
Rafa keluar dari dalam kamar lebih pagi dari biasanya, bukan tanpa alasan karena pagi ini cacing diperutnya sudah mengadakan demo masal sedangkan persediaan snack miliknya sudah habis. Ia menyusuri setiap anak tangga dengan hati - hati, agar tidak ada yang menyadari dirinya keluar dari dalam kamar. Ia membuka setiap laci yang ada didapur dengan harapan menemukan makanan ringan disana.
" Sedang apa kamu?! "
Rafa berdecih saat suara berat itu menyapa dirinya, ia menoleh dan mendapati Wawan berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Pria itu menatapnya dingin dengan tangan terlipat didepan dada.
" Mencari sisa makanan " Jawab Rafa asal
" Apa? Yang benar saja. Andai saja kau pintar dan mau bekerja keras seperti kakakmu itu, maka aku akan mempertimbangkanmu untuk masuk ke sekolah ternama "
" Udah nggak usah repot - repot " Ucap Rafa, ia melenggang pergi dengan beberapa snack ditangannya.
" Karena hal ini aku tidak mau memperkenalkanmu pada para kolegaku! "
Deg
Rafa menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya seraya tersenyum sinis. Ia menatap lamat - lamat wajah Wawan, Rafa berdecih sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kamarnya.
" Dasar anak kurang ajar! "
Rafa membanting pintu kamarnya sekencang mungkin kemudian melempar snacknya keatas lantai. Mendengar kalimat Wawan membuat selera makannya hilang seketika, yang dia inginkan sekarang hanya merebahkan tubuhnya sambil merutuki nasibnya.
Andai saja keluarganya tau jika dia masuk tiga besar dalam ujian nasional, tapi Rafa segera menepis pemikiran itu jauh - jauh. Tidak mungkin mereka mempercayai perkataan Rafa dengan begitu mudah tanpa adanya bukti, meskipun ada pasti mereka akan meragukannya.
" Inilah nasib Rafa Al-Ayubi Ramadhan " Gumamnya sambil tersenyum miris.
Rafa bangkit setelah beberapa menit membaringkan tubuhnya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah 10 menit ia keluar dengan balutan handuk putih ditubuhnya, Rafa berdiri didepan cermin yang memantulkan bayangan dirinya dari atas hingga bawah.
" Hoho lihat siapa ini, gue nggak pernah liat cowok seganteng ini sebelumnya " Gumam Rafa pada dirinya sendiri.
Rafa menyisir rambut cokelatnya kebelakang, menggunakan jari - jarinya.
Ddrrttt
Rafa meraih ponsel dari atas nakas, ia mengernyitkan dahinya saat melihat nama yang tertera disana. Kontan niat jail berkelebat dalam benaknya, ia menerima panggilan vidio dari Defa dengan senyum merekah.
" Woy lama banget, ngangkatnya ****! " Rafa berdecih
" Sorry... Sorry gue baru selesai mandi "
" Serius? Kenapa lo, tumben banget mandi sepagi ini. Mimpi basah lo ya? " Ucap Defa dari seberang diiringi gelak tawa.
" Enak aja lo, eh gue mau nunjukin sesuatu sama lo "
" Nunjukin apa? Perasaan gue ko mendadak ngga enak ya "
" Udah lo tenang aja, gue nggak punya niat jahat ko. Gimana mau nggak? "
" Ya udah deh, tapi cepet ya keburu gue berubah pikiran "
" Tenang aja, tunggu bentar ya "
Defa berdecak kesal, saat Rafa meletakkan ponselnya diatas nakas dan membiarkannya menunggu begitu lama.
" Ok gue siap " Ucap Rafa
Ia mengubah posisi kameranya, kemudian menghadapkan kamera ponselnya ke cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya.
" ***** kutu kupret " Ucap Defa refleks
Ia tertawa lepas sekaligus jiji, saat melihat handuk yang semula hanya menutupi tubuh bagian bawah Rafa kini dinaikkan hingga kedada. Rafa mengacak - acak rambutnya dengan tangan, hingga helaian benda berwarna cokelat itu menutupi dahinya.
" Gue cantik kan? " Ucap Rafa dengan gaya centil layaknya gadis bernama Vanya, yang selalu mengganggu hidupnya.
" Gila lo Fa, jiji banget sumpah " Defa kembali terkekeh
" Ih jangan kek gitu... Tapi lo suka gue kan? "
" ***** gila lo. Gue ss juga nih, terus gue sebar keseluruh angkatan " Ancam Defa membuat Rafa bergeragap.
" Sial lo, jangan macem - macem anjing! "
" Udah tunggu hasilnya nanti "
Defa mematikan panggilan vidionya dengan suara tawa, membuat Rafa berdecak kesal.
***
" Aku panggil Rafa dulu " Ucap Asti ibunya Rafa, namun langkahnya terhenti saat ia melihat putra bungsunya menuruni anak tangga.
Rafa berjalan melewati ibu serta anggota keluarga lainnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia melangkah menuju kulkas dan mengambil sekotak susu serta sandwich. Setelah mendapat apa yang dicari, ia kembali melangkahkan kakinya keluar.
" Sarapan dulu Fa " Ucap Asti
Rafa menoleh, ia tersenyum getir seraya menunjukkan sandwich serta susu ditangannya.
" Apa ini yang diajarkan padamu! "
Rafa berdecih saat mendengar kalimat Wawan lalu menatap wajah pria itu lamat - lamat.
" Jika tidak suka makanannya, setidaknya hargai kedua orang tuamu " Alya kakak Rafa menimpali sambil mengunyah sarapannya, tanpa menoleh pada Rafa
" Emang gue nggak suka sama masakan itu, emang lo tau apa makanan kesukaan dan makanan yang menimbulkan alergi gue? Nggak kan? Jelaslah yang tau seluk beluk gue cuma keluarga besar Defa dan Neyla, yang udah nganggep gue sebagai anak kandung bukan seperti keluarga ini. Anak kandung tapi ditirikan, udah pahamkan kakak so pintar! " Jelas Rafa penuh penekanan dengan seulas senyum miris.
Alya mengeratkan pegangannya pada sendok dan garpu yang tengah digenggamnya, nafasnya memburu dengan wajah merah padam.
" Begini cara kamu memperlakukan keluargamu! " Bentak Wawan sambil memukul meja didepannya, menyebabkan suara dentuman yang memenuhi seluruh area rumah.
Rafa menghela nafas jengah, ia tersenyum sinis namun berupaya untuk tetap tenang.
" Udang, kacang, kepiting adalah beberapa jenis makanan yang memicu alergiku... Dan kalian menyajikannya diatas meja makan? "
Defa membalikkan badannya, ia melenggang pergi meninggalkan rumah diringi cacian dari anggota keluarganya yang lain.
" Rafa ya? " Tanya seorang ojek online yang sudah stand by didepan rumahnya.
" Iya "
Pengemudi ojek itu menyerahkan helmet untuk dikenakan oleh Rafa, Rafa segera menaiki ojek pesanannya setelah ia mengenakan helmet yang diberikan padanya. Setelah beberapa menit, akhirnya ia sampai disebuah taman yang menjadi tempat favoritnya bersama kedua sahabatnya.
" Woy curut! " Teriak Rafa pada Defa, yang tengah duduk dengan Neyla dibawah pohon besar favorit mereka.
" Nah tuh udah dateng banci kesayangan lo " Celoteh Defa diiringi gelak tawa.
" Enak aja lo, najis banget gue " Neyla berdecih
" Mana foto gue *****! "
" Foto? Foto apaan? "
" Nggak usah so **** lo! Lo pengin ngancurin reputasi gue kan? " Ucap Rafa geram
" Apa? Gila lo ya, so - soan banget punya reputasi "
" Idih... Bilang aja lo sirik " Neyla menatap kedua sahabatnya heran
" Wait... Wait, sebenernya lo berdua lagi ngomongin apa sih? Reputasi? Sirik? Sebenernya ada apaan sih? "
Defa dan Rafa saling bertukar pandangan, mereka tersenyum geli melihat wajah polos Neyla.
" Kepo banget dah lo "
" Wajah lo tuh ya udah mirip kaya... Apa ya Fa? "
" Kaya itu tuh "
" Apa sih? " Sergah Neyla
" Kaya penjual bakso boraks ketangkep polisi, wkwkwk " Gurau Rafa disambut gelak tawa Defa.
" Setuju gue Fa "
" Enak aja lo berdua "
" Lah emang kenyataan "
" Emang ada penjual bakso boraks secantik gue apa "
" Lah mana kita tau, kan kalo ditipi - tipi wajah penjual bakso boraksnya disensor " Ucap Defa
" Ho'oh apalagi suaranya disamarkan "
" Setuju gue "
" Tapi lo tenang aja La, biarpun tampang lo kaya penjual bakso boraks tapi cinta gue tetep pul ko buat Neyla cantik "
" Ogah " Ucap Neyla sambil memukul lengan Rafa.
***
Rafa mengenakan sepatu kesayangannya, penampilannya ditunjang dengan kaos dan celana sebatas lutut. Ia melakukan pemanasan selama beberapa menit didepan rumahnya.
" Mas Rafa mau jogging ya? " Tanya seorang wanita berusia 30 tahun, Rafa menoleh dengan seulas senyum hangat.
" Eh mba Selma, iya nih bosen dirumah cuma rebahan mulu. Btw Caca mana mba? "
" Masih tidur ama bapaknya, bentar lagi masuk SMA ya? "
" Gimana nilai ujiannya? " Rafa tersenyum bangga
" Yah lumayan lah, cuma masuk tiga besar "
" Serius? Wah hebat banget, tapi mana buktinya? "
Rafa berjalan mendekati wanita yang tinggal tepat disebelah kanan rumahnya, ia menyodorkan ponselnya yang menujukan sebuah foto berisi daftar peringkat saat ujian nasional.
" Wah hebat banget " Puji Selma tulus membuat senyum diwajah Rafa semakin mengembang.
" Iya dong... Siapa dulu orangnya, Rafa gitu "
" Halah kamu, baru dipuji dikit aja udah terbang " Ucap Selma seraya mengusap wajah tampan Rafa.
" Aduh mba ini, nanti ketamfanan aku berkurang nih " Protes Rafa disambut gelak tawa Selma
" Udah nggak papa, dikit doang. Ketamfananmu udah kelewat batas, berbagi napa sama suami mba "
" Enak aja, udahlah aku mau jogging dulu. Siapa tau nemu cewek cantik dilampu merah, wkwkwk "
" Lah dipikir banci apa! "
" Yang penting cantik terus mulus " Ucap Rafa sambil berlari menjauh dari Selma.
" Gila! "
Selma melangkah masuk kedalam rumah, setelah selesai menyiram halaman depan rumahnya. Rafa berlari sepanjang trotoar, ia tersenyum bangga saat para gadis menatap dirinya bahkan beberapa dari mereka menyapanya dengan hangat.
" Gini nih kalo ketamfanan gue udah kelewat batas, lagi lari aja diliatin teroos " Celetuk Rafa
Ia mengedarkan pandangannya kesegala arah, tatapannya terpaku pada seorang gadis berkulit putih dengan rambut tergerai indah hingga sebatas pinggang. Rafa berlari kearah gadis yang tengah duduk dikursi taman itu dengan seulas senyum.
" Halo Neyla cantik... Calon istri babang Rafa "
Kontan si empunya nama menoleh, gadis itu memicingkan matanya saat melihat sosok Rafa ada didepannya dengan keringat membasahi tubuhnya.
" Pentesan aja bau asem, ternyata ada banci abis kecebur " Celetuk Neyla disambut gelak tawa Rafa.
" Aduh bisa aja nih nyonya Ramadhan "
" Idih kepedean banget sih lo "
" Ya nggak papa dong, secara lo kan calon istri gue "
" Ogah banget " Neyla berdecak kesal, membuat Rafa semakin tertawa lepas
" Ih lo lucu banget sumpah, udah kaya kucing oyen yang abis nyolong ikan asing tetangga. Terus ketawan sama si empunya ikan, wkwkwk "
" Stress akut lo "
" Nih ya La gue kasih tau, lo itu harus bersyukur karena orang setamfan gue mau jadi calon suami lo "
" Tamfan? Halo... Ngaca tuh ama kaca spion mobil orang "
" Ih sadis... Nanti kalo didalam mobil itu ada orangnya gimana? "
" Resiko lo lah "
" Lah kalo yang empunya cewek, terus naksir gue gimana? Nanti lo sama siapa La? " Ucap Rafa penuh percaya diri, membuat perut Neyla meronta ingin mengeluarkan semua sarapannya.
" Jiji banget sumpah, kalo lo nggak punya urusan lagi mending pergi deh. Nggak liat gue sibuk baca buku apa? "
" Iya... Iya, kiss dulu dong " Ucap Rafa sambil memajukan bibirnya.
Pipi Neyla merona merah saat beberapa pengunjung taman memperhatikan keduanya, ia berdecak kesal lalu memukul wajah tampan Rafa dengan novel miliknya. Gadis itu bergegas pergi, meninggalkan Rafa yang merintih kesakitan.
" Ok, sampai ketemu lagi Neyla cantik "
" Stress lo! " Teriak Neyla sambil mengacungkan jari tengahnya.
***
" Def tolong gue napa " Rintih Neyla, ia menempelkan wajah cantiknya pada bahu pria itu.
" Ada apa sih? Tumben banget, biasanya lo kalo kek gini karena ada sesuatu yang emang nggak bisa lo atasi sendiri "
" Nah tuh lo tau "
" Cerita ke gue ada apa "
Mata Neyla membelalak lebar mendengar kalimat Defa, ia menatap wajah sahabatnya dengan senyum merekah.
" Beneran nih? "
" Iya, cerita aja ada apa? " Tanya Defa enteng
" Tolong jauhin tuh banci dari hidup gue napa "
" Banci? Maksud lo Rafa? "
" Ho'oh siapa lagi ko bukan tuh banci komplek "
Kontan Defa tertawa lepas mendengar penuturan Neyla, membuat gadis itu berdecak sebal.
" Lo masih sehat kan? "
" Sorry La... Bukannya gue mau nolak, tapi lo kan tau sendiri Rafa kek apa "
" Sabar aja napa sih, nunggu dia suka sama cewek yang cocok. Kalo udah nemu yang cocok lama - lama juga pergi sendiri " Sambungnya sambil terkekeh kecil
" Ya tapi sampe kapan Def, lama - lama malu juga sama tuh banci "
" Malu gimana? "
" Nih ya, masa tadi pas ditaman dia mau nyium gue. Udah gitu banyak yang liat lagi, gila nggak tuh "
" Udah sabar aja napa "
" Tapi bukannya nyokap, bokap sama abang lo udah ngrestuin kalian ya? " Sambung Defa sambil tersenyum jahil.
" Enak aja lo, sampe lebaran monyet atau dinosaurus bangkit lagi dari kubur terus ngejar - ngejar penduduk bumi. Tetep aja gue ogah ama tuh banci "
" La... Gue mau nanya jujur nih ya "
" Apaan? "
" Kenapa sih lo panggil dia banci? "
" Ya karena... Nggak tau juga sih, mungkin karena dia suka jogging sampe ke lampu merah kali "
" Tapi dia kan ganteng La, bahkan dia sering dikejar - kejar sama cewek semisal Vanya "
" Nggak peduli gue " Ucap Neyla acuh, ia mengibaskan rambut panjangnya hingga mengenai wajah Defa.
" Kena lagi... Ama nih sapu ijuk " Gerutu Defa dalam hatinya, sambil mengusap wajahnya yang terasa panas karena rambut Neyla.
" Satu pertanyaan lagi nih ya, kenapa lo ngga coba buka hati lo buat Rafa sih? " Tanya Defa membuat buku kuduk Neyla kontan berdiri.
" Idih bisa ikutan gesrek gue. Rafa tuh aneh, udah gitu kalo buat lawakan cuma dia aja yang paham "
" Kadang hidup itu, butuh rada gesrek La "
" Salah gue detang ke elo, udahlah gue mau cabut sekarang "
" Mau kemana lo? "
" Pulang lah, bentar lagi makan siang "
" Oh "
Defa kembali fokus pada ponsel ditangannya setelah kepergian Neyla, tidak berselang lama dirinya dikejutkan dengan sosok yang tiba - tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
" Woy apaan nih! " Ucap Defa panik
" Ah... Jangan kek gitu dong " Bisik Rafa manja, membuat bulu kuduk Defa berdiri serentak
" Lepas banci! "
Rafa melepaskan pelukannya, dengan raut wajah yang dibuat seolah tengah bersedih.
" Ih... Lo kejam banget dah, masa cowok setamfan gue dibilang banci "
" Lo tuh emang dasar gesrek ya, sesama cowok aja lo embat " Rafa tersenyum jahil
" Ih... Nggak papa, sekali - kali wajar lah "
" Wajar... Wajar, sampe kecoa ngeluarin jurus kagebunsin tetep aja jiji ***** "
" Hahaha ngaco lo. Btw liat Ela nggak? "
" Udah balik tadi " Rafa mengerucutkan bibirnya
" Yah telat dah "