Rafa

Rafa
Sebuah Kunci



" Rafa... Hiks... "


" Udah Fit, biarkan dia tenang "


" Tapi Rafa mah... "


Fita memandangi tubuh kaku Rafa yang perlahan masuk kedalam liang lahat, tangisnya kembali ketika mengingat kebersamaan mereka.


" Mah Rafa mah... Kenapa Rafa harus tidur ditempat yang gelap dan dingin. Bawa aja Rafa kerumah kita mah... Biar Rafa tinggal ama kita aja mah, hiks... " Fita menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Hani, tangisnya tidak bisa dibendung lagi


" Rafa... Bawa gue Fa... "


" Hust... Lo nggak boleh ngomong kek gitu Fit, lo harus kuat demi Rafa " Ucap Defa sambil mengusap kepala Fita lembut


" Kenapa mereka nginjek - nginjek badan Rafa? Ntar Rafa kesakitan mah, bang minta mereka jangan nginjek - nginjek Rafa... Kasihan Rafa bang, hiks... "


Aldo memeluk Fita yang masih terisak, ia mengusap lembut kepala Fita berharap bisa mengurangi kesedihan adiknya.


" Lo jangan kek gini terus Fit, kasian Rafa... Biarin dia tenang disana, liat om Rian. Dia juga sedih tapi berusaha buat ikhlasin kepergian Rafa, jadi lo juga harus ikhlasin Rafa ya "


" Tapi gue sayang Rafa bang, hiks... "


" Kita semua sayang Rafa, Fit... Cuma ini yang terbaik buat Rafa "


Setelah beberapa menit prosesi pemakaman Rafa selesai, semua pelayat bersiap untuk pulang setelah selesai menaburkan bunga diatas pusara Rafa. Kini tinggal keluarga Rafa, Rian, Fita dan teman - temanya yang masih bertahan didekat pusara Rafa.


" Fa... Papah harap kamu tenang disana, titipkan salam papah buat mamah ya. Bilang ke mamah, papah pasti bakal nyusul kalian cepat atau lambat " Ucap Rian seraya mengusap nisan Rafa, seolah tengah mengusap kepala Rafa


" Fa... Gue bakalan tepati janji gue, gue bakalan belajar hidup tanpa elo. Mungkin ini yang terbaik buat elo, titip salam buat tante Deswita dari kita semua ya. Kita sayang ama elo " Ucap Fita, ia meletakan buket mawar merah diatas pusara Rafa dengan air mata yang tak henti mengalir


" Thanks karena elo udah mau jadi sahabat sekaligus keluarga kita semua " Ucap Defa sambil menggenggam tangan Neyla yang tengah terisak, hingga matanya berubah merah dan sembab


" Maafin gue ya Fa... Maaf karena gue nggak pernah bisa jadi cinta pertama elo "


" Kita semua juga mau minta maaf karena nggak sepenuhnya ada buat elo, dan makasih udah hadir ditengah - tengah kita. Semoga elo tenang disana " Ucap Panji


" Thanks Fa " Ucap Dodit, Salman, Aziz, Ibnu dan Arya bersamaan


Semua orang bersiap untuk pulang, tapi tidak dengan Asti, Alya dan Wawan.


" Fa... Ini mamah nak, mamah mau minta maaf "


" Papah juga minta maaf Fa, andai waktu bisa diputar. Papah bakalan nglakuin apa aja buat kamu, papah bakalan bayar berapapun supaya kamu bisa ada ditengah - tengah kita lagi "


" Maaf Fa... Semoga kamu bisa tenang disana, mungkin ini yang terbaik buat kamu. Sekali lagi kita minta maaf Fa " Wawan mengusap bahu Asti yang tengah terisak


" Kita pulang sekarang " Asti mengangguk lemah sambil mengusap pipinya yang basah


***


Fita mengamati foto yang menggambarkan kedekatan antara dirinya dan Rafa, tanpa terasa air kembali mengisi kedua kelopak matanya.


" Gue kangen elo Fa, hiks... "


Flashback...


" Dia anak bapak! "


Rian terdiam kencoba meresapi perkataan Fita, Rian mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhinya tertawa sinis.


" Dengar nak... Usiaku 45 tahun dan aku belum pernah menikah sama sekali. Jadi bagaimana mungkin aku bisa memiliki anak? " Tangan Fita mengepal kuat hingga urat - urat lehernya terlihat menegang


" Bapak mungkin tidak pernah menikah, tapi apa bapak lupa dengan hubungan antara bapak dan ibu Deswita? "


Rian menatap Fita tajam, ia tidak suka jika ada yang mengusik kehidupan masa lalunya. Siapapun yang berani mencampuri urusannya, maka dia harus bersiap untuk menghadapi konsekuensi dari seolah Rian.


" Kau tidak tau apapun, jadi jangan bertingkah seolah kau tau segalanya anak kecil! "


" Saya mungkin tidak tau apa yang terjadi dimasa lalu secara detail. Yang saya tau, terjadi kesalahpahaman antara pak Rian dengan keluarga Ramadhan. Bapak mengira jika Rafa adalah anak dari ibu Deswita dan pak Wawan bukan? Karena sakit hati bapak sampai tega menghancurkan usaha pak Wawan yang baru saja dirintis "


" Diam kau! " Bentak Rian membuat jantung Fita seolah berhenti berdetak


Ini pertama kalinya bagi seorang Fita mendapat perlakuan seperti ini, sejujurnya ia merasa takut. Tapi semua itu ia telan bulat - bulat agar bisa menyelamatkan Rafa, apa yang ia alami tidak sebanding dengan apa yang dialami Rafa seumur hidupnya.


" Maaf pak jika saya lancang. Asal bapak tau, alasan kenapa ibu Deswita tidak memberitau bapak soal Rafa itu karena ia mendapat ancaman dari orang tua pak Rian. Dan alasan kenapa Rafa tidak pernah diterima dikeluarga Ramadhan, itu karena bapak menghancurkan bisnis pak Wawan. Jika bapak tidak percaya, bapak bisa bertanya pada bi Rina karena dia yang tau semuanya " Rian berdecih, ia menatap Fita tajam tapi tidak mampu menyurutkan niat Fita untuk menolong Rafa


" Omong kosong! "


" Terserah bapak mau percaya atau tidak, saya datang kesini untuk meminta tolong. Tolong selamatkan Rafa pak, dia sedang keritis. Dia butuh domor darah o negatif sekarang juga, mungkin golongan darah bapak sama dengan Rafa "


" Dia memiliki keluarga, lalu untuk apa kau datang jauh - jauh kemari? "


" saya sudah mengatakannya sejak awal, mereka bukan keluarga Rafa. Karena itu mereka tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Rafa, bapak kesempatan terakhir Rafa pak. Jadi tolong pak, tolong kami sekali ini saja " Ucap Fita memelas


" Jika bu Deswita masih hidup, mungkin kami akan meminta dia yang mendonorkan darah untuk Rafa dan bukannya bapak "


" Deswita " Batin Rian, ia menutup matanya beberapa saat sambil mendengus kesal


" Baiklah saya akan membantu Rafa, hanya untuk kali ini "


" Benarkah? Maksud saya terima kasih pak, memangnya apa golongan darah bapak? " Rian terdiam sejenak, ia menatap wajah Fita yang terlihat begitu antusias


" O negatif "


Mereka bergegas pergi menuju rumah sakit dan baru sampai setelah 15 menit dengan kecepatan tinggi.


" Pak Rian akan mendonorkan darah untuk Rafa " Ucap Fita disambut anggukan Rian


" Mau apa kau kemari? Tidak ada yang memerlukan bantuanmu disini " Pekik Wawan dengan wajah merah padam


" Aku tidak akan datang, jika gadis itu tidak memaksa! " Balas Rian tak kalah tajam


" Cukup, lebih baik kau pergi sekarang! Karena tidak ada yang memerlukan bantuanmu disini! "


" Cukup om, tante! Apa kalian bisa sekali ini saja berdamai dengan ego kalian? Ada hidup yang harus diselamatkan disana, om Rian sudah bersedia menolong Rafa. Jika kalian keberatan silahkan pergi dari sini, karena yang Rafa butuhkan sekarang adalah ayah kandungnya! " Ucap Fita penuh penekanan membuat darah Wawan dan Asti seras mendidih


" Kurang ajar! " Pekik Wawan tidak terima


"Cukup, jangan kalian pikir saya akan tinggal diam melihat Fita diperlakukan demikian! Pak Rian silahkan masuk "


***


Sebulan sedah sejak kepergian Rafa dari dunia yang tidak adil baginya, perlahan semua mulai berjalan normal. Semua orang mulai terbiasa dengan ketidak hadiran seorang Rafa, yang dikenal ceria dan absurd ditengah - tengah mereka.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi Fita maupun Rian, keduanya masih sibuk merutuki perbuatan yang pernah mereka lakukan pada Rafa. Fita yang terlambat menyatakan cintanya dan Rian yang terlambat memberikan kasih sayangnya pada Rafa. Percaya atau tidak, tapi sejak kepergian Rafa hubungan antara Rian dan Fita semakin dekat. Mungkin karena duka, yang akhirnya bisa menyatukan keduanya.


" Udah biar gue aja yang bayar, kalian diam - diem aja disini. Ok? "


" Ok. Thanks ya "


Fita mengangguk dengan seulas senyum, ia perjalan menuju meja kasir.


" Berapa semuanya bu? "


" 250 ribu "


" 250? Sebentar ya "


" Rafa " Gumamnya dengan mata berkaca - kaca


" Ada masalah mba? " Fita tergeragap, ia cepat - cepat menggelengkan kepalanya dengan seulas senyum


" Ini uangnya bu, terima kasih "


Fita bergegas menghampiri teman - temannya yang masih berada dimeja mereka.


" Kita harus kerumah Rafa sekarang! " Sergah Fita tanpa mempedulikan tatapan heran dari teman - temannya


" Emang ada masalah apa? "


" Gue nggak tau, tapi sebelum Rafa meninggak dia sempet nitipin kunci ke gue. Dia bilang kalo dia udah... " Fita mengarik nafas berat dengan kata tertutup rapat, sulit baginya melanjutkan kalimat yang hendak disampaikannya


Defa menggenggam tangan Fita membuat si empunya hanya bisa tersenyum getir.


" Kalo gitu ayo! "


" Kita kesana sekarang, kita nggak perlu minta penjelasan kenapa "  Panji menimpali disambut anggukan Neyla dan yang lainnya.


" Apa kita perlu ngajak om Ibnu? " Tanya Neyla memastikan disambut anggukan dari Fita


Mereka semua bergegas menuju rumah Rafa dan baru sampai 30 menut kemudian, disusul Ibnu 5 menit kemudian.


" Ada apa? " Rian menatap Fita heran saat gadis itu kenunjukan sebuah kunci padanya


" Beberapa hari sebelum meninggal, Rafa sempet nitipin ini ke Fita om. Rafa bilang cuma bi Rina yang tau arti kunci ini "


" Kalo gitu ayo! "


" Assalamuallaikum " Ucap mereka bersamaan diiringi suara ketukan pintu


Selang beberapa saat Rina keluar dari dalam rumah dan nampak terkejut dengan kehadiran Fita dan teman - temannya. Tanpa pikir panjang Fita langsung menunjukan kunci milik Rafa, Rina tersentak kaget sambil berlinang air mata. Ia memegang kunci milik Rafa dengan tangan bergetar kemudian mengusap lembut kepala Fita.


" Jadi kamu orang kepercayaan bang Rafa? "


" Orang kepercayaan? Maksudnya? "


" Bang Rafa tidak pernah mau siapapun menyentuh lemarinya, selama bertahun - tahun lamanya lemari itu terkunci. Hanya bang Rafa yang tau apa isinya, tapi dengan mudahnya ia memberikan kunci ini. Berarti kau adalah orang yang benar - benar disayangi oleh bang Rafa "


" Kunci lemari? " Tanya Rian memastikan


Rina mengangguk, ia membawa mereka semua ke kamar Rafa.


" Dimana yang lain? " Tanya Rian saat menyadari jika rumah itu kosong


" Mereka semua sedang keluar "


Fita mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar, tatapannya tertuju pada lemari abu - abu besar dengan beberapa kata didepannya.


Menjauhlah!!


Lemari ini punya babang Rafa, pria tertamfan didunia


Kalo ada yang berani mendekat atau bahkan menyentuh lemari gue, maka harus siap - siap dengan konsekuensinya


💀💀


Nb: kecuali neng Fita💙


Fita tersenyum, ini memang lemari milik Rafa kekasihnya.


***


Tangis semua orang kembali pecah saat mereka melihat isi lemari Rafa. Ada begitu banyak hadiah yang telah disiapkan Rafa untuk mereka semua bahkan termasuk bi Rina. Hal berbeda justru dialami Fita, tangannya mengusap lembut sebuah pasmina berwarna cokelat susu yang ada didalam sebuah kotak merah.


Buat neng Fita, dari babang Rafa:


Gue nggak mau kalo aurat lo diliat ama cowok laen, jadi gue beliin ini buat elo. Sorry karena gue nggak ngomong sejak awal kalo gue beliin ini buat elo, anggep aja ini sebagai kado ultah dari gue


Penuh cinta


Rafa💙


Fita menarik nafas panjang dengan mata tertutup rapat, detik berikutnya setetes air menyusup keluar dari kelopak matanya.


" Apa yang kalian lakukan disini? " Pekik Asti


" Kenapa lemari Rafa bisa kebuka? " Tanya Wawan heran


" Neng Fita pak, bu. Bang Rafa nitipin kuncinya ke neng Fita "


" Fita? "


" Iya. Dan ada beberapa hadiah dari bang Rafa untuk ibu, bapak dan mba Alya "


" Hadiah? "


Wawan dan Asti berjalan kearah lemari Rafa, ada tiga buah kotak berukuran sedang dengan masing - masing terukir nama mereka. Asti mengambil kotak miliknya, saat dibuka ia dibuat terkejut dengan kartu ucapan dan hadiah ulang tahun dari Rafa yang sudah dikumpulkan sejak kecil.


Hal serupa juga terjadi pada Wawan, kotak pria itu berisi kartu ucapan, gambar dan surat prestasi yang sempat diraih oleh Rafa selama hidup.


Dear papah Wawan :


Dalam kotak ini ada beberapa surat yang Rafa tulis pas hari ultah papah. Ada juga beberapa surat prestasi milik Rafa, maaf Rafa nggak pernah nunjuki ke papah. Karena Rafa pikir ini nggak bakalaan ada artinya buat papah


Wawan memukuli dadanya yang terasa begitu sesak, kenapa ia tidak mau mendengarkan Rafa sejak awal. Andai saja ia mau mendengarkan Rafa dan memberinya kasih sayang, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Fita meletakan hijab pemberian Rafa diatas ranjang, ia kembali berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah kotak bertuliskan privat area.


Fita membuka kotak ditangannya, ada beberapa kwitansi dari beberapa toko mainan dan pakaian. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utama Fita, kedua matanya tertuju pada sebuah celengan.


Buat modal beli mahar untuk neng Fita tersayang💙


Air mata Fita kembali pecah, ternyata Rafa serius tentang katanya - katanya soal mahar untuk melamar Fita. Tangan Fita kembali merayap kebeberapa surat yang ditulis dengan kertas warna warni, tulisannya tidak beraturan tapi masih bisa dibaca.


Buat bang Rafa


Makasih ya bang udah mau nolongin kita disini


Bang Rafa kapan main lagi?


Kita semua sayang bang Rafa


Fita mengusap air matanya, ia berjalan menuju ranjang kemudian pergi setelah memasukan hijab pemberian Rafa kedalam kotak privat area milik kekasihnya.


" Rafa. Maafin papah nak " Gumam Rian sembari mengusap sebuah bingkai foto yang memperlihatkan seorang Rafa, dengan balutan kemeja putih tengah tersenyum lepas kearah kamera


Rian membawa foto Rafa dan beberapa foto lainnya untuk dibawa pulang. Setidaknya hanya ini yang bisa ia peroleh, sebagai kenangan terakhir anak semata wayangnya. Anak yang tidak pernah diketahui keberadaanya, hingga ajal menjemput.


Semua orang masih terisak, memegangi hadiah pemberian Rafa. Hadiah mereka berisi alat - alat ibadah, dengan sebuha note diatasnya.


Semoga dengan adanya ini, kita bisa sama - sama berubah kejalan yang lebih baik.


Semoga kita bisa lebih rajin beribadah dan ketemu disyurganya Allah. Aamiin💪