Rafa

Rafa
Sebuah Penyesalan



Rafa duduk termenung dikursi milik Fita dulu, ada sedikit rasa lega ketika mengingat kebersamaan mereka namun seketika berubah menjadi sebuah penyesalan.


" Rafa " Kontan si empunya nama menoleh dengan raut wajah datar


" Apaan lo? " Sarkas Rafa membuat Defa menelan salivanya sendiri, dia mengambil posisi tepat disamping Rafa dengan seulas senyum canggung


" Gue cuma mau minta maaf, lo bener soal gue juga salah ama si Fita. Sejak awal... Gue cuma diem, gue nggak punya inisiatif buat ngebela si Fita atau paling nggak nyegah perbuatan lo " Rafa tersenyum miris, lalu menyandarkan kepalanya ke tembok yang ada disampingnya dengan mata tertutup


" Andai gue bisa bawa balik si Fita, gue bakal lakuin apa aja supaya dia mau balik kesini "


" Sebenernya... Lo suka nggak sih ama si Fita? " Mata Rafa seketika terbuka, ia menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sayu


" Suka atau nggak, toh kenyataannya gue udah nggak bisa dapetin dia kan? Tapi... Iya, gue suka " Jelas Rafa memelan diakhir, membuat Defa yang sedari tadi berada disampingnya hanya bisa menarik nafas berat


" Kalo gitu... Ntar kita cari dia sama - sama, gue bakal minta bantuan ama si Panji " Mata Rafa membelalak lebar dengan tangan mengepal kuat


" Panji? Gue nggak sudi bawa - bawa tuh orang! "


" Tapi si Panji itu satu - satunya kunci " Rafa terkekeh


" Kunci? Kunci apaan? Orang kek gitu lo bilang kunci, sadar nggak lo? "


" Cuma dia yang deket ama si Fita selama kita ngejauh, dia juga punya akses ke beberapa SMA ama SMK disekitar sini. Jadi please... Kalo lo mau Fita balik, lo harus kubur ego lo dalem - dalem. Tapi kalo lo nggak mau juga nggak papa, gue bakal nglakuin sendiri " Rafa berdecak sebal, ia mengacak -acak rambut cokelatnya dengan gusar


" Ok gue setuju " Senyum diwajah Defa langsung merekah


" Bagus! Kalo gitu, lo ikut gue sekarang! " Defa menarik lengan Rafa paksa lalu membawa pri itu menuju area belakang sekolah


" Kenapa lo bawa gue kesini? "


" Udah lo diem aja "


Tidak berselang lama Panji dan kedua temannya datang, Panji menatap tajam kearah Rafa begitupun dengan Rafa yang menatap tajam kearah Panji.


" Ngapain lo disini? " Sarkas Panji yang kontan menyulut emosi Rafa


" Lo pikir gue sudi apa, ketemu ama cowok kek lo?! " Panji berdecih sambil berkacak pinggang


" Udah Fa... Nji kedatengan kita kemari, buat ngajak lo bertiga kerjasama " Panji dan teman - temannya memutar bola mata malas


" Kerjasama? Apa yang kita dapet dari kerjasama ini? "


" Fita " Seketika mata Panji membelalak lebar tidak percaya, begitupun dengan Rafa hingga ia harus mendaratkan sebuah tinju pada lengan Defa


Defa mengusap lengannya yang terasa berdenyut, sambil berupaya menenangkan emosi Rafa.


" Maksud lo? " Defa menarik salah satu sudut bibirnya


" Kita bisa bawa balik Fita kemari, dengan syarat kita harus kerjasama " Panji memperhatikan dengan seksama


"  Gue harus apa? " Senyum diwajah Rafa dan Defa seketika mengembang


" Lo punya akses ke SMA ama SMK disekitar sini kan? " Panji mengangguk mantap


" Kalo gitu kita bisa kumpulin info seputar Fita, dari mata - mata elo itu. Kita kerjasama, buat bawa Fita kemari " Panji tersenyum puas mendengar penjelasan Defa


" Gue setuju, tapi buat apa tuh orang gabung kesini? " Rafa berdecih sambil memutar bola matanya jengah


" Lo bakal tau nanti, jadi lo setuju kan? " Setelah lama menimang akhirnya Panji mengangguk setuju


***


Neyla berdiri didepan pagar sekolah bersama Dian, mereka tengah menanti Rafa dan teman - temannya.


" Lo yakin si Rafa nggak marah ama kita? " Neyla terkekeh kecil saat melihat kekhawatiran diwajah sahabatnya itu


" Lo tenang aja, kalopun dia marah gue bisa ko tangani. Jadi lo nggak usah khawatir kek gitu, ok? " Dian tersenyum simpul saat Neyla menepuk bahunya pelan


" Btw mereka lama bat dah, biasanya kalo pulang sekolah mereka itu paling gercep. Tapi sekarang... " Neyla berdecak sebal


" Iya, gue juga heran. Pada kemana sih? Apa masih dikelas ya? " Neyla celingukan mencari sosok Rafa dan teman - temannya


Neyla kembali melirik jam tangannya, ini sudah 15 menit sejak sekolah dibubarkan.


" Ish... Gue udah nggak tahan lagi! " Neyla melenggang pergi masuk kedalam sekolah, diikuti Dian yang mengekor dibelakangnya


" La tunggu gue! Cepet bat sih lo, kenapa lo tiba - tiba berhenti? " Dian mengikuti arah tatapan Neyla


Tidak jauh dari mereka Rafa dan teman - tenannya tengah terlibat perbincangan, dengan Panji dan teman - temannya.


" Panji ama Rafa? Sejak kapan mereka akur? " Neyla menggeleng tidak mengerti


" Keknya ada yang salah deh " Dian mengangguk setuju


" Lo bener La... Nggak mungkin mereka akur, kalo nggak ada masalah yang penting "


" Pokoknya lo atur aja semuanya, sisanya biar gue ama si Rafa yang urus " Panji mengangguk setuju


" Kita cabut sekarang " Arya dan Ibnu mengangguk, mereka pergi mengikuti langkah Panji


Defa menyikut perut Rafa, saat dia menyadari kehadiran Neyla dan Dian.


" Hust... Fa " Rafa mengangkat dagunya lalu menoleh kebelakang


" Oh, lo semua balik aja duluan. Gue mau anter si Ela dulu " Dodit menepuk pundak Rafa


" Jangan ampe mereka tau " Bisiknya yang langsung disambut anggukan dari Rafa


" Kalo gitu kita balik, inget ya Fa " Rafa mengangguk lalu melangkah menuju Neyla yang tengah menatapnya dengan seulas senyum


" Lo udah lama nunggu gue ya? " Neyla mengangguk


" Oh " Rafa menoleh saat mendengar Neyla berdeham


" Lo ada urusan apa ama si Panji? " Rafa terdiam, ia menatap Neyla dan Dian secara bergantian


" Gue nanya tips ama si Panji, secara dia itu menang lomba kemaren kan " Kilah Rafa disambut anggukan Neyla


" Kita cabut sekarang? "


" Iya "


" Terus temen lo gimana? " Neyla menatap Dian yang sedari tadi berdiri disampingnya


" Gue udah dijemput ko " Rafa membuka mulutnya hingga membentuk huruf o tanpa bersuara


" Kalo gitu gue duluan ya La... Fa "


" Ati - ati ya " Dian mengangguk lalu melenggang pergi meninggalkan Rafa dan Neyla


" Ayo! " Neyla mengerucutkan bibirnya, saat Rafa melenggang begitu saja


Rafa menyerahkan helm pada Neyla, kemudian meminta gadis itu untuk segera naik.


" Fa... " Panggil Neyla lembut saat mereka sudah berada diatas motor


" Hmm... "


" Lo... Sejak kapan lo deket ama si Panji? " Rafa menarik salah satu sudut bibirnya


" Emang kenapa? "


" Cuma penasaran " Rafa memutar bola matanya malas


" Baru aja " Neyla mengangguk paham


" Jadi lo beneran deket ama dia cuma masalah nyanyi... Maksud gue lo deket ama dia cuma buat minta tips, cara menang diperlombaan aja kan? " Rafa berdecih, ia menghentikan motornya secara mendadak saat mereka sampai didepan rumah Neyla


" Ih... Lain kali ati - ati napa sih? " Gerutu Neyla sambil menyerahkan helmnya


" Lo juga, lain kali ati - ati kalo ngomong apa lagi bertindak. Ok? " Rafa mencubit pipi Neyla gemas, sebelum akhirnya memacu motornya pergi


***


" Jadi gimana? " Panji menggeleng lemah


Rafa mengacak - acak rambutnya gusar, begitupun dengan Defa dan lainnya yang mendengus kecewa.


" Ini udah sebulan sejak si Fita pergi, tapi kita nggak tau mereka kemana? " Panji berdecih


" Ya semua ini, terjadi karena lo semua kan? " Rafa mengepalkan tangannya kuat


" Jaga omongan lo ya! Lo juga sama bersalahnya ama si Fita! " Defa bangkit dan berusaha melerai keduanya dibantu yang lainnya


" Lo berdua bisa akur nggak sih? Kita sama - sama salahnya dan kita juga sama - sama berjuang buat nyari si Fita. Jadi nggak usah saling menyalahkan! "


" Dia bener Nji, kita butuh mereka buat bawa balik si Fita " Arya mengangguk setuju


" Dan mereka juga butuh kita " Panji mendengus kesal mendengar penjelasan Ibnu dan Arya, tapi yang dikatakan kedua sahabatnya itu benar


" Fa coba kali ini, lo turunin ego elo dikit aja. Anggep aja ini sebagai pengorbanan, buat bawa si Fita balik ke sekolah ini " Aziz menimpali


Rafa mendengus pasrah, ia mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Panji.


" Ok. Kali ini, gue punya rencana baru " Semua mendengarkan Panji dengan seksama


" Apa rencana lo? "


" Cewek itu identik ama sosmed, fashion dan sebagainya. Nah kali ini gue, Arya ama Ibnu bakal nyari si Fita ama coach Aldo lewat sosmed "


" Dodit, Salman ama si Aziz cari ditempat yang biasa didatengi si Fita. Sedangkan lo berdua cari si Fita dimall, yang sering ngadain acara diskon atau fashion " Sambung Panji disambut anggukan setuju oleh rekan - rekannya


"Kalo gitu kita mulai sekarang? "


" Lebih cepat, lebih baik "


" Oh iya, pastiin si Neyla atau Dian nggak tau soal ini. Kalopun kalian ketemu mereka dijalan atau tempat yang kalian datengi, lo tinggal cari alesan buat ngeyakinin mereka "


" Ish... Gue nggak nyangka, ternyata lo pinter juga Nji " Arya terkekeh mendengar celotehan Ibnu


" Gue emang pinter kali! " Sergah Panji


" Kalo gitu kita pergi sekarang, kalian urus sisanya " Panji, Arya dan Ibnu mengangguk


" Ayo Def, kita ke mall sekarang " Rafa dan Defa melengang pergi menuju area parkir sekolah


" Lo berdua tau tempat, yang sering didatengi ama si Fita nggak? " Salman dan Aziz mengangguk serentak


" Gini aja, kita mulai dari masjid ama musholah disekitar rumah Fita " Refleks Aziz membuka mulutnya lebar - lebar


" Lo serius? Masjid ama musholah ada banyak, terus kita kesana cuma buat Fita gitu? Apa kata orang nanti, kita kesana cuma buat nyari Fita tapi nggak sholat " Dodit mengangguk setuju


" Gue setuju, kalopun kita nyari pas masjid atau musholah itu sepi. Otomatis si Fita juga nggak ada, dalam artian udah balik " Salman mengusap wajahnya kasar


" Terus gimana lagi dong? " Dodit dan Aziz mengedikkan bahu sambil tersenyum simpul


" Ya gimana lagi? Kita harus ikut sholat lah, itung - itung tobat "


" Gue setuju tuh ama si Dodit, kita harus ikut sholat termasuk sholat dhuha "


" Biar gampang kita bagi tugas, masing - masing dari kita pergi ke masjid atau musholah berbeda. Ok? "


" Ok deh, ayo buru kita pergi! "


***


" Eh tuh disana keknya ada acara diskon deh "


" Mana? Oh iya, buru kita kesana " Defa mengangguk, ia berjalan mengekor dibelakang Rafa


" Jadi produk kami ini terbuat dari bahan - bahan alami, seperti yang kalian lihat dalam satu cup krim wajah ini mengandung ekstrak... "


" Gimana? Lo udah liat si Fita? " Defa menggeleng lemah


" Lo sendiri? "


" Gue juga nggak, kita cari ke tempat laen? Mungkin aja dia ada di lantai dua "


" Ya udah deh "


Defa dan Rafa mencari disetiap tempat yang menjual produk kecantikan ataupun baju, tapi hasilnya tetap saja nihil.


" Kita nggak bisa nglakuin ini cuma dalem waktu sehari "


" Lo bener Fa, badan gue juga udah capek banget. Mending kita balik dulu, terus sambung lagi besok "


" Ok deh, lagian ini juga udah mulai malem. Jangan lupa telepon yang laennya " Rafa mengangguk, ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku


" Halo, ada apa Fa? "


" Bentar lagi malem, kita sambung besok aja "


" Ok deh, kita juga udah capek muter - muter dimasjid ama musholah deket rumah Fita "


" Iya, kalo gitu jangan lupa lo telepon si Panji ya "


" Ok "


Ddrrttt


Panji melirik ponselnya yang bergetar, seketika wajahnya berubah penuh harapan. Saat melihat nama Aziz terpampang disana.


" Halo, gimana? "


" Halo, kata Rafa kita sambung besok. Mending sekarang lo balik karena bentar lagi malem " Panji mendengus kecewa


" Ok "


" Gimana Nji? "


" Kita balik terus disambung besok " Arya dan Ibnu mengangguk paham


" Kalo gitu kita duluan, lo masih mau disini apa gimana? " Panji terdiam beberapa saat, lalu menghela nafas gusar sambil mengacak - acak rambut cokelatnya


" Gue balik "


Panji memacu motornya kesebuah rumah mewah berlantai dua, rumah itu terdengar bising tidak seperti biasanya. Panji mendengus kesal dan bersiap untuk pergi, tapi tanpa diduga ada seseorang yang menarik lengannya masuk kedalam rumah.


" Eh Panji, dari mana? Ko baru pulang? " Tanya Risa teman Farah ibunya Panji


" Iya tan, tadi ada tugas "


" Nambah ganteng aja nih " Panji tersenyum simpul saat Wizy mencubit pipinya gemas


" Ah tante bisa aja, kalo gitu Panji masuk dulu tan " Semua orang mengangguk


Panji mengunci pintu kamarnya, ia melempar tas miliknya kesembarang tempat lalu menjatuhkan tubuhnya diranjang.


" Lo kemana sih? Apa lo nggak tau, kalo disini banyak yang nyariin elo? " Gumam Panji sambil memejamkan matanya


Ginanda Fitalia Safitri


Panji bangkit lalu mengacak - acak rambutnya gusar, ia mengambil ponsel dari dalam saku.


" Gue udah nyoba kemungkinan nama yang lo pake, tapi hasilnya tetepa aja nihil. Ini kesempatan terakhir, kalo nama ini salah... Maka gue nyerah " Panji mengetik beberapa huruf


Fitalia Ginanda


Mata Panji membelalak lebar, detik berikutnya ia tersenyum bahagia lantaran ia berhasil menemukan akun instagram Fita.


" Fit... Gue berhasil, gue berhasil nemuin elo " Gumamnya


Panji melihat satu persatu postingan Fita yang didominasi kata - kata islami, hanya ada satu foto Fita dengan Aldo dan itu dipost 3 tahun lalu.


" Kiriman terakhir, 2 bulan lalu? "


Panji memutar kiriman terakhir Fita yang berupa vidio, lebih tepatnya sebuah lirik lagu.


Nae meorissogeul eojireobhigo


Nae maeumsogeul heundeureonohgo


Wae jakku neon dareun gotman baraboni


Nunape neoreul bogo ittneunde


Geutorog wonhan nega ittneunde


Wae jakku neon adeughagiman han geoni


Ne miso hanae maemul nohgo


Ne nunmul hanae maemul dachyeo


Nega saneun nae maeumeun neul geurae


Seotun miso dwi hansumdeulmankeum


Mollae beorin nae nunmuldeulmankeum


Nae mam gyeoteuro wajul su eobtni


" Gue nggak tau, nih lagu apaan lagi " Panji mengacak - acak rambutnya gusar, lalu menghubungi sebuah nama


" Halo, ini Panji om. Baik, om Panji boleh minta bantuan nggak? "