
Fita meletakkam tasnya diatas meja kemudian memilih bergabung bersama Defa and geng, yang tengah mengobrol dipojok kelas.
" Lo lagi pada ngomongin apa? " Semua orang menoleh pada Fita yang tengah tersenyum manis.
" Ish... Nggak usah senyum kali Fit " Sontak si empunya nama hanya bisa memicingkan mata heran.
" Lah kenapa? Emang ada yang salah ya, ama senyum gue? " Tanya Fita polos membuat semua temannya merasa gemas.
" Senyum lo tuh kemanisan Fit... Bisa auto diabet kita " Ucap Dodit diiringi gelak tawa.
" Ya elah gue pikir apaan, btw thanks udah ngomong gue manis " Fita tersenyum seraya memejamkan kedua matanya.
" Alah dipuji dikit aja terbang lo... Kalo jatuh ntar rasain dah " Fita mengerucutkan bibirnya.
" Ntar gue yang tangkep kalo lo jatuh " Kontan semua orang menoleh pada Rafa yang baru saja datang.
" Baru dateng lo? " Rafa mengangguk kemudian mengambil posisi diantara mereka.
" Btw gimana tuh ama lomba kalian? " Semua orang menoleh pada Fita.
" Maksudnya? "
" Iya... Maksud gue, kapan lomba itu? Terus kenapa sekarang lo semua jarang latihan " Kontan semua orang membuka mulutnya hingga membentuk huruf o tanpa bersuara
" Oh itu, lombanya masih lumayan lama lah... Kalo soal latihan... " Defa sengaja menggantung kalimatnya hingga Rafa menoleh.
" Ntar gue latihan " Rafa menimpali seolah paham dengan kode dari Defa.
" Beneran lo ya? Awas aja lo kalo bohong! " Rafa tersenyum sambil mengangguk.
Fahmi berdeham, membuat seluruh siswa tergeragap dan langsung berlari menuju kursi mereka masing - masing.
" Ayo dipimpin doanya! " Defa mengangguk
" Untuk mengawali pembelajaran kali ini, alangkah lebih baik jika kita bedoa sesuai kepercayaan masing - masing. Berdoa dipersilahkan "
Semua orang menunduk dalam - dalam, kemudian mendongakkan kepala sesuai instruksi dari ketua kelas.
" Sekarang keluarkan pr, yang bapak berikan minggu lalu! " Rafa terdiam saat melihat buku tugasnya yang masih kosong.
" Ish... Gue lupa lagi "
Fahmi berjalan kearah Rafa, saat pria itu hendak menyembunyikan bukunya dikolong meja.
" Mana tugas kamu? " Rafa menoleh sambil tersenyum kuda.
" Belom dikerjain pak " Fahmi mendengus kesal
" Ayo maju kedepan, begitupula dengan yang lainnya! "
" ****** lo " Bisik Defa sambil tersenyum geli.
Rafa maju kedepan kelas dengan langkah terseret - seret.
" Sekarang kamu berdiri disana, kemudian angkat salah satu kaki sambil menarik kedua telinga kamu " Semua orang tertawa lepas berbeda dengan Rafa yang hanya bisa tertegun tidak percaya.
" Lah pak kejem banget dah, nanti kaki babang Rafa sakit " Ucap Rafa mendramatisir seraya memegangi kedua kakinya.
Fahmi tidak bergeming, ia menatap Rafa lamat - lamat.
" Hmm... Ok " Mata Rafa membelalak lebar dengan senyum merekah.
" Kamu berdiri didepan kelas sampai istirahat! " Semua siswa tertawa lepas melihat ekspresi Rafa.
" Lah pak... Pelajaran bapak kan cuma dua jam " Protes Rafa
" Yang satu jam lagi bonus, karena berani protes sama wali kelas "
" Tenang aja babang Rapa, nanti kalo udah selesai neng Riska bakalan mijitin kaki babang Rapa. Iya nggak Ris " Si empuanya nama langsung mengangguk girang, berbeda dengan Rafa yang begidik geli.
" Ogah gue... Nyonya Rafa " Fita mengalihkan tatapannya kearah lain, berusaha untuk menghindari sorot mata Rafa
" Ahaha kasian bat dah lo, bini lo udah nggak peduli "
" Ih Rafa, kan ada aku... Ngga usah minta bantuan ama si Fita! " Protes Riska manja disambut gelak tawa siswa lain.
" Gumoh gue " Pekik Rafa sambil memutar bola matanya jengah.
" Hust... Rafa kamu cepat laksanakan hukumannya, yang lain diam! " Ucap Fahmi tegas
***
Fita, Defa, Aziz, Salman dan Dodit memperhatikan bagaimana Neyla menyuapi Rafa saat jam istirahat.
" Hust... Nyonya tanos " Fita menoleh pada Dodit sambil menaikkan alisnya.
" Lo nggak ngiri tuh, liat suami lo deket ama cewek lain " Fita mengalihkan pandangannya pada Rafa dan Neyla.
" Biasa aja "
Fita bergegas pergi keluar kelas, diikuti tatapan heran dari teman - temannya.
" Kayaknya si Fita beneran cemburu dah " Ucap Salman disambut anggukan teman - temannya.
Mereka semua bergegas menyusul Fita keluar kelas.
" Mereka mau pergi kemana ya? " Batin Rafa heran
" Ayo Fa makan lagi " Rafa mengangguk sambil menatap kearah pintu.
" I... Iya "
" Ish... Kenapa sih tuh cewek kegatelan banget! " Ucap Dewi yang berada diambang pintu.
" Gue juga heran Dew, padahal tuh bocah udah punya Panji " Mata Dewi membelalak lebar dengan senyum merekah.
" Gue punya ide Sal " Salsa menoleh sambil memicingkan matanya heran.
" Apaan? "
" Adalah... Yo cabut " Salsa menganggguk kemudian berjalan mengekor dibelakang Dewi.
" Sapa sih tuh cewek? " Tanya Riska gemas
" Gue juga heran Ris... Tuh cewek akhir - akhir ini sering banget jalan ama si Rafa " Fitri menimpali, Riska berdecih
" Keganjenan amat sih! Udah cukup saingan gue si Dewi ama Fita! " Riska bangkit dengan wajah merah padam.
" Yuh ah pergi, males gue lama - lama dikelas " Fitri mengangguk, keduanya bergegas pergi
" Gimana Fa, enak nggak? " Tanya Neyla dengan mata berbinar, Rafa mengangguk.
" Lo yang masak La? " Neyla mengangguk seraya tersenyum puas.
" Gila ini enak banget " Puji Rafa tulus membuat pipi Neyla bersemu merah.
" Mau ngapain lo disini? " Tanya Aziz heran saat Fita mulai melepas sepatunya.
" Sholatlah... Lo gak liat ini masjid? " Salman berdecih sedangkan Dodit memukul kepala Aziz dari belakang.
" Lola amat si lo... Orang kalo ke masjid ya mau sholat, pake ditanya lagi " Aziz tersenyum kuda seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Lo sering sholat dhuha La? " Tanya Defa memastikan.
" Nggak juga sih, kadang - kadang aja. Lo semua mau ikut sholat nggak? " Mereka saling melempar pandangan mendengar pertanyaan Fita.
" Yah Fit, yang wajib aja jarang cenderung enggak apa lagi yang sunah " Fita berdecih
" Ya udah gue duluan " Fita menghentikan langakahnya lalu menoleh pada teman - temannya dengan sulas senyum.
" Tapi lebih baik, dari pada nggak sama sekali " Sambung Fita, ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan teman - temannya.
Defa mulai melepas sepatunya, diikuti tatapan heran Aziz, Dodit dan Salman.
" Lo mau kemana? " Tanya Dodit heran.
Defa mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum.
" Lo denger kan? Lebih baik dari pada nggak sama sekali... Lagian malu juga, masa cowok kalah ama cewek sih " Defa menepuk bahu Dodit sesaat sebelum pergi.
" Gue ikutan ah " Dodit melepas sepatunya diikuti oleh Salman dan Aziz.
Mereka bergegas pergi ketempat wudhu khusus laki - laki.
" Ish... " Salman, Aziz dan Dodit mengikuti arah pandangan Defa.
Kontan mata mereka membelalak, diikuti mulut yang menganga lebar saat melihat Fita yang terlihat cantik dengan balutan mukena berwarna navy.
" Sumpah cantik banget " Gumam Salman, pemandangan didepan mereka layaknya adegan slow-motion.
" Gue nggak nyangka Fita bakalan secantik ini " Defa memukul lengan ketiga temannya membuat si empunya mengerang kesakitan.
" Buruan... Bentar lagi masuk! " Ketiganya celingukan sambil nyengir kuda.
" Ok... Ok " Ucap ketiganya serentak kemudian mengambil posisi masing - masing.
***
Rafa merebahkan tubuhnya diatas ranjang, kejadian akhir - akhir ini seolah menjadi penyemangat untuknya.
" Bang " Panggil Rina diiringi suara ketukan pintu.
Rafa mengernyitkan dahi tanpa berniat untuk turun dari ranjang.
" Masuk aja bi " Rina masuk dengan seulas senyum.
" Ada apa? " Tanya Rafa tanpa menoleh
" Makan malam dulu bang "
" Ok " Rina memicingkan matanya heran, lantaran Rafa bersedia makan bersama keluarganya tanpa ada pertanyaan atau perdebatan terlebih dahulu.
" Makanannya apa aja bi? " Rina tersenyum melihat keceriaan diwajah Rafa.
" Ada banyak... Dan nggak ada yang menjadi pemicu alergi abang " Rafa menoleh dengan senyum mengembang kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
" Malem keluargaku sayang " Sapa Rafa sumringah, Wawan menyernyitkan dahinya heran melihat tingkah putranya.
" Cie... Kayaknya seneng banget aku gabung " Celetuk Rafa seraya mengambil posisi tepat disamping ibunya.
" Kenapa lo? Sehat? " Rafa tersenyum lebar
" Makanannya bang " Rafa tersenyum lebar
" Makasih bibi cantieq... " Rina tersipu malu
Rafa mulai memasukkan sedikit demi sedikit nasi kedalam mulutnya, tanpa melepaskan senyumannya.
" Stress lo ya " Rafa tersenyum lebar
" Kadang - kadang... Idup tuh jangan lurus - lurus amat napa, kadang perlu dibelokkin " Alya berdecih
" Kek lo? Dasar stress "
" Nah tuh paham... Kalo dengan cara stress, idup gue bakal bahagia. Kenapa nggak? " Rafa menatap wajah Alya lamat - lamat dengan seulas senyum meremehkan.
" Cukup! " Wawan menatap kedua anaknya tajam, kontan keduanya langsung terdiam.
Alya menundukkan kepalanya sebagai tanda patuh, berbeda dengan Rafa yang terlihat tidak peduli cenderung meremehkan.
" Kenapa kamu tersenyum? " Rafa berdecih seraya memutar bola matanya malas.
" Banyak aturan banget sih, senyum salah nggak salah. Oh... Atau jangan - jangan, aku juga sebuah kesalahan ya? " Semua orang tersentak kaget berbeda dengan Wawan.
Tangan pria itu mengepal kuat, wajahnya merah padam dan sorot matanya tajam.
Bruk
" Pergi sekarang! " Rafa berdecih, ia menatap jam dipergelangan tangannya.
" Tepat waktu " Rafa bangkit dengan seulas senyum.
" Thanks buat dinner bersejarahnya, bi makasih makanannya " Ucap Rafa sambil terus berjalan tanpa menoleh menuju luar rumah
" Dengan bang Rafa? " Tanya seorang pengemudi ojek online yang sudah stand by didepan rumah.
" Iya dong, btw tau nama gue dari mana? " Pengemudi ojek itu mengernyitkan dahi kemudian tersenyum hangat.
" Kan ada aplikasinya bang " Rafa tersenyum lebar seraya mengenakan helmet yang diberikan padanya.
" Oh iya... Btw, gue udah ganteng belom? " Pengemudi ojek itu bangkit dari motornya.
Ia memutari tubuh Rafa sambil menyipitkan matanya, setelah lama menimang akhirnya ia mengangguk dengan seulas senyum.
" Mantap nih, mau dinner bang? " Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Tau aja si abang... Awokawok " Keduanya terkekeh kecil.
" Ayo bang, gue udah siap nih "
Pengemudi ojek mengangguk, mereka munumpangi sebuah motor matic menembus jalanan yang cukup lengang.
" Ish... Sip dah, ganteng bener. Kalah gue ama lo " Celetuk pengemudi ojek saat melihat Rafa dari balik spion.
" Caelah namanya juga babang Rafa, yang tampannya melebihi ambang batas " Keduanya kembali terkekeh
" Kalo aja gue punya anak seumuran elo, pasti udah gue jodohin dah " Rafa mengernyitkan dahi
" Sama siapa bang? "
" Sama elo lah tong "
" Idih enak aja... Taylor swift aja gue tolak, apa lagi anak lo bang "
" Jahat bener dah lo tong " Keduanya kembali terkekeh
" Ya kali... Abang pikir ni idup kek PTV - PTV apa, maen jodoh - jodohan "
" Haha iya... Ya "
***
" Keliatannya lo udah akrab sama Rafa and geng " Celetuk Aldo membuat mata Fita membelalak lebar.
" Tau dari mana lo? " Fita memutar bola matanya.
" Gue abang lo kutil... Gue tau semuanya " Fita berdecih
" Sok tau lo bang "
" Dih nih kutil diantara bulu ketiak gue, tinggal jawab aja susah amat "
" Gue lebih cantik dari kutil lo! " Aldo tersenyum misterius, ia menyusupkan salah satu tangannya kedalam ketiak yang lebat.
" De " Fita menoleh, disambut sebuah tangan kekar tepat didepan hidungnya.
" Hue... Stress lo bang! " Aldo tertawa lepas, melihat Fita tengah mengusap hidungnya dengan lengan baju.
" Enak kan... Iya dong, ketek gue emang paling wangi "
" Hue... " Fita berlari menuju kamar mandi terdekat diiringi gelak tawa Aldo.
" Enak kan " Teriak Aldo sambil terus terkekeh.
" Gila, asem banget... Hue " Fita mengusap hidungnya dengan air mengalir.
" Awas aja lo... Bakalan gue bales lo bang " Fita memasukkan salah satu jari pada lubang hidungnya.
" Aduh emas gue yang berharga... Sorry ya gue harus buang lo, ke ngarai tak berujung. Gue nglakuin ini karena ada alesannya ko " Gumam Fita pada sebongkah upil diujung kukunya.
Fita melangkahkan kakinya keluar menuju depan TV, tepat dimana Aldo berada.
" Enak kan " Fita berdecih seraya memutar bola matanya jengah.
" Abang apaan sih lo? " Fita menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Aldo.
" Abang lo lah "
" Gimana cara bikin nih orang mangap ya? " Batin Fita
" Sebagai adik yang baek... Ambilin gue camilan napa "
" Ish... Kenapa nggak ambil sendiri aja sih "
" Lah terus apa untungnya gue punya adek? " Fita berdecih seraya bangkit dari sofa.
" Jangan lama - lama ya "
" Brisik lo! " Aldo terkekeh kecil
Ddrrttt
Aldo meraih ponselnya dari atas meja, ekspresinya berubah bersamaan dengan sebuah notifikasi masuk.
" Udah Oktober ya " Gumam Aldo dengan mata berkaca - kaca.
" Nih gue bawa snack "
Aldo mengalihkan tatapannya, ia mengusap air yang menggenang dikedua kelopak matanya.
" Kenapa lo? " Tanya Fita sambil memicingkan matanya.
" Aduh tolong gue... Gue kelilipan " Kilah Aldo
" Kesempatan "
" Sini gue bantu... Buka mata lo "
" Aduh ati - ati "
" Bentar... Belom juga ditiup "
" ****** lo " Fita memasukkan jarinya yang berisi upil saat melihat peluang.
" Apaan nih "
Fita tertawa lepas melihat Aldo yabg tengah meludah, guna membuang upil yang baru saja dihadiahkan olehnya.
" Enak kan... Gurih "
" Stress lo! Adik kampret emang lo ya! " Fita menjulurkan lidahnya
" Biarin... Kalo lo nggak ketekin gue, gue gak bakalan ngupilin lo " Aldo mengelap lidah dengan lengan bajunya.
" Ih jorok amat sih lo " Fita begidik geli
" Ini juga gegara lo kutil... Ok, sekarang kita impas aja "
" Enak aja " Sergah Fita seraya melipat tangannya dibawah dada.
" Ok, gue minta maap "
" Jaminan? "
" Gue beliin lo cokelat " Fita terlihat tengah menimang tawaran dari Aldo.
" 3 batang cokelat, gimana? "
" Ish... Banyak amat, buat apa lo "
" Mau apa nggak? Kalo nggak mau ya nggak papa, tapi mulai besok lo masak sendiri " Ancam Fita membuat mata Aldo membelalak lebar.
" Ok... Ok "
" Nah gitu dong, lain kali jangan macem - macem ama gue "
Fita menoleh pada Aldo, saat pria itu berdeham.
" Kenapa? "
" Besok lo sibuk nggak? " Fita mengernyitkan dahinya heran.
" Kayanya sih nggak... Emang kenapa? "
" Lo mau ikut gue, ke mamah ama papah nggak? " Tanya Aldo lembut, Fita tersenyum getir seraya mengangguk lemah.
" Gue ikut "
" Ya udah, besok lo siap - siap ok? "