lo semua jarang latihan " Kontan semua orang membuka mulutnya hingga membentuk huruf o tanpa bersuara


" Oh itu, lombanya masih lumayan lama lah... Kalo soal latihan... " Defa sengaja menggantung kalimatnya hingga Rafa menoleh.


" Ntar gue latihan " Rafa menimpali seolah paham dengan kode dari Defa.


" Beneran lo ya? Awas aja lo kalo bohong! " Rafa tersenyum sambil mengangguk.


Fahmi berdeham, membuat seluruh siswa tergeragap dan langsung berlari menuju kursi mereka masing - masing.


" Ayo dipimpin doanya! " Defa mengangguk


" Untuk mengawali pembelajaran kali ini, alangkah lebih baik jika kita bedoa sesuai kepercayaan masing - masing. Berdoa dipersilahkan "


Semua orang menunduk dalam - dalam, kemudian mendongakkan kepala sesuai instruksi dari ketua kelas.


" Sekarang keluarkan pr, yang bapak berikan minggu lalu! " Rafa terdiam saat melihat buku tugasnya yang masih kosong.


" Ish... Gue lupa lagi "


Fahmi berjalan kearah Rafa, saat pria itu hendak menyembunyikan bukunya dikolong meja.


" Mana tugas kamu? " Rafa menoleh sambil tersenyum kuda.


" Belom dikerjain pak " Fahmi mendengus kesal


" Ayo maju kedepan, begitupula dengan yang lainnya! "


" ****** lo " Bisik Defa sambil tersenyum geli.


Rafa maju kedepan kelas dengan langkah terseret - seret.


" Sekarang kamu berdiri disana, kemudian angkat salah satu kaki sambil menarik kedua telinga kamu " Semua orang tertawa lepas berbeda dengan Rafa yang hanya bisa tertegun tidak percaya.


" Lah pak kejem banget dah, nanti kaki babang Rafa sakit " Ucap Rafa mendramatisir seraya memegangi kedua kakinya.


Fahmi tidak bergeming, ia menatap Rafa lamat - lamat.


" Hmm... Ok " Mata Rafa membelalak lebar dengan senyum merekah.


" Kamu berdiri didepan kelas sampai istirahat! " Semua siswa tertawa lepas melihat ekspresi Rafa.


" Lah pak... Pelajaran bapak kan cuma dua jam " Protes Rafa


" Yang satu jam lagi bonus, karena berani protes sama wali kelas "


" Tenang aja babang Rapa, nanti kalo udah selesai neng Riska bakalan mijitin kaki babang Rapa. Iya nggak Ris " Si empuanya nama langsung mengangguk girang, berbeda dengan Rafa yang begidik geli.


" Ogah gue... Nyonya Rafa " Fita mengalihkan tatapannya kearah lain, berusaha untuk menghindari sorot mata Rafa


" Ahaha kasian bat dah lo, bini lo udah nggak peduli "


" Ih Rafa, kan ada aku... Ngga usah minta bantuan ama si Fita! " Protes Riska manja disambut gelak tawa siswa lain.


" Gumoh gue " Pekik Rafa sambil memutar bola matanya jengah.


" Hust... Rafa kamu cepat laksanakan hukumannya, yang lain diam! " Ucap Fahmi tegas


***


Fita, Defa, Aziz, Salman dan Dodit memperhatikan bagaimana Neyla menyuapi Rafa saat jam istirahat.


" Hust... Nyonya tanos " Fita menoleh pada Dodit sambil menaikkan alisnya.


" Lo nggak ngiri tuh, liat suami lo deket ama cewek lain " Fita mengalihkan pandangannya pada Rafa dan Neyla.


" Biasa aja "


Fita bergegas pergi keluar kelas, diikuti tatapan heran dari teman - temannya.


" Kayaknya si Fita beneran cemburu dah " Ucap Salman disambut anggukan teman - temannya.


Mereka semua bergegas menyusul Fita keluar kelas.


" Mereka mau pergi kemana ya? " Batin Rafa heran


" Ayo Fa makan lagi " Rafa mengangguk sambil menatap kearah pintu.


" I... Iya "


" Ish... Kenapa sih tuh cewek kegatelan banget! " Ucap Dewi yang berada diambang pintu.


" Gue juga heran Dew, padahal tuh bocah udah punya Panji " Mata Dewi membelalak lebar dengan senyum merekah.


" Gue punya ide Sal " Salsa menoleh sambil memicingkan matanya heran.


" Apaan? "


" Adalah... Yo cabut " Salsa menganggguk kemudian berjalan mengekor dibelakang Dewi.


" Sapa sih tuh cewek? " Tanya Riska gemas


" Gue juga heran Ris... Tuh cewek akhir - akhir ini sering banget jalan ama si Rafa " Fitri menimpali, Riska berdecih


" Keganjenan amat sih! Udah cukup saingan gue si Dewi ama Fita! " Riska bangkit dengan wajah merah padam.


" Yuh ah pergi, males gue lama - lama dikelas " Fitri mengangguk, keduanya bergegas pergi


" Gimana Fa, enak nggak? " Tanya Neyla dengan mata berbinar, Rafa mengangguk.


" Lo yang masak La? " Neyla mengangguk seraya tersenyum puas.


" Gila ini enak banget " Puji Rafa tulus membuat pipi Neyla bersemu merah.


" Mau ngapain lo disini? " Tanya Aziz heran saat Fita mulai melepas sepatunya.


" Sholatlah... Lo gak liat ini masjid? " Salman berdecih sedangkan Dodit memukul kepala Aziz dari belakang.


" Lola amat si lo... Orang kalo ke masjid ya mau sholat, pake ditanya lagi " Aziz tersenyum kuda seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Lo sering sholat dhuha La? " Tanya Defa memastikan.


" Nggak juga sih, kadang - kadang aja. Lo semua mau ikut sholat nggak? " Mereka saling melempar pandangan mendengar pertanyaan Fita.


" Yah Fit, yang wajib aja jarang cenderung enggak apa lagi yang sunah " Fita berdecih


" Ya udah gue duluan " Fita menghentikan langakahnya lalu menoleh pada teman - temannya dengan sulas senyum.


" Tapi lebih baik, dari pada nggak sama sekali " Sambung Fita, ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan teman - temannya.


Defa mulai melepas sepatunya, diikuti tatapan heran Aziz, Dodit dan Salman.


" Lo mau kemana? " Tanya Dodit heran.


Defa mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum.


" Lo denger kan? Lebih baik dari pada nggak sama sekali... Lagian malu juga, masa cowok kalah ama cewek sih " Defa menepuk bahu Dodit sesaat sebelum pergi.


" Gue ikutan ah " Dodit melepas sepatunya diikuti oleh Salman dan Aziz.


Mereka bergegas pergi ketempat wudhu khusus laki - laki.


" Ish... " Salman, Aziz dan Dodit mengikuti arah pandangan Defa.


Kontan mata mereka membelalak, diikuti mulut yang menganga lebar saat melihat Fita yang terlihat cantik dengan balutan mukena berwarna navy.


" Sumpah cantik banget " Gumam Salman, pemandangan didepan mereka layaknya adegan slow-motion.


" Gue nggak nyangka Fita bakalan secantik ini " Defa memukul lengan ketiga temannya membuat si empunya mengerang kesakitan.


" Buruan... Bentar lagi masuk! " Ketiganya celingukan sambil nyengir kuda.


" Ok... Ok " Ucap ketiganya serentak kemudian mengambil posisi masing - masing.


***


Rafa merebahkan tubuhnya diatas ranjang, kejadian akhir - akhir ini seolah menjadi penyemangat untuknya.


" Bang " Panggil Rina diiringi suara ketukan pintu.


Rafa mengernyitkan dahi tanpa berniat untuk turun dari ranjang.


" Masuk aja bi " Rina masuk dengan seulas senyum.


" Ada apa? " Tanya Rafa tanpa menoleh


" Makan malam dulu bang "


" Ok " Rina memicingkan matanya heran, lantaran Rafa bersedia makan bersama keluarganya tanpa ada pertanyaan atau perdebatan terlebih dahulu.


" Makanannya apa aja bi? " Rina tersenyum melihat keceriaan diwajah Rafa.


" Ada banyak... Dan nggak ada yang menjadi pemicu alergi abang " Rafa menoleh dengan senyum mengembang kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan.


" Malem keluargaku sayang " Sapa Rafa sumringah, Wawan menyernyitkan dahinya heran melihat tingkah putranya.


" Cie... Kayaknya seneng banget aku gabung " Celetuk Rafa seraya mengambil posisi tepat disamping ibunya.


" Kenapa lo? Sehat? " Rafa tersenyum lebar


" Makanannya bang " Rafa tersenyum lebar


" Makasih bibi cantieq... " Rina tersipu malu


Rafa mulai memasukkan sedikit demi sedikit nasi kedalam mulutnya, tanpa melepaskan senyumannya.


" Stress lo ya " Rafa tersenyum lebar


" Kadang - kadang... Idup tuh jangan lurus - lurus amat napa, kadang perlu dibelokkin " Alya berdecih


" Kek lo? Dasar stress "


" Nah tuh paham... Kalo dengan cara stress, idup gue bakal bahagia. Kenapa nggak? " Rafa menatap wajah Alya lamat - lamat dengan seulas senyum meremehkan.


" Cukup! " Wawan menatap kedua anaknya tajam, kontan keduanya langsung terdiam.


Alya menundukkan kepalanya sebagai tanda patuh, berbeda dengan Rafa yang terlihat tidak peduli cenderung meremehkan.


" Kenapa kamu tersenyum? " Rafa berdecih seraya memutar bola matanya malas.


" Banyak aturan banget sih, senyum salah nggak salah. Oh... Atau jangan - jangan, aku juga sebuah kesalahan ya? " Semua orang tersentak kaget berbeda dengan Wawan.


Tangan pria itu mengepal kuat, wajahnya merah padam dan sorot matanya tajam.


Bruk


" Pergi sekarang! " Rafa berdecih, ia menatap jam dipergelangan tangannya.


" Tepat waktu " Rafa bangkit dengan seulas senyum.


" Thanks buat dinner bersejarahnya, bi makasih makanannya " Ucap Rafa sambil terus berjalan tanpa menoleh menuju luar rumah


" Dengan bang Rafa? " Tanya seorang pengemudi ojek online yang sudah stand by didepan rumah.


" Iya dong, btw tau nama gue dari mana? " Pengemudi ojek itu mengernyitkan dahi kemudian tersenyum hangat.


" Kan ada aplikasinya bang " Rafa tersenyum lebar seraya mengenakan helmet yang diberikan padanya.


" Oh iya... Btw, gue udah ganteng belom? " Pengemudi ojek itu bangkit dari motornya.


Ia memutari tubuh Rafa sambil menyipitkan matanya, setelah lama menimang akhirnya ia mengangguk dengan seulas senyum.


" Mantap nih, mau dinner bang? " Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Tau aja si abang... Awokawok " Keduanya terkekeh kecil.


" Ayo bang, gue udah siap nih "


Pengemudi ojek mengangguk, mereka munumpangi sebuah motor matic menembus jalanan yang cukup lengang.


" Ish... Sip dah, ganteng bener. Kalah gue ama lo " Celetuk pengemudi ojek saat melihat Rafa dari balik spion.


" Caelah namanya juga babang Rafa, yang tampannya melebihi ambang batas " Keduanya kembali terkekeh


" Kalo aja gue punya anak seumuran elo, pasti udah gue jodohin dah " Rafa mengernyitkan dahi


" Sama siapa bang? "


" Sama elo lah tong "


" Idih enak aja... Taylor swift aja gue tolak, apa lagi anak lo bang "


" Jahat bener dah lo tong " Keduanya kembali terkekeh


" Ya kali... Abang pikir ni idup kek PTV - PTV apa, maen jodoh - jodohan "


" Haha iya... Ya "


***


" Keliatannya lo udah akrab sama Rafa and geng " Celetuk Aldo membuat mata Fita membelalak lebar.


" Tau dari mana lo? " Fita memutar bola matanya.


" Gue abang lo kutil... Gue tau semuanya " Fita berdecih


" Sok tau lo bang "


" Dih nih kutil diantara bulu ketiak gue, tinggal jawab aja susah amat "


" Gue lebih cantik dari kutil lo! " Aldo tersenyum misterius, ia menyusupkan salah satu tangannya kedalam ketiak yang lebat.


" De " Fita menoleh, disambut sebuah tangan kekar tepat didepan hidungnya.


" Hue... Stress lo bang! " Aldo tertawa lepas, melihat Fita tengah mengusap hidungnya dengan lengan baju.


" Enak kan... Iya dong, ketek gue emang paling wangi "


" Hue... " Fita berlari menuju kamar mandi terdekat diiringi gelak tawa Aldo.


" Enak kan " Teriak Aldo sambil terus terkekeh.


" Gila, asem banget... Hue " Fita mengusap hidungnya dengan air mengalir.


" Awas aja lo... Bakalan gue bales lo bang " Fita memasukkan salah satu jari pada lubang hidungnya.


" Aduh emas gue yang berharga... Sorry ya gue harus buang lo, ke ngarai tak berujung. Gue nglakuin ini karena ada alesannya ko " Gumam Fita pada sebongkah upil diujung kukunya.


Fita melangkahkan kakinya keluar menuju depan TV, tepat dimana Aldo berada.


" Enak kan " Fita berdecih seraya memutar bola matanya jengah.


" Abang apaan sih lo? " Fita menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Aldo.


" Abang lo lah "


" Gimana cara bikin nih orang mangap ya? " Batin Fita


" Sebagai adik yang baek... Ambilin gue camilan napa "


" Ish... Kenapa nggak ambil sendiri aja sih "


" Lah terus apa untungnya gue punya adek? " Fita berdecih seraya bangkit dari sofa.


" Jangan lama - lama ya "


" Brisik lo! " Aldo terkekeh kecil


Ddrrttt


Aldo meraih ponselnya dari atas meja, ekspresinya berubah bersamaan dengan sebuah notifikasi masuk.


" Udah Oktober ya " Gumam Aldo dengan mata berkaca - kaca.


" Nih gue bawa snack "


Aldo mengalihkan tatapannya, ia mengusap air yang menggenang dikedua kelopak matanya.


" Kenapa lo? " Tanya Fita sambil memicingkan matanya.


" Aduh tolong gue... Gue kelilipan " Kilah Aldo


" Kesempatan "


" Sini gue bantu... Buka mata lo "


" Aduh ati - ati "


" Bentar... Belom juga ditiup "


" ****** lo " Fita memasukkan jarinya yang berisi upil saat melihat peluang.


" Apaan nih "


Fita tertawa lepas melihat Aldo yabg tengah meludah, guna membuang upil yang baru saja dihadiahkan olehnya.


" Enak kan... Gurih "


" Stress lo! Adik kampret emang lo ya! " Fita menjulurkan lidahnya


" Biarin... Kalo lo nggak ketekin gue, gue gak bakalan ngupilin lo " Aldo mengelap lidah dengan lengan bajunya.


" Ih jorok amat sih lo " Fita begidik geli


" Ini juga gegara lo kutil... Ok, sekarang kita impas aja "


" Enak aja " Sergah Fita seraya melipat tangannya dibawah dada.


" Ok, gue minta maap "


" Jaminan? "


" Gue beliin lo cokelat " Fita terlihat tengah menimang tawaran dari Aldo.


" 3 batang cokelat, gimana? "


" Ish... Banyak amat, buat apa lo "


" Mau apa nggak? Kalo nggak mau ya nggak papa, tapi mulai besok lo masak sendiri " Ancam Fita membuat mata Aldo membelalak lebar.


" Ok... Ok "


" Nah gitu dong, lain kali jangan macem - macem ama gue "


Fita menoleh pada Aldo, saat pria itu berdeham.


" Kenapa? "


" Besok lo sibuk nggak? " Fita mengernyitkan dahinya heran.


" Kayanya sih nggak... Emang kenapa? "


" Lo mau ikut gue, ke mamah ama papah nggak? " Tanya Aldo lembut, Fita tersenyum getir seraya mengangguk lemah.


" Gue ikut "


" Ya udah, besok lo siap - siap ok? "