Rafa

Rafa
Sahabat Baru



Fita duduk disebuah kursi yang ada didekat gerbang sekolah, dengan mata terpejam dan telinga tertutup headset.


Krekek


Fita membuka matanya saat terdengar suara decitan kayu, yang menandakan ada orang lain tengah duduk disampingnya.


" Panji? Ngapain lo disini? "


" Gue mau nemein lo, lagian gue heran bat dah. Kenapa lo suka banget menyendiri sih? " Fita mengerucutkan bibirnya


" Lo juga sama kan "


" Ish... Gue masih punya Ibnu ama Arya, jadi gue jarang sendirian "


" Gue juga punya Defa dan lainnya, tapi gue lagi nggak butuh mereka dulu "


" Kenapa? "


" Males aja. Btw, gue pikir lo bolos "


" Emang "


" Hah? " Panji tersenyum


" Gue balik lagi buat ngambil motor " Fita terkekeh


" Ish... Lo bolos terus dateng lagi cuma buat ambil motor? " Panji mengedikkan bahunya


" Keren kan? " Fita berdecih


" Itu sama aja bunuh diri bambang "


" Nggak lah "


Keduanya terkekek kecil, diam - diam Fita mengamati bagaimana cara Panji tertawa. Jelas Panji yang ada didepannya berbeda, dengan Panji yang sebelumnya.


" Apan sih lo? " Fita memicingkan matanya


" Maksud lo? "


" Kenapa lo liatin gue kek gitu "


" Oh, lo peka juga yah. Lo bisa tau, kalo gue lagi liatin lo " Panji tergeragap saat Fita tersenyum kearahnya


" Je... Jelaslah, lo liatin gue dari jarak sedekat ini bambang! " Fita mengerucutkan bibirnya


" Nji "


" Hmm... "


" Lo sekarang beda ya " Panji menoleh dengan kening berkerut


" Beda? Maksud lo? "


" Iya... Dulu lo itu pemarah, jarang banget senyum. Tapi sekarang, lo sering senyum " Panji terdiam mencoba meresapi perkataan Fita


" Apa iya gue kek gitu? " Panji mengusap dagu sambil menyipitkan kedua matanya


" Ish... Itukan diri lo sendiri, masa lo nggak inget sih bambang! " Panji terkekeh melihat Fita yang mulai emosi


" Emang nggak... Tapi yang gue tau, lo sering merhatiin gue. Kenapa? Karena gue ganteng ya? " Fita berdecih


" Kepedean banget sih lo! Gue ketekin juga lama - lama "


" Ish... Songong banget lo, ada juga gue yang bakal ketekin lo. Secara lo itu pendek! " Kontan Fita berdiri membuat Panji ikut berdiri


" Enak aja "


" Kenyataan. Kalo nggak percaya... "


Panji menarik Fita dalam pelukannya, membuat tubuh gadis itu kaku seketika. Setelah beberapa detik, Panji mengarahkan wajah Fita kedalam ketiaknya.


" Lepas bambang... " Fita meronta membuat Panji terkekeh


" Isep tuh ketek gue! "


" **** bau asem! Lepas! " Panji terkekeh dan membenamkan wajah Fita semakin dalam


" Nggak bakalan! "


" Lepas! " Fita mendorong tubuh Panji menjauh


Gadis itu memicingkan matanya heran, bukan karena ia bisa bebas. Lebih tepatnya karena ia tidak menyangka Panji tidak melawan.


" Fita! " Kontan si empunya nama menoleh, dengan mata membelalak lebar


Ia dan Panji berdiri mematung saat mendapati Neyla, Rafa, Defa dan yang lainnya tengah berdiri didepan mereka.


" Apa yang lo lakuin ama Panji? " Fita mengerjapkan mata beberapa kali


" Main, iya kan Nji? " Panji mengangguk dengan seulas senyum


Tangan Neyla mengepal kuat, wajahnya merah padam dan tanpa aba - aba tangan dinginnya menampar wajah Fita.


" Neyla! " Rafa dan Defa menarik lengan Neyla agar menjauh


Panji memegangi tubuh Fita, tapi gadis itu hanya diam tanpa ekspresi.


" Lo nggak papa Fit? " Fita tersenyum


" Hahaha... Lo khawatir ama gue "


" Ini bukan waktunya ketawa "


" Iya gue tau ko " Neyla menyeringai tajam


" Gimana rasanya? Sakit? " Fita tersenyum


" Nggak juga. Gue pernah ngalami sesuatu yang lebih parah dari ini, so ini nggak ada pengaruhnya buat gue " Ucap Fita enteng, membuat emosi Neyla semakin menjadi - jadi


" Lo pengin gue anter pulang? " Fita menoleh dengan seulas senyum


Tit


" Abang gue udah jemput " Fita melenggang pergi, sambil mengangkat salah satu tangannya keudara


***


" Waktu anda lima menit "


" Makasih pak " Pria paruh baya itu berjalan kearah Panji


" Panji " Kontan si empunya nama mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum


" Ayah! " Panji memeluk tubuh Diko


" Gimana kabar kamu? " Tanya Diko seraya melepas pelukan mereka


"Baik yah, ayah sendiri gimana? "


" Ayah baik. Udah lama kamu nggak dateng, ayah kangen " Panji menunduk


" I... Iya yah, maafin Panji "


" Nggak papa, gimana kabar ibumu? " Panji memalingkan wajahnya enggan


" Baik " Diko menghembuskan nafas lega


" Jadi ada apa? "


Panji tersenyum, ayahnya adalah orang yang paling mengerti tentang dirinya.


" Panji udah tau keluarga dari... "


" Benarkah? " Potong Diko antusias


" Iya, ini datanya " Diko menerima map cokelat yang diserahkan Panji


" Cantik, iya kan? " Panji tergeragap, saat Diko memperlihatkan foto seorang gadis yang tengah tersenyum lebar


" Jadi... Ayah mau Panji apain nih cewek "


" Maksudnya? "


" Iya. Ayah nyuruh Panji ngumpulin kek gini, supaya Panji bisa bales dendam ke mereka. Iya kan? " Diko tersenyum lalu menggeleng


" Buat apa bales dendam, ayah yang salah "


" Tapi karena mereka, ayah dipenjara sekarang! "


" Bukan karena mereka, tapi karena kelalaian ayah sendiri. Karena ayah mereka harus kehilangan anggota keluarganya " Mata Diko menggelap


" Terus Panji harus apa? " Diko mengusap lembut kepala Panji


" Jaga mereka, terutama dia " Diko mengangkat foto gadis ditangannya


" Tapi yah... "


" Panji " Panji mengangguk patuh


" Waktu kalian habis " Diko mengangguk lalu menyerahkan kembali map itu pada Panji


" Lain kali bawa foto kamu, sama gadis itu. Mengerti? " Pipi Panji bersemu merah


" Ayah masuk dulu, ingat kamu harus jaga mereka "


Panji memeluk tubuh Diko erat, lalu melanggang pergi dari kantor polisi. Panji memacu motornya menuju apartemen, dengan kecepatan tinggi.


Hai Fit!


Panji melempar ponselnya diatas nakas, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Ddrrttt


Panji meraih ponselnya, ada sebuah pesan dari Fita.


Fita :


Apaan?


Gue :


Lo nggak papa


Fita :


Emang gue kenapa? Cuma kena gampar doang, bukan masalah besar😪


Gue :


Songong dah👀


Fita :


Kenyatan bambang😑


Gue :


Lo lagi ngapain?


Fita :


Biasa... Kaum rebahan


Gue :


Sibuk?


Fita :


Kenapa?


Gue :


Gue bosen nih, jalan yuk. Gue bakal ajak si Ibnu ama Arya, biar lo kenal ama mereka


Fita :


Gimana ya? Ok deh


Gue :


Gue otw ya🚴


Panji melempar ponselnya keatas ranjang, lalu bergegas mengganti pakaiannya. Ia dan kedua temannya sampai dirumah Fita, setelah beberapa menit.


" Fita " Panggil Panji sambil mengetuk pintu


" Bentar... Eh Panji "


" Coach " Panji dan kedua temannya mencium punggung tangan pria itu


" Jangan panggil gue coach, kalo nggak lagi latihan. Panggil aja gue abang " Ketiganya mengangguk


" Lo udah pada nyampe? Gue berangkat dulu ya bang "


" Hmm... Jangan pulang malem - malem " Fita mengangguk


" Bang "


" Jaga Fita buat gue ya Nji " Panji mengangguk


" Halah... Mending kalian berangkat sekarang, jangan ngebut - ngebut, pake helm terus patuhi rambu lalu lintas. Inget jangan pulang malem "


" Iya abang "


Panji, Fita, Ibnu dan Arya memacu motor mereka menjauh dari rumah Fita.


" Abang lo protektif juga ya "


" Haha udah biasa "


" Lo mau kemana nih? " Fita memicingkan matanya


" Lah... Lo bertiga yang ngajak gue, terus kenapa malah nanya "


" Lo nggak pengin kemana gitu? " Fita menggeleng


" Terserah lo bertiga aja "


" Ok "


***


" Lo sekarang makin deket aja ama si Panji " Fita membenamkan wajahnya semakin dalam, pada tas maroon miliknya


" Hmm... "


" Lo suka ya, ama tuh cowok? " Fita mengedikkan bahu acuh


" Udahlah... Gue mau tidur! " Fita membenamkan wajahnya semakin dalam


" Bentar lagi kita mau tampil, lo nggak mau kesana? " Defa memegang bahu Fita lembut


" Fit... "


" Ish... Udah tidur lagi " Dodit menimpali


" Udahlah ayo pergi, keknya si Fita lagi kecapean " Sergah Salman


" Ya udah ayo "


Defa dan lainnya pergi kebelakang panggung, mereka mendapati Rafa dan Neyla sudah berada disana.


" Fita mana? " Neyla berdecak kesal saat Rafa celingukan mencari sosok Fita


" Tidur dikelas "


" Beri tepuk tangan yang meriah, untuk kelas 11 IPS 1 "


Panji dan teman - temannya turun dari panggung, ia langsung mengedarkan pandangannya disekitar Rafa untuk mencari sosok Fita.


" Ayo Nji " Panji tergeragap


" I... Iya " Panji melenggang pergi disusul Arya dan Ibnu


" Lo nyari Fita kan? " Langkah Panji kontan terhenti


Rafa menatap Panji tajam, ia berjalan mendekat kearah Panji dengan wajah merah padam.


" Bisa nggak sih, lo nggak usah deket - deket ama si Fita. Dia itu pacar gue! " Panji berdecih


" Lo so - soan ngatur gue nggak boleh deket ama Fita, lo sendiri gimana? Lo deket ama pacar gue, terus kenapa gue nggak boleh deket ama Fita "


" Brisik lo! " Defa menghentikan gerakan tangan Rafa, yang hendak memukul Panji


" Kenapa? Emang kenyataannya gitu kan? "


Panji, Arya dan Ibnu melenggang pergi, meninggalkan Rafa yang menatapnya tajam.


" Lo berdua duluan aja, gue mau cari si Fita dulu " Arya dan Ibnu mengangguk


" Ok "


Panji mengambil ponselnya dari dalam saku, ia coba menghubungi nomor Fita.


" Angkat napa Fit "


Ddrrttt


" Duh sapa sih? "


Fita meraih ponselnya malas, ia menatap layar ponsel lalu menempelkan benda itu ditelinganya.


" Hmm... Apaan? "


" Lo dimana? "


" Gue dikelas "


" Ama siapa? "


" Sendirian "


" Oh. Gue kesana ya "


" Hmm... "


Fita mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan kembali kepalanya diatas meja.


" Ternyata lo beneran disini " Fita mengerjapkan matanya beberapa kali


" Ada apa? "


" Nggak, lo sakit ya? " Panji menempelkan tangannya pada dahi Fita


" Gue nggak papa " Sergah Fita sambil menyingkirkan tangan kekar Panji


" Lo demam Fit, gue anter lo ke uks ya "


" Nggak usah, gue nggak mau nambah masalah lagi Nji " Panji berdecak kesal


" Kenapa? Semua masalah ini kan bukan karena elo, tapi karena si Rafa ama Neyla. Gue heran sebenernya apa sih yang tuh mahluk dua penginin dari elo? " Fita terkekeh


" Mahluk dua itu, punya nama Nji " Panji berdecih


" Udah... Ayo gue anter lo ke uks " Panji menuntun Fita


" Jadi lo sendirian aja dikelas? "


" Ya kek gitu "


Baru beberapa langkah, tubuh Fita sudah limbung dan akhirnya jatuh dalam pelukan Panji.


" Fit... Bangun Fit " Panji menepuk pipi Fita lembut


Panji mengangkat tubuh Fita dan segera membawa gadis itu ke ruang uks. Ia meletakkan tubuh mungil Fita diatas ranjang, sedangkan dirinya sibuk mencari petugas piket.


" Eh, lo petugas uks kan? "


" I... Iya "


" Bagus! " Panji menarik lengan seorang gadis menuju ruang uks


" Si Panji mau kemana? " Batin Neyla


" La, gimana penampilan kita tadi? " Neyla tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya


" Bagus, banget malah "


" Gue mau ke kelas dulu " Pamit Defa yang langsung diikuti Aziz, Dodit dan Salman


***


Fita mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


" Panji? " Kontan si empunya nama menoleh dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku


" Lo udah sadar? Gimana udah enakan? " Fita tersenyum simpul


" Lo khawatir ama gue ya? Nggak usah berlebihan kek gitu, ntar suka loh " Panji berdecih


" Lo bukan tipe gue bambang " Fita mengerucutkan bibirnya kesal


" Ayo, gue anter lo pulang " Fita memicingkan matanya heran


" Emang ini jam berapa? Gue nggak mau bolos! " Panji menarik nafas jengah


" Ini udah pulang sekolah... Lo pingsan selama 3 jam full " Fita menatap Panji tidak percaya


" Ah masa? Lo mau bohongin gue kan? "


" Gue ketekin juga lo lama - lama "


" Gue percaya... Percaya, ketek lo bau bambang! " Sergah Fita


" Bukannya wangi ya? " Fita terkekeh, saat Panji mencium ketiaknya sendiri


" Ish... Jorok banget sih lo! "


" Yang penting gue ganteng, ayo gue anter pulang "


" Tas gue mana? "


" Dikelas "


" Ya udah, kita ke kelas lo dulu " Fita mengangguk


" Lo kuat jalan nggak? " Fita memicingkan matanya heran


" Emang kenapa? "


" Gue mau gendong lo lah... Eh tapi jangan deh "


" Kenapa? " Panji tersenyum jahil


" Lo berat " Fita memukul lengan Panji, membuat si empunya meringis kesakitan


" Enak aja "


Panji menuntun Fita kembali kedalam kelas, keduanya dikejutkan saat melihat IPA 2 tengah melakukan rapat mendadak.


" Fita? Kamu nggak papa? " Fita tersenyum canggung


" Si Fita kenapa tuh? " Tanya Defa


" Keknya lagi sakit deh " Salman menimpali


" Saya... "


" Dia sakit pak, kalo boleh Fita izin pulang duluan " Potong Panji cepat


" Oh, silahkan. Kamu boleh pulang lalu istirahat, kamu bisa menanyakan soal isi rapat hari ini pada yang lainnya " Fita mengangguk


" Gue ambilin tas lo dulu ya "


" Iya "


" Permisi pak " Fahmi mengangguk


Panji berjalan ke meja Fita, lalu mengambil tas yang sebelumnya ditiduri oleh gadis itu. Untuk beberapa detik, Panji dan Rafa saling melempar tatapan maut.


" Ish... Tuh cewek emang keganjenan bat dah, dulu Rafa, Defa sekarang Panji "


" Gue setuju ama lo Ris, dia emnag keganjenan " Fitri menimpali


" Kami permisi dulu pak " Fahmi mengangguk


" Hati - hati dijalan ya... Dan Fita semoga cepat sembuh "


" Makasih pak " Jawab Fita lemah


Panji menuntun langkah Fita hingga ke area parkir sekolah, ia membantu gadis itu mengenakan helm dan naik keatas motornya.


" Lo udah siap? " Fita mengangguk lemah


" Pegangan ya " Panji menarik tangan Fita mendekat, hingga tidak ada jarak antara keduanya


" Kita berangkat sekarang "


Panji memacu motornya secara perlahan, hingga mereka sampai dirumah Fita. Panji membantu Fita turun, lalu melepaskan helm yang dikenakan gadis itu.


" Udah Nji sampe sini aja, makasih " Fita melepaskan rangkulan Panji


" Lo yakin nggak pengin gue bantu ampe kedalem? " Fita menggeleng


" Nggak usah, lagian gue udah lebih enakan. Lo bisa pulang sekarang, lagian ini juga udah sore " Panji mengangguk


" Ya udah, kalo gitu gue pergi sekarang "


" Iya "


Fita masuk kedalam rumah, lalu bergegas masuk kedalam kamar. Ia merebahkan tubuh mungilnya diatas ranjang.


" Ish... Kenapa lo selemah ini sih Fit! Kalo lo lemah kek gini, gimana lo bisa buktiin ke mereka kalo lo itu kuat! "


Fita menitihkan air mata, ia merindukan kedua otang tuanya disaat - saat seperti ini.


" Mah... Kapan mamah pulang? Fita kangen. Fita kangen mamah ama papah, Fita nggak tau harus cerita ama siapa? Fita cuma jadi beban orang - orang, apa lagi bang Aldo "


Fita mulai terisak, ia menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.