Rafa

Rafa
Berubah



Plakk


Fita terdiam, ia menatap wajah Neyla lamat - lamat. Gadis itu terlihat begitu marah pada dirinya.


" Berani lo ngrebut Panji dari gue! "


" Gue nggak pernah ngrebut apapun dari siapapun " Neyla berdecih


" Nji si Neyla lagi brantem ama si Fita " Sergah Ibnu


" Dimana? "


" Area parkir sekolah " Panji, Ibnu dan Arya bergegas pergi menuju area parkir


" Fa, si Neyla lagi brantem ama si Fita " Mata Rafa membelalak lebar


" Yang bener lo? " Aziz mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya


" Sumpah "


" Buru kita kesana " Sergah Defa


Defa, Rafa, Aziz, Salman dan Dodit bergegas pergi menuju area parkir sekolah.


" Lo emang pengin gue gampar lagi ya! " Fita berdecih


" Gue nggak peduli "


Plakk


Neyla kembali mendaratkan sebuah pukulan dipipi Fita, hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


" Udah selesai? " Tangan Neyla mengepal kuat mendengar perkataan Fita


Tanpa aba - aba ia mendaratkan sebuah pukulan diwajah Fita, kontan Fita tersungkur dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.


" Neyla! " Mata Neyla membelalak lebar saat Panji datang


" Fita! " Fita menoleh pada Rafa dan lainnya


" Fit lo nggak papa? " Panji membantu Fita berdiri


" Bibir lo... " Fita menyentuh bibirnya yang terasa berdenyut


" La... Lo ngapain si Fita sih? " Sarkas Panji


" Eh jangan berani - beraninya, elo bentak Neyla didepan gue! " Rafa berdiri tepat didepan Neyla


Fita memejamkan matanya sambil mengambil nafas jengah, ia melenggang pergi dengan langkah sempoyongan.


" Fita " Si empunya nama tidak menoleh saat Defa, Panji atau yang lain memanggilnya


" Lo bener - bener... Gue nggak abis pikir apa yang ada didalem otak lo semua, terutama elo Rafa. Lo ngaku - ngaku jadi pacar Fita, tapi nggak bisa ngelindungi cewek lo dan lo semua... Temen apaan yang biarin temennya disiksa kek gitu! " Sarkas Panji dengan tangan mengepal


" Udah Nji... Kita pergi aja " Arya menepuk bahu sahabatnya


" Mulai sekarang, lo semua nggak usah deket - deket ama si Fita... Oh iya La, sekarang kita putus! Gue jiji punya cewek kek lo " Panji bergegas pergi disusul Arya dan Ibnu


Tubuh Neyla terkulai lemas, ia menangisi hubungannya yang harus berakhir seperti ini.


" Udah La... Mending gue anter lo balik sekarang " Rafa menuntun tubuh Neyla menuju motornya


" Def lo nggak papa? " Tanya Aziz


" Apa yang dibilang Panji bener, kita nggak bisa ngelindungi Fita "


" Gue rasa lebih baik kita jaga jarak ama si Fita " Defa menoleh pada Dodit


" Iya, ini juga demi kebaikan Fita. Sejak deket ama kita, si Fita sering banget kena masalah " Salman menimpali


" Kalo gitu kita jaga jarak dulu ama si Fita, kalo suasananya udah tenang. Kita temenan lagi ama si Fita, semoga dengan cara ini Fita bisa aman "


" Aamiin " Ucap Dodit, Aziz dan Salman serentak


Rafa memacu motornya hingga ke rumah Neyla.


" Udahlah La, buat apa lo mikirin cowok kek Panji "


" Tapi gue cinta dia Fa " Rafa menepuk punggung Neyla, yang saat ini tengah terisak


" Cowok brengsek kek Panji, nggak cocok jadi pacar lo La! " Neyla masih terisak


" Udah La, ntar abang lo liat gimana? Lo pengin dia pikir, kalo elo itu cengeng apa? " Neyla menggeleng lemah


" Ya udah kalo kek gitu, lo nggak usah nangis " Rafa mengusap air mata Neyla dengan seulas senyum


" Lebih baik lo masuk sekarang " Neyla mengangguk


Rafa memacu motornya kembali ke sekolah, sesaat setelah Neyla masuk.


***


" Gue mohon Nji, gue pengin sendirian dulu " Panji menarik nafas berat


" Ok, kalo lo butuh apa - apa. Lo tinggal telpon gue, Ibnu atau Arya " Fita mengangguk


" Ok, kalo gitu kita pergi dulu "


" Iya "


" Kita dulu Fit " Pamit Ibnu


" Iya Nu "


" Gue nggak? " Protes Arya membuat Fita tersenyum tipis


" Iya, lo juga "


" Ya udah, kita duluan. Dah " Fita mengangguk lemah


Fita terdiam, kini hanya ada dirinya didalam kelas. Semua orang tengah sibuk, dengan perlombaan yang tengah berlangsung.


Fita menutup matanya rapat - rapat, sambil berupaya mengatur ritme nafasnya.


" Fita! " Kontan si empunya nama membuka matanya perlahan


" Mau lo apa sih? "


" Gue pengin idup tenang, jadi lo boleh pergi sekarang " Rafa berdecih


" Setelah lo ngrusak hubungan Neyla ama si Panji? " Fita menarik nafas jengah


" Gue nggak tau menau soal kek gitu, gue nggak pernah nyuruh Panji buat putus ama si Neyla "


" Jangan pernah lo nyebut nama Neyla, make mulut lo itu! " Sarkas Rafa


" Terserah lo aja! Kalo lo udah selesai, lo bisa tinggalin gue sekarang " Rafa tidak bergeming


" Ok, lo semua pengin gue kek gimana? Lo pengin gue pindah kelas atau sekolah? Ok gue bakal turuti, yang terpenting gue bisa idup tenang "


" Lo tinggalin Panji sekarang! " Fita berdecih


" Gue nggak punya hubungan apapun ama si Panji, selain temen. Jadi buat apa gue tinggalin dia! "


" Lo tinggalin Panji, karena gue nggak suka liat elo sama tuh cowok. Lo itu cewek gue! " Fita terdiam, detik berikutnya ia tersenyum miris


" Gue cuma pengin idup tenang, please nggak usah deket - deket gue lagi "


Rafa mendengus kesal saat Fita bangkit dari kursi, lalu berjalan melewatinya. Langkah Fita terhenti, saat Rafa berhasil mencegat tangannya.


" Lepas! "


" Nggak! "


" Gue bilang lepas! " Fita menarik tangannya paksa hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


Fita mengerjapkan matanya beberapa kali, badannya gematar dan lemas hingga ia harus berpegangan pada meja.


" Lo nggak papa? " Fita hanya diam sambil mengamati wajah Rafa yang diliputi kekhawatiran


" Eh... Fit... Fit " Pekik Rafa


Rafa berhasil menarik Fita dalam pelukannya sesaat sebelum gadis itu jatuh ke lantai.


" Fita, bangun Fit... Lo demam lagi " Gumam Rafa sambil memegangi dahi Fita


Rafa mengangkat tubuh Fita dan membawanya menuju uks.


" Kenapa dia? " Tanya seorang petugas piket


" Demam "


" Lagi? " Rafa menoleh dengan kening berkerut


" Maksudnya lagi? "


" Lo nggak tau? Kemaren dia masuk uks bareng Panji "


" Panji, 11 IPS 1? "


" Iya, kemaren dia pingsan terus Panji yang bawa kemari. Si Panji juga yang ngrawat, ama nemein dia ampe sadar " Rafa mengalihkan pandangannya pada Fita yang tengah tidak sadarkan diri


" Pasti dia nggak minum obat yang gue kasih, kali ini pastiin dia minum obatnya. Ok? " Rafa mengangguk sambil menerima sebuah pil berwarna orange


Petugas piket itu melenggang pergi meninggalkan Rafa dan Fita.


Ddrrttt


Rafa meraih ponsel milik Fita, ekspresi wajahnya seketika berubah.


Panji


" Halo! "


" Eh, kenapa lo yang jawab? Mana si Fita " Rafa mendengus kesal


" Pingsan "


" Pingsan? Lo berdua dimana sekarang? "


" Nggak usah ganggu gue ama Fita lagi " Rafa mematikan sambungan teleponnya, lalu mengusap layar ponsel Fita


" Ish... Ternyata polanya masih sama " Rafa menoleh dengan seulas senyum, pada Fita yang tengah terbaring lemah diranjang


Deg


Rafa IPA 2


***


Panji mengisap rokok ditangannya, sambil terkekeh kecil bersama Ibnu dan Arya.


" Panji! " Kontan si empunya nama berdecak kesal sambil memutar bola matanya malas


" Nji cewek lo tuh " Arya menyikut lengan Panji dengan seulas senyum


" Brisik lo! " Sarkas Panji


" Nji! " Neyla menarik paksa lengan Panji


" Apaan sih lo! "


" Harusnya gue yang nanya kek gitu, kenapa lo putusin gue cuma gegara cewek so kecakepan itu! " Panji berdecih


" Eh... Lo nggak salah ngomong tuh? " Kontan Panji dan kedua temannya terkekeh kecil


" Bukannya lo yang so kecakepan "


" Brisik lo! Gue lagi ngomong ama Panji, lebih baik lo diem! " Ibnu menutup mulutnya menggunakan tangan, dengan mendramatisir diikuti kekehan Arya


" Kenapa lo nyuruh mereka diem? Emang kenyataannya kek gitu kan, lo deketin si Rafa ama Defa terus lo singkirin si Fita. Lo buat seolah - olah si Fita yang salah, jadi lo bisa dapet perhatian dari dua sahabat lo itu kan? " Neyla terdiam, perlahan tangannya mengepal kuat


" Gue lakuin, itu karena gue nggak suka liat sahabat gue lebih perhatian ama si Fita! "


" Egois lo! Asal lo tau ya, sejak awal gue udah nggak suka ama elo. Lo pikir ada gitu cinta pandangan pertama? Mimpi lo " Panji mendorong kepala Neyla dengan jari telunjuknya


" Udahlah Nji, nggak usah ngurusin nih cewek. Masih ada cewek laen, yang lebih wah dari pada dia " Neyla menatap Arya tajam, dengan wajah merah padam dan tangan mengepal kuat


" Brisik lo! " Neyla mengacungkan tangannya tepat diwajah Arya


" Lo aja yang diem! " Panji menepis tangan Neyla


" Lo tega banget Nji " Panji terkekeh kecil


" Emang... Terus lo mau apa? Lo mau cerita ama si Rafa itu? Silahkan... "


" Nji bentar lagi kita lomba " Panji mengangkat salah satu sudut bibirnya


" Hmm... Lo dengar kan apa kata Ibnu? Gue mau lomba jadi nggak usah buat masalah, atau ancur idup lo! " Panji mengacungkan jari telunjuknya, tepat didepan wajah Neyla yang tengah terisak


" Ayo! " Panji membuang rokok ditangannya, lalu melenggang pergi bersama Ibnu dan Arya


" Awas aja lo Fita! Berani lo bikin si Panji putusin gue! "


Neyla mengambil ponsel dari dalam sakunya, ia mencari sebuah nama disana.


" Halo, lo dimana? "


" Didepan panggung, emang kenapa? "


" Lo mau bantuin gue nggak? "


" Bantuin apa dulu nih? "


" Bantu gue buat pelajaran ke si Fita "


" Ish... Siap, kapan nih? "


" Gue ke tempat lo sekarang " Neyla menyeringai tajam lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku


Neyla pergi menuju area depan panggung, dia menarik lengan Dian keluar dari kerumunan.


" Eh lo udah nyampe, lo nggak mau liat penampilan Panji? Sumpah enak banget lagunya " Neyla berdecih


" Gue nggak peduli, yang terpenting sekarang itu Fita "


" Jadi kapan nih "


" Sekarang, mumpung si Panji lagi tampil dan bentar lagi giliran si Rafa. Kita cari si Fita dulu, terus bawa dia ke gudang belakang sekolah " Dian mengangguk paham


" Keknya tadi gue liat si Fita, pergi kekelasnya deh "


" Ok. Ayo "


Neyla dan Dian pergi ke kelas IPA 2 dan benar saja, disana ada Fita yang tengah tertidur seorang diri. Fita tersentak kaget saat Neyla tiba - tiba memukul mejanya, hingga terdengar suara dentuman yang memenuhi seisi kelas.


" Lo udah gila ya! " Sarkas Fita yang hanya ditanggapi seulas senyum oleh Neyla


" Ikut gue! " Neyla dan Dian menarik tubuh Fita paksa


" Eh apaan nih? " Fita berupaya untuk berontak, tapi semua sia - sia karena tubuhnya begitu lemah sekarang


***


Fita bangkit seraya mengusap darah dari sudut bibirnya, ia tersenyum sinis lalu mengalihkan tatapan pada Neyla dan Dian yang berdiri didepannya.


" Lo berdua emang pengecut ya, beraninya keroyokan. Kalo lo berani, sini lawan gue satu - satu. Yeah... Tapi kalo lo berdua pengecut sih, nggak masalah keroyokan juga " Tangan Neyla dan Dian mengepal kuat, wajah mereka memerah dengan rahang mengerat


" Lawan gue! " Neyla memegang bahu Dian


" Biar gue, karena yang punya masalah disini gue ama si cewek so kecakepan " Fita berdecih


Neyla mengepalkan tangannya dan bersiap mendaratkan sebuah pukulan diwajah Fita, tapi gadis itu berhasil menepisnya. Fita mendorong tubuh Neyla hingga terjatuh dan terdengar rintihan dari mulut Neyla.


" Sekarang lo! " Dian berlari keluar saat Fita menatapanya tajam


" Dian! " Pekik Neyla


Fita berlutut didepan Neyla, yang masih terkulai lemas diatas lantai yang dingin dan kotor.


" Kenapa? Gue cuma dorong tubuh lo, gue nggak mukul lo apa lagi sampe bikin lo bedarah. Tapi lo udah nangis? Hah... Come on, cengeng bat sih lo! " Fita mengangkat dagu Neyla dengan seulas senyum meremehkan, apa lagi saat melihat gadis itu menangis


" Lo mau teriak? Silahkan... Atau lo mau minta perlindungan ke Rafa ama Defa? "


" Fita! " Pekik seorang guru BK


Fita menoleh dan mendapati beberapa orang guru dan siswa, termasuk Dian, Rafa, Defa dan lainnya tengah berdiri diambang pintu. Fita bangkit dengan seulas senyum, ia berjalan menuju guru BK sambil menyerahkan kedua tangannya.


" Saya udah selesai ko bu " Guru BK itu langsung menyeret tangan Fita hingga ke ruangannya


" Ney lo nggak papa? " Tanya Rafa khawatir sambil membantu gadis itu bangkit


Neyla terisak dalam pelukan Rafa, dengan disaksikan beberapa siswa dan guru yang masih tersisa.


" Rasain lo Fit "


Fita duduk dengan wajah menunduk dalam, tubuhnya terasa lemah apa lagi setelah menerima beberapa pukulan dari Neyla dan Dian.


" Fita " Pekik Aldo yang segera memeluk tubuh adiknya


" Apa yang dilakukan adik saya bu? "


" Anda bisa duduk dulu " Aldo mengangguk, ia mengusap kepala Fita lalu duduk disebuah kursi yang ada didepan guru BK


" Ish... Kepala gue sakit banget " Fita menutup matanya rapat - rapat berharap rasa sakitnya hilang


" Adik anda telah memukul seorang siswa, saat kami menanyakan alasannya dia hanya diam " Aldo menatap Fita tidak percaya


" Adik saya tidak akan melakukan hal seperti itu, pasti siswa itu telah mengganggu adik saya. Apa saya boleh melihat siswa itu? " Guru BK itu mengangguk


" Baiklah, tapi dia sedang berada di uks "


" Hmm... Tapi bu, bagaimana nasib Fita sekarang? "


" Dia akan di keluarkan, tapi jika keluarga siswa itu menerima jalan damai. Mungkin Fita masih bisa sekolah disini, hanya saja dia harus di skors selama sebulan " Aldo mengangguk paham


" Jadi kami bisa menemui siswa itu sekarang? "


" Biar saya antar " Aldo mengangguk, lalu menggenggam tangan Fita hingga ke ruang uks


" Permisi " Ucap Aldo


Gusti, Gani, Ratih dan lainnya kontan menoleh pada Aldo dan Fita.


" Mau apa kalian? " Aldo menundukkan kepalanya dalam - dalam


" Kami ingin meminta maaf " Ratih berdecih


" Setelah apa yang dia lakukan pada Neyla? " Mata Fita berkaca - kaca saat Aldo menundukkan kepalanya semakin dalam


" Maaf tante, tapi saya tidak memukul Neyla. Saya hanya mendorongnya, justru dia dan temannya yang memukul saya "


" Kamu pikir kami akan percaya begitu saja? " Fita berdecih, lalu mengeratkan genggamannya pada Aldo


" Kepala gue sakit banget "


Bruk


" Fita! " Pekik Aldo