
Rafa kembali mengusap kepala Fita lembut, anggap saja ini sebagai pengalihan untuk menyembunyikan kesedihan dari dalam hatinya. Fita menggenggam tangan Rafa, saat tangan itu turun kearah pipinya.
" Lo nggak papa kan? " Rafa tersenyum miris
" Gue nggak papa, lo masuk gih. Makasih ya, usah mau nemein gue selama beberapa hari ini "
" Nggak masalah, satu yang harus lo tau. Gue bakalan selalu ada buat elo, jadi kalo ada masalah apa - apa lo tinggal bilang aja. Ok? " Rafa terkekeh kecil, ia mengecup kening Fita sayang
" Iya, sekali lagi makasih ya. Kalo gitu gue balik sekarang, titip salam buat calon mertua ama kakak ipar gue ya "
" Haha, iya. Eh mamah nanya soal lo terus tau, kapan lo bisa main lagi kesini? " Ucap Fita manja membuat Rafa gemas sendiri
" Nanti gue bakalan maen, tapi nanti ya. Sekarang lo masuk, bentar lagi sore "
" Iya... Iya... Lo ati - ati ya "
" Iya sayangku cintaku padamu seperti bola saju " Goda Rafa sambil mencubit pipi putih Fita gemas
" Assalamuallaikum "
" Waalaikumsallam " Fita berbalik dan bersiap untuk masuk kedalam rumah
Brruukkk
" Kecelakaan! "
" Ayo cepetan liat! "
Jantung Fita seketika berhenti, kecelakaan? Siapa yang mereka maksud? Fita berjalan kearah kerumunan warga dengan perasaan takut sekaligus khawatir.
" Rafa! " Pekik Fita yang segera berlari kearah Rafa yang sudah terkapar diatas aspal dengan kepala bersimbah darah
Fita melatakan kepala Rafa dipangkuannya, ia tidak peduli dengan darah yang mulai memasahi baju dan tubuhnya karena yang ia pedulikan hanya keadaan Rafa.
" Rafa bangun Fa. Panggil ambulan cepat! "
" Fa bangun Fa... Ini gue Fita! Rafa! " Fita memukul pipi Rafa pelan sambil terus terisak, berharap Rafa mau membuka kedua matanya
" Ada apa ini? " Tanya Aldo yang baru saja datang
" Fita? Rafa? "
" Bang Aldo, tolong Rafa bang... Tolong hiks... " Ucap Fita sambil terus terisak
" Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang! " Fita mengangguk
Aldo mengangkat tubuh Rafa masuk kedalam mobil, dengan dibantu beberapa orang. Sepanjang perjalanan kerumah sakit, Fita tidak berhenti menangis sambil memegangi pipi Rafa yang penuh dengan darah.
" Fa bangun Fa. Ini gue, please bangun Fa "
Setelah 5 menit mereka sampai dirumah sakit terdekat, para perawat dan dokter disana langsung membawa Rafa keruang ICU.
" Kalian tunggu disini "
" Tapi dok, ijinin saya buat nemenin Rafa dok. Hiks... Saya mohon " Ucap Fita memelas sambil terus terisak
" Maaf tapi kamu tidak boleh masuk "
" Tapi dok... "
" Fita udah, kita tunggu disini ya "
" Tapi bang... "
" Fita, lebih baik sekarang lo kekamar mandi terus bersihin darah itu. Gue udah telepon keluarga Rafa dan yang lainnya, bentar lagi mereka bakalan sampe "
Fita mengangguk, ia pergi kekamar mandi sesuai dengan perkataan Aldo. Saat berada dikamar mandi Fita mengamati bayangan dirinya dari sebuah cermin besar, ia terlihat berantakan dengan darah dibaju, tangan dan wajahnya.
" Rafa... " Fita kembali terisak, ia tidak bisa membendungnya lagi
Hatinya terasa sakit dan diliputi kekhawatiran, semua yang terjadi pada Rafa karena dirinya.
" Rafa... Sadar dong, hiks... Maafin gue, lo kek gini gara - gara gue. Nggak seharusnya gue setuju buat bawa elo ke makam bu Deswita. Rafa... " Fita menangis sejadi - jadinya, ia memukul - mukul dadanya yang terasa sesak
" Rafa... Maafin gue "
***
" Dimana Rafa? " Asti menarik kerah baju Aldo sambil terisak
" Dia ada diruang ICU, tante tenang saja. Dokter sedang merawat Rafa "
" Tenang? Kamu bilang tenang? " Bentak Asti tidak terima
" Fita " Panggil Aldo saat menyadari kehadiran Fita, kedua mata gadis itu terlihat sembab dengan tubuh masih bersimbah darah milik Rafa
Pllaakkk
Asti menampar pipi Fita, tapi gadis itu tidak merespon.
" Kamu! Pasti kamu yang membuat Rafa seperti sekarang, iya kan? "
" Tante! Tolong jangan salahkan Fita untuk peristiwa ini! "
" Nggak bang... Tante bener, ini salah Fita. Hiks... Nggak seharusnya Fita ngikuti kata - kata Rafa, andai aja Fita nolak pasti nggak bakal kek gini. Maafin Fita tan... Maaf... "
" Maaf? Kenapa Rafa bisa sampai seperti ini? Kenapa?! " Fita semakin terisak
" Tadi kami pergi ke makam bu Deswita. Ibu kandung Rafa tan "
Pllaakkk
" Tante! " Pekik Aldo, Panji, Defa dan lainnya ketika Asti kembali mendaratkan sebuah tamparan dipipi Fita
" Lancang sekali kamu, saya ibunya Rafa. Saya, bukan Deswita! "
" Mah udah mah "
" Maaf tan... Tapi itu yang Rafa dan pak Rian bilang, hiks... Fita emang nggak seharusnya ngikutin kata - kata mereka tan, maafin Fita hiks... "
" Jika ada sesuatu dengan Rafa, maka kamu harus tanggung jawab! "
" Apa ada keluarga pasien disini? "
Semua orang berkerumun pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
" Gimana keadaan anak saya dok? "
" Anak ibu kekurangan darah "
" Kalo gitu ambil darah saya dok "
" Maaf bu... Tapi golongan darah pasien o negatif, apa ada dari kalian yang bergolongan o negatif? "
" Apa rumah sakit, tidak memiliki stok darah o negatif dok? " Tanya Panji
" Ada. Hanya saja kami kekurangan stok, setidaknya kita butuh 3 kantong darah. Sedangkan kami hanya punya 1 kantong, bagaimana dengan pihak keluarga? "
" Tidak ada " Ucap Wawan
" Kalo begitu kami harus segera menghubungi PMI dan rumah sakit terdekat, karena keadaan pasien sedang kritis dan memerlukan banyak darah "
" Saya dok, golongan darah saya o negatif " Ucap Panji mengajukan diri
" O negatif " Gumam Fita
" Ada apa? " Tanya Aldo dan Defa bersamaan
" Gue tau dimana harus nyari, Def tolong anterin gue " Defa mengangguk
" Kalian ati - ati " Fita dan Defa mengangguk bersamaan, mereka bergegas pergi menuju perusahaan milik Rian untuk menceritakan keadaan Rafa
" Kalian lagi? Mau apa kalian? " Tanya pihak keamanan dengan sorot mata tajam
Fita mengepalkan kedua tangannya didepan dada, ia memasang raut memelas.
" Pak kami kemari untuk bertemu pak Rian, tolong pak ini masalah penting "
" Tidak! "
" Pak tolong pak, sekali ini saja pak. Ini menyangkut nyawa teman saya pak "
" Sudah saya bilang, tidak! "
Defa menepuk bahu Fita, kemudian membisikkan beberapa kata.
" Pak biarkan saya masuk! " Sergah Defa sambil mendorong tubuh satpam didepannya
Fita mengangguk paham kemudian segera berlari kedalam kantor, ia mencari ruangan milik Rian dengan dikejar satpam lainnya.
" Berhenti! "
" Pak Rian! " Teriak Fita memenuhi seluruh area kantor
" Berhenti disana! "
Brukk
Tubuh Fita tersungkur, setelah menabrak tubuh kekar seorang pria.
" Kamu? " Fita mendongakkan kepala dengan seulas senyum
Fita bangkit, kemudian mengepalkan kedua tangannya dan mulai memohon.
" Pak Rian, tolong Rafa pak "
" Maaf pak! "
" Tidak papa, kalian bisa pergi "
" Baik "
" Ada apa? "
" Dia bukan siapa - siapa saya, jadi untuk apa saya membantunya? "
Emosi Fita seketika memuncak, air matanya mengalir semakin deras dengan tangan mengepal kuat.
" Dia anak bapak! "
***
Semua orang tertunduk lemas, didepan ruang perawatan Rafa. Sudah sejak kemarin mereka menunggu, tapi Rafa belum juga siuman.
" Bagaimana dok? Apa Rafa sudah sadar? " Tanya Rian khawatir pada seorang dokter yang baru saja mengecek kondisi Rafa
Iya, Rian. Dia akhirnya bersedia mendonorkan darahnya, setelah Fita berteriak dan meyakinkannya bahwa Rafa memang buah cintanya dengan Deswita.
" Apa ada yang bernama Fita? "
Fita mengangkat tangannya heran.
" Pasien sudah siuman, dia ingin bertemu dengan anda "
" Apa? Tapi saya ibunya! " Pekik Asti tidak terima
" Udah mah, kita lagi dirumah sakit " Ucap Alya sambil mengguncang pelan lengan Asti, berharap wanita itu mau sedikit lebih tenang
" Tapi itu keinginan pasien, silahkan masuk "
Fita mengangguk, ia berjalan mengekor dibelakang dokter yang kemudian mempersilahkan dirinya bertemu dengan Rafa.
" Rafa " Gumam Fita yang kembali terisak
Hatinya terasa sakit, melihat tubuh Rafa yang penuh dengan perban. Sebuah selang menancap dihidung Rafa dan sebuah infus disalah satu tangan lainnya.
" Rafa " Fita berjalan kearah Rafa dengan langkah gontai, air mata tak henti mengalir dikedua pipinya
Fita menggenggam tangan Rafa, membuat si empunya hanya mampu tersenyum simpul.
" Lo udah sadar? "
" Kenapa lo nangis? " Tanya Rafa lemah sambil mengusap kedua pipi Fita lembut
" Gimana keadaan lo? "
" Gue udah baikan "
" Maafin gue ya, karena gue lo jadi kek gini. Nggak seharusnya kita pergi ke makam bu Deswita "
" Nggak Fit, lagian gue juga yang mau kesana "
" Lo mau tau, pak Rian ada didepan "
" Seriusan? " Fita mengangguk dengan seulas senyum
" Dia donorin darah buat elo, dia ama Panji " Rafa menatap Fita tidak percaya
" Donorin darah buat gue? "
" Iya. Dia udah mau ngakuin elo sebagai anaknya, dia udah ngakuin elo Fa. Jadi lo harus cepet sembuh, karena dia bakal ambil alih hak asuh elo. Dengan itu... Gue harap lo bakal hidup lebih baik, lo bakalan hidup dengan kasih sayang Fa "
" Hidup? Gue udah nggak kuat lagi Fita "
Deg
" Ma... Maksud lo apaan Fa? " Tanya Fita dengan suara bergetar
Rafa tersenyum, ia mengusap pipi Fita lembut membuat gadis itu kembali terisak.
" Gue nggak kuat lagi "
" Nggak! Lo nggak boleh ngomong kek gitu, gue nggak mau denger kek gitu lagi "
" Soal kunci itu... Kalo gue udah pergi, lo bisa nunjukin kuncinya ke bi Rina. Karena cuma dia yang tau "
" Nggak! Jangan ngomong kek gitu Fa... Hiks, gue nggak suka hiks... "
" Fit... Uhuk... "
" Rafa! " Pekik Fita panik saat Rafa mulai mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya
" Rafa lo kenapa? Dokter! Dokter! "
Seorang dokter dengan beberapa perawat, segera datang kedalam kamar Rafa.
" Kamu keluar dulu ya "
" Tapi saya mau nemenin Rafa sus " Ucap Fita memelas sambil terus terisak
" Uhuk... "
Fita semakin panik, lantaran Rafa terus mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
" Rafa "
" Cepat bawa dia keluar "
" Rafa! Saya mau ketemu Rafa sus! "
Seorang suster mendorong tubuh Fita keluar dari dalam ruangan.
" Kenapa dengan Rafa? Kenapa dengan Rafa! " Pekik Asti sambil mengguncang tubuh Fita yang tengah terisak
" Mah udah mah "
" Rafa... Rafa kenapa? "
" Rafa " Gumam Rian yang ikut terisak
***
Setelah beberapa menit, dokter dan para suster keluar dari dalam ruang perawatan Rafa.
" Gimana keadaan Rafa dok? "
Dokter melepaskan masker yang dikenakan, dengan wajah tertunduk dalam.
" Maaf, tapi pasien sudah wafat. Karena terjadi pendarahan diorgan dalamnya "
" Nggak! " Pekik Fita tidak terima, ia bergegas masuk kedalam dengan diikuti beberapa orang
Semua orang langsung berkerumun disamping ranjang Rafa, Fita membuka sebuah kain berwarna putih yang menyelimuti tubuh seseorang dengan tangan bergetar.
" Rafa! " Pekik Fita sambil terisak
Tangis semua orang pecah, melihat tubuh kaku Rafa dengan wajah pucat pasi. Fita mengguncang tubuh Rafa, berharap kekasihnya itu akan segera bangun.
" Fa... Bangun Fa, ini gue Fita! "
" Fita " Panggil Aldo sembari memegangi bahu adiknya
" Bang... Kenapa Rafa nggak mau bangun, kenapa tangan Rafa dingin bang? Rafa bangun Fa, ini gue Fita "
Fita memeluk tubuh Rafa erat, air matanya tidak berhenti mengalir karena tubuh Rafa sudah berubah dingin dan kaku.
" Rafa bangun! Ini gue Fa... Please bangun Fa, demi gue lo harus bangun Fa. Mana janji lo buat nemenin gue? Lo harus bangun, lo harus liat Pak Rian udah dateng. Dia bakalan bawa elo, dia bakalan kasih elo perhatian ama kasih sayang yang nggak pernah elo dapetin Fa... Ayo bangun Fa, bangun Rafa "
Asti mengusap pipi Rafa yang terasa begitu dingin, air matanya seketika tumpah saat memandangi tubuh kaku anaknya.
" Rafa bangun Fa, ini mamah. Bangun sayang, ayo bangun "
" Pergi! " Pekik Fita sambil mendorong tubuh Asti menjauh dari Rafa
Wawan memegangi tubuh Asti yang begitu lemah, tangisnya kembali pecah saat menyadari perilakunya pada Rafa semasa hidup.
" Mamah? Apa tante nggak salah? Selama Rafa hidup kalian nggak pernah nganggep dia ada, kalian nggak pernah nyayangi Rafa. Tapi setelah Rafa pergi kenapa kalian malah bilang sayang? Kenapa? Hiks "
" Fit... Dia mamahnya Rafa Fit "
Fita menggeleng cepat, ia menatap wajah pucat Rafa sambil terus terisak.
" Ibunya Rafa itu Deswita, dia udah meninggal beberapa taun lalu. Dan pria ini, dia pak Rian ayahnya Rafa. Sekarang Rafa pergi, Rafa pergi karena kalian. Rafa pergi buat ketemu ama ibunya di surga, tapi dia lupa bawa gue... Hiks... Rafa bangun... "
Rian mengusap kepala Rafa lembut, sesekali ia membelai rambut cokelat Rafa dengan sayang.
" Fa... Ini papah Fa, bangun sayang. Maafin papah, papah nggak tau kalo kamu anak papah. Sekarang papah mau bawa kamu pulang nak, jadi sekarang kamu bangun ya. Ayo Fa bangun, jangan buat kita terutama papah dan Fita khawatir Fa... Ayo bangun Rafa "
" Fa lo denger sendiri kan? Papah lo mau bawa elo pergi, jadi lo harus bangun sekarang Fa "
" Fa... Bangun sayang, mamah kamu udah ninggalin papah. Kenapa kamu juga mau ninggalin papah Fa, sekarang papah harus gimana? Papah nggak punya siapa - siapa lagi Fa " Rian memeluk lututnya yang terasa lemas sambil terus terisak
Rian harus rela kehilangan Rafa, padahal ia baru tau jika Rafa adalah anaknya.
" Bang... Kita harus bawa Rafa pulang, dia kedinginan disini, hiks... "
Aldo memegangi bahu Fita, ia berusaha tetap tenang sambil sesekali mengusap air mata yang kembali mengalir dikedua pipinya.
" Fita Rafa udah nggak ada "
" Nggak! Dia udah janji bakal selalu ada buat gue, Rafa cuma tidur. Ayo Fa bangun, buktiin ke mereka kalo lo itu cuma tidur! "
Fita langsung memeluk tubuh Panji, yang tengah mengusap kepalanya lembut sambil terus terisak.
" Relain Rafa ya Fit, gue tau ini berat. Kita juga sayang ama Rafa, tapi Allah jauh... Jauh lebih sayang ama dia Fit, mungkin ini cara Allah buat ngelindungi Rafa dari rasa sakit hati "
" Tapi gue sayang dia Nji, hiks... "
" Gue tau "