
Rafa menyantap sarapan paginya dalam senyap, ia tidak ingin memulai masalah dipagi yang melelahkan ini. Rafa cenderung lebih fokus pada makanan dan angan - angannya, sambil sesekali menyimak pembicaraan antara Alya dan Wawan.
" Apa ini bi? " Tanya Asti heran saat melihat plastik hitam yang ada didalam kulkas
" Itu kue bu, kue black forest "
" Black forest? Dari siapa? "
Rafa menenggak minumannya, sebelum melangkahkan kaki kembali menuju kamar.
" Makasih makanannya " Ucap Rafa sesaat setelah meninggalkan meja makan
" Itu dari malaikat tamfan, yang mengantar dengan suka cita. Katanya anggap saja sebagai ucapan terima kasih, yang tidak mampu disampaikan secara langsung " Jelas Rina persisi seperti yang diperintahkan oleh Raf semalam
" Mala... Oh "
Asti mengamati Rafa yang tengah menaiki satu persatu anak tangga dengan malas, tanpa disadari wanita itu menarik salah satu sudut bibirnya ketika melihat perilaku Rafa yang bisa dibilang aneh bin ajaib.
" Anak itu "
" Kalau begitu potong - potong kuenya, lalu letakan kembali didalan kulkas "
" Baik bu "
Ddrrttt
Rafa mengamati layar ponselnya malas, ia melemparkan kembali benda itu diatas nakas dan tidak berniat menerima panggilan dari siapapun.
Ddrrttt
" Ish... " Rafa membenamkan wajahnya kedalam bantal, guna mengurangi suara bising yang berasal dari ponselnya
Ddrrttt
Rafa mendesah berat, ia menggeliatkan tubuhnya kesisi lain ranjang dan bersiap untuk tidur.
Ddrrttt
" Ish... Sumpah demi kakek Sugiono! Gue blok juga nih orang, yang berani ganggu gue pagi - pagi kek gini! " Gerutu Rafa
" Halo! "
" Ish... Lo marah? "
" Hah? Fita? "
" Kalo lo marah karena gue telepon, ya udah gue nggak bakal telepon lo lagi dah... "
" Eh bukan gitu, gue pikir tadi elo itu si Dodit " Kilah Rafa asal
" Alesan aja lo! "
" Ih beneran, btw kenapa lo telepon gue pagi - pagi kek gini? "
" Gue ama anak - anak ada didepan rumah lo nih "
" Depan ru... Apa? " Pekik Rafa
Ia bergegas turun, dengan ponsel yang masih melekat pada telinganya. Saat membuka pintu dirinya dikejutkan dengan kehadiran Fita, Defa dan yang lainnya.
" Lama bat sih lo? " Protes Ibnu
" Sorry... Sorry, ayo masuk "
" Assalamuallaikum " Ucap mereka serentak
" Waalaikumsallam, kalian duduk deh gue mau ambil minuman dulu "
" Hmm... Cepet gih, gue udah haus nih "
" Jangan lupa, gue nggak doyan ama air putih "
" Kalo boleh sih yang berwarna "
" Sekalian ama camilannya ya "
" Bener tuh, masa minum nggak ada camilannya " Rafa mendengus kesal, mereka semua memang bertamu hanya untuk camilan gratis sama seperti dirinya
" Brisik lo! Rumah - rumah gue, jadi terserah gue mau bawain apa. Udahlah lo semua tunggu disini "
" Siap - siap " Jawab mereka serentak, diiringi suara kekehan yang memenuhi seisi ruang tamu
" Lo semua diem - diem aja, gue ke belakang dulu "
Rafa bergegas menghampiri Rina yang ada didapur, kemudian meminta wanita itu untuk membawakan air minum dan camilan yang banyak untuk teman - temannya.
" Makasih "
" Tumben nih bawanya banyakan? "
" Iya... Iyalah, secara lo semua nggak bakal cukup cuma modal air ama wafer. Udah buru dimakan "
" Selamat makan "
" Eh... Lo belom mandi ya Fa? " Tanya Fita yang baru menyadari jika tubuh Rafa hanya dibalut oleh kaos dan celana sebatas lutut
" Ho'oh. Gue bangun cuma buat sarapan terus tidur lagi, tapi tetep cakrp kan? Ish... Iya dongs, namanya juga Rafa wkwkwk " Ucap Rafa dengan rasa percaya diri tingkat maksimal, yang mampu membuat teman - temannya hanya bisa mengelus dada sambil menggeleng pelan
***
" Gue mau buang sampah dulu, lo semua diem - diem bae ya. Awas jangan pada brisik! "
" Crewet lo lama - lama "
" Iya. Udah kek emak - emak +62 "
" Emak - emak berfollowers "
" Sen kekanan belok kekiri wkwkwk "
" Metu kono belok kiri lurus wae... Cendol dawet, cendol dawet cendol. Piro? " Rafa mulai bersenandung diiringi alunan musik dari mulut Aziz, Dodit, Salman, Ibnu dan Arya
" Lima ratusan "
" Terus? "
" Nggak pake ketan "
" Ji ro lu pat limo enem pitu wolu... Tak kintang kintang oy... Tak kintang kintang oy... Jeng jeng jeng jeng dut "
" Gila lo semua " Sarkas Defa sambil terkekeh kecil melihat tingkah absurd dari sahabat - sahabatnya yang out of the box
" Sekian konser untuk hari ini, dan untuk pembayaran bisa dilakukan via cek ataupun tunai. Terima kasih, and bubu babay umuah umuah " Celetuk Rafa kemudian melenggang pergi menuju dapur sambil terkekeh kecil
" Pacar lo udah gesrek Fit "
Fita menoleh pada Panji sambil tersenyum bangga.
" Udah biasa, tapi itu yang buat dia luar biasa " Panji mengedikkan bahu acuh sambil menarik salah satu sudut bibirnya
" Terserah lo aja dah "
" Namanya juga orang udah cintah. Jadi mau kek gimana juga, tetep aja cintah " Celetuk Salman mendramatisir
" Lebay lo " Sarkas Fita
Rina yang baru saja kembali dari lantai dua dibuat terkejut, saat melihat Rafa berdiri didepan tempat sampah yang ada diarea dapur.
" Temennya udah pada pulang bang? " Rafa menoleh pada Rina dengan seulas senyum getir
" Belom. Rafa baru aja mau buang sampah, ama ngambil camilan lagi "
" Oh. Ada yang bisa bibi bantu? " Tanya Rina menawarkan diri
Rafa berdeham, yang kontan membuat Rina menoleh dengan tatapan heran.
" Kenapa bang? " Tanya Rina lembut, pada Rafa yang sedari tadi masih berdiri didekat tempat sampah
" Kue black forest dari Rafa... Dibuang ya? " Tanya Rafa memelan diakhir
" So... Soal itu... Bi... "
" Nggak papa ko, kalo gitu Rafa mau kedepam dulu. Kasian mereka udah nunggu dari tadi " Potong Rafa cepat, seolah ia mampu membaca kata - kata yang akan disampaikan Rina hanya dengan melihat ekspresi wanita itu
" Mungkin lain kali, Rafa beli bingka ambon aja buat bi Rina. Jadi Rafa nggak usah susah - susah makan ati tiap hari, iya kan bi? " Tanya Rafa dengan seulas senyum, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan untuk mencairkan suasana
Setelah mengatakaan kalimat itu Rafa kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tanpa memperdulikan tatapan menyesal dari Rina.
" Maafin bibi bang " Gumam Rina
" Ada apa bi? " Rina tergeragap saat tiba - tiba saja Asti sudah berada disampingnya dengan tatapan heran
" Ng... Nggak bu, tadi bang Rafa dateng kesini "
Asti dengan santainya berjalan menuju kulkas, kemudian mengambil segelas air mineral untuk selanjutnya ditenggak hingga setengah penuh.
" Terus gimana lagi? "
" Ta... Tadi bang Rafa buka tempat sampah, terus nggak sengaja liat kue black foresnya udah dibuang "
Asti mendesah berat, ia berusaha mencerna kata - kata Rina. Rafa melihat kue black forestnya ada ditempat sampah?
" Terus gimana reaksinya? "
" Bang Rafa keliatan sedih bu, tapi... "
" Tapi? "
" Bang Rafa bilang dia nggak bakal beli kue black forest lagi, terus bang Rafa bilang udah capek makan ati tiap hari "
Asti tersenyum getir sambil mengangguk paham, Asti berjalan menuju tangga. Dari sana ia bisa melihat siluet Rafa dan teman - temannya, yang tengah tertawa lepas karena kekonyolan Rafa.
" Maaf Fa " Asti memegangi dadanya yang terasa sesak, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju kamar
***
Trriinnggg...
Semua siswa bergegas masuk kedalam kelas, ini adalah hari pertama setelah liburan beberapa minggu. Berbeda dengan teman - temannya yang masih santai dengan kegiatan belajar mengajar, Panji justru harus berusaha keras untuk Ujian Nasional yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.
" Rajin amat lo "
" Lo belajar buat apa sih? Toh elo itu udah pinter, nggak usah belajar aja dapet ranking satu "
Panji mendongakkan kepalanya, untuk sepersekian detik ia melihat tampang Ibnu dan Arya sebelum akhirnya kembali fokus pada buku ditangannya.
" Gue harus belajar buat UN, SNMPTN ama SBMPTN. Pokoknya gimanapun caranya, gue harus bisa masuk Univ yang gue pengin! " Jelas Panji penuh ambisi
Inilah seorang Panji, dia akan menghalalkan berbagai cara agar bisa mendapat apa yang diinginkannya. Tapi Panji yang sekarang sudah sedikit berbeda, berbeda setelah mengenal Fita, Rafa dan teman - temannya. Panji tidak lagi menghalalkan berbagai cara agar mendapat apapun keinginnya, kini ia lebih suka bekerja keras untuk mendapat semuanya.
" Lo belajar buku setebel itu... Otak lo nggak sakit apa? " Panji menarik sudut bibirnya
" Lo nggak salah nanya kek gituan? "
" Emang salah ya? " Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Lo nggak mau minta bantuan ama nyokap lo gitu "
" Iya Nji, jadi kan lo nggak usah repot - repot belajar " Panji berdecih, ia menatap wajah Ibnu dan Arya secara bergantian dengan sorot mata pembunuh
Mendapat sorot mata seperti itu cukup membuat Arya dan Ibnu begidik ngeri, bahkan untuk menelan saliva mereka sendiri terasa sangat sulit.
" Selagi gue masih bisa usaha sendiri, buat apa gue bergantung ama orang laen "
" Ish... Salut - salut "
" Wafer salut cokelat... Ditambah toping lelehan cokelat, emang paling nikmat " Arya terkekeh sambil mendaratkan sebuah pukulan di lengan Ibnu, membuat si empunya mendengus kesal
" Lagi ngapain lo? "
" Iklan bambang! Susah kalo ngomong ama orang, yang nggak pernah nonton tipi! " Sungut Ibnu masih memegangi lengannya yang terasa sedikit berdenyut
" Gue mah anti ama pilm - pilm yang ada ditipi, bosen... Adegan cuma kek gitu - gitu doang "
" Lumayan lah dari pada nggak ada, hahaha "
" Ngak... Gue heran aja, kenapa ya kalo disinetron - sinetron nyokap gue. Setiap adegan orang hilang, pas udah mau ketemu tiba - tiba ada mobil terus orangnya ilang lagi wkwkwk " Celetuk Arya disambut gelak tawa kedua rekannya
" Eh... Eh... Tapi yang lebih parah kalo ditengah - tengah pilm ada promosi produk, sumpah greget bat gue! "
" Apa lagi kalo pas adegan tegang, tiba - tiba diputus ama iklan. Yah bambang! Udah nunggu lama - lama malah iklan " Ucap Arya gemas sendiri
" Lo berdua ternyata suka ama sinetron ya? " Arya dan Ibnu terkekeh kecil
" Kadang - kadang aja. Kalo kakek Sugiono nggak update status, ya gue nonton sinetron "
Hening beberapa saat setelah mendengar perkataan Ibnu, mereka kembali sadar setelah Panji berdeham.
" Kakek Sugiono itu... Siapa? " Tanya Panji polos membuat Arya dan Ibnu gemas sendiri
" Emang susah kalo ngomong ama orang yang jalannya lurus, sekalinya belok cuma maen game "
" Kalo mau tau, lo bisa tanya sama mba Vanesa Angel "
" Vanesa? "
" Ho'oh " Panji tersungut - sungut, lalu kembali fokus pada buku yang sedari tadi ada ditangannya
***
Sepulang sekolah Neyla pergi menemui Panji diarea parkir sekolah. Benar saja, ternyata Panji masih berada disana meski sekolah sudah bubar 20 menit lalu.
" Sumpah... Masa nih ya dia berani - beraninya ngasih cokelat, ama buket mawar didepan umum "
" Terus gimana akhirnya? "
" Iya ditolak lah... Gila! Pengorbanan nggak seberapa tapi malunya war biasakkk " Ketiganya kembali terkekeh kecil sambil sesekali mengisap rokok ditangan mereka
" Tapi gue heran deh, tuh cowok kan udah tau si cewek punya pacar. Tapi kenapa masih aja nekat ya? "
" Namanya juga cintahhh, kalo orang jatuh cinta dunia terasa milik berdua. Yang laen mah lewat " Celetuk Ibnu sambil mengisap rokok miliknya
" Nji " Kontan si empunya nama menoleh
Hati Panji seketika terasa berhenti berdetak melihat kehadiran Neyla dengan senyum merekah. Panji menggelengkan kepalanya cepat, untuk menyadarkan nalurinya yang penuh wibawa.
" Lo mau ngapain disini? " Tanya Panji guna menutupi kegugupannya
" Gue mau... Eh lo berdua, bisa pergi nggak? "
" Lah kenapa kita yang harus pergi coba? " Protes Ibnu tidak terima
" Gue traktir kalian, masing - masing dua mangkok bakso bi Siska. Gimana? Mau nggak? " Mata Ibnu dan Arya seketika berbinar
" Setuju! Ayo cabut Nu " Jawab Arya dengan semangat 45
" Eh lo berdua mau kemana? "
" Maaf Nji... Tapi kali ini kita harus mengikuti naluri kegratisan kita. Iya kan Ya? "
" Betul syekalih "
Panji berdecih, meskipun Arya dan Ibnu tumbuh dikeluarga dengan ekonomi menengah keatas tapi tetap saja mereka lebih suka hal - hal yang berbau gratisan.
" Sekarang lo mau apa? Jangan pikir setelah lo nyogok Ibnu ama Arya, gue bakalan mau ngikutin kata - kata elo ya " Neyla tersenyum hingga kedua matanya seakan hilang karena tenggelam diantara kelopak matanya
" Gue nggak minta elo, buat ngikutin kata - kata gue ko "
" Ish... Kenapa dia manis bat sih! " Gerutu Panji, ia merutuki dirinya yang seolah tunduk oleh wajah cantik Neyla
Ini bukan pertama kalinya Panji suka dengan seorang gadis, tapi entah mengapa Neyla itu berbeda dari yang lainnya.
" Te... Terus lo mau ngapain? "
" Bentar lagi lo udah mau UN kan? "
" Terus? "
" Gue punya sesuatu buat elo "
Neyla membuka tas miliknya, ia terlihat tengah mencari sesuatu dari dalam sana.
" Gue beliin ini buat elo "
SOAL PEMANTAPAN UN, SBMPTN DAN SNMPTN
" Elo... " Panji menatap lamat - lamat buku setebal 20 cm yang sudah ada ditangannya
" I love you " Bisik Neyla sesaat setelah mengecup pipi Panji
Tubuh Panji terasa menegang seketika, saat menyadari bibir lembut Neyla menyentuh pipinya. Meskipun ia terkenal sebagai tukang onar, tapi ini adalah hal baru baginya. Seumur hidup ia tidak pernah dicium oleh wanita manapun selain Farah, itupun terjadi saat ia masih kecil.
" Gue balik dulu ya "
Neyla pergi dengan senyum kemenangan, meninggalkan Panji yang masih mematung sambil memegangi pipinya yang merona merah. Panji baru benar - benar menyadari tindakan Neyla, setelah beberapa menit sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
" Gue ng... Nggak salah? Si Ela nyium pipi gue? I... Ini first kiss bukan sih? " Gumam Panji pada dirinya sendiri
Panji memukul kedua pipinya pelan, ia berusaha tersadar dari kejadian beberapa saat lalu.
" Sadar Nji... Ini bukan first kiss elo, kalo first kiss itu dibibir kan ya? Halah bodo amat, yang penting gue seneng! "
Panji memeluk buku pemberian Neyla dengan erat, senyum diwajahnya semakin mengembang dengan pipi bersemu merah ketika mengingat bagaimana cara Neyla mencium pipinya.