
" Assalamuallaikum, Fita " Panggil Defa diikuti suara ketukan pintu.
" Sepi amat ya, mobil coach Aldo juga nggak ada digarasi "
" Pada kemana sih sepi amat, lo udah coba hubungin dia belom? " Aziz menatap layar ponselnya dengan seksama
" Nggak aktif "
" Terus gimana nih latihannya? " Defa menggatuk kepalanya yang tidak gatal.
" Gue juga nggak tau "
" Kita pergi aja deh, ntar dateng lagi... Apa gimana enaknya? "
" Ya udah deh... Ntar kesini lagi aja " Semua mengangguk setuju
" Lo ngrasa kalo si Rafa itu makin deket ama cewek IPA 4, nggak sih? " Tanya Salman sesampainya dirumah Defa.
" Ho'oh... Sekarang diajakin kumpul aja susah banget " Timpal Dodit, ia melipat tangannya dibawah dada.
" Oh iya, lo semua ngrasa ada yang aneh sama si Fita nggak? " Salman, Dodit dan Defa mengernyit heran.
" Ish... Dasar cowok nggak peka, gimana ada cewek yang mau sama lo semua kalo lo aja nggak peka kek gini " Defa berdecih seraya memutar bola matanya malas
" Brisik lo Ziz, to the point aja sih "
" Maksud gue... Fita selalu pergi kalo Rafa lagi bareng ama tuh cewek IPA 4, kayaknya tuh si Fita cemburu deh ama temen lo Def " Kontan si empunya nama menoleh heran.
" Maksud lo... Fita cemburu, liat Rafa ama si Neyla? " Aziz mengangguk pasti
" Eh, tapi gue juga ngerasa gitu sih... Dia pasti selalu pergi, kalo mereka lagi berduaan " Salman menimpali
" Ish... Tumben nih pada maen "
" Eh bang Luki... Dirumah aja bang? " Luki mengangguk seraya menyalami semua teman Defa.
" Si Fita mana nih? " Luki celingukan mencari sosok gadis berambut panjang yang sering bersama Defa and geng.
Luki menatap heran saat semua mengedikkan bahu serentak.
" Lah temen apaan lo pada? Emang ada masalah apaan? "
" Ya gitu... Nggak ada masalah apa - apa bang, cuma sekarang Fita kek jaga jarak gitu ama kita. Iya nggak? " Semua mengangguk mendengar penuturan Defa.
" Oh... Eh lo semua mau tau tips tentang cewek nggak nih? " Defa memicingkan matanya seraya tersenyum sinis.
" Belagu amat lo bang... Yang gue tau lo itu udah ditakdirkan jomlo sejak lahir, so - soan mau ngasih tips tentang cewek lagi " Luki berdecih lalu melipat tangannya dibawah dada
" Enak aja lo, liat ya besok bakal gue bawa tuh cewek "
" Bang luki udah punya? " Tanya Dodit heran, Luki tersenyum bangga.
" Ish... Pasti dong "
" Jadi apa nih tipsnya? " Sergah Aziz
" Penasaran banget lo tong... Emang lo udah punya cewek " Aziz mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng lemah.
Aziz merutuki kejombloannya, saat semua orang mentertawakan dirinya.
" Halah kaya lo semua udah punya cewek aja "
Ddrrttt
Defa meraih ponselnya dari dalam saku, saat benda mungil itu bergetar.
Fita
Kenapa Def?
" Hust... " Semua orang menatap heran pada Defa.
" Apaan? "
" Gue baru dapet sms dari Fita "
" Telpon terus suruh dia kesini aja " Semua orang mengangguk
Defa menekan nomor Fita, tapi tidak ada jawaban dari seberang.
" Telpon lagi "
" Ok, gue telpon lagi ya "
" Halo? "
" Spiker... Spiker " Defa mengangguk
" Fit "
" Apaan? "
" Lo dari mana? Tadi kita pergi kerumah lo, tapi sepi "
Semua orang saling melempar pandangan, setelah hening beberapa saat.
" Gue abis pergi ama bang Aldo " Ucap Fita kemudian setelah menghembuskan nafas berat.
" Lo nggak papa kan Fit? " Tanya Dodit khawatir, Fita terkekeh kecil.
" Gue nggak papa ko, emang kenapa? "
" Suara lo ko kek abis nangis gitu sih? " Aziz menimpali
" Hah apaan? Nggak ko "
" Lo nggak papa kan? " Tanya Defa khawatir
Semua berubah hening beberapa saat, sebelum akhirnya Fita membuka suara.
" Iya "
" Oh, syukur deh "
***
" Lo udah lama Fa? " Tanya Neyla seraya mengambil posisi disamping Rafa.
Pria itu menggeleng dengan seulas senyum.
" Gue baru dateng ko " Kilah Rafa
" Sorry ya gue telat... Tadi ada masalah dikit " Rafa mengerngitkan dahi
" Lo nggak papa kan? " Neyla menggeleng dengan seulas senyum
" Lo bilang tadi ada masalah, emang masalah apa? "
" Si Panji, minta gue temenin latihan bentar " Rafa membuka mulutnya tanpa bersuara.
" Lo ko jarang latihan si Fa? " Sambung Neyla membuat Rafa menoleh
" I... Iya, sebenernya hari ini ada latihan "
" Kalo gitu lo latian aja, gue temenin deh. Gimana? " Mata Rafa membelalak lebar
" Lo seriusan? " Neyla mengangguk pasti
" Ok deh, gue pesen taksi dulu "
Setelah lama menunggu akhirnya sebuah taksi datang, mereka segera pergi ke rumah Aldo.
" Kita turun La " Neyla mengangguk
" Temen - temen lo mana? "
" Bentar lagi juga dateng, gue udah ngomong ke mereka. Makasih pak "
Taksi yang mengantarkan mereka melaju meninggalkan kediaman Fita setelah mendapat uang dari Rafa.
" Ayo La " Neyla mengangguk
" Udah nyampe aja lo berdua " Rafa menghentikan gerakan tangannya, saat mendengar suara berat Defa.
" Baru aja nyampe " Defa memutar bola matanya malas.
" Assalamuallaikum Fit "
" Waalaikumsallam " Jawab seorang gadis dari dalam rumah.
" Lo semua udah dateng? Masuk aja, bentar lagi mereka selesai ko " Semua orang mengangguk
" Kalo gitu gue kedalem dulu ya "
" Maksud lo kekamar? " Fita menoleh pada Rafa yang tengah duduk disamping Neyla, seketika senyum diwajahnya hilang.
" Nggak, gue mau latihan bentar ama bang Aldo " Semua orang memicingkan matanya heran.
" Latihan? " Fita mengangguk lalu melenggang pergi.
" Lo semua disini dulu " Pinta Defa, ia mengekor dibelakang Fita.
" Udah siap? " Tanya Aldo, Fita mengangguk mantap.
Kadang hati berharap ku terbangun
Dari sebuah mimpi, ini bukan kenyataan
Namun adanya tak ada disini
Kau meninggalkanku karna kesalahanku
" Wow... Bagus juga suara Fita "
Mungkin ingin bertemu masih ada
Ingin memeluk masih ada
Sayang kini tak bisa
Kau telah memilihnya owo...
Mungkin saat hatiku masih sayang
Salahku memutus cinta, dan kini ku menyesal
Rindu hanya didalam hati
" Stop... Stop " Fita memicingkan matanya heran.
" Kenapa? "
" Ulangi bagian kau telah memilihnya " Fita mengangguk
" Kau telah memilihnya owo... "
" Stop, kita sambung nanti. Sekarang lo bawain kopi buat gue " Fita mendengus kesal
" Iya... Iya " Aldo mengusap kepala Fita gemas
" Nah gitu dong "
Fita terkejut saat melihat Defa berdiri diambang pintu.
" Ngapain lo disini? "
" Fit... Suara lo bangus banget " Fita tersenyum bangga sambil mengibaskan rambut panjangnya.
" Udah biasa... Udahlah gue mau buatin kopi, lo mau nggak? " Defa mengangguk
" Gue ikutan ya "
" Hmm... Boleh deh "
Semua menatap Defa heran, saat pria itu mengekor dibelakang Fita.
" Lo semua masuk aja, gue mau ikut Fita bentar "
" Lo berdua mau enak - enak ya " Fita menatap Aziz tajam
" Enak aja lo... Gue mau buat kopi "
" Sekalian dong "
" Ish... Iya, tapi lo semua masuk sekarang " Fita kembali melenggang pergi bersama Defa.
" Lah... Terus kenapa tuh bocah ngikutin si Fita? "
" Fa " Rafa tergeragap
" I... Iya? "
" Lo nggak masuk? "
" Iya, lo mau pergi sekarang? " Tanya Rafa saat melihat Neyla mengenakan tasnya.
" Hmm... Bentar lagi gue mau ketemu Panji "
" Lagi? Ya udah deh, tapi gue nggak bisa anterin lo " Neyla tersenyum
" Nggak papa "
***
" Lo nggak bisa kumpul lagi Fit? " Salman memastikan disambut anggukan dari si empunya nama.
" Lo mau kemana sih? " Fita menoleh pada Rafa yang menatapnya dengan intens.
" Gue ada urusan penting... Tapi lo semua tenang aja, gue udah siapin filenya "
Fita mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian mengambil ponsel milik Defa yang tergeletak diatas meja.
" Gue kirim aja ya, lo bisa hafalin sendiri " Defa mengernyitkan dahi geran.
" Bluetooth? " Fita mengangguk
" Kalo gue kirim lewat WA, belom tentu bakal lo unduh terus lo puter kan? " Dodit mengangguk setuju
" Udah, gue udah kirim dua lagu. Lo semua bisa hafalin lirik sama... "
" Iya kita paham " Potong Aziz sambil memajukan bibirnya
" Good... Kalo gitu gue pergi sekarang ya, abang gue udah nunggu didepan " Fita meraih ponselnya lalu bergegas pergi
" Fit tunggu! " Defa berlari mengejar Fita, hingga gadis itu berhenti dan menoleh pada Defa.
" Ada apa? " Defa menatap lamat - lamat wajah Fita.
" Lo nggak lagi ngehindar kan? " Fita mengernyitkan dahi, detik berikutnya ia tersenyum sambil menggeleng pelan.
" Nggak Def, gue cuma ada urusan penting. Itu aja ko "
" Lo yakin kan? Ini nggak ada sangkut pautnya ama Rafa dan Neyla? " Fita menelan salivanya sendiri.
" Nggak ko... Besok gue pastiin bakal kumpul, terus kita latihan bareng. Ok? "
" Sebenernya lo mau kemana sih? " Tanya Rafa yang baru saja datang bersama Dodit, Aziz dan Salman.
Senyum diwajah Fita seketika menghilang, diganti oleh tatapan sendu.
" Nyokap ama bokap gue... Kalo gitu gue pergi sekarang, kasian bang Aldo udah nunggu "
Fita kembali berlari keluar sekolah, ia masuk kedalam mobil berwarna merah yang akan membawanya pergi.
" Lo kenapa sih Fit " Batin Rafa
" Pasti gegara Rafa dan Neyla kan? Kenapa lo nggak jujur aja sih Fit " Batin Defa lalu melenggang pergi menuju kelas.
Aziz, Dodit dan Salman mengekor dibelakang Defa meninggalkan Rafa seorang diri.
" Kita latian sekarang "
" Assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam, eh pak Fahmi " Jawab mereka serentak lalu mencium punggung tangan pria itu.
" Bagimana latihannya? "
" Alhamdulillah pak "
" Mana Rafa dan Fita? " Fahmi mengedarkan pandangannya mencari dua sosok muridnya.
" Rafa diluar pak, kalo Fita ada urusan mendadak "
" Oh. Terus gimana? " Defa menyodorkan ponselnya.
" Fita udah ngirim filenya ko pak " Fahmi mengambil alih ponsel dari tangan Defa.
" Dua? " Defa mengangguk
" Kalo gitu, Ziz tolong panggil Rafa terus kalian latihan " Aziz mengangguk, ia segera berlari keluar kelas mencari sosok Rafa.
" Bapak ingin melihat hasil latihan kalian, berhubung lomba akan diadakan satu bulan lagi " Mereka mengangguk serentak
" Fa " Rafa tergeragap melihat kehadiran Aziz.
" Ish... Ngagetin gue aja lo " Aziz tersenyum kuda sambil menggaruk tangkuknya.
" Sorry... Sorry "
" Apaan? "
" Pak Fahmi nyariin lo tuh, buru kita ke kelas "
" Sekarang? "
" Iya sayang... "
" Ahay... Cie lo manggil gue sayang " Celetuk Rafa lalu merentangkan kedua tangannya.
" Eh mau apa lo tong? "
Rafa memeluk tubuh Aziz erat, sontak Aziz begidik geli sekaligus jiji.
" Ah sayang akoh... Peluk... Peluk "
" Ish... Jiji bambang, lepas nggak! "
" Rafa " Kontan si empunya nama menoleh pada Dewi.
" Ish... Ada tuh nenek lampir lagi "
Rafa segera berlari meninggalkan Aziz dan Dewi.
" Rafa... Ish... " Dewi mendengus kesal
" Sabar Dew " Salsa mengusap punggung sahabatnya.
" Pepet teroos " Celetuk Aziz dihadiahi tatapan tajam dari Dewi.
***
" Thanks ya " Panji melepas helm yang melekat dikepala Neyla, hingga menimbulkan rona merah diwajah gadis itu.
" Hmm... Besok lo nggak usah nunggu gue " Neyla menatap Panji heran
" Kenapa? "
" Ada urusan penting " Neyla memutar bola matanya malas.
" Sama temen - temen lo itu? " Panji menatap Neyla sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya.
" Nah tuh tau " Neyla memajukan bibirnya kesal
" Udah nggak usah cemberut gitu " Panji mengangkat dagu Neyla hingga mata keduanya saling bertemu.
" Kalo urusan gue udah selesai, gue bakal ajak lo jalan - jalan seharian deh " Mata Neyla langsung berbinar
" Tapi lo janji ya? "
" Hmm... Kalo urusan gue udah selesai, ok? " Neyla mengangguk
" Good girl " Panji mengusap pucuk kepala Neyla lembut.
" Ya udah, lo masuk gih udah malem " Neyla mengangguk, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
" Good job Nji " Gumam Panji pada dirinya sendiri.
Ia membawa motornya pergi meninggalkan rumah Neyla, menuju apartemen keluarganya.
" Ish... Capek juga " Panji langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang setibanya dikamar.
Ddrrttt
Panji mengamati layar ponselnya dengan kening berkerut.
" Halo Nji "
" Hmm... "
" Lo dimana? "
" Apartemen, kenapa? "
" Nggak... Cuma mau ajak maen aja, udah lama kan? " Panji berdecih
" Ya udah, buruan lo kesini "
" Ok "
Panji mematikan ponselnya, ia melempar benda mungil itu keatas nakas. Lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, untuk mengambil sepotong roti dari dalam kulkas.
" Ish... Kosong lagi " Gerutu Panji lalu membanting pintu kulkas sekuat tenaga, hingga benda itu bergetar dan seolah akan terjatuh.
Panji kembali melangkah menuju kamar, untuk mengambil ponselnya.
" Halo "
" Iya, apaan Nji? "
" Beliin gue makanan "
" Siap, lo pengin gue beliin apa? "
" Terserah, tapi cepet gue udah laper banget! " Ucap Panji dingin, membuat orang diseberang telepon begidik ketakutan.
" Bentar lagi, 10 menit lagi nyampe. Kita lagi nunggu makanan lo "
" Cepetan! " Sergah Panji dengan nada datar dan dingin.
Panji mematikan ponselnya, lalu melemparkan kembali benda itu ketas ranjang. Ia berjalan ke depan TV, kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
" Baru jam 8 " Gumamnya sambil melirik kearah jam dinding.
Setelah beberapa menit Ibnu dan Arya datang dengan makanan kesukaan mereka.
" Buru nyalain PS-nya " Arya mengangguk
" Eh tadi gue liat si Rafa dicafe " Ibnu menelan salivanya sendiri, saat Panji menatapnya dingin.
" Terus? "
" Bukannya dia temen si Neyla "
" Hmm... Emang tuh bocah lagi ngapain disana? "
" Kayaknya manggung deh, ya kan Ar? " Arya mengangguk mantap
" Iya, yang gue heran... Bukannya si Rafa itu anak orang kaya? Terus buat apa kerja coba? " Panji berdecih
" Nggak usah mikirin tuh bocah, yang terpenting adalah tujuan kita "
" Iya lo bener, terus gimana tuh ama si Neyla? " Panji menarik salah satu sudut bibirnya.
" Tenang aja, semua aman... Tinggal tunggu tanggal mainnya dan bom " Ibnu dan Arya menarik salah satu sudut bibirnya serentak.
" Gue nggak nyangka kalo si Neyla adalah kunci kemenangan kita "
" Karena itu gue nggak bakal nglepasin tuh cewek, supaya apa yang udah kita susun nggak sia - sia " Ibnu dan Arya bertepuk tangan
" Gila... Ide lo emang hebat Nji "
" Jangan panggil gue Panji... Kalo nggak bisa dapet, apa yang gue mau "
" Terus gimana, lo berdua udah dapet info tentang cewek itu? " Arya mengeluarkan map dari dalam tasnya.
" Nih udah lengkap "
" Bagus, nggak lama lagi... "
" Btw... Itu buat apaan sih? " Panji mengedikkan bahu
" Gue nggak tau, gue cuma ngikutin printah aja "