Rafa

Rafa
Pengumuman 2



Rafa menatap langit - langit kamarnya dengan jengah, semuanya terasa sepi seperti biasanya. Ia berada dirumah sendirian, Wawan tengah bekerja, Asti sedang arisan dengan teman - temannya sedangkan Alya sedang berkuliah. Ia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju dapur, sekarang sudah waktunya makan siang dan dia harus menyiapkannya sendiri selagi semua orang pergi. Ia mengambil dua buah mie instan dari dalam laci dan sebuah telur dari dalam kulkas.


" Ashek mie goreng ama telur mata sapi. Untung lagi sendiri, kalo ada Ela apa lagi Defa. Hmm... Auto abis sampe nih piring dijilati " Gumam Rafa saat mie buatannya sudah tersaji diatas piring.


Ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, Rafa sendiri lebih suka menyebutnya sebagai ruang menyendiri lantaran ruangan ini hanya dipakai olehnya untuk menonton TV.


" Baru jam setengah dua siang, kira - kira ada acara apa ya? "


" Lo tuh ya udah gede cuma ngerti nonton TV doang! "


Rafa mendengus kesal, ia tau jika saat ini Alya ada dibelakangnya. Ia menoleh dan benar saja, wanita itu tengah berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan datar dan tangan terlipat didepan dada. Rafa meraih piring berisi mie goreng yang belum disentuhnya, lalu melenggang pergi menuju kamar.


" Terus aja lo ngehindar, pada akhirnya juga lo bakalan nyerah "


" Gue nggak peduli, bacot aja terus! "


" Kurang ajar lo ya! Jadi adik nggak punya sopan santun banget si lo! "


" Whatever "


Rafa pergi menuju kamar kemudian mengunci pintu itu rapat - rapat, supaya kali ini tidak ada yang bisa mengganggunya. Ia duduk dilantai dingin, sambil menyandarkan tubuhnya pada ranjang.


" Mau makan aja susah banget dah " Gerutunya


Ddrrttt


Rafa mendengus kesal, ia meraih ponsel dari atas nakas. Pria itu memutar bola matanya jengah saat melihat nama yang ada disana.


" Hmm ada apa? "


" Ih Rafa sayang jangan cuek gitu dong, aku kan jadi takut "


" Bacot lo, bilang aja ada apa! " Sergah Rafa, kesabarannya benar - benar habis karena semua orang terus mengganggunya sehingga dia belum sempat mencicipi mie goreng buatannya.


" Ih kamu ko gitu sih "


" Udah bilang aja ada apa Vanya, gue sibuk nih "


" Ok... Ok, pengumuman para siswa yang masuk ke SMA Dwi Bakti udah diumumin "


" Serius lo? " Tanya Rafa dengan mata mebelalak lebar.


" Ih cius sayang... Aku ngga bakalan bohong ama kamu. Semoga aja lo bisa... "


" Bacot! " Potong Rafa cepat, ia segera mematikan panggilan telepon dari Vanya dan membuka situs yang menampikan deretan nama siswa yang berhasil masuk di SMA itu.


" Rafa... Rafa, mana sih ya kali gue nggak diterima " Gumamnya sambil menyusuri deretan nama yang begitu banyak.


203 : Rafa Al-Ayubi Ramadhan


" Lah ini nama gue kan ya? " Gumam Rafa dengan mata membelalak lebar tidak percaya.


" Lah iya ini gue "


Detik berikutnya Rafa bersorak gembira, ia mengambil sebuah guling lalu memutarnya diudara.


Prang


Rafa merintih kesakitan saat kakinya menginjak sesuatu, ia menunduk dan mendapati kakinya berdarah karena pecahan beling yang tidak lain adalah piring berisi mie goreng buatannya.


" Mie gue? " Rafa meraih mie goreng yang berceceran


" ****... Disaat - saat kek gini lo malah mentingin mie goreng, otak lo dimana tong! " Batinnya


Ia bergegas melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan lukanya, setelah semua pecahan beling itu keluar ia segera mengobati lukanya dengan P3K. Dengan cekatan Rafa mengobati luka dikakinya, setelah selesai ia membersihkan pecahan piring dan mie yang belum sempat dicicipinya.


***


" Gimana Def? " Tanya Dion penuh harap


" Yeah... Sorry ya mah, pah "


" Masih ada yang lain Def " Ucap Ayu sambil menepuk punggung anaknya dengan lembut


" Maaf banget, soalnya... Defa diterima " Mata Dion membelalak lebar


" Serius? Alhamdulillah Ya Allah, kita harus rayain ini. Mah cepat buat perayaan kecil - kecilan " Ayu mengangguk lalu mencium kening Defa


" Iya pah. Kita bangga sama kamu nak " Luki mengerucutkan bibirnya


" Lah cuma Defa? Terus Luki, nggak dikasi kiss kek gitu nih? " Protes Luki disambut gelak tawa keluarganya.


" Bang Luki kan udah gede, malu sama Defa dong "


" Halah masalah kasih sayang, ngga usah malu - malu. Nggak boleh pilih kasih juga mah... Pah, nanti dosa loh " Defa memicingkan matanya heran


" Tau dari mana, kalo itu dosa bang? "


" Dari... Adalah pokoknya, kiss dulu napa. Udah lama banget nih kening, nggak pernah dicium mamah " Defa memutar bola matanya malas


" Ya elah, udah gede juga nggak berubah - berubah "


" Sirik aja lo jadi adek "


" Sirik? Sorry nih ya... Pantang buat seorang Defa Nico Lastiantino memiliki sifat iri apa lagi sirik, sama bang Luki " Luki tersenyum jahil


" Lah ngomong aja kalo sirik "


" Musrik bang "


" Lah kenapa musrik? Emang ada hubungannya gitu? " Luki menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Sirik itu musrik... Percaya kata - kata lo ya bang, ama aja kaya musrik "


" Ya elah masih sirik aja nih bocah... Eh jangan - jangan, lo sirik ama ketamfanan gue yang tiada taranya ini ya "


Luki tersenyum lebar, ibu jari dan telunjuknya digunakan untuk membentuk huruf v yang selanjutnya diletakkan pada dagu.


" Kepedean banget sumpah, seorang Rafa Al-Ayubi Ramadhan yang ' ketamfanannya ' diakui mamah dan papah aja gue nggak iri. Apa lagi elo yang udah kek sepucuk upil, yang nyangkut diujung kuku gue "


" Asin dong "


" Gurih bro " Keduanya terkekeh kecil


" Udah... Udah, kenapa bahas upil sih " Sergah Ayu


" Papah ke atas dulu ya. Oh iya... " Dion menoleh pada Defa.


" Ada apa pah? "


" Nanti ajak Rafa kesini, kasihan dia pasti keluarganya nggak bakalan ngerayain pencapaiannya saat ini "


" Mamah setuju, jangan lupa diundang ya " Ayu menimpali sebelum tubuhnya hilang dibalik dinding dapur.


" Ashiyap... "


" Ingat nanti sore minta dia datang kemari "


" Iya papahku yang gantengnya dari ujung barang, sampe ujung timur tapi nggak ada yang ngakuin "


" Enak aja. Kalo papah nggak ganteng, mana mau mamah kalian nikah "


" Kayaknya mamah nggak punya pilihan deh " Luki menimpali


" Enak aja. Udah, lebih baik hubungi Rafa sekarang "


" Iya papahku "


" Papah keatas dulu ya "


Defa meraih ponsel dari dalam saku celananya, lalu menghubungi nomor Rafa sesuai instruksi dari Dion.


" Woy bro, entar sore lo kesini bisa nggak? "


" Mau ngapain? "


" Biasa makan - makan, anggep aja perayaan kecil karena kita bisa masuk SMA itu "


" Sorry bro gue nggak bisa nih "


" Lah tumben amat lo? Biasanya kalo ada acara makan bareng, tanpa diundangpun lo bakalan hadir " Luki kekehan kecil, berbeda dengan Rafa yang berdecak kesal


" Enak aja lo, gue lagi mager ****. Males buat bangun "


" Oh gitu, ya udah deh. Tapi kalo lo berubah pikiran, dateng aja kesini. Ok? "


" Siyapp... Yang terpenting banyak makanan bro "


" Stand by. Ya udah gue mau mandi dulu "


" Ok, mau sekalian vc nggak nih "


" Gesrek lo ya " Defa berdecih disambut gelak tawa dari seberang telepon.


***


Rafa menyusuri anak tangga secara perlahan lantaran kakinya kini dibalut oleh perban.


" *****... Gegara piring mie kemarin, sekarang kaki gue udah kaya lontong aja " Gerutu Rafa


Ia berjalan menuju kulkas, sambil menyeret kakinya yang terasa berdenyut seiring dengan langkah kakinya. Tangannya sibuk mencari roti dan selai strawberry, ia mengambil dua lembar roti kemudian mengolesinya dengan selai strawberry. Rafa mengolesi roti miliknya dengan margarin, kemudian meletakkannya diatas teflon yang sudah dipanaskan sebelumnya.


" Abang ngapain? "


Rafa menoleh pada seorang wanita paruh baya yang berada tepat dibelakangnya, kontan senyumnya merekah melihat wajah wanita yang terlihat teduh itu.


" Eh bibi, biasa buat sarapan. Btw kapan balik kesini? "


" Semalem bang, mau bibi buatin sarapan? " Tanya Rina


" Kenapa kaki abang? " Tanya Rina khawatir, ia menunduk sambil memegangi kaki Rafa yang dibalut oleh perban berwarna putih


" Nggak papa ko, kemarin nginjek piring ampe pecah "


" Ya Allah, terus gimana bang kakinya? "


" Udah baikan, udahlah bi "


Rafa meraih tangan Rina dan meminta wanita paruh baya itu untuk bangkit.


" Mau bibi bantu kekamar? "


" Nggak usah, kalo gitu Rafa naik kekamar dulu ya "


" Hati - hati ya bang "


" Ah bibi, lebay bat dah " Gerutu Rafa membuat Rina tersenyum kecut kemudian melangkahkan kakinya kembali kedalam kamar.


Rafa meletakkan rotinya diatas nakas, tangannya beralih pada ponsel yang sedari tadi sudah ada disana.


" Bosen juga kek gini terus... Enaknya nonton apaan ya? " Gumam Rafa sambil menyipitkan matanya dan menggosok dagunya dengan jari telunjuk.


Ddrrttt


" Wah... Kebetulan banget nih, curut nelepon gue " Gumam Rafa


" Halo. Ada apaan nih? Kangen gue lo ya? " Tanya Rafa diiringi gelak tawa.


" Idih najis bat dah, gue lagi didepan rumah lo nih. Turun gih "


" Ogah, lo aja yang naik "


" Rumah lo kayaknya sepi deh, nanti kalo ada apa - apa gimana? "


" Alah penakut amat sih lo. Tinggal ketuk pintu, ntar juga bi Rina keluar tuh buat nyambut lo "


" Beneran nih ya. Btw gue belom sarapan nih, numpang sarapan ya! "


" Minta aja ke bi Rina, terus makan dikamar gue "


" Ashiyapp. Gue masuk sekarang "


" Ho'oh "


Rafa duduk diatas ranjang sambil memakan roti panggangnya, tidak berselang lama Defa datang dengan senyum merekah.


" Woy "


" Hmm... Gimana? Udah minta ama bi Rina? "


" Udah dong " Ucap Defa lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tepat disamping Rafa


" Tumben banget lo dateng pagi - pagi kek gini? "


" Bosen dirumah, mau ngajak Neyla tapi males "


" Lah, mau ngajak calon istri gue kemana lo? " Tanya Rafa sambil memicingkan matanya, Defa melirik sahabatnya sambil tersenyum sinis.


" Calon istri? Si Ela aja ogah deket sama lo, gimana mau jadi calon istri. Sadar napa *** "


" Ya elah namanya juga usaha, pepet teros sampe dapet "


" Oh iya, btw kenapa lo nggak aja Ela kesini aja sih? " Sambung Rafa sambil berdecak sebal.


" Males... Si Ela kayaknya lagi PMS deh, kerjaannya marah - marah terus "


" Namanya juga cewek bro, diajak salah nggak diajak apa lagi " Defa mengambil posisi duduk


" Tapi gue heran deh ama cewek. Kenapa ya dimata mereka, cowok itu selalu salah? "


" Udah kodrat bro, penginnya menang teros " Keduanya terkekeh


***


" Lo berdua dimana sih? " Tanya Neyla geram


" Kepo banget sih lo! "


" Ya jelas lah... Gue nggak bakalan kepo kalo kalian ngajak gue! " Protes Neyla


" La lo PMS ya? "


" Kepo lo ***** "


" Udah jujur aja, btw pembalut lo masih nggak? Kalo udah abis kasih tau babang Rafa, ok? Nanti babang beliin buat neng Neyla cantik "


" Wkwkwkw ***** ngakak gue bayanginnya " Defa menimpali


" Stress lo ya! "


" Ngga usah malu - malu gitu. Sebagai calon suami yang baik, gue harus bersiap dari sekarang. Jadi neng Ela mau minta apa nih dari abang? " Neyla berdecih seraya memutar bola matanya malas


" Ruqiyah gih sana! "


" Ih enak aja, gue udah susah - susah ya mliara nih jin ama setan dalam tubuh gue. Dan dengan gampangnya lo nyuruh gue ruqiyah " Defa mengacungkan kedua ibu jarinya keudara


" *****. Jin aja lo peliara, salut... Salut "


" Stess lo bedua, ke RSJ sana. Siapa tau kalian nemu jodoh disana "


" Ya elah... Orang jodoh gue itu elo, terus buat apa gue jauh - jauh ke RSJ. Mahal La... Mahal, lagian gue kan harus nabung buat masa depan kita " Defa berdecih


" Ya elah Fa, lo mah tinggal gesek juga jadi. Nggak usah susah - susah nabung kali "


" Itu beda bro, uang hasil sendiri ama minta ke ortu itu rasanya beda. Ya kan Neyla cantik "


" Bodo "


" Aw atit sayang koh "


" *Pepet teros Fa, jangan kasih kendor "


" Siap Def... Elo minta anak berapa La, kalo kita udah nikah nanti*? "


" Gue males mirikin kek "


" Gimana kalo kita buat kesebelasan, jadi pas acara tujuh belasan nanti peluang kita buat menang makin besar " Defa terkekeh


" *****... Nggak cape tuh, bikin kesebelasan? " Rafa tersenyum jahil


" Ya nggak lah, malah kita bakalan menikmati setiap prosesnya. Iya nggak La? "


" Bodo! "


" Terus anak - anak lo bakal dikasih makan apa tuh? "


" Ya nasilah, **** banget sih lo.Ya kan La? "


" Bodo! Bodo! Bodo! "Neyla mematikan ponselnya dengan wajah bersemu merah, ia melempar benda itu keatas ranjang


" Gila banget sih, heran kenapa gue bisa dapet sahabat modelan kek gitu sih? " Gerutu Neyla, seluruh bulu kuduknya seketika berdiri saat mengingat perbincangan mereka tadi.


" De makan siang yuk " Ucap Ratih sambil mengetuk pintu kamar Neyla.


" Bentar dulu mih "


" Oh, kalo gitu mamih kebawah dulu ya. Jangan lupa turun, kalo udah selesai "


" Siap mih "


Neyla membasuh wajahnya diwastafel, kemudian melangkahkan kakinya menuju meja makan yang sudah dipenuhi oleh anggota keluarga yang lain.


" Lama banget sih lo " Neyla memutar bola matanya malas


" Masalah buat lo? " Gani tersenyum jahil


" Jangan - jangan lo abis vc calon suami lo itu ya? " Pipi Neyla bersemu merah


" Enak aja lo! " Sergah Neyla


" Udah ngaku aja, lagian gue udah ngrestui hubungan kalian ko. Jadi nggak usah khawatir gitu, ok? "


" Bacot lo! "


" Ela? Nggak baik ngomong kaya gitu ke abangmu " Gusti mengingatkan


Neyla mengerucutkan bibirnya membuat Gani tersenyum jahil, ia mencubit pipi adiknya hingga berwarna merah.


" Sakit tau! " Protes Neyla sambil mengusap pipinya.


" Lagian lo kalo lagi marah lucu banget sumpah, gue jadi pengin dorong tubuh lo dari puncak menara eifel deh "


" Enak aja lo "


" Bang jangan ganggu Neyla terus, kenapa sih? "


" Iya sorry mih, abis lucu sih gangguin nih bocah. Pantesan aja si Rafa demen banget gangguin idup lo "


" Mamih " Panggil Neyla


" Abang " Panggil Ratih


" Papih " Panggil Gani


" Neyla " Panggil Gusti