
Rafa membuka matanya malas, ia bangun dari ranjang lalu mengambil ponsel dari atas nakas.
Pagi😘
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ia menerima balasan dari Fita.
Fita (mine💙) :
Juga
Senyum diwajah Rafa mengembang, ia segera membalas pesan dari gadis itu.
Sayang aku lagi apa
Fita (mine💙) :
Nih sayang👊
Gue :
Ih lo jahad banget dah, sakit hati babang Rafa. Bener dah😭😫
Fita (mine💙) :
Bomat😴... Mandi gih sono, lo pasti baru bangun kan
Gue :
Ih lo ko tau sih, jangan - jangan kita jodoh lagi 😋
Fita (mine💙) :
Nyesel juga gue nanya ke elo😒
Gue :
Kalo gitu gue mandi dulu ya... Lo mau kita vc nggak nih, selagi gue mandi😋
Fita (mine💙) :
Stress lo ya😡
Gue :
Gue bercanda kali... Tapi kalo lo mau, gue bersedia ko😋😍
Fita (mine💙) :
Emot lo bikin gue gumoh, udah mending lo mandi sana!
Gue :
Ok, ntar ketemu disekolah ya😘
Fita (mine💙) :
👍
Rafa melempar ponselnya keatas nakas, ia bergegas menuju kamar mandi dan baru keluar setelah 5 menit. Ia segera mengenakan seragam miliknya, kemudian melangkah menuju meja makan.
" Pagi! " Sapa Rafa dengan senyum merekah, pada anggota keluarga yang telah berkumpul dimeja makan.
" Bi mana sandwichnya? " Rina datang dengan dua potong sandwich khusus untuk Rafa.
" Thanks " Rina mengangguk lalu melangkah pergi
" Tunggu! " Rafa menoleh pada Wawan
" Ada apa? " Wawan melemparkan sebuah kunci yang langsung ditangkap oleh Rafa.
" Kunci? "
" Hadiah ulang tahun " Mata Rafa berbinar dengan senyum merekah
" Serius? Ok "
Rafa berlari keluar rumah dan mendapati sebuah motor, telah bertengger manis disana.
" Ish... Keren juga " Gumam Rafa sambil mengusap motor barunya
" Anak itu tidak akan pernah berubah! " Ucap Wawan dingin dan tajam membuat Asti menunduk dalam - dalam, sambil menelan salivanya sendiri.
" Maaf " Ucap Asti lirih
" Dia selalu saja membawa masalah dan akan tetap begitu sampai kapanpun " Wawan melangkah pergi setelah mengatakan hal yang menyayat hati Asti.
" Mah " Panggil Alya lirih sambil mengusap bahu ibunya.
Asti tersenyum tipis lalu pergi menyusul Wawan.
" Gara - gara kehadiran anak itu, kehidupan dirumah ini nggak setenang dulu "
Alya membanting sendok dan garpu ditangannya, hingga menghasilkan suara dentuman. Saat kedua benda itu bertabrakan dengan piring dan gelas yang ada diatas meja.
" Ya Allah, ada apa lagi ini? " Gumam Rina saat semua orang telah meninggalkan meja makan.
Rafa segera pergi kesekolah dengan motor barunya.
" Eh... Sini lo! " Fita menoleh pada Dewi dan Salsa
" Lo manggil gue? " Dewi berdecih
" So polos banget sih lo, eh jadi cewek nggak usah keganjenan ya! " Fita menghela nafas panjang
" Soal Rafa kan? "
" Menurut lo? Eh cewek centil gue pringatin lo ya, jangan pernah godain Rafa gue lagi! " Fita berdecih, ia melanggang pergi tanpa menjawab ancaman Dewi
" Gue nggak nyangka... Ternyata cewek disini udah pada stress, cuma karena cowok bernama Rafa " Gumam Fita
" Pagi " Sapa Fita dengan seulas senyum pada Defa dan lainnya.
" Udah dateng lo? Tumben telat " Fita tersenyum
" Tadi ada urusan bentar " Fita melempar tasnya diatas meja
" Pagi sayang " Senyum diwajah Fita langsung mengembang, saat menyadari kehadiran Rafa.
" Lo baru dateng? " Tanya Defa
" Tumben nggak telat, kek biasanya " Rafa tersenyum tipis
" Gue takut kalo telat, ntar pacar gue bakal diganggu ama cowok lain " Rafa mengusap kepala Fita lembut
***
" Jadi gimana? "
" Maksudnya? "
" Iya, lombanya minggu depan kan? Lo udah siap? " Panji berdecih
" Jelas gue udah siap "
" Siap ngancurin semua musuh gue! " Sambung Panji didalam hati
" Syukur deh kalo kek gitu "
Panji menarik tangan Neyla, hingga gadis itu semakin mendekat padanya.
" Pegangan, jangan sampe lo jatuh dari nih motor " Neyla tersenyum simpul sambil mengeratkan pelukannya
" Jadi lo khawatir sama gue? " Neyla menyandarkan kepalanya yang berbalut helmet pada bahu kekar Panji.
" Jelaslah... Sekarang lo itu cewek gue, punya gue! " Ucap Panji penuh penekanan
" Oh iya, gimana tuh sama temen lo? " Neyla memicingkan matanya bingung
" Maksud lo temen yang mana? "
" Yang latihan ditempat coach Aldo "
" Oh Rafa ama Defa? "
" Hmm... "
" Mereka baik ko "
" Gue denger - denger, si Rafa udah jadian ama adiknya coach Aldo " Neyla menarik salah satu sudut bibirnya
" Mungkin... Gue nggak tau "
" Lo cemburu? " Neyla berdecih
" Buat apa juga gue cemburu, gue cuma suka sama lo "
" Bagus deh kalo kek gitu. Oh iya, kalo lo mau deket sama dua temen lo juga nggak papa. Asal lo harus tau batasan, kalo lo sampe macem - macam... Gue nggak bisa jamin, bakal tetep bersikap baik sama lo atau kedua temen lo itu! " Neyla menelan salivanya sendiri saat mendengar ancaman yang dilontarkan Panji.
" Macem - macem gimana maksudnya? " Panji menyeringai tajam sambil mengusap salah satu tangan Neyla
" Kek selingkuh? Or sejenisnya? " Mata Neyla membelalak lebar
" Selingkuh? Najis banget selingkuh, ama curut dan banci itu! "
" Bagus deh, kalo lo nggak berniat kek gitu "
Neyla turun saat motor yang mereka tumpangi, berhenti tepat didepan rumahnya.
" Thanks ya " Panji melepas helmet Neyla, lalu menata kembali rambut gadis itu
" Lo inget perkataan gue kan? " Neyla mengangguk mantap
" Ok, kalo gitu gue pergi dulu "
" Hati - hati dijalan " Panji mengangguk sambil mengusap lembut pipi Neyla
" Gue cabut sekarang, besok gue jemput lo " Neyla kembali mengangguk
" Iya "
Neyla bergegas masuk kedalam rumah, setelah Panji dan motornya pergi.
" Pulang sama siapa lo? " Neyla memutar bola matanya malas
" Kepo banget si lo? "
Neyla melangkahkan kakinya menuju kamar, diikuti Gani yang mengekor tepat dibelakangnya.
" Eh... Lo nggak ngehargai perasaan Rafa banget sih? " Neyla menoleh dengan kening berkerut
" Mending lo diem kalo nggak tau apa - apa "
" Rafa tuh suka sama lo Ela " Neyla berdecih sambil memutar bola matanya malas
" Tapi gue nggak, lagian tuh banci udah punya pacar! " Mata Gani membelalak lebar
" Lo bohong kan? " Neyla kembali berdecih
" Kenapa lo nggak tanya langsung aja ama si Rafa. Oh iya, nama ceweknya Fita "
Neyla menutup pintu kamarnya tepat didepan wajah Gani, lalu ia segera merebahkan tubuh mungilnya diatas ranjang.
" Masa iya sih, Rafa udah punya cewek? Bukannya dia ngebet banget, ama tuh singa ya? " Gani mengusap dagunya sambil menyipitkan kedua matanya
" Bang " Gani tergeragap saat Gusti menepuk bahunya
" Eh papih... Ada apa pih? "
" Ngapain didepan kamar Ela? " Gani menggeleng dengan seulas senyum
" Ng... Nggak pih " Gani mengusap kepalanya yang tidak gatal
" Oh. Kalo gitu, papih mau kebawah dulu "
Gani mengangguk, ia melenggang pergi menuju kamarnya sesaat setelah Gusti menuruni anak tangga.
***
Fita memutar bola matanya malas, lantaran Rafa tidur disamping kursinya.
" Fit " Fita menoleh pada Defa
" Apaan? "
" Lo nggak ke kantin? " Fita mengerucutkan bibirnya
" Susah keluarnya " Defa menyipitkan matanya, kemudian mengangguk tanda mengerti
" Lewat atas aja "
Langkah Fita terhenti, tepat diatas meja saat Rafa memegangi kakinya.
" Lo mau kemana? "
" Ih... Apaan sih, lepas nggak! " Rafa mendongakkan kepalanya dengan seulas senyum
" Nggak bakalan, sebelum... " Fita memutar bola matanya malas
" Apaan? "
" Pinjem ponsel lo dong "
" Buat apaan? "
" Pinjem bentar doang, gue nggak bakal nonton yang macem - macem deh. Boleh ya? Please! " Fita berdecih saat melihat ekspresi memelas Rafa
" Nih... Awas, jangan macem - macem! "
" Lo tenang aja, eh polanya apa? "
" L dari kiri " Rafa mengusap layar ponsel Fita sesuai arahan gadis itu
" Ok, makasih "
" Awas jangan macem - macem! "
" Iya sayangku " Fita berdecih, ia melompat dari atas meja kemudian pergi menuju kantin bersama Defa dan lainnya.
" Lo nggak kekantin? " Rafa menggeleng
" Kalo gitu gue duluan ya "
" Eh tunggu! " Kontan Dodit menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Rafa
" Apaan? "
" Gue titip Fita, jangan sampe ada yang gangguin dia. Ok? " Dodit berdecih
" Lo pikir gue bodyguard tuh cewek apa? " Rafa mengerucutkan bibirnya
" Ya elah... Cuma nitip bentaran doang "
" Ish, iya... Iya. Nggak usah masang tampang so polos kek gitu, jiji gue bambang "
" Ok, thanks ya " Dodit melenggang pergi, sambil mengangkat tangan kanannya keudara
" Gue penasaran, apa aja isi ponsel Fita " Gumam Rafa sambil membuka galeri yang didominasi foto pemandangan
Rafa mengirim beberapa foto dirinya ke ponsel Fita, begitupun sebaliknya. Kini dirinya beralih pada kontak diponsel gadis itu.
Rafa IPA 2
" Ish... Kenapa nama gue nggak diganti sih " Rafa tersenyum jahil, kemudian mengganti beberapa hal diponsel Fita
Triinnggg...
Semua siswa kembali kedalam kelas saat bel masuk berbunyi.
" Rafa " Fita mengguncang tubuh Rafa, hingga si empunya terbangun dari tidurnya
Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya kesadarannya kembali sepenuhnya.
" Eh sayang... Ada apa? " Fita mengacungkan jari tengahnya, tepat didepan wajah Rafa.
" Nih sayang! Mana ponsel gue "
" Lo tuh ya... Udah jadi pacar gue, tapi tetep aja nggak berubah " Fita memutar bola matanya malas, lalu mengambil ponsel miliknya dari tangan Rafa
" Sekarang kita free, karena pak Fahmi dan guru lainnya sedang mengadakan rapat " Semua siswa bersorak gembira
" Fa sekarang free, gimana kalo kita latihan? "
" Boleh deh " Rafa kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja Fita
" Sekalian tidur ya " Sambung Rafa
" Lo tuh kerjaannya tidur terus... Kapan mau berubah sih? " Rafa berdecak kesal
" Lo sirik aja sih Def, sekarang jangan ganggu gue dulu. Karena gue mau ayang - ayangan, ama neng Fita "
" Gue heran dah Fit, kenapa lo mau ama cowok modelan kek gini " Fita tersenyum simpul saat mendengar penuturan Salman
Fita memasang headset disalah satu telinganya dan headset lainnya ditelinga Rafa.
" Apaan nih? " Fita memicingkan matanya heran, saat melihat wallpaper ponselnya sudah berganti dengan foto Rafa.
" Foto gue, wallpaper ponsel gue juga udah diganti ama foto lo " Rafa menunjukan layar ponselnya, yang kini sudah berganti dengan foto Fita.
" Alay banget sih " Rafa mengerucutkan bibirnya
" Ish... Kita itu udah pacaran, jadi wajar dong. Awas jangan diganti ama yang laen "
" Ish... Ternyata lo berdua udah berubah, jadi anak - anak buciners " Ucap Aziz diikuti gelak tawa yang lainnya.
" Yang penting gue udah nggak jomblo lagi, nggak kek lo - lo pada... Jomblo sejati " Rafa menimpali dengan senyum meremehkan
***
" Asslamuallaikum " Ucap mereka bersamaan, sesaat setelah Fita membuka pintu rumahnya.
" Walaikumsallam, ayo masuk "
" Dimana abang lo? "
" Belom pulang. Kalian tunggu aja, bentar lagi juga sampe. Oh iya, lo semua mau minum apa? "
Aziz, Defa, Dodit, Rafa dan Salman mengangguk bersamaan, lalu mengambil posisi disebuah sofa.
" Apa aja... Asal buatan neng Fita " Defa memukul lengan Rafa membuat si empunya merintih kesakitan.
" Lo tuh ya... Bucin banget sih bambang! " Rafa mendesis kesal
" Sirik aja lo "
" Ok, lo semua tunggu bentar ya "
" Eh Fa... Lo beneran udah pacaran ama si Fita? " Tanya Salman sesaat setelah Fita pergi
" Ya iya lah... Kenapa? Lo cemburu ya? " Rafa terkekeh kecil yang langsung dihadiahi bantal oleh Salman
" Selow aja kali " Gerutu Rafa
" Btw lo pake santet apa dah? Kenapa cewek modelan kek Fita, mau gitu jadian ama lo? "
" Ish... Nggak boleh gitu, santet itu dosa ferguso! " Defa terkekeh kecil
" Paling si Fita lagi khilaf "
" Hahaha setuju gue Def "
" Lo semua harusnya dukung hubungan gue ama Fita, bukannya malah sebaliknya! "
" Assalamuallaikum " Kontan semua orang menoleh saat mendengar suara berat dari arah pintu
" Eh coach Aldo, udah nyampe " Aldo tersenyum
" Kalian udah nyampe? Maaf, kalian pasti udah nunggu lama ya? "
" Nggak ko coach, kita juga baru nyampe " Ucap Defa sambil mencium punggung tangan pria itu
" Coach " Aldo tersenyum
" Eh Rafa " Defa memicingkan matanya heran, saat melihat keakraban yang terjalin antara Rafa dan Aldo
" Kalo gitu saya keatas sebentar "
" Iya coach "
" Keliatannya lo udah akrab ama coach Aldo? " Tanya Defa sesaat setelah Aldo pergi, Rafa hanya tersenyum
" Silahkan diminum "
Semua mengangguk, mereka meraih air sirup dan beberapa camilan yang dibawa Fita.
" Abang gue udah dateng ya? "
" Iya, barusan " Fita melirik jam tangannya
" Sayang... Babang laper! " Rafa meraih lalu memeluk tangan Fita
" Ish... Apaan sih lo! Lepas nggak! " Rafa menggesek kepalanya pada lengan Fita
" Nggak mau "
Dug
Rafa terjatuh dari sofa, setelah Fita memukul lengannya dengan kuat. Semua orang tertawa lepas, melihat penyiksaan yang terjadi terhadap Rafa.
" Rasain lo! "
" Lagi Fit... Lagi! "
" Jangan kasih kendor Fit "
" Hajar aja Fit "
" Gue dukung lo! "
Rafa bangkit sambil mengusap lengannya yang terasa berdenyut.
" Temen apaan lo semua! Sakit tau! " Fita berdecih
" Lagian suruh siapa lo peluk tangan gue! "
" Untung juga nggak gue cium "
" Apa? " Pekik Fita
" Eh... Ng... Nggak gitu Fit " Ralat Rafa cepat, saat melihat Fita mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
" Fita " Fita menoleh dengan seulas senyum canggung
" Bukan gue " Sergah Fita
" Maksudnya? " Aldo menatap bingung
" Hmm... Lo udah makan? " Semua orang menatap Fita heran
" Belom "
" Kalo gitu makan dulu gih, lo mau gue masakin apa? "
" Tapi kita harus latihan " Fita berdecih
" Susu sebelum sandwich " Aldo mendengus kesal, sedangkan Fita melenggang pergi menuju dapur.
" Maksudnya? " Dodit memicingkan matanya heran
" Artinya aku harus makan, atau terima konsekuensi. Ayo kita semua makan dulu " Aldo pergi menyusul Fita diikuti yang lainnya
" Lo masak apa? "
" Nasi goreng " Aldo memicingkan matanya heran
" Udah selesai? Cepet banget? "
" Gue masak ini pulang sekolah "
" Oh. Ayo semua duduk "
Fita menyajikan nasi goreng buatannya diatas meja makan.
" Bang " Aldo menoleh
" Besok gue nggak berangkat sekolah dulu " Aldo dan lainnya menatap Fita heran
" Kenapa? "
" Gue mau ke mamah "
" Nggak! Lo boleh pergi pas weekend "
" Tapi besok... "
" Nggak... Peraturan tetap peraturan! " Fita berdecak kesal, ia duduk dikursinya sambil menatap tajam kearah Aldo.
Defa, Aziz, Salman, Dodit dan Rafa saling melempar tatapan heran.